
"Dasar keluarga julid kayaknya. Suka ikut campur, suka kepo, pemaksa, eh sekarang suka ngatur dan mulut lada." omel Ara yang selesai makan malam. Menanti dayang Han yang akan mempersiapkan tempat tidur untuknya.
"Sekarang tahu kan gimana di bales sama lawannya, biarin deh orang mau bilang kalau puteri Hwa kagak ada etika." lanjutnya menggerutu.
"Makanya, harusnya kalau jadi keluarga bangsawan itu tahu diri. Wajar aja sampe sekarang pun gitu, kekuasaan membutakan orang salah jadi bener." lagi, Ara berkicau.
Srettt
"Lama sekali dayang Ha....."
"Yang mulia ratu." Ara tertegun mendapati sosok ratu yang mendatangi kediamannya setelah sebelumnya ia kira dayangnya.
"Puteri Hwa, kau sudah bersiap mau tidur?."
"Iya, ratu."
Ara membangkitkan tubuh puteri Hwa, berniat berganti posisi.
"Aku dengar, kau sempat berdebat dengan menteri Kim." seloroh ratu yang sudah duduk di tempat puteri Hwa tadi.
Ara sempat terkejut namun cepat mengatasi ekspresinya.
'Gak berubah memang, pengadu, bapak sama anak fix satu darah.' batin Ara menyindir.
"Berdebat? mungkin lebih tepatnya mengobrol seperti biasanya, yang mulia." Jawab Ara memperhalus maksudnya.
"Hwa-ya." panggil Ratu menatap Puteri Hwa lurus.
Ara merasakan maksud tatapan yang berbeda dari sosok perempuan yang bergelar ratu itu.
"Iya, yang mulia." sahut Ara mewakili puteri Hwa.
Ratu tersenyum, namun matanya mengisyaratkan ketegasan di sana.
"Kau tahu bukan, apa yang pernah ibu bicarakan kali terakhir padamu tentang menteri Kim." ucap Ratu lembut walau bermaksud menekan di dalamnya.
Ara tertegun.
'Gaswat, ngomong apa terakhir puteri Hwa sama nyokapnya?' batin Ara bingung.
Hening. Ara tak bisa menjawab.
"Apa kau sudah lupa. Puteri?" tanya ratu karena tak mendapati jawaban dari pertanyaannya tadi.
Ara menatap ratu dengan jemari memilin satu sama lain. Tanda Ara bingung.
Dan ratu, menangkap hal itu walau Ara sudah berusaha menjaga emosi dari tubuh puteri Hwa.
"Oh, kau lupa rupanya." jawab ratu.
ratu tiba-tiba mengangkat tubuhnya untuk berdiri, membuat Ara sontak mengikuti dengan cepat.
"Ibu." ucap Ara merasa bersalah atas keterdiaman yang ia tunjukkan tadi.
"Ya sudah puteri Hwa. Aku juga tidak bisa memaksamu untuk mengingatnya, bukan?" ujar Ratu sekaligus bertanya.
Melangkah pelan, tepat berhenti di hadapan puteri Hwa.
__ADS_1
Menyentuh bahu ringkih puteri Hwa.
"Mengenai proses seleksi puteri mahkota." pelan, ratu mulai mengucapkan pernyataan.
Ara menunggu.
"Aku minta, buat putera mahkota memilih kali ini." lanjut ratu yang kali ini turun untuk merapikan pakaian puteri Hwa di sekitaran leher.
Ara menangkap maksud...... Tekanan.
"Maksudnya, ibu.?" tanya Ara mengkonfirmasi.
"Tahan dirimu, dan jangan mengikuti kehendak dalam dirimu terhadap putera mahkota seperti sebelumnya." telunjuk ratu tepat mengarah pada hati puteri Hwa.
'Apa maksudnya?' Batin Ara tak paham.
"Kau sudah pernah menolak seorang pangeran sebelumnya, padahal pria itu adalah putera mahkota besar." ucap ratu lagi.
Ara semakin bingung ke mana arah pembicaraan ini.
"Dan kali terakhir kau pun menolak pangeran Shin dari kerajaan Jehwa sana. Walau akhirnya kau menerimanya kembali." seloroh ratu.
Ara mengerutkan dahi puteri Hwa.
Bingung. Sangat malah.
"Maka, lanjutkanlah perjodohanmu dengan pangeran Shin. Dan putera mahkota dengan nona Kim So Yoon seperti yang sudah direncanakan." Inti pembicaraan yang sudah tersampaikan, namun masih tak membuat Ara paham arti yang sebenarnya.
"Maksudnya ibu?" tanya Ara lagi.
"Kau paham sekali harusnya, puteri." Jawab ratu. Membalikkan badan, dan melangkah pasti menuju pintu keluar.
Suara pintu tertutup, meninggalkan Ara yang masih mematungkan tubuh puteri Hwa pada posisi berdiri.
Srettt
Suara pintu terbuka kembali, tetap tak membuat Ara mengalihkan perhatian ke sana. Pikirannya bingung akan maksud ucapan ratu tadi.
"Puteri Hwa.!!" panggil dayang Han yang melihat puteri Hwa membeku di tempat.
Pelan. Menyentuh pundak puteri Hwa, membuat Ara terjengkit seketika.
"Omo!!!!, Han-ah!!!" pekik Ara kaget melihat sosok dayang Han yang berdiri di sisi kanannya.
"Kapan kau tiba, huh?" tanya Ara
"Sedari tadi, yang mulia. Saya sudah beberapa kali memanggil anda, tapi anda tidak menjawab." jelas dayang Han.
"ooohh." sahut Ara menanggapi. Ia bergegas duduk. Menopang kepala dengan tangan puteri Hwa, pusing.
"Ada apa, yang mulia?" tanya dayang Han, yang berhenti melangkah untuk mengambil tempat tidur.
"Ah, bukan apa-apa." jawab Ara dengan wajah tak sinkron sama sekali.
Dayang Han melanjutkan ke ruang penyimpanan tempat tidur.
Tak lama, membentangkan kasur tipis lembut, menata bantal dan juga selimut sutra seperti biasanya.
__ADS_1
Tapi, ia tetap mendapati majikannya berada pada posisi semula. Menopang kepala dengan tangan.
"Ada yang bisa saya bantu, yang mulia?" dayang Han duduk di sebelah puteri Hwa, siap mendengarkan keluhan majikannya seperti sebelum-sebelumnya.
"Ah??! Apa dayang Han??" Ara tersadar ketika suara dayang Han menyela pikiran jauhnya.
"Apa yang sedang anda pikirkan, yang mulia?" lagi, dayang Han mencoba menarik perhatian dan kepercayaan puteri Hwa agar mau berbagi masalah.
Ara menatap lekat dayang yang duduk di sisi kanannya. Ingin mengungkapkannya, tapi, ia menaruh rasa curiga luar biasa. Terlebih saat ia tahu jika dayang ini merupakan bawahan dari putera mahkota juga. Walaupun dayang Han sempat mengatakan jika ia memang melakukan hal demikian di dasari sepengetahuan puteri Hwa, tapi.... Ara tetap menaruh kecurigaan dan rasa skeptis besar pada pelayan puteri Hwa ini.
Menggeleng.
'Gak. Gue gak bisa mengatakan semuanya pada dayang Han, gak boleh.' batin Ara sadar.
"Yang mulia??" panggil dayang Han yang bingung dengan tingkah puteri Hwa sekarang..
Ya, Ara berulang kali menggerakan kepala puteri Hwa.
"Ah tidak apa-apa." jawab Ara.
"Apa ada yang ingin anda sampaikan pada hamba, yang mulia.?" tanya dayang Han kali sekian.
Menunggu, majikannya mengungkapkan keluh kesahnya.
Dayang Han jelas menangkap kekalutan dari raut wajah sang puteri.
"Berbagilah lagi, yang mulia, seperti sebelumnya. Pada hamba." pinta dayang Han meminta kepercayaan.
Ara memandang netra dayang Han, lekat.
"Anda... Meragukan hamba, yang mulia.??" tanya dayang Han menduga.
Ara tak menjawab, yang mengartikan bahwa pertanyaan itu terjawab benar.
Dayang Han meraih telapak tangan puteri Hwa, menggenggam erat.
"Apakah....." terjeda.
"Apakah kali ini karena ratu kembali, yang mulia??" tanya dayang Han mengutarakan asumsinya.
Ara mengerutkan dahi puteri Hwa.
Ratu kembali??
Maksudnya??
"Maksudmu apa, dayang Han??" tanya Ara tak paham.
"Seperti sebelumnya, bukankah ratu pernah membicarakan hal serius terhadap anda tentang putera mahkota dan perjodohan??" tanya dayang Han.
Benar!!! Memang itu yang dibicarakan ratu padanya tadi.
"Lalu.... Apakah ratu mengancam anda kembali, yang mulia??" lanjut dayang Han bertanya.
'Mengancam?? Dayang Han barusan ngomong ngancem??' batin Ara.
"Mengancam?? Maksudmu apa, Han-ah???!!" Tanya Ara memburu.
__ADS_1
"Itu ibuku, dan dia ratu, Han-ah!! Kenapa kau menyalahartikan dengan mengancam???!!!" ulang Ara.
"Karena sebelumnya, anda pernah diancam, bukan???" tegas Dayang Han.