100 Hari Menjadi Puteri Joseon

100 Hari Menjadi Puteri Joseon
Gagal, Mati Berdua


__ADS_3

Ara menatap sekilas putera mahkota yang ia yakini begitu cemas, terlukis jelas di wajah pria tampan itu.


Tapi, Ara kembali menundukan kepala, tidak tahu bagaimana caranya memberi tahu masalahnya yang pasti terdengar sangat konyol itu.


Memberi tahu perihal hidupnya tinggal 14 hari lagi.


Kan konyol toh?


"Ara-ya?" jika ia memanggil namanya, Ara menghangat, pria itu jelas menaruh harapan dibagi masalah gadis itu, untuk dipecahkan bersamanya.


"Aku tidak apa-apa, Yang Mulia." jawabnya pelan, tak bertenaga.


"Katakan padaku, siapa yang membuatmu seperti ini, huh?"


'Noh nenek gak jelas itu, sudah ngelempar kemari, dan waktunya mepet pulak' sungut Ara dari dalam hati.


"Tidak ada, Yang Mulia. Aku baik-baik saja."


"Sungguh? Tatap aku."


Ara perlahan mengangkat wajah puteri Hwa, sekuat tenaga menyembunyikan ketakutan dan kecemasannya.


"Lihat! Aku tidak apa-apa." dengan wajah meyakinkan. Ara berhasil mengubah wajah menyedihkan itu sekejap normal kembali.


Sret!!!!


Berbarengan dengan ucapan putera mahkota yang hendak keluar, sosok yang telah ditunggu Ara sedari kemarin-kemarin, kini muncul dari balik pintu geser itu.


"Yang Mulia." sapa dayang Han yang terlihat begitu ngos-ngosan menarik nafasnya.


"Han-ah!!!" bergegas bangkit. Melepas genggaman putera mahkota, membuat si pria sontak tertegun.


"Bersemangat sekali dia." gumam putera mahkota menggelengkan kepalanya melihat tingkah puteri Hwa.


Ara menyambut kedatangan dayangnya, eh salah dayang puteri Hwa maksudnya.


"Apa kau baik-baik saja?" ia memutar tubuh dayang Han, merasa khawatir jika gadis itu terancam selama perjalanan pulangnya, karena waktu yang dijanjikan telat.


"Eh?" dayang Han tertegun ketika majikannya menyentuh kedua lengannya dan memutar tubuhnya ke kira dan ke kanan dengan wajah khawatir.


Clussss


hatinya menghangat


Apakah majikannya ini mengkhawatirkannya?


Terhuraaahhhh


Terharu maksudnya.


"Ayo kemari, duduk dulu." menarik lengan dayangnya agar segera duduk.


Tapi seketika pandangannya terhenti, manakala ia menyadari.


Menepuk dahinya secara ghaib.


'Ya elah, tu orang masih ada ya?' batinnya menangkap wujud putera mahkota yang masih konsisten duduk di tempat semula.


Merasa di tatap sedemikian rupa, pria itu menyadari.


"Apa aku mengganggu waktumu, Puteri Hwa?" duga pria itu bertanya.


Ara menghela nafas.

__ADS_1


Dan


Mengangguk


Yakin.


"Hah!?" Dayang Han merasa canggung, ketika dirinya malah menjadi alasan majikannya menyuruh alias mengusir putera mahkota.


"Ya-yang mu-mulia Puteri Hwa, saya saja yang keluar, na-nanti saya akan kemari lagi." merasa tak enak.


Membuat Ara seketika menoleh padanya.


"No! Kau tetap di sini. Aku sedari tadi menunggumu, bukan dia." bisik Ara menahan dayang Han.


Membuat dayang itu bertambah tak enak.


"Huft, baiklah kalau begitu." putera mahkota. Menarik tubuhnya dari duduk.


Menepuk pelan ujung jubah berwarna biru miliknya. Dengan langkah berat namun tak kentara, pria itu mengalah, terpaksa.


Padahal tujuannya kemari adalah untuk meminta bantuan gadis itu.


"Aku akan pulang saja kalau begitu" ucapnya ketika sudah mendekat dan menipiskan jarak pada tubuh puteri Hwa.


"Oke." sahut Ara memberi jempolnya pertanda setuju.


"Ma-maafkan ha-hamba putera mahkota." masih dengan posisi di genggam oleh puteri Hwa, dayang Han membungkukkan tubuhnya, meminta maaf pada pria itu.


Ayolah, kuasa pria itu melesat jauh daripada majikannya, untuk ukuran seorang puteri, gadis yang menggenggamnya tidak ada apa-apanya, kecuali sudah menjadi ratu. Jadi dayang Han tentu menaruh rasa hormat melebihi majikannya.


"Tidak apa-apa." ucap putera mahkota, mulai melangkah menuju pintu geser.


Tapi....


Ara menoleh menatap sumber suara.


"Besok adalah hari pemilihan puteri mahkota kembali." tutur putera mahkota menatap lekat mata indah puteri Hwa.


Ara bergeming.


Lalu kenapa memangnya?


Apa dia boleh ikutan? Gak kan!


Karena tak mendapati sahutan. Pria itu membalik tubuhnya, tapi kembali berujar, "Aku harap kau menemaniku esok." pungkasnya lalu keluar dari pintu itu, menyisakan tanya di benak Ara, perihal penting tidaknya ia ke sana.


Tapi, ia kembali sadar, bukan itu intinya.


"Hei. Ayo duduk." menarik tangan dayang Han untuk duduk.


Meraih bantalan duduk untuk dayang itu.


Lihatlah!! Betapa dayang Han lagi-lagi dibuat tak percaya ketika majikannya malah melayaninya.


"Yang mulia, biar hamba saja." ucapnya merasa bersalah ketika puteri Hwa sudah menata duduknya.


"Eihhh sudahlah, ayo, mari kita cerita." ucap Ara tak sabar.


Ara duduk manis, bersila, kedua telapak tangan ditautkannya dipangkuannya.


"Baik Yang Mulia." angguk dayang Han kemudian.


.

__ADS_1


.


.


.


.


"Apa!!!!!" Tanggapan Ara ketika dayang Han sudah mulai merangkai kata-katanya.


"Apa kau yakin, dayang Han?" tanya Ara meminta konfirmasi.


Diangguki dayang Han sebagai pengganti jawaban.


"Jadi...... selompret itu mengetahui semua tentangku dari dukun itu?" Ara tertegun, kini, sudah 3 orang yang tahu perihal dirinya, pun dengan ancaman keselamatan jiwanya pun mereka tahu bagaimana caranya, tanpa perlu mengotori tangan.


"Sial!!" umpat gadis itu.


Sebelumnya, Ara sudah membocorkan rahasianya pada dayang Han, karena ia yakin gadis itu bisa membantunya keluar dari dunia mengerikan ini.


Tapi, gadis itu tetap pada pendiriannya, meskipun ragu menyikapi sosok yang menjadi majikannya tapi bukan jiwa sebenarnya. Tapi ia bertahan untuk bersikap seperti biasanya.


Meskipun ia masih tak yakin, jika puteri Hwa, dikendalikan oleh jiwa lain, yang memang bebas dan liar seperti dugaannya.


Dengar saja barusan, mulut itu ringan saja mengeluarkan kata makian yang tidak mungkin dengan rela hati dikeluarkan seorang bangsawan seperti puteri Hwa.


"Lalu aku mau bertanya juga padamu." Ara berujar lagi, teringat hal baru yang menjadi pikirannya beberapa hari ini.


"Iya. Yang Mulia." jawab dayang Han pelan.


"Jadi begini, ada seorang pria yang datang waktu itu ke istana." mulai Ara bercerita.


"Pria?" dayang Han menarik sudut dahinya.


"Iya, tapi dia mengatakan jika dia adalah pamanku, tapi bukan keluarga istana. Bukankah itu lucu." lanjut Ara menceritakan Ahjussi rasa Oppa itu.


"Paman?" dayang Han sepertinya tahu, Ara sadar itu.


"Aku rasa kau kenal siapa dia." Ara menanyakan pada dayang Han.


"Jadi memang anda bukan puteri Hwa, nona." jawab dayang Han lain topik.


"Kau kan tahu aku bukan puteri Hwa. Apalagi sudah kau cari sampai ke dukun itu." sungut Ara sebal sendiri.


Padahal sudah ia beri tahu waktu itu.


"Ayolah, Han-ah, aku tak punya waktu banyak di sini." rutuk dan rengek Ara berbarengan.


"Memangnya anda punya waktu berapa lama lagi, nona?" terkadang dayang Han memanggil dengan puteri, dan ketika ingat ia akan memanggil Ara dengan nona.


Ia tak tahu kasta jiwa yang mengisi tubuh majikannya.


"14 hari lagi, 2 minggu lagi." Ara mengacungkan jari puteri Hwa telunjuk dan tengah.


"Jika aku gagal, aku akan mati." lanjut Ara.


"Lalu, bagaimana dengan puteri Hwa?" tanya dayang Han mendadak terkejut.


"Sama sepertiku." jawab Ara serius.


"Puteri Hwa..... Maksud nona, dia ak....."


"Iya, gagal, kami akan mati berdua. Artinya majikanmu juga akan mati sepertiku."

__ADS_1


__ADS_2