100 Hari Menjadi Puteri Joseon

100 Hari Menjadi Puteri Joseon
Bertemu Musuh Ara


__ADS_3

Sesaat setelah perempuan itu mengumandangkan lantangan kata-katanya.


Puteri Hwa melihat 3 orang pria betubuh besar yang sedari tadi berdiri agak jauh melangkah pasti menuju dirinya.


Takut?


Heh, kalian salah orang.


Tak bergeming sama sekali kala ia semakin mendapati pria-pria itu sudah mengikis jarak.


"Ingatkan lagi jala-ng itu, siapa diriku." serunya pada ketiga pria yang sudah mengepalkan tangan masing-masing.


'Ooo, jadi itu mau kalian.' batin puteri Hwa, bersiap.


Tentu dirinya sadar betul akan tujuan mereka.


Apalagi kalau bukan untuk menyerangnya.


Kalian belum tahu siapa dirinya, heh?!!


Menjadi sasaran orang-orang yang juga gencar memburunya di negerinya sendiri, Joseon, bahkan di dalam rumah yang penuh penjaga, istana.


Dan, para pecundang berjenis kelamin itu mulai melancarkan gerakannya. Menahan tangan Ara dan satu lagi memaksanya duduk lalu mendongakkan kepala.


"Oho, berani-beraninya kalian menyentuhku.!!!" kecam puteri Hwa.


Kenapa ia tidak membela diri?


Nanti, tunggu dulu ih, zabar.


Plak!!!


Panas, begitulah yang dirasakan puteri Hwa di pipi bagian kiri wajah ini.


Plak!!! Plak!!!


Lagi. Telinga pun terasa berdenging.


'Gadis ini gila' batin puteri Hwa menatap sengit bersamaan


"Kau masih berani menatapku seperti itu.???" balas si perempuan geram


"Cih," ia meludah, air liurnya bergradasi warna merah segar.


Saking kuatnya tamparan, atau lebih cocok disebut pukulan?


"Apa mau kalian, kenapa memukul tanpa kejelasan." Hardik puteri Hwa tak kalah geram


ia tak tahu apa yang terjadi sekarang. Selama dirinya berada di dunia ini, yang ia lakukan hanya bersenang-senang, tapi.. Dengan entengnya orang yang tak dikenalnya sama sekali malah memukulnya, keras pula.


"Heh, nyawamu ternyata banyak juga. Padahal waktu itu bisa dipastikan kau mati!!!" ucap perempuan dengan nada sinis.


Mati????


Apa maksudnya?


Apa mereka juga melakukan hal serupa kepada Ara?


Apa Ara juga menjadi incaran para pembunuh seperti dirinya?


"Aku tak mengenal kalian siapa" ujar puteri Hwa masih tak gentar meski kedua pipi ini bak tersengat lebah api.


"Apa perlu kita ulangi kejadian hari itu, Ara?" tawar perempuan itu menyunggingkan senyum yang mirip seringai.


Pun di balas serupa, gadis yang tengah di cekal itu, menyeringai.


"Oh ya? Mungkin aku akan mengingat manusia sampah seperti kalian, jika diulang." sikap tengil yang ditampakkan di raut wajah Ara, memicu perempuan itu memanas.

__ADS_1


Dan benar saja, kaki yang dibalut sepatu berhak tinggi, berkilau dengan bebatuan indah itu, terangkat.


Bersiap mendarat di wajah Ara.,


"Rasakan!!!" pekiknya marah.


Tapi,.


Dengan sigap, puteri Hwa memalingkan wajah Ara demi menghindari kemarahan si perempuan.


Dan berakibat, si penyerang nyaris terjengkang menabrak dinding kaca jika saja salah satu pria yang melepas cekalannya menangkap tubuh tuannya.


Tanpa di duga kembali, puteri Hwa menarik tubuh Ara paksa dari cekalan dua pria lainnya.


Meski awalnya sulit karena tubuh mereka kekar dan gempal. Tapi puteri Hwa membalik tubuh hingga tangan keduanya berputar sempurna.


"Arrghhhhhh" pekik mereka tertahan, kala mendapat serangan tiba-tiba itu.


"Huftttt." lega, itu yang dirasakan puteri Hwa sekarang.


Sedari tadi ia begitu gatal dikekang seperti itu. Menunggu dengan sabar ternyata membosankan.


"Kauuu!!!" kini bergantian, perempuan yang nyaris menyerangnya dengan sepatu indah itu berbalik menatap tubuh Ara dengan mata nyalang penuh kebenciannya.


"Hajar jalan-g itu, kalau perlu... Bunuh sekalian!!!!" titahnya menggelegar di ruangan itu.


"Heh, para pecundang rupanya ada di mana-mana" ucap puteri Hwa menatap satu persatu ketiga pria yang bersiap menyerangnya, sekaligus.


Pecundang sekali, bukan?


Perempuan, di serang, langsung keroyokan.


Ciyaatttttt!!!!!


Membabi buta, baik menendang, meninju, mereka lakukan terhadap Ara.


Tak akan dibiarkannya terluka. Yakinlah.


Itu janjinya.


Ciyatttt, hup, cyiiitttt.


Tubuh ramping itu menghindar dengan gesit, bahkan bersiap mengangkat tubuh untuk.....


Prang!!!!!!


Tubuh pria yang berniat menendang kini sudah terjengkang menubruk meja kaca yang bertatakan vas bunga.


"Arghhh." ucap pria itu menahan sakit.


Dua pria lain yang melihat itu semakin beringas menyerang dirinya.


Sungguh memalukan sekali.


Ciyatttttt,


Ciyaatttt.


Hentakkan tubuh yang digerakan puteri Hwa selaras dengan yang terima dari Ara.


Puteri Hwa pun tak kesulitan menggerakannya.


Sementara perempuan tadi memandang penuh kecemasan ketika satu persatu pengawalnya mampu dibalas Ara serangannya.


"Sialan, dia memang jago beladiri, tapi kenapa gerakannya kali ini begitu cekatan. Tidak seperti saat itu." gumam perempuan itu menelisik gerakan puteri Hwa tampak berbeda.


"Ini bukan thai boxing. Beladirinya berbeda." ucap salah satu pria yang juga terjengkang menabrak dinding tebal kaca pembatas antara kamar Ara dengan ruang makan.

__ADS_1


"Thai boxing?" beo puteri Hwa menangkap ucapan pria brewokan itu.


"Ayo. Sini, akan aku bunuh kalian semua!!!" tantang puteri Hwa menggerakkan 5 jari Ara memanggil mereka bertiga.


Dan lagi.


Ciyatttttttttt.


Bak buk bak buk


Brak bruk brak bruk


Meski melawan tiga pria bertubuh besar-besar, tenaga tubuh ini tak terasa lelah sama sekali bagi puteri Hwa.


'Apakah Ara juga bisa beladiri?' batinnya menduga.


Kini, lagi dan lagi, tiga pria itu terjengkang melayang.


Yang pecah, hancur, berantakan, isi apartemen Ara sudah bak kapal pecah.


Beragam barang-barang sudah banyak tak serupa lagi bentuknya.


"Kau sepertinya memang kembali harus menerimanya dariku. Huh!!??" perempuan tadi berjalan mundur. Memutar tubuhnya menuju.... Dapur.


Tempat di mana tertata beragam pisau berwarna putih milik Ara.


Meraih satu, yang memiliki ukuran 30 cm, tajam di ujungnya, berkilat dengan kepastian terluka 90%.


"Mati kau!!!!" puteri Hwa yang tak sengaja menangkap bayang dari sisi kaca pembatas tadi, sigap menghindar ketika melihat perempuan itu membawa senjata tajam untuk menyerangnya.


Tapi terlambat. Pisau itu berhasil menggores sisi lengan Ara.


Tipis, tapi mengeluarkan darah.


"Hentikan!!!" suara menggelegar menyapa keempat orang yang sedang melakukan drama pukul-pukulan itu.


Menghentikan aksi. Menoleh bersamaan.


Hoon.


Tapi tidak bagi puteri Hwa.


"Pangeran Sin?" ucapnya begitu pelan sembari menahan lengannya yang terluka.


Pria itu bersiap melancarkan serangan. Ketiga pria tadi mengganti target.


Menyerang Hoon dengan pasti.


Tapi, pria itu kalah telak. Tubuhnya terhempas dilantai marmer berwarna abu-abu garis emas.


"Ayo pergi!!!" pekik si perempuan yang mencapai handel pintu keluar.


Puteri Hwa tak tinggal diam, ia melangkahkan kaki jenjang Ara mengejar perempuan yang telah melukai tubuh Ara.


Tapi, langkahnya terhenti manakala ia merasakan pergelangan kaki Ara ditahan.


Siapa lagi pelakunya.


Hoon.


Pria itu meringis sembari menggeleng agar gadis itu tak bertindak sesukanya.


"Lepas, aku tak sudi melepaskan mereka!!!" ucapnya tegas.


"Ja-ja-jang...." ucapan Hoon menggantung di udara, karena pria itu kini menutup matanya.


Pingsan.

__ADS_1


"Pangeran Sin?!!!!"


__ADS_2