
"Dayang Han.!" Ara, yang sudah menelentangkan tubuh lelah puteri Hwa berkicau kembali.
"Ya yang mulia." jawab dayang Han yang sudah membereskan kekacauan majikannya. Berupa baju yang tadi dilempar Ara sembarang.
Sebelumnya, setiba di ruangan ini, Ara meminta dayang itu mempersiapkan baju bersih dan mengusirnya pergi, tak ingin dibantu, karena si tengil enggan semua tahu aksi adu jotosnya.
"Pastikan, tidak ada satupun orang yang masuk ke ruanganku." perintah Ara masih dalam posisi tidur tanpa alas itu.
"Siapapun, puteri Hwa?"
"Ho-oh."
"Raja?"
"Tidak."
"Ratu?"
"Juga."
"Permaisuri"
"Pun."
"Putera mahkota?"
"Itu juga."
"Nona Kim".
"Jangan pernah."
"Kalauu..."
"Aishhhh berisik sekali sih kau dayang Han. Pokoknya siapapun itu,....."
"Termasuk kau." Lanjut Ara
Dayang Han tetap di posisi.
"Kenapa masih di sana? Hushh hushh." usir Ara mengibaskan tangan puteri Hwa.
"Apakah termasuk dayang pengantar makanan, yang mulia??" lagi, ujar dayang Han.
"Ho-oh. Aku mau berpuasa diet hari ini." jawab Ara yakin. Ia akan diet saja hari ini. Toh sore nanti kan ia bisa makan lagi.
"Diet????" satu kata asing lagi-lagi menyapa pendengaran dayang Han.
Membuat Ara gemas, duduk. Menatap tajam, "Ishhh kau ini, sana, sana..." usirnya.
"Ba-baik yang mulia." angguk si dayang, lalu beringsut keluar.
Memberi tahu dayang yang berjaga, agar jangan menerima siapapun hari ini.
"Raja?" tanya si dayang penjaga.
"Iya." jawab dayang Han
"Ratu??" lagi.
__ADS_1
"Itu juga."
"Dengarkan, termasuk putera mahkota, ratu, para tamu hingga dayang pengantar makanan. Tolak semua." jelas dayang Han sebelum para dayang mengulang tanya persis dirinya tadi.
Cukup menjadikan mereka kesulitan mencerna, karena yang disebutkan, adalah orang yang memiliki hak untuk masuk ke bangunan puteri Hwa.
"Patuhi saja." ujar dayang Han dengan nafas beratnya. Bagaimana pun, mereka hanyalah pelayan yang tugasnya hanya mematuhi perintah majikan, bukan??
******
Beberapa jam kemudian,...
"Maafkan hamba yang mulia, tapi....." dayang penjaga kesulitan meneruskan kalimatnya. Rupanya tak semudah mereka menganggukkan kepala ketika diminta dayang Han tadi.
"Kenapa, dayang? Apakah puteri Hwa sedang sakit?" permaisuri, menjadi tamu pertama yang datang mengunjungi ruangan ini.
"Ti-tidak tahu, yang mulia." gugup jawabnya.
Permaisuri heran, "Kenapa kalian tidak tahu? Bukankah kalian diberi perintah oleh puteri mahkota?" tanya permaisuri.
"Da-dayang Han yang memberi perintah ta-tadi, yang mulia." jawab dayang tersebut.
"Iya, aku tahu. Hanya saja, kenapa kalian tidak tahu alasannya. Panggil dayang Han kemari." titah permaisuri.
Dan tak perlu waktu lama karena dayang Han tengah berada di dalam bagian bangunan yang sama.
"Kenapa puteri Hwa tidak mau dikunjungi, apa dia sakit?" begitu permaisuri berucap.
Sama halnya dengan dayang yang ditanya tadi, pun dayang Han sulit menjawab.
"Mungkin puteri Hwa lelah, yang mulia." jawabnya mudah. Memilih lelah maksudnya.
"Apakah puteri Hwa sakit?"
Menggeleng, lalu mengangguk. Dan menggeleng.
Tak lama, dayang pengantar makanan datang...
"Puteri Hwa tidak mau menerima sia....."
"Ini makanan, dayang Han. Bagaimana kau menolak pengantar makan, ini sudah waktunya." sambar permaisuri tak percaya.
"Ta-tapi, begitu perintah put-puteri Hwa, yang mulia."
"Kata pu-puteri Hwa, dirinya di-diet-te." lanjut dayang Han
"Diet-te, apa itu?" tanya permaisuri.
Menggeleng hati-hati, "Ti-tidak tahu, yang mulia."
"Baiklah kalau begitu, aku akan kembali saja, cuma, berikan makanan ini pada puteri Hwa." perintah permaisuri yang segera diangguki dayang Han.
"Pastikan dia memakannya, mengerti dayang Han?" tegas perempuan tua itu yang kembali diangguki dayang muda itu.
Berlalu,... Menarik nafas lega.
Melangkah kembali ke tempat dirinya beristirahat tadi.
"Dayang Han, mau di bawa kemana baki makanan itu?" dayang penjaga menatap heran ketika langkah dayang Han bertolak dari pintu yang harusnya menjadi tujuan baki itu di bawa.
__ADS_1
Berhenti, dan menatap lesu.
"Kalau begitu takutnya dirimu, maka antarkan saja sendiri kepada puteri Hwa, aku tidak mau." Dayang Han menarik langkahnya kembali menuju dayang yang bertanya, dengan ringan tangannya menyodorkan benda berisi makan siang puteri Hwa.
"Ka-kau saja, dayang Han, kau kan pelayan pribadinya." geleng si dayang yang bertanya tadi.
"Aku tidak berani, puteri Hwa tadi menatapku tajam saat aku mau membantah."
"Mungkin saja kau mau merasakan baki ini terlempar di udara dengan dirimu yang menangkapnya." ucap dayang Han, membuat wajah si dayang sontak memucat.
"Ah, ti-tidak, ka-kau saja yang bawa ke sana." tunjuk si dayang pada tempat yang akan di tuju dayang Han tadi. Bukan pada pintu di sampingnya. Ia belum seberani itu menghadapi puteri Hwa yang liar sekarang.
"Kenapa ini?" suara lain kini menyela mereka. Bertambah lah lagi tugas berat mereka, mana kala yang datang sekarang adalah... baginda raja. Si pemilik semua istana ini. Apa yang harus mereka lakukan sekarang?
"Ba-baginda ra-raja." ucap mereka sembari membungkukan tubuh, hormat.
Raja menatap bingung tentunya dengan kerumunan itu.
"Kenapa kau tidak masuk, dayang? bukankah itu untuk puteri Hwa?" tanya raja yang sedari tadi rupanya memperhatikan obrolan mereka.
"Pu-puteri Hwa menolak siapapun yang me-mengunjunginya, yang mulia." jawab dayang Han penuh kecemasan.
'Wahai para leluhur dan dewa, bantulah diriku yang malang ini.' batin dayang Han berdoa.
Pun demikian dengan dayang lainnya, mereka hanya mampu menundukkan kepala mereka tetap stabil, bertahan enggan mendongak.
"Kenapa begitu?" tanya baginda raja.
"Apa puteriku sakit?"
Lagi-lagi dayang Han harus menggunakan kepalanya untuk menggeleng.
"Lalu? Apa dia sibuk di dalam sana?"
Kembali dayang Han memasrahkan kepalanya, menggeleng.
"Lalu apa? Kenapa dia menolak bahkan makan pun juga. Aku mau melihatnya." baginda raja siap melangkahkan kakinya pada pintu geser itu.
"Ma-maaf, yang-yang mu-mulia." dayang Han entah terdorong oleh setan mana, langsung sigap berdiri di depan pintu, menghalangi raja yang hendak masuk.
"Aku adalah raja negeri ini, dayang. Kenapa berani sekali kau?" raja meninggikan nadanya, membuat nyali dayang itu, langsung melempem layaknya kerupuk terkena air.
"Ta-tapi, yang mulia. Puteri Hwa begitu lelah hari ini." jawab dayang Han gugup. Tak kuasa menahan lututnya yang terasa lemas.
"Lelah? Ini masih pagi, kemana saja kau membawa puteriku, dayang.??" tanya sang raja heran.
"Puteri Hwa dari pagi-pagi sekali datang ke villanya, yang mulia." jawab dayang Han.
"Villa itu? Lalu, kenapa bisa lelah? Bukankah tak ada pekerjaan berat di sana?" seloroh raja merasa aneh.
"Hamba kurang tahu yang mulia. Karena puteri Hwa sendiri yang masuk dan melarang untuk diikuti." jelas dayang Han lagi
"Lalu, makanan itu, bawa masuk lagi. Jika kau tidak mau, aku sebagai ayahnya yang akan memberikan langsung." Perintah raja dengan delik tajam di matanya.
"Ba-baik, ba-baginda raja." jawabnya gugup.
Jika tadi, dayang Han bisa menarik nafas lega ketika permaisuri pulang tanpa perlu memastikan dirinya mengantarkan baki ini. Tidak sekarang, raja mengawasinya langsung, agar masuk, mengantarkan baki itu pada si pemilik ruangan.
Tak adakah yang mau berbelas kasih pada dayang Han, tolong mengertilah, dayang Han galau geizzz....
__ADS_1