
"Yang mulia.!" dayang Han, yang sudah memanggil puteri Hwa sebanyak 5 kali itu kini memanyunkan bibirnya ketika gadis itu masih enggan merespon panggilannya.
'Rasain.!!!' batin Ara sebal.
FLASHBACK ON
"*Kenapa putera mahkota bisa secepat itu datang ke kediaman gue, dayang Han?"
"Hamba juga tidak tahu, puteri Hwa."
"Mana mungkin, gue gak percaya!!"
Dayang Han dicurigai sebagai satu-satunya orang yang membuat putera mahkota menginjak kediaman puteri Hwa saat dirinya tengah adu gelut dengan dua orang yang di setting untuk mengantarkan Ara dan puteri Hwa pada sosok malaikat pencabut nyawa.
"Gue bertanya serius, Han-ah, jawab jujur.!!"perintah Ara tegas. Sorot mata yang menyatakan dirinya serius melalui bola mata milik puteri Hwa.
"Hamba sungguh-sungguh, puteri. Hamba sama sekali tidak memberi tahu hal itu pada yang mulia putera Mahkota." Ara menatap mata dayang itu intens, mencari gelagat kebohongan.... Nihil.
'Lah, terus sapa yang ember. Mana gue lagi live action pulak. Malu guee!!!' batin Ara.
"Tapi gue gak percaya. Karena gue ngerasa kalo Lo itu ada komunikasi dengan putera mahkota, iya kan??" tuduh Ara lagi.
Dan, ternyata tuduhan itu benar.
"Jika kau berbohong, aku akan mengutukmu, agar tubuhmu dipenuhi banyak penyakit berupa benjolan berisi air, nanah dan darah." seloroh Ara dengan harapan ancaman receh itu berhasil.
Karena buktinya, dayang Han sudah tertunduk dalam.
Gotcha!!!!
FLASHBACK OFF
"Puteri Hwa, hamba mohon, jangan marah." pinta dayang Han merintih.
"Huh." Ara melengoskan kepala puteri Hwa ke sisi lain. Menyatakan ia marah.
"Hamba hanya menjalankan perintah seperti sebelumnya." jelas dayang Han.
'Perintah seperti sebelumnya?' batin Ara
Ingin mengembalikan kepala puteri Hwa agar lurus menatap dayang Han. Tapi, rasanya belum cukup, ia yakin dayang Han akan membeberkan fakta baru lagi di hadapannya. Feelingnya begitu.
"Anda sendiri juga tahu, bahwa putera mahkota sering mengawasi dan melindungi anda, yang mulia." lanjut dayang Han.
"Aku tahu?? Kapan?" Tanya Ara
"Puteri Hwa??" dayang Han justeru menanggapi dengan kalimat tanya balik.
Sedetik kemudia Ara paham.
__ADS_1
'Dodol banget gue!! Ya kali, kan puteri Hwa yang tahu, bukan gue' batin Ara geli.
"Kenapa, yang Mulia?" dayang Han merasa aneh melihat puteri Hwa tersenyum sendiri.
Mengibaskan tangannya, "Ah bukan apa-apa kok." elak Ara.
"Mungkin aku lupa tentang hal itu, dayang Han." kikik geli Ara.
Ara mulai sedikit paham.
Jika, putera mahkota selama ini, bahkan dari dulu selalu memberikan perlindungan padanya. Akan tetapi atas dasar apa???
Geplak!!!
"Puteri!!!" pekik panik dayang Han melihat puteri Hwa menggeplak kepalanya sendiri.
"Doi kan abang, ya wajarlah Ara, ihhh!!" Ara tersadar akan halusinasinya yang nyaris menyesatkannya.
"Kenapa??" Ara menoleh bingung pada dayang Han yang meringis menatapnya.
"Anda tadi menepuk kepala keras, yang mulia." lirih dayang Han berucap.
Ara mengerutkan alis, memang kenapa? Kepala juga bukan punya dayang Han.
"Dayang Han.!" panggil Ara tak lama dari itu.
"Iya yang mulia." jawab dayang Han.
"Apakah kau pelayan putera mahkota, atau pelayanku?" tanya Ara mengkonfirmasi, bukan kenapa, ia perlu tahu siapa yang benar-benar berada di sisinya. Bukannya bodyguard suruhan yang melindungi akan tetapi justeru bawahan orang lain.
"Saya, dayang milik anda, yang mulia." jawab dayang Han, pelan.
Ara menatap manik dayang muda itu lekat.
"Tidak. Kau bukan milikku." tolak Ara
Ia tak menangkap kejujuran di sana, walaupun ia melihat ketulusan.
"Yang-yang mulia." ucap dayang Han dengan wajah menyiratkan permohonan.
"Sudahlah dayang Han, kau mengakui jika kau adalah pelayanku, tapi pada kenyataannya kau tak lebih dari orang yang disuruh mengawasiku saja, kan? Mencari semua tentang kegiatanku setiap hari, masalah, kesenangan, bahkan kejadian seperti tadi. Juga termasuk bagian tugasmu." tepis Ara memberikan penjelasan.
"Dan, jika boleh jujur, mungkin aku terharu bahkan suka dengan apa yang kau serta putera mahkota lakukan selama ini. Akan tetapi...." gantungnya.
Dayang Han meneguk ludah sepanjang penjelasan puteri Hwa.
"Tapi, aku merasa tak memiliki diriku sendiri, manja dan tak punya keberanian menghadapi masalah. Dan aku, kecewa denganmu." lanjut Ara memasang wajah sedih menatap dayang Han yang juga meliputi wajahnya dengan mimik bersalah.
"Tapi, yang mulia. Apapun yang terjadi pada anda, memang buka hal yang patut dibilang memanjakan, karena semua yang terjadi adalah hal yang bisa mengancam jiwa anda, puteri Hwa. Dan itu, berulang." sambut dayang Han mencoba memberikan pengertian pada majikannya.
__ADS_1
Ara memberikan pandangan netra puteri Hwa lurus serta serius pada dayang Han.
Lekat.
"Tapi, tidak untuk semua hal yang dilakukan terhadapku, juga menjadi bahan pengawasan serta laporanmu terhadap putera mahkota." seloroh Ara.
"Karena kau yang meminta sendiri padaku. Ara." suara putera mahkota terdengar dari balik pintu geser.
Srettttt...
Putera mahkota!!!?¿
"Yang mulia." dayang Han bergegas berdiri mendapati pria itu sudah menjejakkan kakinya diruangan ini.
"Yang mulia." Ara menyusul memberi hormat pada putera mahkota.
"Dayang Han. Kau boleh pergi." perintah putera mahkota, yang disanggupi dayang Han dengan segera keluar dari ruangan itu.
Ara menoleh pada punggung dayang Han yang sudah akan menghilang di balik pintu geser.
"Kemana para dayang penjaga?? Ara melihat tak satupun penampakkan wujud para dayang yang senantiasa berdiri di depan pintu itu.
Tak menjawab. Putera mahkota malah melangkah ke seberang meja puteri Hwa dan duduk di sana.
"Putera mahkota.!!!" Ara memanggil gemas.
"Ada apa¿?!" sahut putera mahkota acuh tak acuh. Ia sibuk meraih kertas yang ada di atas meja puteri Hwa. Menggapai susunan kertas yang.... Sudah menjadi lembaran kertas kecil.
Kenapa dengan kertas ini???
Ara masa' bodohlah ketika ia menangkap raut aneh dari putera mahkota melihat prakaryanya.
menekan bagia belakang hanbok puteri Hwa, lalu duduk. Dan kesal.
"Aku bertanya, oppa." ulang Ara, menatap gemas pada putera mahkota.
"Mereka sudah ku perintahkan pergi dari kediamanmu." Jawab putera mahkota tanpa menatap yang mengajaknya berbicara. Lebih tertarik pada tumpukkan mainan Ara di atas meja itu.
"Lalu, perihal aku yang selalu mengawasi dan melindungimu. Itu semata-mata karena permintaanmu waktu itu, Hwa-ya." lanjutnya.
"Aku bahkan akan melakukan hal lebih dari itu jika aku kelak menjadi raja di negeri ini." lagi, jelas pria itu.
"Kenapa aku memintanya?" Bodoh, Ara kenapa mengeluarkan kalimat tak masuk akal itu lagi. Padahal kan bukan dia yang ikut saat ajang debat minta dilindungi itu.
"Kenapa? Kau lupa, Hwa-ya?? Sungguh kecewa sekali aku mendengarnya darimu." seloroh putera mahkota dalam tunduknya.
"Karena,,, meskipun kau tak meminta. Aku tetap akan membantumu." ucapnya.
"Karena....."
__ADS_1
"Aku menyayangimu."