100 Hari Menjadi Puteri Joseon

100 Hari Menjadi Puteri Joseon
Bertemu Puteri Hwa, akhirnya...


__ADS_3

"Rajaku." Suara lembut dan anggun tengah mengalun indah, seorang perempuan baya yang mengenakann hanbok biru laut dengan jepit rambut naga di belakang kepalanya. Ratu.


Sementara, pria baya yang sedang membaca sebuah buku awalnya, kini mengangkat wajahnya, menatap sempurna penuh pujaan pada sosok perempuan yang merupakan pendampingnya, isterinya, Ratunya.


"Ya, isteriku." Jawab sang Raja lebih lembut lagi.


"Apakah engkau merasakan banyak perbedaan besar, malah sangat besar dalam diri sang puteri?" Ucap sang Ratu sekaligus mengutarakan tanyanya yang begitu terpikirkan olehnya.


Mengangguk setuju, "Ya,, aku pun demikian, ratu. Apakah mungkin karena rasa tertekannya mengakibatkan jiwanya terguncang?" Balik tanya raja tak kalah membuat rasa frustasi membekas dalam diri ratu.


"Jangan bilang seperti itu, Yang Mulia. Itu terlalu jauh menyimpulkan. Apakah anda berpikir, puteri tengah mengalami gangguan jiwa?" Ratu jelas tak terima akan penyimpulan suaminya barusan. Sama saja dengan menyatakan puteri Hwa tidak waras kan?? Ya kali kalo Ara, memang bener. Hehehhe


"Bukan begitu, ratuku. Aku hanya merasa jika puteri sedang tidak baik-baik saja secara lahir ataupun batinnya." Jelas Raja berusaha meralat maksud perkataannya tadi.


"Lalu, bagaimana tabib memberi tahu kesehatan puteri Hwa.?" tanya Ratu lagi.


Mereka memang menugaskan tabib untuk memeriksa kesehatan sang puteri, terlebih setelah insiden yang nyaris merenggut jiwa puteri tempo hari.


"Sang tabib mengatakan jika puteri Hwa malah sangat sehat dan tidak ada yang aneh dalam pemeriksaannya." jawab raja sembari mengelus dagunya seolah ragu dan juga bingung.


"Lalu?? apa menurut paduka, itu belum cukup?" kembali ratu menanyakan ganjalan yang mereka berdua rasakan. Jelas sekali ragu akan diagnosa tabib, karena mereka jelas merasakan keanehan dalam diri sang puteri Hwa.


"Entahlah. Mungkin kita harus sering mengunjungi dan mengajak puteri Hwa bertemu, berbincang agar dirinya merasa tidak kesepian." Jelas raja mencoba mengambil alternatif solusi.


"Baiklah kalau begitu. Saya akan mengajak puteri untuk sering bertemu." sambut ratu menyetujui.


*******


"Dih, kenapa telinga gue gatel banget seh.?" Ucap gadis yang duduk di pinggiran bangunan gazebo yang menghadap danau indah lengkap dengan teratai yang banyak tumbuh bermekaran.


Ia mengorek telinganya yang terasa gatal sekarang.


Dengan kejamnya menoleh pada gadis muda yang tengah memetik rerumputan di sisi kanannya.


"Hei, kau, dayang Han!!!" Panggil Ara ketus


Yang dipanggil menoleh lugu. Suerrr itu muka lugu banget.


Nyaris membuat Ara gemas mau mengelus tuh gadis saking imutnya.


"Ya Yang Mulia. Ada apa?" Tanya Dayang Han


Mengarahkan telunjuknya. Lurus.


"Apa kau, mengumpati gue ya?" tuduhnya sempurna. Ceileh suuzon banget kau lay.


Bingung, ngomong opo makhluk cantik itu.

__ADS_1


"Anda bilang apa, puteri?" tanya dayang Han tak mengerti. Ya jelaslah, bahasa dunianya Ara kok.


Menepuk bibirnya. Sadar.


"Kau, sedang membicarakan aku diam-diam, ya, huh?" kembali Ara melayangkan tuduhannya.


"Saya, puteri? Tidak benar Yang Mulia." jawab dayang Han jujur.


Tak puas.


"tapi, kenapa telingaku gatal sekali, huh? Siapa yang akan membicarakanku jika bukan kau, dayang Han. Kau pasti kesal sekali tiap hari bertemu gue kan." Jelas Ara, dayang itu pastilah menyimpan dendam kesal akan dirinya yang selalu membuat sebal setiap hari. Jadi mengumpat diam-diam kan pasti dilakukan toh? Karena, Ara kan begitu.


"Sumpah Yang Mulia, saya tidak akan mengatakan hal buruk tentang anda. Apalagi berada dekat seperti ini." ucap dayang Han mencoba meluruskan jawabannya yang jujur itu.


"Ishhh awas saja kalau gue tau siapa yang ngataim gue ya. Ihhhh telinga masih aja gak berenti gatel sih." kesal Ara


Dayang Han bingung melihat sang puteri tak hentinya menggaruk telinganya.


"Apa perlu saya bantu Yang Mulia, untuk membersihkan?" tawar dayang Han merasa tanggung jawabnya sebagai pelayan sang majikan


Ara mendengus kesal.


"Tidak usah, ini bukan karena kotor, tapi karena ada yang membicarakan keburukan tentangku do belakangku." Omel Ara kesal.


"Siapa Yang Mulia?" tanya Dayang Han polos.


"Mana gue tau, dayang Han. Ihh nie orang bikin gue gemes deh." Geram Ara meremas tangannya di hadapan Dayang Han.


*********


"Ah, gue di sini lagi. Dahlah males gue kalo gini." Oceh Ara yang tahu keberadaannya saat ini.


Ya, dunia lain.


"Halo Ara. What'up." Ujar seorang nenek yang melambaikan tangannya sebagai tanda say hello di alam Ara.


"Hooh gue baek. Napa lagi sih gue ke sini?" Tanya gadis itu yang kini mengambil posisi duduk males sembari mengelus salah satu lututnya yang sudah di lipat menjadi sila.


"Dih, tuh bibir gak bisa dikondisikan apa?" Kekeh si nenek melihat Ara yang kini memanyunkan bibirnya.


Ara menatap nenek dengan tajam.


"Napa lagi sih nek, gue kenapa lagi coba di bawa ke sini.?" Tanyanya lagi.


Menghela nafas pelan, "Baiklah." Jawab singkat nenek.


"Apakah kau sudah berhasil memecahkan teka teki akan kejadian yang menimpa puteri Hwa?" Tanya nenek akhirnya.

__ADS_1


Ara paham, jadi ini soal puteri Hwa. Kenapa bukan soalnya sih. Rempong kali ngurusin hidup orang laen. Yang belum ia ketahui kejelasannya.


"Belon nek. Gue belum nemuin satu pun petunjuk akan permasalahan puteri Hwa itu. Yang menyeret gue sampe nyungkruk ke alam ini." Jawab Ara dengan nada gerutu tak tertahan.


"Lagian, kenapa bukan nenek sih yang mecahinya sendiri. Orang nenek pasti hebat kan?" Ucap Ara. Nah loh nantangin nenek okem lo ya.


"Kalau gue yang ngurusin, napain juga gue manggil lo ke sini. Gue seret ke malaikat maut lo baru tau rasa." balas si nenek menggerutu.


Ara tercengang.


"Wah, kau baper kali nek, serius amat nanggepin hal yang gue coba tanyain. Dih." Sergah Ara balik.


"Gue masih berusaha keras, karena gak ada sama sekali ingatan si puteri yang tersisa di benaknya. Jadi gue bener-bener ngandelin apa yang ada di sana aja." jelas Ara akhirnya.


Ia benar-benar belum banyak tahu soal hal di lingkungan si puteri. Dan jangan lupakan, ia mengendalikan dirinya agar jangan sampai mempercayai siapapun di sana, meskipun dayang lugu bin polos ìtu.


"Baiklah kalau begitu. Tapi..." Kata nenek menjeda kalimatnya.


Ara menunggu


"Tapi jangan kau lupakan, Ara. Kalau waktumu memiliki batas, bukan?" lanjut nenek.


Eihhh, Ara ingat itu, Ara ingat. Please atuh kagak usah diingatin batasa horor itu. Sama aja dengan menghitung mundur hidupnya kalo diingetin.


"Iya. Gue inget, horor banget sih." Keluh Ara.


"Dan satu hal lagi..." ucap nenek lagi.


"Ya." Jawab Ara menunggu


"Bukankah kau begitu penasaran dengan sosok puteri Hwa, bukan?" Tanya nenek yang paham akan jalan pikiran Ara.


Dan tentu saja, Ara menganggukan kepalanya. Menunggu moment itu kan. Mendengar penjelasan akan diri puteri Hwa.


"Tapi Ara. Bukan penjelasan yang aku berikan padamu." Ucap nenek segera menghentikan jalan pikir gadis itu.


Ara menaikan alisnya, bingung. Lah terus apa?


"Ini." Nenek mengarahkan tangannya ke satu sisi yang langsung diikuti Ara dengan pasti.


Dan.... Dia, ya, dia yang menjadi objek rasa penasaran dan juga alasan Ara terhempas ke dunia yang menjadikannya seorang puteri..


Dia,, puteri Hwa, berdiri anggun di sisi kiri Ara. Menatap Ara dengan pandangan lembut namun terkesan sedih.


Ada apa ini? Dan, sekejap Ara berusaha menggapai, saat itu juga ia....


"Ha!!!" Terbangun dengan posisi duduk, keringat merembas basah pada gaun tidurnya, dan juga ikut membasahi dahi mulusnya.

__ADS_1


Mimpinya... Dan, gadis yang tubuhnya sedang Ara tumpangi, seperti mengucapkan kata yang belum sempat Ara pahami....


Bilang apa sih puteri Hwa tadi??


__ADS_2