
Ara paling tidak suka dengan orang yang ngeyel
Ulang
NGEYEL
Dan para jongos ini jelas-jelas dengan sengaja melanggar perintahnya.
Apa karena ada sosok dayang An hingga jiwa pemberontak mereka dengan santai menantang majikannya.
Heiii, dayang An hanya level rendahan, bukan senior apalagi berpangkat.
Hanya karena ia mendapat posisi bagus sebagai salah satu dayang kepercayaan ratu, jadi dirinya dengan berani bersikap songong padanya?
Cuihhh
"Bawa kembali hidangan itu keluar." kali ini puteri Ara yang bersuàra. Entah memang feeling-nya saja kah bahwa yang ada di atas baki itu adalah hidangan yang dibenci oleh gadis yang meluncurkan tatapan tajam pada ketiga dayang muda di seberangnya.
bahkan sebelum baki itu sampai mendekat ke meja, puteri Ara melirik sikap gelisah keponakannya itu.
Setajam itukah jiwa gadis yang merasuki keponakannya?
Dan kini setelah ia tahu, ada aroma manis dari baki itu, ia menyadari, inikah perbedaan antara puteri Hwa dengan si roh nyasar itu.
"Bawa!!" titah puteri Ara tegas. Membuat ketiga orang itu mengangguk lalu memundurkan tubuh mereka menuju pinty keluar.
"Eihhh berani kau ya!!" celetuk Ara menatap dayang An yang sengaja memberi kedipan mata selintas.
.
.
.
.
.
"Rupanya kau memiliki perbedaan dengan puteri Hwa, ya?" ujar puteri Ara ketika kembali menyisakan mereka berdua di dalam ruangan itu.
"Perbedaan?" Ara menatap santai pada si penanya
Kini, kepalang perempuan cantik itu sudah tahu perihal dirinya yang menumpangi tubuh puteri Hwa, maka tak perlu lagi bagi Ara untuk bersikap kaku, sok anggun layaknya puteri bangsawan, bukan?
Lihatlah, ia menyelonjorkan kedua kakinya, dan merentangkan kedua tangan di belakang sebagai penumpu tubuhnya agar lebih rileks lagi.
"Kau tidak menyukai apa yang menjadi kesukaan puteri Hwa." lanjut puteri Ara.
"Tidak menyukai apa yang menjadi kesukaan puteri Hwa?" Ara tak paham apa maksud puteri Ara sedari tadi.
"Kau rupanya juga bodoh, ya?" puteri ara terkekeh mendapati sikap bingung yang ditampakkan Ara.
"Hehh?!! Bodoh anda bilang??!! Enak aja, sekate-kate." elak Ara tersungging.
"Gue, eh salah, aku lulus terbaik dari kampus Seoul. Beasiswa pula." akunya penuh rasa bangga pastinya.
Puteri Ara memberi tawa sumbang mendengar keangkuhan itu. Persis seperti puteri Hwa ketika harga dirinya direndahkan.
__ADS_1
"Sayangnya aku tidak melihat bukti kepintaranmu." cetus puteri Ara, benar.
"Aisyhh, anda ini. Itu artinya kecerdasan kita sama." lagi, Ara berusaha menaikkan harga dirinya.
"Lalu?" tanya puteri Ara.
"Ya, itu saja, aku hanya memberi tahu bahwa aku tidak seperti yang anda bilang tadi. Sembarangan bilang aku bodoh." jelas Ara panjang kali lebar sungai Han.
Kembali ucapan itu memantik rasa geli puteri Ara.
"Yang Mulia jangan tertawa dong." Ara memberengut tak suka.
"Aku penasaran dengan sosokmu yang asli, pasti engkau adalah orang yang sangat menyenangkan, bukan?" ujar puteri Ara, memuji.
"Tentu, anda pasti akan tidak percaya jika bertemu diriku yang sesungguhnya." pamer Ara.
"Lalu, kenapa kau bisa tidak menyukai hidangan yang beraroma apel, huh?!" inti pembicaraan yang ingin puteri Ara ungkapkan.
"Bukankah puteri Hwa juga sama saja." balik Ara menyimpulkan.
"Puteri Hwa? Tidak, dia sangat menyukai berbagai hidangan itu." bantah puteri Ara tak percaya.
Ia beberapa kali melihat sendiri gadis itu menyantap berbagai hidangan yang berbahan dasar buah beraroma manis itu.
"Heh, anda berarti tidak mengenal puteri Hwa, dong." sindir Ara merasa lucu.
"Oh, ya???!!" Dengus puteri Ara menatap balik Ara dengan sorot menantang.
Ara mengangguk yakin.
"Bagaimana mungkin?" puteri Ara tak percaya maka dari itu ia butuh bukti.
Hingga....
"Apakah anda yakin, bahwa dahulu sekali, wajah puteri Hwa sangat cantik tanpa cadar sialan ini." tunjuk Ara pada helai kain yang ada di dalam saku baju ini.
"Sia... Apa katamu tadi.?" puteri Ara malah fokus pada kata sumpah serapah yang Ara lontarkan tanpa filter.
"Eih, maaf, aduh, ini bibir kebiasaan deh." gerutu Ara menepuk pelan bibirnya.
"Hei, jangan kau sembarangan memukul bagian tubuh puteri Hwa.!!!" hardik puteri Ara memberi sorot mata tajam.
Aishhh salah lagi.
"Kebiasaan burukmu jangan kau bawa ke dalam diri puteri Hwa. Camkan itu." tekan puteri Ara memberi peringatan.
"Ya deh, ini nie nasib rakyat jelata." gumam Ara pelan nyaris berbisik.
"iya, maaf yang mulia." ucap Ara tulus.
"Baiklah, lanjutkan pendapatmu tadi." balas puteri Ara.
"Yang aku sampaikan tadi, apakah benar yang mulia, perihal wajah ini." ulang Ara.
"Iya, benar, keponakanku memang tidak pernah mengenakan cadar itu dulunya." angguk puteri Ara.
"Nah, lalu sejak kapan puteri Hwa mulai menggunakan cadar sia,,,, eh hampir." ringis Ara nyaris melontarkan kata ajaib itu lagi.
__ADS_1
Puteri Ara berusaha mengingat....
Kala itu...
Istana sangat heboh, ketika seisi bangunan ini dibuat terkejut mendapati wajah si puteri Hwa berubah rusak.
Seantero nyaris dibuat tak percaya, hanya dalam semalam, wajah cantik itu membuat siapapun bergidik menatapnya.
Tapi, tidak ada yang tahu atau hanya beberapa saja yang tahu perihal alasan wajah cantik itu menjadi rusak.
Ia pun tak tahu, hanya saja semenjak itu, kepribadian puteri Hwa berubah, ia menjadi dingin, pendiam, sering berdiam diri, kalaupun pergi ia hanya ke villa pribadinya. Lebih dari itu, sosok itu nyaris sulit tersentuh. Hilang sudah keceriaan puteri raja itu.
"Beberapa tahun yang lalu." ungkap puteri Ara.
Prok.
Ara menepuk kedua tangan.
"Nah, berarti ada alasan kenapa wajah ini bisa berubah menjadi menyeramkan, bukan?" Ara berusaha mengajak puteri Ara berpikir bersama.
Ia perlu rekan yang bisa membantunya meloloskan diri dari belaian malaikat maut 20 hari lagi.
Dan yang ia percayai saat ini salah satunya, puteri Ara, rivalnya yang mungkin bakalan berubah jadi bestinya setelah ini.
"Aku tidak tahu kenapa wajah puteri Hwa bisa rusak." ujar puteri Ara.
"Ooo, begitu." Ara mengangguk paham.
Dan.... Kini, ia bangkit dari tempatnya duduk, maju beberapa langkah dari duduknya.
"Sebentar puteri Ara." Ara mohon diri keluar dari ruangan itu.
Dan, selama 10 menit, ia hilang entah kemana....
Sreeetttt
Muncul juga gadis itu..
Dengan sesuatu di dalam pelukannya.
Puteri Ara mengerenyitkan dahinya, penasaran.
"Ini." Ara duduk tepat berhadapan dengan puteri Ara yang hanya dibatasi oleh meja kayu itu.
"Buah apel?" tanya puteri Ara.
Bukankah tadi roh nyasar ini begitu benci dengan apel?
Bahkan penciumannya saja tajam saking bencinya.
"Iya, yang mulia. Buah apel. Buah yang begitu aku benci, juga puteri Hwa." jelas Ara pelan.
"Kalian berdua?"
"Iya. karena....."
Ara tak akan selesai menjelaskan, jika wanita itu tak percaya sebelum buktinya terlihat.
__ADS_1
"Hah!!!!" delik puteri Ara, kala melihat hasil perbuatan Ara yang memperlihatkan ruam merah di lengan puteri Ara ketika selesai makan buah apel juga mengoleskannya di lengan putih itu...
"Ya. Kami berdua sama-sama alergi dengan buah sialan ini, yang mulia."