
Wajah dayang An berubah mengkerut.
Yes, Ara senang jika racun itu berbalik mengenai pelakunya.
"Ada apa., ada apa?" burunya sok perhatian. Ara bersikap seolah panik, walau di dalamnya ia salto jungkir balik.
Dayang An menunduk.
Pun begitu dengan dayang Han, ikut menatap dengan raut penasaran juga.
Menunggu.
Eihh aji gile, penasaran yak.
"Hamba......" suara dayang An nampak serak.
"Kenapa?" sorot mata puteri Hwa yang dipancarkan Ara menunggu dengan tidak sabar.
Mau matikah? Suaranya itu loh. Pikir Ara.
******
"Mau kemana kau membawaku!!!" puteri Hwa menghentak keras genggaman tangan Hana, ia sudah mencoba berulang kali menanyakan hal serupa tapi tak digubris.
Bukannya belum, hanya saja puteri Hwa tak paham penjelasan Hana. Sejelas-jelasnya.
Flashback on....
"*Aih kau ini prul. Doyan sekali dengan perhatian yak!!" cerca Hana ketika dirinya sudah mematikan layar ponselnya.
"Apa maksudmu?" tanya puteri Hwa yang tak paham.
"Sudahlah, ayok kita nyegerin diri dulu. Sumpek taukk." Hana menarik lengan Ara mengikutinya memasuki lift.
"Kemana.???" tanya gadis itu lagi setelah sudah masuk ke ruang sempit itu lagi.
"Club dong. Lo kan suka. Banyak oppa-oppa di sana. Para fans mu menunggu." cerita Hana dengan air muka girang.
"Oppa? Fanse?" ulang Puteri Hwa. Kata aneh lagi, yang berulang merasuki memorinya.
"Sudahlah. Hayok!!" Hana sudah menarik lagi lengan Ara ketika pintu lift menuju lantai dasar terbuka.
"Di mana ini?" Puteri Hwa sontak tertegun mendapati tempat yang kini dilihatnya sepi, hanya ada benda yang dibilang gadis yang menariknya kini itu dengan istilah 'Mobil'.
Ya. Tumpukan parkiran mobil sudah tertata di parkiran apartemen bergengsi itu.
"Kita mau masuk ke mobil Lo. Noh." Hana mengacungkan kunci mobil lalu menekannya hingga puteri Hwa mendengar suara seperti siualan di tempat itu.
Hana sudah melangkah menuju sebuah mobil kuning mengkilat.
Keluaran terbaru*.
Flashback off.
"Mau kau bawa kemana aku!!!" lagi. Puteri Hwa tak bosan mengulang tanyanya.
Klik
Pintu benda berwarna kuning itu terbuka.
Wahhh, puteri Hwa tercengang sesaat, bagaimana bisa. Tanpa disentuh bisa terbuka sendiri.
Menatap Hana lalu sekitarnya, berulang.
"Kita kan mau ke club. Ah kau ini, dudul kali sih." Hana menggeplak kepala Ara pelan. Namun, meski pelan, Hana mereguk air liurnya ketika ia mendapat sorot tajam membunuh dari Ara.
Glek.
"Berani sekali kau!!!" pekik puteri Hwa.
Tak terima dengan perlakuan kurang ajar menurutnya itu.
"Waduh!!" Hana cengengesan
__ADS_1
"Ah kau ini, lebay deh. Nih." Tanpa di duga. Hana melempar benda kecil yang memiliki tombol pada puteri Hwa.
Ditangkap.
Tapi. Tercengang heran
Benda apa ini?
Ini apa?
Apa sih?
Buat apa?
"Apa ini?" tanya puteri Hwa akhirnya setelah bingung.
"Ya elah, itu kan konce, prul." jawab Hana menggelengkan kepala.
"Kau tak ingat, bahkan dengan kunci mobil???" Hana membelalakan matanya, tak percaya.
warbiasyahhh.
Yang ditanya hanya diam.
"Woyyy." panggil Hana gemas.
"Hah, apa" cengo puteri Hwa.
"Sana, jalanin tuh." perintah Ara, menunjuk pintu sisi pengemudi, tempat sahabatnya yang akan menunggangi kesayangannya.
"Aku tak tahu maksudmu apa, tapi, berani-beraninya kau memberi perintah padaku, rakyat jelata" hardik puteri Hwa kemudian
Hana tak menggubris, ia malah mendorong tubuh ramping itu menuju pintu tujuannya.
Mendorong paksa.
"Tidak mau, aku tidak tahu benda apa ini!!" berkeras puteri Hwa menahan tubuh Ara untuk tidak masuk ke benda besar kuning itu.
"Kau, kau, kau beneran tidak ingat dengan mobil???" ucap Hana tak percaya.
Terlebih Ara begitu mencintai kendaraannya. Apapun itu.
Puteri Hwa menatapnya lurus. Memberikan jawaban jujur dan sangat jelas pada Hana, bahwa ia tak bisa melakukan yang diingikan gadis itu.
Sungguh, ia jujur kan?
"Ya sudahlah." Hana menggeser tubuh Ara.
"Apa?" tanya puteri Hwa bingung.
Apa ia akan ditinggalkan?
"Sana, biar aku di sini."putus Hana kemudian.
Lagi, Puteri Hwa dibuat melongo.
Ia benar-benar diusir?
Hana sudah masuk ke kursi pengemudi.
Namun netranya menangkap tubuh sahabatnya tetap diam di tempat semula.
Tinnnnnnn!!!
Klakson keras mengagetkan puteri Hwa
"Oho!!!! Kau mengagetkanku!!" hardiknya keras.
Gemuruh di dada terasa kencang dirasakannya.
Suara apa itu, bagaimana mungkin bisa keluar dari benda ini.
"Kau mau gue tinggal di sini, huh?" teriak Hana yang menyembulkan kepalanya dari jendela mobil.
__ADS_1
"Aku harus kemana?" balas puteri Hwa tak kalah kencang.
"Ya ke sana prul!!" Hana mengeluarkan tangannya lalu mengarahkan ke sisi sebelahnya.
Diikuti puteri Hwa.
Oo ke sana.
Gadis ramping itu melangkah anggun menuju sisi mobil.
Menariknya dan, duduk di kursi empuk berwarna putih.
"Pakai seatbeltmu." perintah Hana lagi.
"Kau ini. Selalu memberi perintah padaku, huh!" sergah puteri Hwa tak terima.
"Karena kau tak paham apa yang kau hadapi, prul." balas Hana.
"Coba kau inisiatif sendiri, mandiri, tentu tak perlu aku suruh sana sini." lanjut Hana, menggerutu.
"Cih," dengus puteri Hwa, tetap tak terima.
"Aku begini karena memang aku tak paham. Mengerti!!" ucap puteri Hwa menjelaskan.
"Kenapa, apa karena ini bukan duniamu, huh?" tanya Hana menggelengkan kepalanya.
"Ho, iya, aku tidak tinggal di sini." jawab puteri Hwa tanpa beban.
Hana menoleh. Lalu terkekeh.
"Sudahlah, lama-lama kagak jalan ni mobil." Hana mengibaskan tangannya.
Lalu menggerakkan tubuhnya mengarah pada Ara.
Sontak, puteri Hwa mundur.
"Mau apa kau??" semprotnya menatap aneh pada Hana.
"Diam. Kau pikir gue doyan betina, huh?!!" balas Hana menyemprot.
Ia menahan tubuh itu, lalu.
Klik.
Terdengar suara dari sabuk pengaman yang sudah terkunci.
"Kau apakan aku, kenapa kau mengikatku!! Oho!!!." teriak Puteri Hwa yang mendapati tubuhnya tertahan tali melintang.
Semakin ia bergerak, ia merasa terikat, meskipun tali ini tidak menyakitinya dan malah mengikuti geraknya.
Tapi tetap saja, ia tak bisa melepaskan dirinya.
Karena tak paham.
Menoleh pada arah tempat Hana menarik tali itu di titik akhir, ia melakukan, tapi, tetap saja. Ia tak paham.
"Ihh diem deh, gue gak ngapa-ngapain.dih, bahaya banget deh delusi dan amnesia lo ya. Prul." seloroh Hana melihat geliat tubuh Ara.
"Lihat!." ia menarik perhatian Ara agar melihatnya.
Dan puteri Hwa melihat Hana, meski tangannya tetap berusaha melepas tali menurutnya itu.
Klik!!
Suara yang sama yang didengar puteri Hwa juga terdengar di sisinya, alias di kursi tempat duduk Hana.
"Gue juga diiket nah, kagak napa-napa kan prul!!" sembur Hana gemas.
Puteri Hwa melihatnya lekat. Memperhatikan. Ok, sama.
Dan gadis itu tenang saja. Apa itu artinya tali ini tidak berbahaya?
Belum sempat ia menyelesaikan pikirannya.
__ADS_1
Tiba-tiba..
"Argghhhhh....." tubuhnya terhuyung ke belakang ketika benda kuning ini, bergerak, kencang.