
Sebagai seorang pebisnis yang baru-baru ini menjadi liar dalam mengembangkan usahanya. Kim Hee Sim tetap saja tak berpuas diri.
Meskipun ia sudah berhasil mengambil alih serta kembali mengokohkan perusahaan Bri-o Corporate milik seorang Brian Oh yang luluh lantak menjadi gagah di bawah kendalinya selain K-G Corporate miliknya sendiri.
Namun tetap saja, K-Diamond milik ayahnya yang seorang menteri Korea itu, enggan diliriknya. Berulang kali baik secara diam-diam maupun terang-terangan ayahnya mencoba menghancurkan usaha putera bungsunya. Tapi tetap saja, Kim Hee Sin mampu berdiri.
"Apa kau masih bersikeras ingin mengambil perusahaan itu, bos?" Sein dari kursi seberang Kim Hee Sin menatap bosnya yang sudah membuka lebar beberapa map berwarna kuning di atas meja berwarna merah gelap.
"Kau meragukan ku?" ia menatap penuh intimadasi kepada asisten yang menemaninya dari awal perusahaannya berdiri.
"Bukan begitu. Hanya saja....."
"Hanya saja apa maksudmu?"
"Bri-o Corporate saja kau pisahkan dari perusahaanmu sendiri. Dan sekarang kau masih mau menambah perusahaan baru dengan kembali terpisah?" Sein tak habis pikir dengan pola otak bosnya. Kenapa tidak digabung saja di bawah kuasa satu pimpinan, ini malah...ah sudahlah.
"Aku tetap mencintai K-G ini, kau tahu sendiri usaha ini tak akan aku campuri dengan bidang lainnya." jelas Kim Hee Sin.
"Ah ribet." gerutu Sein pelan, tapi terdengar hingg telinga bosnya itu.
"Kau enggan memimpin perusahaan itu?"
"kalau aku di sana. Lalu yang menghandel di sini siapa?" tak mau kalah. Sein merasa dirinya lebih malang dari Amoeba yang bisa memecah tubuhnya sesuka hati.
"Kau tetap mendampingiku. Kau itu hanya simbolis pimpinan sana."
"Sama aja bos. Semua orang tahu itu milikmu. Tapi kau enggan memimpinnya. Padahal perusahaan ìtu sudah hidup karenamu." sok bijak, atau malah membangkang?
"Kau...."
"Pokoknya aku tidak mau. Kecuali aku tidak mendampingimu." titik, keputusan final yang dipaksa oleh Sein, si asisten songongnya.
Kenapa masih dipertahankan si tengil ini?
Percayalah, di saat semua menganggap Kim Hee Sin anak ayah yang hanya mampu mengandalkan harta keluarga. Sein adalah orang yang paling tahu dan percaya kemampuan gila bosnya itu di dunia bisnis.
"Kau, sangat disayangkan sekali aku tidak memiliki kemampuan mengusirmu, Sein." lirih Kim Hee Sin melepas nafasnya.
"Maka dari itu, jangan mencoba membuatku gila sendiri, bos. Karena kegilaanmu selama ini selalu aku dampingi." lihatlah, betapa beraninya tangan kanannya itu menyambung ucapannya.
"Ya sudah, cari siapa yang bisa membawa perusahaan itu. Karena, si pemiliknya saja kita tidak tahu di mana rimbanya." titah Kim Hee Sin.
__ADS_1
"Kau masih mengharapkan perusahaan itu di kendalikan pemiliknya?" Sein kembali menggelengkan kepala.
Jika orang akan mengeruk sendiri usaha yang diambil dengan susah payah karena kebangkrutan parah. Tapi tidak dengan Kim Hee Sin, masih percaya jika si pemilik awalnya lah yang harus menanggung usaha itu kembali, di bawah bayangannya.
"Iya. Bukankah dia lebih tahu alasan perusahaan itu didirikan?" tanya Kim Hee Sin. Selalu begitu.
"Seperti halnya dia yang tahu bagaimana menghancurkannya, Bos." balas Sein
"Kau tidak tahu kebenarannya. Jangan asal menduga. Fitnah itu, kalo bener ghibah." decak sebal Kim Hee Sin.
"Jadi bagaimana, Cath-Opc akan tetap kau ambil, nih?" santainya Sein bertanya pada Kim Hee Sin.
"Iya. Tetap. Perusahaan itu cukup menarik perhatianku akhir-akhir ini." jawabnya pelan.
Cath-Opc. Perusahaan yang bergerak di bidang komunikasi itu, mendadak ambruk dengan banyak hutang di dalamnya.
Banyak usaha beberapa orang yang memaksa jika perusahaan itu melebur dengan memecahnya ke dalam milik orang lain, tentu dengan harga murah.
Tanpa pimpinan.
Kendali perusahaan itu tak jelas arahnya.
Di saat terakhir, Kim Hee Sin meraih kesempatan untuk mengambil paksa perusahaan itu, dengan K-G Corporate serta Future Groups sebagai saingannya.
"Siapapun itu, tak akan ada yang bisa menghalangi niatku." jawabnya.
"Termasuk menteri tua itu." kan, enteng sekali dia mengumpat ayahnya sendiri.
"Eih terserah kau menyebutnya apa. Tanpa gelar menteri saja, tuan Kim membuatku bergidik, apalagi ditambah statusnya itu. Aihhh, aku belum mau berumur pendek, bos." ucap Sein panjang lebar.
"Santai saja. Aku akan tetap bersikeras mengambil perusahaan itu. Apapun resikonya." Kim Hee Sin merasakan kekhawatiran juga, tapi menguar begitu saja dari penampilan luarnya yang terkesan arogan.
"Lagian, perusahaan bobrok itu menarik minatmu, lucu." songong kan? sok tahu sekali asistennya itu.
"Kau tahu, kenapa aku melirik Cath-Opc?" tanya Kim Hee Sin sebagai awal pancingannya.
Sein mengerutkan dahinya, "Maksudmu?"
"Baik Bri-o Corporate maupun Cath Opc, memiliki kesamaan diantaranya." pelan, Kim Hee Sin menggiring Sein untuk ikut menebak.
"Keduanya ada persamaan?" ulang Sein bingung.
__ADS_1
Kim Hee Sin mengangguk, membenarkan.
"Maksudmu, kedua perusahaan itu memiliki hubungan?" lagi. Si tengil itu bertanya.
"Iya." sahut Kim Hee Sin mengiyakan.
"Apa?" aihh kenapa ujung-ujungnya masih nanya.
"Kau belum paham?" Kim Hee Sin tertegun akan keajaiban asistennya.
"Iyq, bos." jawab Sein Santai.
"Kau tahu, saat perusahaan itu hancur. Kemana pemilik aslinya?" Kim Hee Sin lagi-lagi mengumpan dalam bentuk kalimat tanya. Sambil berdoa semoga quis dadakan berkah ini bisa terjawab sehingga asistennya mendapat hadiah pelindung kepala agar tak kena lemparan sepatunya.
"Entah." ding dong. Apakah Kim Hee Sin boleh membalik meja ini dan menendang Sein dari jendela besar ruangannya ini?
"Sama dodol. Aku juga tidak tahu." geram Kim Hee Sin.
Hening...
Brak!!!!!
"Ya, aku paham!!!!." pekik Sein tiba-tiba.
Kim Hee Sin menoleh penuh harap agar kekesalannya luntur saat itu juga.
"Perusahaan itu seolah dibuat hancur, dan pemiliknya menghilang tanpa catatan kepergian sama sekali dari berbagai lini manapun. Karena....."
"Karena apa?" kali ini Kim Hee Sin yang menunggu jawaban asistennya.
"Karena ada beberapa kodok bangkong yang sengaja menghancurkan, untuk memiliki perusahaan yang asetnya sebenarnya lebih dari itu dalam bentuk harta tak bergerak." asumsinya.
"Aset terpendam itu yang benar." jawab Kim Hee Sin.
"Iya sama saja. Perusahaan itu sebenarnya stabil meskipun kecil. Mereka nyatanya menjalankan usaha dengan keuntungan standar, padahal sebenarnya, perusahaan itu memiliki usaha besar di dalamnya." lanjut Sein.
Kim Hee Sin menarik sudut bibirnya tipis.
Benar!!!
Perusahaan itu dibuat bangkrut, dengan menampilkan kenyataan bahwa usaha itu dengan mudah hilang begitu saja. Padahal mereka sengaja agar bisa mengambil usaha yang sesungguhnya dari perusahaan itu.
__ADS_1
Dan juga, pimpinan mereka, alias si pemilik pun seolah ikut menghilang bersama kejayaan usahanya. Tanpa pernah bisa terlacak arah pergerakannya dari beberapa pantauan kepolisian.
Aneh!!