
Ketika semua mata tertuju ke dalam ruangan tempat mayat pengawal tergeletak, tak ada yang menyadari atau tidak fokus akan kehadiran sosok yang menatap angkuh serta bangga dengan hasil perbuatannya.
Siapa lagi jika bukan, dayang An.
Si dayang tengil yang kini menjadi incaran Ara untuk diajak duel di ring boxing.
Gelut etdah coy.
Mesti.l!
Catat tanggalnya.
Tubuhnya lolos begitu saja keluar dari area tempat terjadinya pembunuhan itu.
Dengan baki yang tertata set peralatan minum, dayang An melengos keluar dari bangunan puteri Hwa.
"Siapa yang bersamanya tadi?" putera mahkota melempar tanya pada pria yang mengenakan seragam petugas investigasi kerajaan.
"Kami akan mencari kebenarannya, yang mulia." jawab petugas tersebut.
"Kumpulkan semua orang yang berada di dalam bangunan ini, siapapun itu...." lanjutnya memberi perintah.
"Meskipun itu adalah ratu." tegasnya, membuat petugas yang berdiri di sisinya itu sontak meneguk ludah kasar.
Bagaimana bisa, ratu?
"Ta..."
"Tidak usah membantah, lakukan perintahku." titah putera mahkota lalu bertolak menuju ruangan tempat ratu dan puteri Hwa berada sekarang.
Srettt
Ia membuka penuh pintu geser yang tadi terbuka setengah oleh dirinya saat mendengar keributan tadi.
Dua pasang mata yang ada di ruangan itu tentu saja membuang pandangan mereka yang tadi bertatapan, kini melihat kehadiran pria itu bersamaan.
"Yang mulia." sambut ratu pada pria itu.
Putera mahkota hanya menganggukan kepala sebagai bentuk balasan. Lalu kakinya pelan menuju tempat duduk di sebelah puteri Hwa berada.
"Ada apa, putera mahkota? Keributan apa di luar sana?" ratu membuka tanya ketika putera mahkota sudah duduk mantap.
"Pembunuhan, ibunda ratu." jawab putera mahkota pelan.
"Hah!!!?" Ara yang histeris pelan.
Padahal, sebelumnya ia sudah tahu perihal pembunuhan itu, malah tersangka, eh terdakwanya sedang duduk manis di sana, noh itu yang barusan bertanya.
Jadi, niat untuk nge-flat-in jawaban putera tentu tidak akan dilakukan oleh Ara.
__ADS_1
Memainkan skenario ala drama-drama yang disukai para emak-emak di jamannya.
"Iya. Aku menduganya jika pengawal itu di bunuh, puteri Hwa." sahut putera mahkota memberi penjelasan. Asumsinya tak akan meleset, begitu pikirnya.
'Sayang banget gak bisa gue rekam tadi tuh lambe ratu.' batin Ara gemas. Andai saja ini jamannya, sudah dipastikan meleber kemana-mana omongan ratu tersebut, yang mengarahkan dirinya adalah ts alias terdakwa.
"Oh ya, putera mahkota? Siapa kira-kira dalangnya kali ini menurutmu?" ratu memainkan jemarinya di atas meja, raut wajahnya tenang dan tersungging mimik senang. Seolah menanti permainan tarik ulurnya.
Putera mahkota menatap ratu, meragu.
"Akan aku cari sampai dapat, yang mulia ratu. Aku pastikan, semua dalang yang menyakiti puteri Hwa dan sekitarnya, akan aku eksekusi." jawab putera mahkota tegas.
"Benarkah? Aku sungguh sangat menanti hal itu, putera mahkota." ratu membalas dengan kalimat santainya.
"Aku pasti akan mendukung apapun keputusanmu, putera mahkota." lagi, ratu menjawab.
Sementara Ara, sudut bibir puteri Hwa ia miringkan, menyindir tiap tindak-tanduk ratu.
Merasa geli, gemas dan mau langsung pasang toa buat ngumumin si dalang pembunuhan. Tapi, buktinya manaaaa!!!
Sabar.
"Lalu, apakah kali ini, kau juga yang akan memimpin jalannya pencarian dalang itu, yang mulia?" tanya ratu, matanya kini menatap puteri Hwa hingga Ara terlonjak karena tertangkap sedang memperhatikan ratu sedari tadi.
'Dihh tatapanmu, membunuhku.' batin Ara terkikik.
Tak gentar.
'Duh gue berasa panas, sensor mata dua orang ini menusuk sampe saraf gue.' lagi, Ara lebih mempercayakan batinnya saja yang berkomentar.
"Baiklah jika begitu, aku akan selalu mendukungmu bersama yang mulia raja, putera mahkota." jawab ratu sembari melempar senyumnya pada puteri Hwa yang dibalas gadis itu alias Ara dengan kerenyitan bingung.
"kalau begitu, aku akan kembali ke kediamanku." ratu bangkit dari duduknya. Pun diikuti puteri Hwa serta putera mahkota dengan berdiri pasti.
Mendekati puteri Hwa.
Menepuk pundak gadis itu.
"Kau harus berhati-hati, puteri. Ibu akan senantiasi membantu dan menerima keluhan darimu." ucap ratu lembut.
Ara membalas senyum palsu itu dengan lebih manis lagi.
"Terima kasih, yang mulia ratu." Ara membungkukkan kepala puteri Hwa, menghormati.
Melewati putera mahkota yang membungkukkan kepalanya, ratu melangkah menuju pintu geser yang sudah tertutup.
Selepas kepergian ratu.
Ara seakan melemas seketika.
__ADS_1
Meskipun ia tak gentar, namun tubuh yang ia tumpangi ini seakan ikut merespon. Apakah setakut itu puteri Hwa pada ratu.
Sejujurnya kala pertama kali bertemu ratu, ja sempat merasakan penolakan dari tubuh ini untuk merespon kelembutan ratu.
Hanya saja, Ara yang terbuai dengan sisi keibuan yang dimainkan oleh ratu, tak menggubris hal itu.
Justeru niatnya ingin mengcopy atau membawa ratu menjadi ibunya di dunia sana begitu besar.
Namun kini, ia seakan kena prank oleh obsesinya. Wajar saja, toh Ara dibesarkan di panti asuhan, tak pernah merasakan kasih sayang utuh seorang ibu yang sebenarnya.
Jadi, mendapat perhatian seperti yang ratu berikan meskipun nyatanya hanyalah kamuflase semata itu, cukup membuatnya terpesona.
"Ada apa Hwa-ya?" putera mahkota meraih tubuh puteri Hwa yang merosot ke bawah.
"Ah, tidak apa-apa, yang mulia." jawab Ara pelan.
"Apa pembicaraamu dengan ratu yang menjadi alasannya dengan keadaanmu ini, puteri?" duga putera mahkota.
Ini cowok doyan banget melempar tuduhan, yak??!
"Ah," Ara tertegun. Tepat sekali sih nih cogan nuduhnya.
"Tidak, yang mulia." Tepis Ara mencoba berkelit. Enggan menambah drama kerajaan ini semakin kusut.
Ia akan menghadapi ratu dengan tingkah diam sesuai perintah ratu yang menyuruhnya jangan banyakk bertingkah.
"Benarkah?" tanya pria itu tak yakin.
Ara mengangguk pelan..
"Aku hanya kaget dengan kejadian tentang pembunuhan pengawal katamu itu, yang mulia." jelas Ara berbohong, mencoba mengalihkan dengan kasus pembunuhan yang pastinya cukup menjadi bukti kesyokkannya itu.
"Maaf, jika kejadian buruk itu harus terjadi di kediamanmu." jawab putera mahkota merasa bersalah.
"Eh, kenapa oppa yang malah meminta maaf, kan bukan oppa yang membunuhnya, kan?" tanya Ara bingung dengan permintaan maaf yang salah tujuan ini.
Dan lagi, harusnya yang meminta maaf serta bertanggung jawab adalah si ratu harusnya, begitu pikir Ara.
"Kau tenang saja, Hwa-ya." putera mahkota meraih dan menggenggam jemari puteri Hwa lembut. Ara merasakan energi positif yang dialirkan pria ini, cukup menenangkan dirinya sekaligus si pemilik tubuh.
Wah, manjur juga akang ini ya.
"Aku akan berusaha sekeras mungkin, mencari semua orang yang telah melakukank kejahatan dan melukaimu, Hwa-ya." ucap pria itu.
Ara menyimak dengan dada berdebar.
"Semua orang yang terlibat, akan mendapat ganjaran yang berat, meskipun itu....."
Ara menunggu dengan sabar namun semakin berdebar, terutama kata akhir itu.
__ADS_1
Putera mahkota menatapnya lekat, meyakinkan dengan ketegasa matanya.
"Meskipun itu ratu, akan aku hukum semua."