100 Hari Menjadi Puteri Joseon

100 Hari Menjadi Puteri Joseon
Kedatangan Saman/Dukun


__ADS_3

“Tidak tahu, aku... aku tidak mengenal mereka.” Jawab puteri Hwa, ia memang tidak mengenal siapa saja yang bertemu dengannya selain Hana, Hoon dan Kim Hee Sin.


“Aku akan menanyakannya pada nona Choi nanti.” Sambut Kim Hee Sin.


“Iya, oppa.” Jawab puteri Hwa mengangguk


.


.


Prangggggg


Barang pecah belah berhamburan ke atas.


Disertai teriakan marah


“Kalian tidak ada yang becus!!!!” Cindy mengecam semua pengawalnya. Mendengar laporan bahwa gadis yang bernama Jo Ara sudah kabur, mengalahkan 4 orang pria bertubuh besar sekaligus. Bahkan diragukan bagaimana gadis itu bisa menghajar mereka.


“Ma-maf nona.”


“Susah payah memancing dia kemari tanpa tahu, dan sekarang.....”


“Kita akan sulit membawanya lagi!!!!” geram Cindy


Tidak akan mudah membawa gadis itu setelah dua kali dirinya berniat menyelakai Ara. Tentu gadis itu akan waspada kali ini.


Dugaannya bersama Hoon bahwa Ara mengalami amnesia ternyata benar. Melihat reaksinya ketika dipertemukan dengan Lee Frankie, sang kakak membuatnya yakin, gadis itu bisa jadi gegar otaknya setelah mereka menyiksanya saat itu.


Bisa jadi ia mengalami trauma, mengalami penyiksaan mengerikan disertai penenggalaman di danau, tentu di bawah alam sadarnya, akan melindungi dengan melenyapkan ingatan buruk itu.


“Aku tidak mau tahu, seret dia lagi ke hadapanku. Jangan sampai gagal!!!” teriak Cindy penuh amarah.


“Ba-baik Nona.” Beringsut mundur, para pengawal yang babak belur wajahnya segera menghilang setelah mengiyakan perintah sang majikan yang terlihat marah.


.


.


“Ara!!!!” Hana langsung memeluk tubuh Ara dengan posesif begitu mendapat kabar dari Kim Hee Sin bahwa sahabatnya itu baru saja bertemu dengan orang yang diduga Cindy dan Frankie.


“Lepas, kau membuatku sesak.” Puteri Hwa risih dengan pelukan ini. ia tak pernah mendapat perlakuan berlebihan seperti ini di kerajaan.


“Kau, kau membuatku khawatir, Ara-ya... hiks.. hiks” ujar Hana beriringan dengan isaknya. Tubuh itu bergetar. Walau terkesan berlebihan menurut puteri Hwa, namun ia merasakan kehangatan di sana. Perhatian ini begitu tulus. Ia saja tak menemui perlakuan sehangat ini di dunia sana. Meskipun banyak yang melayaninya, tapi, ketulusan itu sangat tipis, sulit dibedakan mana yang tulus dan mana yang membutuhkannya saja.


“Aku baik-baik saja, tenanglah.” Puteri Hwa mengusap punggung Hana, menenangkan gadis itu yang masih terisak pilu


“Aku takut kau akan terluka dan menderita lagi.” Sahut Hana.


Kim Hee Sin yang menyaksikan hal itu hanya tersenyum haru, melihat perlakuan Hana, ia yakin bahwa hubungan keduanya lebih dari kata sahabat. Lebih terkesan keluarga yang terikat cinta dan kasih.

__ADS_1


Ia bangga akan hal itu.


“Ayo kita pulang.” Hana melepas pelukannya dan menggenggam tangan Ara.


“Ayo.” Angguk puteri Hwa, ia sudah bosan berada di ruangan ini.


“Mau aku antar?” tawar Kim Hee Sin menyela obrolan keduanya.


“Tidak perlu, aku membawa kendaraan sendiri.” Tolak Hana sopan.


“No, biar aku yang antar, nanti mobil mu akan dibawa Sein saja.” Kim Hee Sin bangkit dari kursi kebesarannya, menggulung lengan kemejanya setengah.


“Ayo.” Ajaknya kemudian


Puteri Hwa dan Hana hanya pasrah mengikuti. Walau ajakan itu tak memaksa namun ada penekanan di sana. Bak perintah.


“Sein, mana kunci mobil.” Tiba di luar ruangan Kim Hee Sin, pria itu menemui sekretarisnya meminta kunci mobil


“Mau kemana bos?” tanya Sein melihat Kim Hee Sin berdiri membelakangi Hana dan Ara.


“Aku akan mengantar keduanya. Cepat.” Tak sabar menuntut permintaannya tadi.


“Dan, nanti kau antar mobil nona Choi ke apartemen Ara.” Perintah Kim Hee Sin yang diangguki oleh Sein. Hana menyerahkan kunci mobilnya pada Sein setelah memberi tahu detail kendaraannya.


.


.


“Ara, ingat apa yang aku sampaikan tadi.” Kim Hee Sin langsung berucap saat dirinya sudah tiba di depan pintu apartemen Ara.


Hana memperhatikan penuh saksama.


“Hmmm, oppa.” Sahut puteri Hwa ingat.


“Jangan pernah mengikuti siapapun itu, kecuali aku, nona Choi dan Sein sekretarisku. Ingat dan pahami itu.” Titah Kim Hee Sin tegas. Menatap mata Ara dengan intens.


“Iya. Aku paham.” Sahut puteri Hwa.


“aku pergi dulu, aku ada meeting penting setelah ini. bye. Sampai jumpa nona Choi.” Kim Hee Sin bergegas meninggalkan lorong apartemen menuju lift dan menghilang setelahnya.


“Beruntung kau bertemu dengan fans yang baik, Ara. Kalau tidak... aku tidak bisa membayangkannya...” Hana kembali memeluk tubuh itu penuh haru.


“Sudahlah Hana. Aku bilang baik-baik saja.” Puteri Hwa melepas pelukan itu. Menggenggam tangan Hana, meyakinkan gadis itu jika ia kuat.


Ceklek.


Mereka masuk ke dalam apartemen untuk melepas kepenatan hari ini. teruntuk puteri Hwa yang letih setelah bertarung dengan empat pria bertubuh kekar. Jika bukan karena kemampuannya yang didukung oleh kemampuan Ara juga, tentu ia tak akan mampu melawan satu pun dari mereka.


Ia tahu jika Ara mahir beladiri, hanya saja, ia bingung apa teknik yang dikuasai gadis si pemilik tubuh ini.

__ADS_1


.


.


“Hoon. Aku mau kali ini, kau yang membawa Ara ke tempat kita pernah menyiksanya waktu itu.” Cindy yang sudah tahu Hoon tiba di kediamannya langsung memburu pria itu.


“Hmm. Iya, sayang.” Angguk Hoon memeluk pundak Cindy lembut.


“Sayang sekali aku tak melihat dia bertarung dan mengalahkan empat pengawalmu tadi.” Tambah Hoon.


Ia adalah orang yang datang mengendarai mobil di saat puteri Hwa akan keluar dari halaman rumah Cindy. Selisih waktu membuat keduanya tidak bertemu.


“Aku percaya dengan ucapanmu, jangan sampai gagal. Akan aku habisi gadis itu kali ini.” Tekan Cindy yang kembali diangguki oleh Hoon dengan senyum tampannya.


“Setelah itu, kau akan menerima diriku kan gadisku” Hoon mengerlingkan matanya pada Cindy, yang seketika membuat Cindy terbahak-bahak, lalu mengangguk kemudian.


“Untuk permulaan, bolehkah aku menyentuh....” Hoon menatap bibir ranum milik Cindy, ia selalu penasaran dengan bagian itu yang menggodanya setiap saat.


“Silahkan.” Cindy mengikis jarak, membuka bibirnya untuk mengundang Hoon menyentuhnya.


Tanpa menunda, Hoon menyambut ajakan itu.... dan terjadilah.


Kissing antara Hoon dan Cindy, penuh kelembutan, sebagai wujud pembuktikan bahwa perasaannya benar-benar tulus untuk adik dari sahabatnya ini. Lee Cindy.


.


.


“Awwhhh, kenapa kepalaku sering sekali pusing akhir-akhir ini.” keluh Ara yang berbaring telentang di kamar.


Dayang Han mendengar hal itu dan terlihat cemas.


“Apa perlu saya panggilkan tabib, yang mulia?” tawarnya. Ia sering mendengar keluhan Ara yang sering sakit kepala tanpa sebab, padahal tak ada aktifitas berat yang dilakukan gadis itu.


“Ya, panggilah, aku tidak tahan lagi.” Ara menyerah, ia mungkin harus diobati.


Tak lama.... tabib beserta asistennya datang ke kediaman puteri Hwa. Bersiap memeriksa sang puteri yang mengeluh kepalanya sakit beberapa hari ini.


“Bagaimana? Apa mungkin vertigoku kambuh, tabib?” tanya Ara, memantik heran di wajah si tabib.


“Vere, veretigo?” ulang si tabib.


“Hmm. Itu sakit kepala yang sangat parah, aku memang mengidap vertigo.” Sahut Ara menceritakan permasalahan sakitnya, mengabaikan bahwa dunia ini belum menemukan istilah keren sakit kepala modelan vertigo.


“Tapi, anda baik-baik saja Yang Mulia. Anda mungkin hanya kurang istirahat.” Jawab tabit setelah mengecek bahwa tubuh itu baik-baik saja, tidak ada indikasi sakit kepala yang diperkirakan Ara.


“Tapi kenapa dengan tubuhku......” belum selesai Ara berucap, pintu geser itu terbuka...


Memunculkan sosok perempuan berusia 50 tahunan yang berpakaian serba putih dengan penutup kepala seperti topi. Saman. Dukun di Joseon.

__ADS_1


“Saman?” ucap Ara mengerutkan dahi.


“Yang Mulia, anda harusnya membutuhkan hamba, bukan tabib.” Jawab si saman membaca pikiran Ara.


__ADS_2