
Ara yang sudah selesai kencan, eh... Jalan-jalan maksudnya... Sekarang dengan hati lapang menyusuri jalan yang akan membawanya pulang ke kediamannya. wajah sumringah, hati sukacita, dan pikiran lapang terbuka mengantarkan Ara dengan langkah ringan tentunya.
Di saat dendangan lagu yang ia isyaratkan melalui suara saja masih bertalu, ia disapa oleh suara yang ia tunggu sebenarnya...
"Tidak aku sangka, semua kejadian buruk yang menimpamu, tak urung membuatmu semakin angkuh, puteri Hwa." Suara milik perempuan yang tadi Ara konfrontasi.
Puteri menteri Kim.
Ara menjawab hanya dengan senyuman, full senyumnya.
Mengikis jarak dengan Ara, gadis itu tetap angkuh dalam semua geraknya.
"Kau, mau mempengaruhi putera mahkota lagi, kah?" kini gadis itu dengan mata penuh selidik menatap Ara dengan tanya jelas dan tajam.
Ara, mengerutkan dahinya.
"Maksudmu, apa puteri menteri Kim?" Ara balik bertanya. Ia tak paham kemana arah kalimat yang dilontarkan gadis sombong di hadapannya.
Mendecih, "Heh, jangan berpura-pura menjadi manis, Hwa. Dan lagi, kau panggil aku apa tadi? Puteri menteri Kim? Hahahahaah." ia tergelak, namun tawa itu tak berunsur ramah sedikitpun, nadanya tetap saja berusaha mengintimidasi lawan bicaranya.
"Aduh, namanya siapa sih? Gak mungkin kali gue tanya orang yang kayaknya kenal dan akrab gini bunyinya.' Batin Ara bingung. Menoleh pada dayang Han, tapi rubah ekor 11 ini masih berada dalam jarak yang dekat.
"Ya, aku salah. Jadi, maksudmu apa? Bilang jika aku mempengaruhi putera mahkota." Ara serba salah, ia tak menyertakan panggilan atau penyebutan untuk gadis ini. Nanti salah lagi.
"Kau, berpura-pura lupa rupanya, heh. Dasar, puteri membawa sial." Lanjut rubah itu yang kemudian berlalu dari sisi puteri Hwa.
Menaikkan gelegak dalam tubuh yang ditinggalkan.
"Woy, kalo ngoceh itu kelar-kelar, gue kagak tau maksud Lo paan. Ihhh." Ara berbicara agak keras, disengaja agar rubah itu mendengar pastinya.
Berbalik, kan bener, dia mah pasti noleh.
Kucing aja digituin pasti noleh kok.
"Kau bicara apa barusan, puteri Hwa?" gadis itu datang dengan wajah penuh kebingungan. Tentulah ia tak akan tahu bahasa dunia Ara.
Ara. Berlagak, memasang sikap sombong.
"Kau, mau tahu artinya?" Tanya Ara balik dengan wajah menyeringai.
Tidak mengangguk, tapi jelas gadis rubah ekor 11 itu menunggu jawaban Ara.
Ara segera mendekat, dan semakin dekat.
Lalu... "Ini." Ara menaikkan telapak tangannya tepat ke depan wajah rubah itu.
Berkerenyit bingung, "Apa!?" menatap Ara tak paham dengan mata mendeliknya.
"Let's talk with my Hand!!!" ucap Ara meninggalkan gadis itu yang kembali terbelalak karena Ara menaikkan nada bicaranya ditambah bahasa yang tak akan pernah dipahami rubah ekor 11 itu.
*******
"Ihhh. sebel gue." gerutu Ara setelah berhasil duduk di dalam kediamannya.
Mengingat ucapan tak jelas dari rivalnya tadi, ia menjadi gerah setibanya di sini.
"Ini, puteri." Dayang Han datang membawa baki berisi permintaan Ara. Menghidangkan sajian berupa irisan buah segar yaitu kesemek, melon, jeruk dengan siraman susu segar.
__ADS_1
"Sini." Ara segera menarik mangkuk yang baru saja mendarat sukses di atas meja.
"Gue geraahhh." Ujar Ara sebelum dayang labil itu melempar tanya padanya. Jadi ia lebih dulu menjawab.
Namun, ucapan barusan justeru menjadi bahan tanya dayang itu.
"Gerah? Apa itu puteri Hwa?" kan, ada aja bahan buat tanyaan. Salah sendiri.
Menggeram, "Kau, bisa gak ntar aja sih nanyanya?" Sergah Ara dengan netra mengunci dayang Han, tajam.
Mengerutkan tubuh, pasrah. Dayang Han kagak tau jahhhhh!!!!.
Di tengah suapan demi suapan Ara. Ia mendapat kabar pemberitahuan dari dayang depan, bahwa...
"Puteri Hwa, ratu dan nona So Yoon datang mengunjungi anda." Suara dari depan.
"So Yoon?" gumam Ara pelan. Siapa pulak itu, geiźzzzzzz.
Tanya Ara kontan terjawab ketika, nama yang ia sebut barusan muncul di hadapannya.
Ye ilah,, ini mah rubah ekor 11!!!!
"Jadi namanya So Yoon. Kim So Yoon." angguk Ara dalam ucapan pelannya.
"Ratu." Ara bangkit berdiri, membungkukkan tubuh memberi hormatnya.
"Puteri Hwa." Balas Ratu melempar senyum. Lalu melangkah menuju bantalan tempat duduk Ara sebelumnya.
Jangan lewatkan sesi lomba tatap ya, sedari datang, Ara sudah diberikan laser pembunuh oleh gadis itu melalui matanya.
'Ya ampun Tuhan. Itu mata bisa dikecilin dulu gak sih tingkat ketajamannya.' batin Ara geli.
"Aku dengar,, kau tadi ikut mengunjungi tempat pelaksanaan seleksi puteri mahkota, puteri Hwa?" Tanya ratu setelah selesai menyesap teh bunga miliknya yang dihidangkan oleh dayang Han.
Ara mengangguk, "Iya Yang Mulia. Aku tidak sengaja melalui jalan menuju bangunan tempat seleksi puteri mahkota. Jadi, aku sekalian ikut melihat saja." Jawab Ara. BOHONG!!!
Hei!!!! Kalian tahu bukan, runtutan aktifitas gadis tengil ini setelah diojokin (paan tu ojokin) *Di kolokin,, oleh dayang Han, Ara menarik langkah semangatnya untuk melihat seleksi itu.
Eh, salah deng. Maksudnya mau melihat rubah ekor 11 itu noh.
Dan di rubah mendengkus kasar meski pelan. Terdengar di telinga puteri Hwa.
"Oh ya? Tapi yang aku lihat, kau sengaja datang ke sana puteri Hwa. Apa kau berencana untuk menggagalkan lagi pemilihan puteri mahkota dengan merayu putera mahkota?" sahut So Yoon alias si rubah.
Ara menoleh cepat.
Wah, doi nuduh nie!!!! Kena pasal pencemaran nama baik ini!!! Bukan itu tujuan Ara ke sana. Semua tahu kan!!!!.
"Bagaimana kau bisa berkata demikian, Nona Kim So Yoon.?" Ara membalas dengan tanya, jelas maksudnya adalah JANGAN ASAL KAU MENUDUH KU.
Terkekeh, puteri menteri Kim menggelengkan kepalanya, merasa ucapan Ara terdengar lucu.
"Oh ya? Lalu, apakah tujuanmu untuk melihat dan bertemu aku, puteri Hwa?" ucapnya.
Betul!!!!! 100 buàt anda!!!!
Prok prok prok.
__ADS_1
Ara yang kini terkikik geli. Ia sebenarnya lucu karena benar sekali tuduhan barusan, tapi tak mungkin dirinya mengatakan benar, kan?? Bisa dibilang stalker atau fans si rubah dong???
"Kau,,,." Ara menutup bibir milik puteri Hwa seolah menahan senyum.
"Pikiranmu sungguh di luar jangkauan, nona So Yoon. Aku kira, kau lebih cocok menjadi bagian perkiraan saja, jangan jadi puteri mahkota. Tak cocok untuk orang penuh prasangka sepertimu." Jelas Ara, mulai melancarkan serangan.
"Put...." sebelum selesai, ratu menyela dulu.
"Sudah. Kalian jangan bertengkar." ujar perempuan anggun di sana.
"Kami tidak bertengkar, Yang mulia." rubah tadi menjawab lembut.
Cuihhhh!!!
Di situasi mencekam itu, kini akan bertambah horor, ketika sumber itu sudah berdiri di balik pintu geser.
"Putera mahkota datang mengunjungi anda, puteri Hwa." Ucap dayang penjaga.
'Heh, ini hari paan sih, banyak banget yang datang.' Ara membantin seraya mempersilahkan masuk pria yang sudah....
Berdiri gagah
Rupawan
Seksi
Dan juga....
Itu gebetan Ara woyyy.
"Wah, ada ratu dan nona Kim rupanya." Pria itu mengambil duduk di sebelah puteri Hwa.
Oaahhhh jelaslah. Masih sehat dong pikiran putera mahkota untuk tak mengambil duduk di sebelah gadis rubah itu yang sekarang menatap Ara, tajam.
"Ada apa putera mahkota kemari? bukankah kalian sudah bertemu dan berjalan-jalan ke danau seharian tadi?" Tanya ratu melirik puteri Hwa dan putera mahkota brgantian.
"Puteri Hwa, apa kau yang memberi tahu kegiatan kita tadi, wah kau ini?" Putera mahkota seolah berbisik, padahal suara bisa terjangkau sampai ratu.
Ara menggeleng. "Bukan aku, putera mahkota." Jawab Ara cemberut karena tertuduh.
"Oh ya? Lalu siapa?" pria itu menoleh segera pada ratu.
"Darimana anda tahu kegiatan kami, Yang Mulia. Rinci sekali." Ucap pria itu datar.
Tunggu, Ara mesti tak begitu paham. Tapi, ia sadar jika situasi sekarang, canggung?
Ia menoleh pada si rubah yang mendadak panik. Pun dengan ratu yang memberi senyum seringai pada pria di sebelahnya.
Seolah ada hal yang mereka bicarakan melalui bahasa tubuhnya.
"Putera mahkota, kau menuduh kami.?" Ratu berucap membela diri.
"Aku tidak menuduh, ratu. Hanya saja, bukankah kemana langkah kami tadi, tak anda ketahui, bahkan..." Ia menoleh pada Kim so Yoon yang sudah mengembalikan sikap biasanya.
"Bahkan nona Kim So Yoon saja terlalu sibuk untuk mengetahui kemana kami pergi, bukan? Jadi, untuk apa aku menuduh kalian." Ucap pria itu lagi.
Meski, dari ucapannya tak ada unsur menuduh, tapi... Dari nada yang ditangkap dan aura yang ia keluarkan, jelas itu mengarah pada tuduhan.
__ADS_1
Ada apa ini?