
“Ada apa puteriku kau mendatangi kediaman ibu?” tanya Ratu berlagak anggun menyambut Puteri Hwa yang sudah duduk.
Puteri Hwa mendengus mendengar tanya barusan, puteri katanya? Lalu ibu? Konyol sekali.
Apa yang diperbuat Ara di dunia ini hingga wanita itu cukup santai menggunakan kata itu.
Ara menoleh ke ruangan, dayang ratu dan dayang Han masih ada di sana. Memberi isyarat ia tak mau ada dua pelayan itu di antara mereka.
“Kalian boleh pergi.” Titah ratu menyuruh dua dayang itu keluar.
Tak lama dua perempuan beda usia itu menutup pintu ruangan ratu. Puteri Hwa memainkan bibir gelas yang ada di hadapannya.
“Apakah kali ini juga diisi dengan air yang sama, Yang Mulia?” tanya puteri Hwa mulai curiga.
“Ada apa ini, puteri Hwa, kenapa tiba-tiba kau menuduh ibumu.” Ratu terkekeh dengan tuduhan puteri Hwa.
“ibu? Siapa yang kau sebut puterimu? Aku atau dayang An? Kau tidak lupa kan kalau kita tidak ada ikatan darah.” Puteri Hwa mulai menatap ratu dengan wajah serius dan nada bicara menekan.
Ratu nyaris tersedak saat mendengar ucapan puteri Hwa.
“Ahh, kau sudah ingat kembali, puteri Hwa?” decih ratu tertawa sinis.
“Tentu aku ingat semua, Yang Mulia. Ahh apakah aku harus menyebutmu demikian? Karena kita berdua nyatanya sama sekali bukan kalangan kerajaan, kan?” Puteri Hwa mengingatkan status keduanya yang terasa geli jika dipanggil demikian.
Ratu menatap penuh arti pada puteri Hwa, kini gadis itu tidak mengenakan cadar, dan sekarang bertingkah kembali seperti dulu.
Menguliknya seolah hendak mengabarkan pada dunia rahasia yang tersimpan puluhan tahun itu.
“Kau harusnya berterima kasih karena aku tidak membunuhmu waktu itu, Haneul.” Tekan ratu dan memanggil puteri Hwa dengan nama aslinya.
“Oh ya? bukankah anda juga harusnya berterima kasih karena aku menjadi dalihmu sebagai ibu dari anak raja yang sudah mati anda bunuh?” balas puteri Hwa tajam
Ratu tertawa mendengar penjelasan itu, benar, benar sekali apa yang diucapkan gadis itu.
“Apakah kita akan kembali memulai perang kembali puteri Hwa?” tanya Ratu, mengancam.
“Kenap yang Mulia harus meminta izin padaku? Bukankah anda sering melakukan hal itu?” balas puteri Hwa sinis.
sretttt
puteri Hwa meninggalkan ruangan itu yang menyisakan amarah di dada ratu.
“Berani sekali gadis itu menantangku, ia sudah bosan hidup rupanya.” Decih ratu menatap pintu yang sudah tertutup kembali.
“Dayang!!!” jerit Ratu pada dayang pribadinya.
Srettt
__ADS_1
“Iya Yang Mulia.” Dayang pribadi ratu masuk dan membungkuk memberi hormat.
“Panggil dayang An kemari, cepat!!” titahnya pada dayang tersebut.
“Ba-baik Yang Mulia.” Sahut dayang bergegas meninggalkan ruangan dan mencari dayang An.
Sedangkan puteri Hwa sudah menapaki tanah, menghirup udara segar yang bisa ia rasakan kembali.
“Puteri Hwa?” panggil dayang An saat gadis itu mengarah ke bangunan putera mahkota.
“Ada yang mau aku bicarakan pada putera mahkota, dayang Han.” Jawab puteri Hwa seolah membaca pikiran dayang Han.
Semua pengawal mengiringi langkah puteri Hwa menuju kediaman putera mahkota.
“Yang Mulia, puteri Hwa mengunjungi anda.” Suara pemberitahuan segera menggema di ruangan putera mahkota, pria itu tengah menulis, mendengar puteri Hwa datang ia menyunggingkan senyumnya.
“Masuk.” Sahutnya dari dalam
Srettt
Puteri Hwa masuk dengan langkah anggunnya, tangan dimasukkan ke dalam bajunya. Tidak seperti Ara yang sering menaruh di sisi tubuh atau bersedekap.
“Ada apa puteri? Kenapa tiba-tiba datang sepagi ini.” tanya putera mahkota dengan tangannya masih menggulir kuas di atas kertas.
“Aku ingin memberi informasi lain, orabeoni.” Jawab puteri Hwa.
Ahh ia begitu merindukan pria ini, meski di dunia Ara ia menjumpai yang mirip dan juga hangat, tapi Kim Hee Sin tetaplah berbeda.
“Aku khawatir jika setelah ini akan benar-benar menghilang dari dunia ini.” sahut puteri Hwa pelan.
Ia awalnya hendak menyimpan rahasia ini rapat-rapat. Tapi melihat gencarnya ratu menyerangnya, memutuskan puteri Hwa untuk mengungkapnya.
“Ratu memiliki puteri, putera mahkota.”
“Apa!!!” putera mahkota membelalakan matanya, diyakini puteri Hwa dengan anggukan untuk ucapannya tadi.
“Siapa? Bagaimana bisa?” tanya pria itu tak sabar.
“Dayang An, kau tahu bukan seorang dayang yang selalu ada di dekat ratu, dan selalu mendampinginya.” Jawab puteri Hwa.
Pria itu mengingat sosok yang dimaksud. Memang ada dayang muda yang sering berada disekitaran ratu. Tapi ia tak sampai kesana pikirannya.
“Bagaimana kau tahu?” tanyanya lagi.
“Aku mendengar semua percakapan keduanya, sebelum aku digantung dayang An di ruanganku.” Jawab puteri Hwa sendu
Betapa kejam dayang An berikut dayang yang menjaganya bersekongkol menyiksanya malam itu. Lalu dengan tega menggantungnya. Membuat hal itu seakan bunuh diri.
__ADS_1
“Menggantungmu?” kembali pria itu terbelalak
“Iya, kau pikir aku hendak bunuh diri.” Celetuk puteri Hwa.
“Tidak, aku hanya tidak menyangka jika dayang An yang melakukannya, Hwa-ya.” ucap putera mahkota
“Lalu apa yang akan kau lakukan setelah ini?” lanjut putera mahkota
Puteri Hwa terdiam sebentar.,, berpikir keras.
“Aku akan membuat ratu mengatakan hal itu di depan raja.” Jawab puteri Hwa akan rencananya.
“Tapi itu tidak mudah, Hwa-ya.” ujar putera mahkota mengingatkan.
“Aku akan membuat itu terjadi. Bahkan nyawa ku menjadi taruhan pun tak apa.” Cetus puteri Hwa yakin.
Strateginya adalah memancing dua beranak itu mengaku langsung di hadapan raja. Meskipun sulit dilakukan karena persentase keberhasilan itu minim sekali. Ini bukan sinetron yang pernah dilihatnya di tempat Ara yang tampak mudah sekali kelihatannya.
“Aku akan membantumu sekuat tenagaku, Hwa-ya. jadi jangan mengabaikan bantuanku kali ini.” ujar putera mahkota.
Puteri Hwa mengangguk. Ia butuh bantuan pria itu kali ini. ia tak bisa menjamin keselamatannya jika gagal mengungkap kebenaran itu di hadapan raja.
Bisa saja sebelum itu terungkap, nyawanya kembali diburu oleh mereka yang disebut Ara sebagai geng apel ababil.
Kini gadis itu sudah berada di kediamannya kembali dan sejak mereka tiba, dayang Han tak menurunkan pandangannya, menilai perilaku majikannya yang kembali berubah.
“Ada apa dayang Han, kau begitu lama memandangku.” Tanya puteri Hwa menangkap basah tatapan dayang Han padanya.
“Ah, tidak apa-apa Yang Mulia. Hamba hanya senang anda kembali seperti semula. “ jawab dayang Han tersenyum.
Sekarang puteri Hwa tengah merajut. Kegiatan para keluarga bangsawan sekali, kan? Ara di suruh merajut, yang ada dia akan mengikat tangannya sendiri.
“Bagaimana dengan rencana anda waktu itu, Yang Mulia?” tanya dayang Han memecah kesunyian
“Rencana?” puteri Hwa tak ingat mengatur rencana dengan dayang Han.
“Itu, di sana, rencana yang anda tulis waktu itu.” Dayang Han menunjuk sudut tempat tirai itu berada yang dibaliknya ada susunan rencana Ara.
Puteri Hwa mengikuti arah tunjuk dayang Han,langkahnya menarik dirinya penasaran, dan tangannya menyibak benda itu.
Sekejap tatapannya membulat, banyak sekali susunan kertas kecil tertempel di dinding
“Apa maksudnya ini?” gumamnya terkejut.
“Apa Ara sudah tahu dengan musuhnya?” gumamnya.
“Apa anda sudah kembali, Puteri Hwa? Sepertinya roh itu sudah kembali.” Perkataan dayang Han memantik rasa terkejut puteri Hwa kembali. Apa maksud dayangnya?
__ADS_1
“Apa kau tahu tentang roh itu, dayang Han?” tanya puteri Hwa pelan, dan diangguki dayang Han.
“Namanya Ara, bukan?” jawab dayang Han