
Ara menatap perempuan yang tengah memasang wajah penuh raut senang, tampak sekali air mukanya.
Sungguh, ia kira, kejahatan licik seperti ini hanyalah pemanis drama agar tampal gregetan para penontonnya.
Heh, ternyata sodara-sodarah, kejadian ini nyata di hadapan Ara.
Namun gadis itu tertegun setelahnya.
Apa mungkin, seharusnya ia yang menjadi tumbal ratu yang menjadi ibu negeri ini.
Hayolah, si pemilik tubuh ini adalah anak seorang penguasa negeri ini. Jadi, bukankah harusnya ratu tak berani macam-macam terhadapnya, kan?
Betul kan? Kan?
"Kenapa puteri Hwa, apa ada hal yang membuatmu bingung di sini?" ratu dengan tubuh lembutnya,, kini tampak tak sama sekali mencerminkan kelembutan itu. lebih terlihat sebuah arogansi di sana. Mengintimidasi Ara dengan bahasa tubuh ratu.
"Apa ada yang perlu aku bingungkan di sini ratu? Tampaknya ini adalah skenario saja." sahut Ara santai. Meski jantung yang terselip di dalam tubuh ini menyuarakan degub liar, tapi gadis itu coba kendalikan.
"Hah?" Ratu memasang wajah terkejut namun setelah itu, rupanya ia melanjutkan menjadi kekehan geli.
"Puteri, puteri. Kau lucu sekali." lanjutnya yang kini menambah kegelian itu dengan menaruh tangannya di bagian perut.
"Dan apa katamu tadi, sekena, sekena apa?" perempuan yang bergelar ratu itu teringat salah satu kata aneh yang terlontar dari bibir gadis itu.
Ara mengedipkan beberapa kali kedua mata milik puteri Hwa dengan cara polos. Dan tak menjawab kalimat tanya ratu.
Masa' bodo!!!
Balas Ara enggan merespon.
"Puteri!" panggil ratu.
"Iya yang mulia." sahut Ara lembut, mengabaikan percakapan sebelumnya. Gadis itu sangat menyadari jika ratu masih menanti jawaban kata aneh dari bibir generasi zaman dahulu itu, namun tetap saja, Ara bertindak pilon lah.
Sekali lagi, masa' bodo.
"Apa yang tadi kau ucapkan? Kata apa itu?" tanya ratu mengulang lagi.
Ara memasang wajah bingung.
"Kata apa yang mulia.?" jawabnya membalik tanya.
"Sekena apa itu?" jelas ratu pada kata skenario.
"Ooh, itu yang ada di drama, yang mulia. Namanya skenario." jawab Ara pelan. Dan tentu saja menambah kerenyit bingung di dahi ratu.
Kata baru apa lagi itu, derama? Sekenario?
Sabar tu!
"Derama? sekenario?" beo ratu bingung.
Ara menggelengkan kepala puteri Hwa.
"Yang benar, DRAMA, SKENARIO, yang mulia." ucap Ara membenari kata yang pelafalannya salah dari ratu.
__ADS_1
Baiklah. Ara sedang membuka jasa translit kata modern dihadapan seorang bangsawan yang namanya terukir di sejarah Joseon.
Dalam hati, gadis itu tertawa terpingkal-pingkal, saking senangnya membuat lelucon pada ratu.
Rasakan!
"Jadi, itu kata yang berasal dari negerimu, puteri Hwa, ah, atau tepatnya, roh atau jiwa yang merasuki tubuh puteriku." ratu tiba-tiba melayangkan kalimat yang mampu mengguncangkan sekitar Ara.
Gadis itu terperanjat sekejap. Membisu, dan bergetar meski ia berusaha agar tak tampak di manik ratu.
Dan ratu menyadari kediaman puteri Hwa.
"Haha, sungguh?" ia menatap Puteri Hwa lekat.
Yang ditanya pun masih memasang aksi membisu, sungguh, Ara mendadak tak mampu berkutik.
Setelah sebelumnya, ia merasakan guncangan serupa dari puteri Ara alias rivalnya yang senang sekali mencari gara-gara terhadapnya. Maka kali ini, ratu?
Kenapa dari sekian banyak orang, justeru yang tahu adalah orang yang bergelar penting, bangsawan, isteri raja dan adiknya raja??
Heloooww!!!
Ara apalah artinya, hanya rakyat jelata namun cukup mampu berfoya-foya di zamannya!!!
Kenapa justeru mereka yang bersinggungan dengannya??
Oh para dewa, gerangan apakah ini!?
"Benarkah!!!????" ratu menggebrak meja di hadapannya, dengan raut tak percaya namun wajahnya menyiratkan mimik bahagia.
Setelah itu, tawalah yang menghiasi ruang yang hanya diisi keduanya. Mengabaikan kepanikan di luar pintu geser yang terbuka separuh. Aksi pembunuhan di ruangan sebelah, sama mencekamnya dengan situasi diruangan tempat puteri Hwa, Ara dan ratu bersilahturahmi.
'Saman?' batin Ara menangkap kata yang keluar dari mulut ratu tadi.
'Bukannya itu dukun, ya?' lanjutnya lagi.
Lalu, ia menyadari hal baru, 'Apa mungkin satu tempat dengan yang didatangi oleh bibinya puteri Hwa?' Ara membatin lagi.
"Its emejing." cetus Ara yang meskipun pelan, namun tertangkap jelas di indera pendengaran milik ratu.
"Apa kau bilang?" tanya perempuan itu kala mendengar ucapan aneh yang Ara lontarkan.
Jangankan kata yang berunsur Hangeul, bisa membuat ratu bingung, apalagi ucapan aksen Inggris, tentu saja ratu bertambah bingung.
"Nothing, my Queen." sahut Ara, membalas dengan kata yang lebih asing lagi.
Rasakan!
Biarlah!
"Heh!" ratu mendengus mendapati puteri Hwa alias Ara yang menambah daftar penasarannya akan kata asing.
"Kau, memang roh sialan.!" maki ratu kemudian.
"Sialan?" ulang Ara yang cukup tertegun kata yang dinilai agak kasar itu bisa keluar dadi bibir seorang bangsawan yang tentu sangat menjaga dan mempelajari etika berbicara.
__ADS_1
"Kau, roh yang tak tahu diri." lanjut maki kedua dari ratu.
"Tak tahu diri?" Ara mengulang dengan jemari yang menghitung menjadi dua.
Ratu mengangguk.
"Bukankah kau yang merupakan roh tersesat, seharusnya menyadari di mana tempatmu berada, bukan?" ucap ratu dengan nada menekan meskipun lembut.
Ara menyimak dengan dada berdebar hebat.
"Aku bisa memastikan jika kau tentu bukanlah seorang bangsawan, bukan?" lanjut ratu.
"Rakyat jelata sialan!" makian ketiga terlontar dari mulut ratu.
Dan Ara? Tentu saja menambah jemari puteri Hwa menghitung menjadi tiga.
"Dan dengan tak tahu malunya, kau bertingkah seolah kau pemilik tubuh, mengeluarkan kata tak jelas."
Ara menghitung makian keempat, tak tahu malu.
"Mengatur sekitarmu."
"Meminta perhatian sekelilingmu."
"Bahkan dengan kurang ajarnya menantang perdana menteri Kim."
"Membuat malu puterinya, Kim So Yoon."
Ara tetap mendengarkan kalimat-kalimat dari bangsawan di hadapannya itu.
Menunggu dengan perhitungan yang matang tentunya.
"Harusnya, begitu kau tahu bahwa puteri Hwa seorang bangsawan, kau tidak perlu bertingkah melebihi dirinya."
Ratu mendecih memandang tubuh puteri Hwa yang duduk, dari atas ke bawah, dengan pandangan merendahkan tentinya.
"Jangan banyak bertingkah di sini, kau roh malang."
"Cukup diam, perhatikan saja, bagaimana puteriku seharusnya diperlakukan." ucap ratu mengakhiri kata perkata yang pedas, tegas, nyelekit itu.
Ara menghela nafas puteri Hwa. Lalu mengangguk beberapa kali.
Mengacungkan telapak tangan puteri Hwa, lalu mengangkat satu persatu jemari lentik itu.
"Tak tahu diri." ucapnya pertama
Lalu...
"Sialan." lanjutnya mengabsen satu persatu makian tadi.
"Rakyat jelata sialan, lalu tak tahu malu." ucap Ara lagi
"Ya, begitulah dirimu, roh sialan." balas ratu menyetujui.
"Bahkan dengan rendahnya, menggoda putera mahkota." sindir ratu, atau lebih tepatnya, merendahkan?
__ADS_1
"Dasar, emak-emak tipe julid ya, mentang ratu jadi seenaknya aja ngerendahin anak orang. Gini-gini gue juga manusia, gak bisa dikatain kayak gitu woy!!!!"