100 Hari Menjadi Puteri Joseon

100 Hari Menjadi Puteri Joseon
Tumbang


__ADS_3

“Maksud anda nona?” masih belum paham akan arah pembicaraan Ara.


“Aishhh kau ini, lemot kali sih otaknya.” Ara gemas, sudah jelas kata-katanya akan dayang An, tapi dayang yang ada di depannya tetap tidak paham.


“Pokoknya, nanti aku akan menemui dayang sotoy itu. Akan langsung aku interogasi dirinya.” Penuh semangat, Ara mengepal tangannya ke atas.


Keesokan harinya....


Saat Ara sudah menapakkan kakinya di luar bangunan puteri Hwa. Matanya menangkap banyak hilir mudik di sekitar istana.


Berhenti.


“Ada acara apa, dayang Han, kenapa ramai sekali?” tanya Ara heran akan keriuhan sekelilingnya.


“Hari ini keputusan akhir pemilihan puteri mahkota, yang mulia.” Jawab dayang Han.


“Hah? Kok aku tidak tahu perihal itu?” Ara menatap tajam pada dayang Han, kenapa kabar pemilihan puteri mahkota tidak ia ketahui.


“Hamba sudah pernah menyampaikannya, Yang Mulia, tapi anda tidak menanggapinya waktu itu.” Jelas dayang Han.


Ia bener-benar pernah mengingatkan akan hari pemilihan puteri mahkota saat itu yang sudah masuk 10 besar, pemilihan pendamping putera mahkota yang sering tertunda.


Dan saat itu, Ara memang sedang dipusingkan akan masalahnya sendiri. Tenggang waktu yang dimilikinya sedikit lagi. Ia bak dikejar kang pinjol saja. Cuma lebih seram, karena ia sedang bermain petak umpet dengan malaikat maut.


Salah sedikit, ia akan dilibas benaran dan digondol malaikat ke alam lain.


“Ahh pokoknya tetap saja, kau salah dayang Han.” Putus Ara tak terima akan keteledorannya sendiri.


“Ayo kita ke sana, bestie.” Ara membelokkan langkahnya yang tadi mau mencari dayang An, malah menuju paviliun pemilihan puteri mahkota berlangsung.


“Mau apa ke sana, Yang Mulia.?” Tanya dayang Han.


“Mau tawuran massal. Hayoook.” Dengan langkah cepat, Ara tak sabar ingin melihat wajah-wajah yang akan menjadi calon pria idamannya itu.


Ia tak rela, jelas. Dengan fakta puteri Hwa tak ada hubungan darah dengan putera mahkota. Bukankah harusnya keduanya dibolehkan hidup bersama?


‘Pantas saja putera mahkota memberikan perhatian berbeda pada puteri Hwa. Keduanya memang ada affair selama ini.’ batin Ara di sela langkah cepatnya.


Ia tak sabar mau mengobrak-abrik acara sakral itu.


“Puteri Hwa.!” Sedikit lagi tujuannya sampai. Langkahnya harus terhenti.


Ia menoleh, ada pria yang baru saja digosipkan sama batinnya.


Putera mahkota. Berdiri gagah di arah kirinya.


“Mau kemana?” tanyanya dengan suara bass serta berat dan seksi.


“Mau melihat pemilihan puteri mahkota, oppa.” Jawab Ara jujur.


Mendengar jawaban puteri Hwa, putera mahkota terkekeh. Membuat para wanita yang ada di sana meleleh saat mencuri pandang ke arah itu.


“Kenapa?” Ara bingung akan respon itu, apakah ucapannya lucu dan menggelikan?


“Ayo, ikut aku saja.” Putera mahkota mendekat pada tempat berdirinya puteri Hwa.


“Kemana? Aku sibuk.” Tolak Ara, ia mau mengacaukan pemilihan itu, itu tujuannya. Penting, tak bisa diganggu gugat.


“Aku tahu maksudmu, Hwa-ya. Ayo, lebih baik kita berjalan-jalan saja.” Putera mahkota meraih ujung baju puteri Hwa, jelas ia memaksakan kehendaknya. Ara yang terintimidasi, dengan pasrah membalikkan badannya kearah berlawanan dari tujuannya tadi.

__ADS_1


Mengepalkan tangan dan mengerucutkan bibirnya.


“Ihh, padahal dikit lagi.” Gumamnya menggerutu.


“Jangan mengumpat putera Hwa. Aku mendengar itu.” Kekeh putera mahkota.


“Aku tidak mengumpat, hanya berkata kasar saja.” Balas Ara kesal.


“Hahahahahahahahha.” Tiba-tiba putera mahkota tergelak keras, memicu para pengawal dan dayang yang mengiringi keduanya tertegun akan tawa pria yang dingin itu.


Sangat jarang putera mahkota tertawa, bahkan tersenyum saja ia sangat-sangat jarang.


Kejadian langka.


“Kau sungguh menyebalkan, putera mahkota.” Delik Ara menghentakkan kaki lalu bergegas berjalan cepat.


“Tunggu aku, Puteri Hwa.” Teriak putera mahkota tanpa meninggalkan senyum dan kekehannya. Membuat Ara berbalik dan melempar tatapan sebal pada pria itu.


Setibanya di danau.....


Masih dengan bibir mengerucut, Ara, melirik lurus ke hamparan air jernih dengan bunga teratai yang bermekaran di atasnya...


Hening...


Putera mahkota sama sekali tak menurunkan pandangannya pada gadis yang berdiri di hadapannya.


“Apa aku membuat kesalahan besar, Hwa-ya?” pria itu memecah kesunyian diantara keduanya.


Ara, melirik sepintas pada semua pengawal yang mengikuti mereka, ahhh, jauh juga jaraknya.


Tidak bisa menguping.


“Hmm, begitu rupanya.” Sahut putera mahkota, tak menjawab yang seharusnya.


Ara mendelik lagi.


Terlihat menggemaskan di mata putera mahkota...


“Aku paham dengan kecemburuanmu, Hwa-ya.” Ucap pria itu pelan.


Ara menoleh, menatap tak percaya.


Cemburu katanya? Darimana bisa dilihat kalau itu cemburu?


“Cemburu? Aku? Aishhh kau terlalu jauh memikirkan hal itu, putera mahkota.” Tolak Ara tak setuju akan pernyataan putera mahkota.


“Oh ya? Lalu apa?” tanyanya mencari kejujuran di mata indah itu.


Ara menghela nafas berat.


Tujuannya adalah untuk melihat acara pemilihan, siapa gadis yang bernasib sial itu. Karena jika terpilih maka akan diteror Ara nanti.


Misinya adalah selain menemukan para gengster atau mafia aroma Apel itu, dirinya juga akan menuntun takdir putera mahkota dan puteri Hwa agar bisa bersama.


Dan daily-nya juga harus menemui dayang tengil, dayang An.


Ia harus mengadakan pertemuan rapat darurat dengan gadis itu.


Mempertanyakan uneg-uneg yang bersilewaran di kepala ini.

__ADS_1


“Puteri Hwa!!.” Panggil putera mahkota, melihat gadis itu termenung dengan cengiran seperti seringai, cukup mengerikan, persis emak tiri yang berencana nguras harta anak tirinya.


“Huh? I-iya, ada apa putera mahkota.?” Oleng sudah si Ara. Malah balik tanya karena kaget di sadarkan lamunan konyolnya tadi.


“Apa yang kau pikirkan dari tadi?”


“Aku? Memikirkan sesuatu? Ahh iya.” Sahut Ara cengengesan lagi.


Ia menatap putera mahkota.


“Ayo, kita ke acara pemilihan puteri mahkota.,” Ara menggenggam telapak tangan putera mahkota yang cukup membuat pria itu tertegun akan aksi gadis itu.


“Untuk apa?”


“Mau buat kekacauan.”


“Buat kekacauan?”


“Hmm, ayolah, aku bosan.”


“Kenapa harus seperti itu.”


“Ayolah, putera mahkota. Kalau kau tidak mau, biar aku saja sendiri.”


Putera mahkota menahan gerak puteri Hwa.


Ia menatap lekat mata gadis itu, hingga Ara merasakan degub jantung kembali salto dan jungkir balik.


Ini jantung siapa sih yang tawuran di dalem?


Gue atau puteri Hwa?


“Tidak perlu.” Ucap putera mahkota lembut.


Ara mengerenyitkan dahi puteri Hwa.


Apa itu artinya,,....


“Jangan berpikiran yang buruk, Hwa-ya.” Seolah tahu pikiran liar yang bersarang di otak itu, putera mahkota mencegahnya dulu.


“Aku akan melakukan apapun agar pemilihan kali ini akan gagal kembali.” Ucapnya.


Gagal lagi?


Apakah pernah gagal sebelumnya?


Maksudnya sengaja di gagalkan?


“Kau harusnya tahu kan, apa yang harus dilakukan.?” Putera mahkota mengajak gadis itu kembali mengingat apa yang pernah terjadi...


Saat Ara sibuk menilai ucapan itu, tiba-tiba dari dalam kepala itu memberi pukulan luar biasa.


“Awwhhhhhh.” Ara merasakan sakit luar biasa kali ini, ia memang sering diserang sakit kepala.


Tapi kali ini,, sungguh luar biasa rasanya.


“Hwa-ya!!1 kau kenapa??” panik, putera mahkota menahan tubuh puteri Hwa yang nyaris tumbang ke tanah.


“A-aku...... Orabeoni..... awhhh kepala gue.... Orabeoni, kau kah itu.??” Kata-kata Ara bergantian dengan pikiran puteri Hwa. Ucapannya menjadi absurd, kadang dirinya, kadang berasal dari puteri Hwa.

__ADS_1


Dan selanjutnya,,, hanya kegelapan yang menguasainya, mata itu, menutup kali ini.


__ADS_2