100 Hari Menjadi Puteri Joseon

100 Hari Menjadi Puteri Joseon
Diagnosa


__ADS_3

Jika di Joseon Ara harus bertahan dengan tarik menarik jiwanya dan puteri Hwa, maka di apartemen minimalis nan mewah itu, puteri Hwa pun demikian.


Kepalanya berputar, setiap sudut yang tertangkap netra mendadak tak ada yang tepat posisinya.


“Arghhhhh.” Erangnya memegangi kepala.


Ia bangkit, namun...


Prang!!!!!!


Akuarium kecil kaca yang berisi ikan-ikan pecah berserakan, ikan-ikan menggelepar, bintang laut nyaris terinjak, namun tak bisa menghindari pecahan kaca itu menancap di telapak kaki.


“Awwwwwwwhhh, HANAAAAA!!!” kini puteri Hwa memekik dan memanggil nama Hana.


Tap


Tap


Tap


Ceklek


“ARA!!!!” Hana tak kalah nyaring memekik, bahkan ia histeris melihat tubuh Ara menggelimpang di lantai


Dengan posisi mengkhawatirkan, bajunya basah, benda-benda berserakan, dan darah...


“Darah??!!!” semakin paniklah Hana melihat bercak darah di lantai


“Hei, ayo bangun.” Tak mau ada drama menatap, bertanya-tanya, Hana langsung menarik tubuh Ara dan memapahnya ke kursi yang lebih dekat dari posisi mereka.


“Sebentar.” Ia mendudukan Ara dan menaruh kepala gadis itu di sandaran kursi, agar nyaman dulu.


Sementara dirinya sibuk mencari kotak obat, baju dan apa saja yang berguna untuk Ara saat ini.


“Arggg..” puteri Hwa lagi-lagi meringis. Kepala itu semakin sakit saja menyerangnya.


“Hei, lihat aku, Ara.” Hana menepuk pipi mulus itu.


Ia ingin memastikan kondisi sahabatnya masih sadar.


“Iya, aku pusing.” Puteri Hwa hanya membuka mata sebentar lalu memejamkan lagi mata itu, tak sanggup melihat sekelilingnya berputar hebat.


“Baiklah, aku akan menggantikan pakaian dan mengobati lukamu.” Hana sigap, ia menarik kaos yang melekat di tubuh Ara lalu mengganti dengan yang baru.


Puteri Hwa hanya pasrah. Jika dulu ia akan menjerit karena di pakaikan baju oleh Hana, sekarang tidak. Anggap saja itu dayangnya, begitu pikirnya.


“Arghhh.” Puteri Hwa meringis ketika Hana mengoles luka itu dengan alkohol terlebih dahulu.


“Ini akan sedikit perih, jadi tahan ya.” Ucap Hana lembut yang diangguki puteri Hwa dengan mata masih terpejam.


“Asshhhhhhhhh.” Semakin perih saja ringis puteri Hwa. Hana mengoles dengan obat luka antiseptik.


“Okeh sudah.” Kata Hana, setelah ia selesai memasang plaster penutup luka.


“Hei, kau kenapa?” karena tak ada respon, Hana memanggil.


“Aku pusing, Hana.” Sahut puteri Hwa.


“Oo, ya sudah istirahatlah, aku keluar dulu.” Hana mulai membereskan pakaian basah Ara, kotak obat dan beralih membersihkan yang berserakan dengan sapu dan sekop yang tadi diambilnya sekalian.


Ia menatap Ara yang berbaring, lalu siap menutup pintu...

__ADS_1


Tapi.....


“PRULLLL, AWHHHHH SAKETTTT.”


Hah!!!!


Hana berbalik.


“Ara???!!!”


“Lo mau kemana!!! Tolong gueee.” Pekik Ara, ya itu suara Ara, jiwa Ara.


Hana tanpa berpikir langsung melesat menuju tubuh Ara yang tadi berbaring.


“Hei,, Ara??” panggil Hana meragu.


Ia tahu memang ini Ara tapi beberapa minggu ini sahabatnya itu melupakan semua hal, bahkan mengendarai mobil, membuka pintu, semua lupa.


Perlahan mata itu membuka....


“Iya ini gue, lo pikir siapa hah?!” sahut Ara, cengengesan.


Kalau di sini jiwa Ara, lalu puteri Hwa????


.


.


.


Semua heboh ketika mendengar kabar puteri Hwa jatuh pingsan.


Bahkan acara pemilihan puteri mahkota saja mendadak di tunda kembali, semua mata fokus ke sana, atas perintah Raja dan putera mahkota tentunya.


Sretttt


Pintu geser ditarik...


Di sana sudah ada.. Raja, putera mahkota, ratu, dayang Han.


“Yang Mulia.” Menundukkan kepala, tabib memberi hormat terlebih dulu.


“Cepat, periksa puteriku.” Perintah raja tegas dan berwibawa.


“Baik, Yang Mulia.” Jawab tabib mulai mendekat.


Tangan puteri Hwa sudah di lapisi kain tipis, tempat bagi tabib yang akan memeriksa keadaannya.


Hening, tabib fokus menerka denyut nadi puteri Hwa untuk menentukan diagnosanya nanti.


Matanya menutup, konsentrasi penuh, semua mata menatap tabib.


Sementara yang diperiksa konsisten menutup mata, masih pingsan.


“Bagaimana?” putera mahkota langsung bertanya saat tabib sudah menarik tangannya dari pergelangan tangan puteri Hwa.


Membungkuk hormat dulu, tabib bersiap menjawab, “Dari hasil yang hamba periksa, tuan puteri baik-baik saja, Yang Mulia.” Jawabnya.


“Huh? Baik-baik saja? Bagaimana bisa, sementara beberapa kali dirinya mengalami pusing hebat, bukan begitu dayang Han?” putera mahkota tak yakin dengan jawaban tabib.


Maka dari itu ia melempar alasan ketidakpercayaannya dengan melihat dayang Han.

__ADS_1


“Iya, yang mulia, puteri Hwa beberapa hari ini mengeluhkan pusing.” Jawab dayang Han menundukkan kepala.


“Dengar kan, jadi, periksa sekali lagi.” Titah putera mahkota.


Tabib bukannya tak yakin, tapi ia sudah mengulang periksa tadi, akan tetapi, perintah tegas barusan harus ia patuhi.


Ia menaruh tangannya di atas kain tipis itu lagi. Memejamkan mata, fokus mendengarkan denyut nadi puteri Hwa.


Sama.


Tetap sama


Puteri Hwa baik-baik saja


Tidak ada yang salah dengan tubuh yang terbaring ini.


Yakin tabib sekali lagi.


“Maaf Baginda raja, putera mahkota, dan Yang Mulia ratu.” Tabib berucap pelan, menunduk dalam, sebagai tanda akan jawabannya tak akan berubah alias tetap sama.


Berkerutlah dahi putera mahkota, sudah tahu arah pembicaraan.


“Pergi.” Usir putera mahkota, ia menahan diri karena tak puas dengan hasil tabib.


Bergegas tabib keluar dari sana, sebelum pria itu mengamuk seperti dulu.


“Apa yang akan kau lakukan, putera mahkota? Bukankah kata tabib puteri Hwa baik-baik saja?” begitu ucap ratu melirik putera mahkota yang diam.


“Aku akan memanggil tabib dari luar, yang pernah memeriksa puteri Hwa dulu.” Sahut putera mahkota. Ia pernah menggunakan satu tabib, saat menyelidiki puteri Hwa yang tiba-tiba menjadi buruk rupa.


“Lakukan apa yang terbaik menurutmu, putera mahkota.” Raja mendukung keputusan putera mahkota.


Ia menilai jika yang dilakukan puteranya tak lain karena kasih sayang seorang kakak untuk adiknya, mengabaikan gosip murahan yang pernah ia dengar mengenai hubungan terlarang dua kakak beradik itu.


“Terima kasih, Yang mulia.” Balas putera mahkota, sementara ratu mendecih dalam hatinya, tak suka akan perlakukan raja itu.


Lepas beberapa jam kemudian.


Sretttt


“Yang Mulia.” Tabib yang berusia renta, berpakaian lusuh karena hanya rakyat biasa. Menapaki lantai kamar puteri Hwa dan mendekat.


“Periksa puteri Hwa.” Titah putera mahkota yang saat ini tinggal dirinya, dayang Han dan puteri Hwa saja, raja dan ratu sudah pergi sedari tadi.


“Baik Yang Mulia.” Jawab tabib, duduk, menaruh buntalan kain hitam miliknya.


Matanya menyorot gurat wajah puteri Hwa, lalu perlahan telapak tangannya menyentuh kain tipis yang masih ada di pergelangan tangan puteri Hwa.


Matanya juga menutup, kepalanya refleks mengangguk sebagai bentuk hipotesa diagnosanya.


“Bagaimana?” lagi-lagi putera mahkota yang fokus memperhatikan tabib langsung bertanya saat mata tua itu membuka.


“Puteri Hwa baik-baik saja, Yang mulia. Tidak ada yang salah dari tubuhnya.” Jawab tabib, sama, sama dengan tabib sebelumnya.


“Ulangi.” Titah putera mahkota.


Tapi dijawab tabib dengan senyum teduhnya.


“Yang Mulia, tidak akan mendapat jawaban yang diingingkan jika dari hamba.” Sahut tabib


“Yang Mulia harus memanggil saman untuk mendapatkan jawaban yang diinginkan.” Pungkas tabib.

__ADS_1


“Saman? Dukun?”


__ADS_2