100 Hari Menjadi Puteri Joseon

100 Hari Menjadi Puteri Joseon
Bertarung lagi.


__ADS_3

Ara menelisik bangunan yang menjadi tujuannya saat ini.


Sebuah Villa pemberian permaisuri untuk puteri Hwa, yang setelah sebelumnya ada sebuah ruang rahasia yang cukup mengejutkan Ara.


Dan kini,,, ia sudah kembali masuk ke dalam ruangan itu.


"Kenapa ada jalur rahasia menuju luar istana?" Ara yang terkejut pertama kala melihat akhir dari ruang rahasia ini ternyata dunia luar. Selain itu, ia menemukan sebuah ruang yang tertutup tirai hitam, nyaris tak terlihat jika kurang fokus.


"Dan kenapa ada baju di sini?"


Ada 3 gantungan dengan baju di sana, dari yang terlihat, dua diantaranya merupakan pakaian pria, dan sisanya adalah perempuan.


"Apakah digunakan untuk menyamar?" gumam Ara kemudian.


Ara perlahan melangkah keluar pintu menuju tempat yang diperkirakan sudah keluar istana. Matanya pelan menangkap hal lain, tempat menaruh ikatan kuda?


"Untuk apa kuda?" siapa yang sering menggunakan ruangan ini, melihat tempat yang sudah lama tidak dikunjungi, berdebu, dan banyak laba-laba mengitari ruangan rahasia, maka Ara menebak, si pemilik ruangan rahasia ini sudah pergi atau bahkan.....


"Puteri Hw?? Gak mungkin dia pemilik semua ini." tebal Ara pertama kali.


Mengingat pemilik ruangan ini adalah puteri Hwa dari permaisuri, maka harusnya si puteri tahu ada ruangan di dalamnya.


"Putera mahkota??" lanjutnya berasumsi.


"Ya!!!, pasti keduanya tahu mengenai rahasia ini. Lalu, keduanya pula yang mengisi ruang ini." Tebak Ara lagi.


Duduk di sebuah kayu di luar ruangan.


"Lalu. Untuk apa mereka mempersiapkan semuanya." gumam Ara menekan pelipisnya dalam.


"Lalu, ratu? Jika tuduhan dayang labil itu benar, maka pelaku pertama yang berada dalam insiden puteri Hwa.... Yaitu ratu." duganya


"Dan, yang mempengaruhi atau mengarahkan ratu, pasti diantara mereka yang......"


"Tunggu,,,!!!"


Ara berpikir keras, sangat.


"Ada dendam apa mereka pada puteri Hwa, sih? Segitunya pengen puteri ini metong."


"Kalau benci pada raja, harusnya rajanya yang dihancurin, ini kan jarang-jarang anaknya yang diincar, mana emaknya tertuduh pulak."


Ara menggaruk kepala puteri Hwa, merasa gatal seketika.


Tentu dipengaruhi oleh kebingungan yang menderanya.


"Arghhhhh,, ribet amat sih jalan ceritanya." gemas Ara menghubungkan berbagai kemungkinan akan pelaku dan puteri Hwa. Mencoba memikirkan banyak masalah yang ditimbulkan si puteri hingga ada banyak pihak yang ramai mengancam jiwanya.


"Ahh, si dayang tadi." Ara ingat akan dayang yang memaksanya meminum air berbahan apel.


"Gilak itu dayang. Beneran gilak." cibir Ara. Tak percaya, seberani itu pelayan rendahan mengintimidasi seorang puteri raja.


"Eh bentar." ingatnya lagi.


Banyak amat ingatan si bar-bar.

__ADS_1


"Bukannya puteri Hwa ini... Alergi apel??"


"Tapi, kenapa dayang Han dan putera mahkota malah mengatakan jika puteri Hwa begitu menyukai apel.?"


"Ihhh, pusing gue. Beneran deh."


"Mana udah 45 hari gue di sini. Tinggal dikit lagi waktu gue di sini, gagal bisa meninggoy gue." Ara menggelengkan kepala puteri Hwa, menolak kegagalan yang akan menimpanya.


Tak mau menjadi gila, Ara memutuskan cukup hari ini ia menginspeksi ruangan rahasia yang entah siapa yang memilikinya.


Krak!!!


Baru saja ia melangkahkan kakinya. Sayup suara ia tangkap dari luar.


"Siapa???" panggilnya kembali membalikkan tubuh dan pergi ke arah suara.


"Hei,!!!!" teriaknya saat sosok yang membuat suara tadi malah melesak pergi.


Tak mau kehilangan bahan asumsi kasus puteri Hwa. Ara, dengan kenekadannya, menyusul sosok itu.


"Perempuan???" tebaknya melihat yang dikejarnya jelas menunjukkam gestur dan bentuk tubuh perempuan.


Gesit.


"Sial,!!! Woyyyy tunggu!!!" lagi, teriaknya semakin keras.


"Ok, itu mau Lo." Ara mencoba peruntungan, dan...


Buk!!!!!


"Sukurin!!!!" ucap Ara girang, kini semakin tipis jarak yang dipangkas olehnya menuju perempuan itu.


Eh!!!


Ini kan????


"Kau!!!!"


Ara kaget menemui kenyataan bahwa, sosok yang jatuh terjerembab itu adalah dayang yang memberikannya air beraroma apel.


"Siapa kau?¿????!" tanya Ara terbelalak.


Namun, tak diduga.


Ara justeru kini jatuh terjerembab ke belakang, setelah dayang itu memberikan tendangan kearah dadanya keras.


"Eihh, sialan Lo." makinya keras, membuat dayang yang menyerang pun tertegun akan kata kasar yang keluar dari bibir seorang puteri.


"Ayok gulet kita." tantang Ara, menarik rok hanbok dan menggulungnya lalu mengikatnya erat, menyisakan kaki terbalut celana putih panjang.


Memasang kuda-kuda. Dan memposisikan diri, siap menyerang.


"Heh, kau sedikit berubah rupanya." dayang yang menyerangnya mendecihkan kata serupa sindiran, membangkitkan pergolakkan emosi dalam tubuh puteri Hwa karena suport Ara. Hehehe.


Ara maju tanpa gentar sedikitpun, pun disambut perempuan itu dengan kesiapan sama dengan Ara.

__ADS_1


Jiyatþttttr!!!!!!


Seperti biasa, Ara dengan bangga mengeluarkan kemampuan thai-nya di hadapan musuh, sudah dua kali ia berhasil menerapkan kemampuan itu, maka harusnya kali ini ia bisa mengatasinya, bukan? Kepedean, yak??!!!


Tinjuan, tendangan, bahkan jambakan pun adalah pemandangan yang terlihat saat ini. Dua perempuan muda saling mengadu kemampuan bertarungnya dengan cara berbeda, bela diri era joseon vs tinju Thailand.


Benar-benar mempersatukan dua kebudayaan, bukan??


Dayang yang masih bertahan menghadapi serangan Ara, sedikit kualahan.


"Kau semakin kuat, puteri Hwa??" ucapnya, kala perkelahian itu terhenti sebentar.


"Cih, apakah itu salah satu pujian?" cibir Ara menanggapinya.


"Hahahaa, kau, kau semakin konyol rupanya,."


"Setelah kali terakhir tergantung di kamar, rupanya pikiranmu semakin tidak jelas."


"Apa maksudmu??" tanya Ara tak paham.


"Harusnya kau lebih tahu, puteri." ujarnya lalu melesak menyerang Ara yang nyaris saja lalai bertahan.


Masa' bodo, ia perempuan dan musuhnya pun sama, maka tak masalah jika ia melebihkan kekuatan sedikit. Toh, si perempuan itu yang pertama kali mencari gara-gara dengannya, bukan??


Maka, kali ini..


Ara maju cepat menghindari serangan si dayang, lalu memutar tubuhnya dan...


Brak!!!!!


Menjengkang tubuh si dayang hingga beberapa jengkal, menubruk salah satu pohon di sana.


"Maka. Kali ini kau harusnya lebih tahu siapa aku."


"Aku bukanlah puteri lemah seperti yang kalian pikirkan."


"Aku adalah puteri negeri ini, dan kalian hanyalah penjahat rendahan." ujar Ara tegas.


Tapi. Gelegar tawa adalah balasan yang diberikan si dayang itu. Dalam posisi terduduknya, ia masih berusaha mengguncang emosi Ara.


Benar-benar berani rupanya.!!!


"Kau gila???" tanya Ara mengejek.


"Gila???" Ulang si dayang, Ara menggunakan kata Crazy padanya, maka tak heran jika lawan bicaranya bingung.


"G-i-l-a." eja Ara menggunakan hangeul, seketika itu pula,


"Hahahahahaha, puteri Hwa, puteri Hwa." tawa lagi yang malah ditanggapi si dayang.


"Kau benar-benar...... Arghhhhh." baru saja Ara menggerakkan 2 langkah kaki puteri Hwa, penglihatannya mendadak kabur, karena dayang sialan itu melemparkan pasir atau tanah ke wajah puteri Hwa.


Mengucek cepat.


"Sialan kau, woyy!!!" teriak Ara memaki, mengedipkan mata puteri Hwa agar bisa melihat kembali.

__ADS_1


Tapi,,,, sosok itu lenyap... Entah kemana larinya, karena kini hanya dirinya bersama tubuh puteri Hwa saja yang kokoh berdiri di antara rimbun pepohonan.


__ADS_2