100 Hari Menjadi Puteri Joseon

100 Hari Menjadi Puteri Joseon
Kekhawatiran Kim Hee Sin


__ADS_3

Di temani sang resepsionis yang dari penampilannya membuat puteri Hwa berdecak kagum. Bagaimana tidak, baik baju, riasan wajah, bahkan apa yang melekat di tubuh gadis itu tertata rapi. Mata puteri Hwa sesekali mencuri lirik ke arah kedua perempuan yang berdiri di depannya. JI eun dan resepsionis. Ia menggelengkan kepalanya, apakah jika dirinya berani menggunakan pakaian seperti mereka jika tubuh Ara adalah tubuhnya?


Ohh tidak, itu melanggar norma kebangsawanan bahkan norma dan etika seorang wanita meskipun rakyat jelata. Untuk ukuran seorang wanita yang bekerja di rumah bordil saja tetap tertutup, dan hanya terbuka manakala ada di ruangan tertutup bersama pria yang menyewanya, sedangkan di dunia ini, sulit membedakan mana yang penggoda dan mana yang baik-baik saja jika diukur dengan etika wanita era Joseon.


Puteri Hwa belum berani menurunkan derajatnya untuk sama di dunia Ara yang aneh ini.


“Mari nona.” Panggilan resepsionis mematahkan lamunan puteri Hwa, lift yang dominan berwarna kuning di beberapa sisinya berhenti di lantai yang di tuju


“Heummm, berkat oeni aku bisa bertemu dengan Kim oppa.” Tutur Ji Eun dengan gurat lebarnya.


Melangkah penuh keanggunan, mereka sampai di ruangan besar, tertulis di sana Ruang CEO.


Pintu kaca besar yang bening menembus ruang di dalamnya terbuka otomatis, membuat ketiga perempuan muda ini menapaki ruang di dalamnya.


Asisten Sein yang tepat saat itu keluar dari dalam ruangannya berhenti ketika matanya menangkap bayang kehadiran Jo Ara.


Membungkuk hormat, “Nona Jo Ara.” Sapanya mendekat, mengangguk pada resepsionis setelah diberi tahu sebelumnya bahwa kehadiran Ara sudah diketahui oleh sang bos.


“Mari nona Jo Ara.” Kini Sein mengambil alih langkah puteri Hwa menuju pintu yang puteri Hwa tebak terbuat dari kaca, namun kenapa tidak bening melainkan buram berwarna putih.


Hingga.....


Klik.... kaca itu mendadak bening, tampaklah sosok rupawan tengah duduk di dalamnya.


“Wahhh.!!” Reflek puteri Hwa berdecak kagum. Pemandangan di hadapannya mencuri kekagumannya, bagaimana bisa keca yang tadi buram berubah cepat menjadi bening dan tembus pandang. Ajaib sekali sihir di dunia ini.


Ceklek. Pintu dibuka.


Kim Hee Sin yang tahu siapa yang datang mengangkat wajahnya, melukis senyum teduh dan hal itu menambah pesona dirinya, hingga membuat Ji Eun nyaris membuka rahangnya lebar, mupeng akan ekspresi pria itu.


Ia beranjak dari kursi kebesarannya, menggeser tiap tapak kakinya mendekati gadis yang sudah tanpa diduga hadir di perusahaannya.


“Ara-sshi” sambutnya dengan tetap mempertahankan gurat senyum di wajah rupawannya.


“Siapa dia?” mata Kim Hee Sin menatap sosok Ji Eun yang berdiri di sisi tubuh Ara. Dan gadis itu menyengir tengil namun tetap manis.


“Dia yang menolongku, orabe...oppa.” jawab puteri Hwa sembari urung menyebut kata orabeoni seperti biasanya dan menggantinya dengan oppa.


Mendengar kata oppa meluncur di bibir gadis itu, degub jantung Kim Hee Sin dengan nakalnya berdegub senang. Ia sendiri merasa seperti gadis pemalu saja, semoga tak ada istilah rona merah di wajahnya.


“Terima kasih atas bantuanmu, nonaa...”

__ADS_1


“Ji Eun. Oh Ji Eun.” Sambar Ji Eun segera saat Kim Hee Sin jelas ingin tahu dirinya.


“Oh, iya, nona Oh Ji Eun.... tunggu.” Kim Hee Sin ingat sesuatu.


“Kau puterinya Oh Ru On bukan? Pemilik Brilliant Grup.” Tebak Kim Hee Sin saat ia mengingat Ji Eun.


“Iya, saya Puteri Oh Ru On.” Angguk JI Eun.


“Mari duduk.” Kim Hee Sin mempersilahkan kedua tamunya duduk di sofa empuk yang ada di ruangannya. Dan memberikan tanda kepada Sein agar menyiapkan jamuan untuk tamu istimewanya.


“Oh tidak, saya hanya mengantar nona Ara saja, saya akan segera pergi tuan Kim.” Ji Eun yang masih memiliki kesibukan menolak ajakan Kim Hee Sin. Ia hanya sepenuhnya mengantar idola tercintanya, ya sekaligus cuci mata untuk melihat pria terpopuler di Korea.


Selepas kepergian Ji Eun yang diantar Sein, puteri Hwa duduk bersisian dengan Kim Hee Sin di sofa unik milik Kim Hee Sin, pria itu sungguh menyukai warna yang didominasi biru, kuning dan merah.


“Kau menyukai warna merah, biru dan kuning.” Ujar puteri Hwa menilai sekeliling ruangan luas ini.


“Iya, aku menyukai warna itu.” Sahut Kim Hee Sin.


“oo, ya ya.” Angguk puteri Hwa.


Hening.....


“Oh ya, kau bertemu di mana dengan Ji Eun Sshi tadi?” tanya Kim Hee Sin penasaran, untuk


“Kau mengenalnya, Ara sshi?” tambah Kim Hee Sin bertanya,


Puteri Hwa menggeleng. “Tidak. Aku tadi bertemu dengannya ketika aku kebingungan untuk kembali pulang. Aku tidak ingat tempat tinggal dan hanya ingat tempat ini.” Jawabnya panjang lebar.


Mengerutkan dahi, Kim Hee Sin kembali heran, “Bertemu dengannya? Di mana? Kenapa kau bisa ada di tempat yang tidak kau ketahui?”


“Ponselmu mana?”


“Hana kemana”


“Sejak kapan kau di sana.?”


Serentetan kalimat tanya menerobos secara berjamaah dari bibir Kim Hee Sin, lihatlah, kini pria matang itu mendadak khawatir, wajahnya berkerut cemas, dan tubuhnya mendadak condong dan menegang.


“Aku tidak mengenal tempatnya. Dan aku tidak membawa ponsel.” Jawab puteri Hwa.


“Bagaimana bisa kau berada di sana jika kau saja tidak tahu tempat apa itu. Apakah kau sendirian ke sana?”

__ADS_1


Puteri Hwa menggeleng. Menghela nafasnya terlebih dahulu lalu menarik pelan.


“Aku tadi di jemput oleh seseorang. Lalu di bawa ke sebuah bangunan yang luar biasa besarnya, bertemu......” ucapan itu terpotong. Puteri Hwa menoleh dengan tatapan intens pada Kim Hee Sin yang menunggu dengan tidak sabar.


“Apa? Siapa yang menjemputmu?” lagi-lagi pria itu bertanya penuh rasa tak sabar.


“Aku tak mengenalnya....”


“Kenapa kau bisa sampai ikut dia jika kau saja tak mengenalinya.” Menahan gemas, Kim Hee Sin dibuat tak percaya akan keteledoran Ara yang mengikuti orang yang tak dikenalnya.


“Wanita? Atau pria?”


“Hmm... pria.” Lirih puteri Hwa menjawab


“Apa???! Pria?? Bagaimana bisa Ara-ya” Histeris Kim Hee Sin berlebihan, ia malah mengangkat bokongnya dan bergegas berpindah duduk di sebelah tubuh Ara. Menatap tidak percaya akan jawaban gadis itu.


“Kata pria itu, kau yang menyuruhnya menjemputku.” Jawab puteri Hwa.


“Aku? Menyuruhnya?”


“hmm.” Deham puteri Hwa tanda mengiyakan.


“Lalu selanjutnya apa?” tak sabar pria itu mengintrograsinya.


“Aku di bawa ke sebuah bangunan dan... dan bertarung dengan beberapa pria di sana.”


Lagi-lagi jawaban itu membuat Kim Hee Sin shock


“Ya Tuhannnn, bagaimana bisa... kau di serang?”


“Iya. Suruhan perempuan pernah menikamku di apartemen., salah satu dari pria itu juga yang pernah bertarung denganku.”


“Perempuan? Kau mengenalnya?”


“Tidak. Tapi, di sana aku melihat ada pria terbaring dengan banyak... banyak benda yang menempel di tubuhnya, seperti di rumah sakit.


Ingat puteri Hwa akan sosok Frankie yang terbaring di brangkar.


“Kau tahu namanya?”


“Fer.... Fera... Frankie.” Susah payah lambe puteri Hwa menyebut nama itu.

__ADS_1


“Frankie? Apakah Lee Frankie? Apa itu artinya Cindy yang kau temui?”


__ADS_2