100 Hari Menjadi Puteri Joseon

100 Hari Menjadi Puteri Joseon
Aroma Apel??


__ADS_3

Dayang Han menjatuhkan tubuhnya manakala suara Ara terdengar marah di telinganya.


"Yang-Yang Mu-Mulia, sa-saya..." gugup dayang Han kentara.


Ara segera menghapus jarak, di gesernya meja yang berisi hidangan untuknya.


Kuat juga nie cewek.


Meraih lengan dayang Han.


"KAU, APA YANG KAU SEMBUNYIKAN, DAYANG HAN, Huhhhh!!!" Geram Ara menekan tiap katanya. Menyorot tajam pada wajah dayang yang kini terlihat berkeringat.


"Ti-tidak Yang Mulia, saya tidak menyembunyikan apapun." Jawab dayang Han.


Mendengus, menunjuk pada hamparan hidangan yang sangat menggugah selera itu.


"KAU, MAKAN SEMUANYA!!!" Lantang, Ara memberi perintah tegas pada gadis muda itu. Yang kini bergidik gugup.


Tak menggubris, tetap pada posisinya.


"Oooo, jadi benar kau hendak membunuhku juga??!!!" Asumsi Ara membenarkan sikap dayang Han yang menolak perintahnya tadi.


Dayang Han segera menggeleng kasar. Terisak dan menggigil takut, ia meraih ujung baju yang dikenakan puteri Hwa.


"Yang Mulia, Hamba tidak berniat sekalipun mau membunuh atau melukai Anda. Sumpah!!!" Bantahnya mengharap belas kasih dan rasa percaya dari majikannya.


Dan Ara, menepis tangan gadis itu. Ia kini dalam mode, ENGGAN PERCAYA PADA SIAPAPUN YANG JELAS MENCURIGAKAN.


Mengambil hidangan secara acak. Ia mengarahkan pada hadapan wajah dayang Han, yang membuat si penerima terjengkit kaget.


"Jika memang kau setia dan patuh padaku. Makan ini!, tapi jika kau memang salah dari mereka, lenyapkan aku sekarang dengan senjata apapun yang kau miliki, Han." Ucap Ara dingin, tegas dan jelas membuat dayang Han merasakan tekanan di sana.


Menggeleng kembali..


"Hamba, hamba tidak melakukan apapun, Yang Mulia, ampuni hamba." Ucap dayang Han memohon.


Ara tetap pada pendiriannya. Menantang kesetiaan dayang itu, jika memang ia tidak berkhianat. Toh mudah saja bukan, Hana saja, yang tidak sama sekali ia curigai berani menenggak air yang jelas bukan dirinya yang membawa, ya kan? Apalagi korang itu yang merupakan pelayan, di mana majikannya berhak atas hidup dan nyawanya, ya lagi kan?


"Cepat!!! Jika tida..." kali ini kata-kata Ara teleportasi ke dunia lain, manakala ia melihat tindak gesit dayang tersebut yang meraih benda berisi hidangan tadi dan...


Memasukkannya ke dalam mulut. Menatap Ara memohon belas kasih, kepercayaan, dan permintaan untuk tidak meragukan kesetiaannya.


Dayang Han mengunyah, lalu menelan cepat makanan yang ia tenggak tadi dengan tanpa memutus kontak mata pada sang puteri.


Ara menelan ludah berat...


Menatap kelanjutan akan tindakan si dayang


Kesakitan kah?

__ADS_1


Kepanasankah?


Kejang-kejangkah?


Gulang gulingkah?


Atau pingsan sepertinya waktu itu?


Atau ngikut pengawal yang duel dengan Ara waktu itu ke langit tujuh?


Namun, hingga menit berlalu,,,, tak satupun nampak keanehan dari bukti kesetiaan itu.


Ara menoleh kembali pada hidangan di dekatnya, berniat melakukan lagi pada hidangan acak selanjutnya.


Tapi, ia urungkan, sudahlah. ia malas bermasalah dengan siapapun. Toh, jika si dayang Han sudah berani membuktikan walau dengan keraguan, Ara sedikit melunak.


Namun....


"Lalu, kenapa kau bertemu dengan sosok yang aromanya harum itu, huh?" tanya Ara kembali membahas hal yang menjadi awal mula kecurigaannya muncul.


Aroma itu, ia pernah menghirupnya saat berpapasan dengan salah satu barisan arak-arakan putera mahkota.


Ya,... Orang itu.


"Sa-saya bertemu seseorang yang Anda ketahui menaruh hati pada saya, Yang Mulia.." Jawab dayang Han.


"Bukan, bukan dia orangnya." bantah Ara tak setuju. Membuat dayang Han bingung, karena jelas sekali ia tadi bertemu pengawal putera mahkota saat hendak membawa baki makan malam puteri Hwa.


"Tap......" Dayang Han gagal meneruskan, ketika Ara dengan sewotnya menatap tajam pada gadis itu.


"Sudah ku bilang, bukan pria itu, Han-ah. Tapi salah satu dayang yang sudah tua itu." decak kesal Ara pada kekeras kepalaan dayang itu.


Bandel deh, Ar ahlinya loh.


"Besok, kita samperin orangnya. Oke?" Tawar Ara untuk membuktikan kebenarannya.


"samperin?" tanya Dayang Han, bingung.


"Mendatangi, menemui, seperti itulah." Sebut Ara pada kata ajaibnya kali ini.


Mengangguk, dayang Han setuju. Pun dengan penambahan kosakata baru, aneh dan unik menurutnya, itu.


Dan, malam itu. Berakhirlah rasa curiga dan menambah suburlah kepercayaan Ara terhadap dayang itu.


Namun di sisi lain, ia menaruh curiga kini pada sosok dayang itu. Bukan karena asumsi kosong belaka saja, tapi Ara jelas mencium aroma yang sama, manakala ia pernah mendapatkan antaran minum oleh seorang dayang yang saat itu terjadi insiden dirinya keracunan, lalu... Saat ia adu gulat dengan pengawal yang almarhum itu.


Ara mencium aroma yang sama, dan kini ia membuat praduga itu, menjadi dugaan yang semakin jelas.


Ada komplotan penjahat yang kini secara berjamaah mendekatinya, mengelilinginya, dan mendatanginya satu persatu. Seolah menjadi ajang uji coba berhadiah, ya,,, semacam perlombaan namun jenis berburu... Dengan Ara, eh si puteri Hwa yang menjadi target buruan mereka.

__ADS_1


Ia mencium aroma buah apel di sini. Ya, kental sekali rasanya. Bagaimana tidak, ia adalah haters buah tersebut, jadi buah itu meski dibenci jelas sekali ia mampu merasakan aromanya.


Meraih kertas baru, yang sudah ia robek. Menuliskan kata APEL, dan dayang putera mahkota, menyatukannya satu garis dengan si pengawal yang tewas itu, pun dengan dayang pengantar minumannya malam itu yang ia tak begitu kenali karena kerap menunduk sementara Ara tengah sibuk dengan urusan non faedahnya kala itu.


Ia sedikit mendapat info bahwa, sejauh ini, yang terlibat dalam tindak kejahatan keji terhadap puteri Hwa adalah....


Orang-orang yang membawa aroma manis apel.


Ya!!! Mereka oknum nakal itu. Sebut saja mereka bunga.... Begitu Ara menamainya.


********


Dan keesokkan harinya.


Dalam suasana yang bersemangat, sama sekali bukan Ara. Hana pasti akan terkejut saat mendapati si tengil ini sudah rapi dalam balutan pakaian rapi, tak kunjung mengorok seperti sebelumnya.


Malahan, Ia sudah mendahului para dayang yang menjaga depan pintu gesernya.


Mungkin dari subuh doi sudah mandi, apa tak mandi??


Hanya Ara yang tahu, guys.


Ketika sudah siap membuka pintu. Ia sempat mencium aroma manis apel lagi...


Menoleh ke sekeliling, nihil. Berseliweran dayang-dayang, namun tak satupun yang memiliki aroma demikian.


Menajamkan pandangan berikut hidungnya, kembali mengendus satu persatu dayang yang berpapasan dengannya.


"Pagi Puteri Hwa."


"Selamat pagi, Yang Mulia..."


Begitulah satu persatu sapaan mereka, hingga Ara terkejut saat mendapati dayang Han menepuknya dari belakang.


"Kaget, bestie.!!!" Jengkit Ara pada dayang Han, membuat si dayang nyaris melepas tawa.


"Anda pagi sekali, Yang Mulia." Ujar dayang Han. sama halnya dengan pikiran para dayang lain yang berpapasan dengannya.


"Aku sudah tak sabar,... Mau bertemu dayang itu." Jawab Ara menyatukan telapak tangannya lalu menggeseknya semangat.


Dengan senyum atau lebih tepatnya, seringai.


Membuat dayang Han menatapnya dengan ringisan yang kentara, kenapa pula kali ini ekspresi majikannya. dayang Han memperdalam pandangannya pada carik kain tipis itu, hingga ia mampu menangkap seringai menggelikan itu.


"Putera mahkota mungkin masih di kediamannya. Puteri. Bukankah terlalu cepat?" tanya dayang Han berusaha mengulur waktu kepagian majikannya yang kelihatan sekali tak sabaran itu.


Menggeleng, "Tidak, aku sudah tak sabar untuk bertemu dengan si pemilik aroma apel itu, Han-ah" Jelas Ara menatap dayang itu.


"Let's go bestie!!!" Ajak Ara mengayunkan tangannya mengajak dayang Han.

__ADS_1


"Le... Let apa tadi???" Dayang Han, bersama kata baru dari si bestie yang sudah menghilang di balik pintu menuju kediaman pujaannya, namun untuk sowan dengan pelayan si pemilk aroma apel...


__ADS_2