100 Hari Menjadi Puteri Joseon

100 Hari Menjadi Puteri Joseon
Kau Hanya Pelayan Rendahan


__ADS_3

"Arghhhhhh"


Pekik keras disertai hempasan tubuh Ara yang tertarik ke belakang.


Citttttttt


Ban mobil yang berputar sempurna dipaksa berhenti seketika, membuat si pemilik jeritan kembali berteriak, dengan tubuh kini terdorong ke depan.


"Eh, lo kenapa?" Hana, panik. Menoleh pada Ara yang sudah dalam kondisi berantakan. Kacau.


"Kau!!!" Putri Hwa yang masih dalam kondisi tertunduk langsung menoleh ke sisi Hana dengan sorot tajam mengancam dan desis suaranya.


Hana meringis, merasa bersalah.


Tapi, kan, biasanya gini?


"Kau ini,,,, tapi, maaf deh." ucap Hana kemudian.


Hana mengulurkan tangannya hendak membantu, namun.


"Aishhhh, kau ini." niatnya malah ditepis kesal oleh puteri Hwa yang kepalang sudah marah.


Bukannya kenapa, ia pusing, perutnya mendadak hendak memberontak keluar, belum lagi tubuh ini terasa pegal.


"Kau mau membunuhku, hah!!!!" hentaknya keras.


Berusaha memposisikan tubuh ini kembali duduk tegak.


"Kenapa kau? Bukannya biasanya kau lebih parah dari ini, prul." keluh Hana tak terima.


Ia pernah di posisi itu tiap kali dengan seenak hatinya Ara menjalankan kuda besi ini. Ia suka akan gerak gesit, ngebut dan liar namun tetap patuh akan aturan.


"Lebai deh." lanjut Hana


"Apa kau bilang?" tanya puteri Hwa, menangkap maksud ucapan barusan jelas bukan hal baik.


"LEBAI, berlebihan." jelas Hana mencibir.


Lalu mulai menegakkan duduknya lagi, bersiap menekan tombol starter mobil ini.


"Berlebihan? Kau yang gila!!!." balas puteri Hwa tak terima


"Kau akan menerima semua akibat perbuatan kurang ajarmu terhadapku, ingat!" ancam puteri Hwa.


Ya. Gadis itu memberi ultimatum terhadap Hana yang kini sudah memutar kepalanya mengarah pada sahabatnya itu.


Menatap penuh selidik.


"Kenapa? Tak terima?" risih, puteri Hwa merasa tatapan itu tak ia sukai.


Hana tetap memindai gadis itu, lekat.

__ADS_1


"Kau menantang?" lagi, tanya puteri Hwa.


"Kau beneran sakit prul kayaknya. Ayo kita penyegaran dulu, sapa tau saraf otakmu itu nyambung lagi kayak dulu." oceh Hana tanpa menyadari kebingungan yang melanda gadis di sampingnya.


"Apa kau bilang?" tanya puteri Hwa


Mengabaikan, Hana malah mengalihkan pandangannya kembali lurus ke depan. Sementara tangannya sudah siap menyentuh tombol starter kembali, berikut tangan satunya siap mengendalikan laju.


"Siap, prul?" tanya Hana menoleh sekilas.


"Apa maksudmu?" puteri Hwa tak mengerti.


"Kencangnya sabuk pengamanmu, dudukmu normalkan, lihat aku." Hana mencontohkan sikap siap yang harus di tiru sahabatnya.


Puteri Hwa entah kenapa refleks menurut. Menyentuh sabuk pengaman yang dikiranya tali pengikat kuat itu dengan sama persis yang dicontohkan Hana.


Kencang, tetap sama seperti tadi.


Tubuh Ara ia posisikan sama juga yang diajarkan Hana.


Pun pandangannya ia arahkan lurus pula ke depan.


Anak pinter.


"Siap, prul." tanpa perlu menunggu jawaban, Hana melajukan mobil sport milik Ara.


Dan, benar saja, jeritan spontan kembali keluar, namun puteri Hwa sudah terlebih dulu mengeratkan pegangannya pada sabuk pengaman. Meskipun tubuh itu tetap saja terlonjak ke belakang.


"Hahahahhahahaha."


Gelak tawa puas memenuhi ruangan di bangunan milik puteri Hwa.


Tempat sebelumnya Ara, dayang Han serta dayang An yang masih berkumpul.


"Kau kenapa?" Ara terkejut ketika dayang An yang sebelumnya menelan hidangan yang dibawanya sendiri, kini malah tergelak.


Apakah dayang itu gila?


Bukankah harusnya dayang itu terkapar, menggelepar dan tepar?


Aishhhh jahat bener yak.


Yang ditanya masih sibuk menyemburkan tawanya, mengabaikan tanya si anak sang penguasa.


"Hei, kau, dayang An, apa kau tidak mendengar perkataan puteri Hwa barusan!!" dayang Han, gadis itu malahan yang menghardik si dayang tengil itu.


'Heh, kau masih belum tahu perihal majikanmu rupanya.' dengus dayang An dalam hati.


"Iya, iya, iya, maaf Yang Mulia." ucap dayang An, tapo tanpa rasa bersalah.


"Cih." decih dayang Han pelan, sungguh luar biasa sikap dayang itu.

__ADS_1


Sok setelah menjadi dayang pribadi ratu. Meski ratu punya dayang yang senior mendampinginya dari dulu, namun dayang An juga sering diajak ke pertemuan pribadi ratu.


Makanya dayang itu bertingkah songong.


"Kau kenapa?" ulang Ara lagi, kali ini ia mencondongkan tubuh puteri Hwa ke tengah meja. Menopang kedua sisi wajah puteri Hwa dengan masing-masing telapak tangan.


"Apa kau gila?" dan Ara menambahkan telunjuk yang diarahkan ke sisi kepala puteri Hwa. Menegaskan katanya barusan.


Dan benar saja, dayang An terlihat sekali sekilas gurat tak sukanya. Meskipun segera menormalkan kembali raut wajahnya.


Tapi Ara sudah kepalang tahu.


Ternyata, gadis itu juga bisa baperan.


"Yang Mulia. Hamba tidak mengerti, maksud Yang mulia barusan."dayang An berlagak bodoh. Berpura-pura tak paham.


"Kau, apakah racun yang kau taruh di sana untuk membuat saraf di otak bisa gesrek?" kata-kata yang dilontarkan Ara benar-benar tak beraturan, ia mencampur aksen Joseon, Hangeul modern.


Hingga si lawan bicaranya berikut dayang Han, sama-sama kebingungan menerka kalimat tak jelas itu.


"Racun, Yang Mulia?" kata itu cukup menempel di telinga dayang An. Hingga gadis itu paham jika majikannya itu pasti tengah melempar tuduhan padanya.


Tentu saja, ia yakin jika puteri Hwa tak semudah itu mempercayai orang yang sudah pernah bertarung curang dengannya.


"Aihh kau ini. Berlagak pilon pulak." dengus Ara menyikapi dayang An yang berlagak bodoh itu. Jelas saja harusnya dengan kata racun saja dayang itu paham, bukan?


"Pi-pilone?" beo dayang An berjamaah dengan dayang Han kala mendengar kata aneh itu.


"Upss." Ara menutup bibir puteri Hwa lalu memberikan cengiran tengil ke arah dayang An.


"Sudahlah. Aku hanya mau memastikan, tujuanmu kemari untuk apa? Membawa hidangan yang belum waktunya datang? Hah. Lucu." semprot Ara memberikan penjelasan nyata akan maksud aneh si dayang An mengunjunginya di waktu yang salah.


Jelas, ada udang di balik biar mateng.


"Ah, anda terlalu berprasangka buruk, Yang Mulia. Hamba hanya membawakan saja sekalian mengunjungi anda." jelas dayang An santai.


"Mengunjungi?" tanya Ara tak paham.


"Kau mengunjungiku?" ulang Ara memperjelas tanyannya.


"Iya, Yang Mulia." jawab dayang menyetujui.


Dayang Han tetap konsisten mengawasi keduanya. Meskipun sudah tahu ada yang salah dari pertemuan keduanya, tapi ia penasaran, terlebih sikap dayang An yang begitu kurang ajar kepada seorang majikan yang berhak atas nyawa para pelayannya.


Meskipun lagi ia tahu dayang An adalah dalang pembunuhan pengawal yang kasusnya tengah menjadi kehebohan sejagat istana, tapi ia menaruh rasa tak percaya atas keberanian dayang An yang masih bisa menunjukkan batang hidungnya di hadapan puteri Hwa.


Ia yakin, dayang itu datang dengan maksud tak baik. Dan itu jelas mengarah tepat ke gadis yang duduk di seberang dayang An, alias majikannya, puteri Hwa. Yang kini menatap dayang An lekat.


"Kau mengunjungiku, dayang An. Heh..." ucap Ara dengan nada dan wajah penuh seringai itu.


Ia menyindir, keras ke arah dayang itu.

__ADS_1


"Kau siapa berani bersikap akrab padaku? Kau hanya pelayan rendahan, benar bukan?"


__ADS_2