100 Hari Menjadi Puteri Joseon

100 Hari Menjadi Puteri Joseon
Ratu yang Membunuh Pengawal itu?


__ADS_3

"Hwa-ya, Hwa-ya...!!!" putera mahkota bergegas meraih pintu geser itu dengan sangat tak sabar.


Srettt


"Ratu?" pria itu tertegun manakala ia menemukan sosok yang menyambutnya dengan senyuman, ya ratu memberikan senyum padanya, bukan tampang panik harusnya.


"Kemarilah, kenapa kau begitu terlihat panik seperti itu, yang mulia?" ujar ratu dengan senyumnya yang masih melekat.


Putera mahkota melangkah pelan. Matanya beralih pada sosok yang duduk di sisi seberang ratu.


Bukannya gadis itu??


Kenapa tidak terlihat seperti yang ada di dalam pikirannya?


Gadis itu masih terlihat baik-baik saja.


Lalu, situasi apa yang di blow up pengawal tadi? Wah, lihat saja, akan ia beri pelajaran pria gempal itu.


"Kenapa kemari, putera mahkota?" ratu melempar tanya lagi pada putera mahkota yang sudah berangsur menepikan tubuhnya di sisi puteri Hwa. Menatap bingung semua yang ada di ruangan ini.


"Dan, kau pun terlihat begitu panik." lanjut ratu dengan wajah penasaran bercampur geli pastinya.


"Aku hanya mendapatkan firasat tak baik untuk puteri Hwa, ratu." jawab putera mahkota pelan.


"Kenapa ada dayang itu di sini? Apa dia dayang baru ibu?" putera mahkota memang sedikit heran dengan keberadaan dayang muda itu. Bukankah dayang pribadi ratu sudah cukup renta?


"Oh, ini dayang An, yang mulia. Dia salah satu dayang kepercayaankum" jawab ratu pelan.


'Heh, dayang kepercayaan buat hal yang buruk.' decih Ara membatin.


"Kenapa kau tak meminum air mu puteri? Sedari tadi kau tak melepas cangkir itu." ratu beralih melirik puteri Hwa, yang masih mempertahankan cangkir di genggamannya.


"Oh, aku sudah tak haus lagi, yang mulia." sahut Ara dengan percaya diri. Ia merasa mendapatkan angin segar manakala putera mahkota turut hadir nimbrung di sini.


Setidaknya kalau ia masih dipaksa meminum dan terjadi hal yang tidak-tidak, maka ada saksi hidup yang melihatnya, bukan?


"Benarkah?" pria yang duduk di sebelahnya bertanya dengan nada menuntut.


Dan Ara menjawabnya dengan anggukan yakin.


Dihh, siapa juga yang rela garuk-garuk karena menyentuh sesuatu yang membuatnya alergi.


"Baiklah kalau begitu, dayang An, bawa kembali semua hidangan ini. Aku ingin berbincang dengan puteriku." perintah ratu pada dayang muda yang kini menunduk itu, begitu putera mahkota merangsek masuk, mendadak gadis itu bertingkah sopan di hadapan puteri Hwa, tak tengil seperti tadi.


"Baiklah yang mulia." sahutnya bangkit berdiri lalu meraih baki yang akan menjadi wadah untuk hidangan yang tersaji di meja.


Menghampiri meja kecil di depan puteri Hwa, meskipun berlagak sopan luar biasa sebagaimana harusnya seorang pelayan ke majikan, namun tidak begitu yang tertangkap oleh Ara.


Dayang ini masih songong rupanya!

__ADS_1


Begitu pikirnya ketika dengan cepat seringai dan tatapan seolah berkata INI BELUM BERAKHIR tertera di atas kepala dayang itu.


'Oooh, mau adu gelut lagi, huh?' dengus Ara membatin. Jika saja tak ada ratu dan putera mahkota, sudah dipastikan kalau dayang tengil itu akan Ara bejeg-bejeg sampai memar tak dikenali.


' Tunggu gue di perempatan Lo!' Ara berusaha membatin dengan sorot mata tajam di sinyalkan ke dayang itu.


"Sajikan yang lain, untuk putera mahkota khususnya." lagi, perempuan bergelar ratu itu memberikan titahnya.


"Baik yang mulia." jawab si dayang yang menunduk dalam posisi berdirinya, membungkuk di hadapan ratu, putera mahkota, namun melengos begitu saja ketika menatap puteri Hwa.


Tengil Lo!!!!


Decih Ara gemas.


"Ada apa ratu berkunjung ke kediaman puteri Hwa?" putera mahkota membuka obrolan ketika dayang tengil itu sudah melenggang menghilang dari balik pintu geser itu.


Ratu menatap pria muda gagah yang barusan melempar tanya padanya.


"Kenapa memangnya putera mahkota? Apakah ada yang salah jika seorang ibu mengunjungi puterinya?" ratu balas menjawab dengan tanya.


Sementara Ara malah mengerenyitkan dahi puteri Hwa ketika ia menangkap kalimat barusan.


'Heh, tidak salah? Puterinya? Dari mana woy!!' batin Ara geli.


Jelas saja lucu, berlagak mengunjungi puterinya? Untuk mengerjai dengan sebuah alergi parah dan jadi tontonan keesokan harinya? Begitukah?


"Ooh, begitu." jawab putera mahkota.


'Ya elah, ini gimana si emak-emak. Nanya jawab ndiri' cerocos Ara membatin.


"Kalau kau tidak keberatan....." ratu menjeda kalimatnya sembari mengalihkan tatapannya pada puteri Hwa.


Ara membalasnya dengan tatapan santai, enggan terintimidasi.


"Bagaimana ji...." baru saja hendak merangkai lanjutan kalimatnya yang terpotong, ratu kembali harus terpaksa menjeda kalimatnya ketika keributan terdengar di luar sana.


Bising suara heboh merangsek hingga ke semua pasang telinga ketiga orang yang berada di dalam ruangan ini.


"Ada apa di luar sana." putera mahkota sontak berdiri dan melangkah menuju asal suara keributan itu.


Srettt!!!


Ketika pintu terbuka, benar saja. Para dayang mendadak memasang wajah yang sama, panik, ketakutan.


"Ada apa ini?" tanya putera mahkota pada semua pelayan yang berada di sana.


"It-it-itu yang mulia." salah satu dayang menunjuk satu pintu yang ada ruangan di baliknya.


Semua mata mengarah ke titik yang sama.

__ADS_1


Dan, putera mahkota pun menutup rasa penasarannya dengan pelan melangkahkan kakinya ke tempat yang menjadi pusat perhatian.


Namun pintu itu tak tertutup. Dari sisi berdiri putera mahkota, pria itu bisa melihat ada beberapa orang yang tengah berkumpul di sana.


Dan....


Bukankah?


'Ini pengawal yang tadi melaporkan padaku?' batin putera mahkota terkejut ketika melihat tubuh gempal yang tadi terengah-engah berlari mencarinya untuk memberi tahu keadaan puteri Hwa, kini terbujur kaku.


Dengan wajah memerah pastinya. Persis seperti yang ia infokan tadi padanya.


"Bagaimana bisa?" gumamnya namun bisa di dengar oleh beberapa pasang telinga di sekitarnya.


"Panggil tabib, cepat!!!" perintahnya tegas pada beberapa pelayan di sana.


Dugaannya pasti tak kan salah.


Pria itu, diracun!!!


Namun, di dalam ruangan....


"Puteri Hwa." panggil ratu serius.


Ara merasakan aura yang cukup menegangkan seketika.


Ada apa ini?


"Ya yang mulia." jawab Ara mewakili puteri Hwa.


Ratu mengetuk ujung telunjuknya di meja, lalu pelan Ara bisa melihat tarikan ujung bibir milik ratu. Seringai, namun dengan mimik wajah serius, jadinya terkesan menyeramkan loh.


"Kau tahu apa yang terjadi di luar sana?" tanya ratu menatap puteri Hwa lagi.


Ara mengerenyitkan dahinya bingung. Tak tahu dengan kehebohan di luar ruangannya.


Karena sampai kini ia tetap memaku tubuh puteri Hwa di bantalan duduk ini. Mencegah rasa keponya agar tak melarikan tubuh ini keluar sana, mencoba mencari tahu. Coba saja di dunianya, pasti ia akan bergegas mencari apa yang terjadi.


"Tidak tahu yang mulia." jawab Ara lembut.


"Heh. Pengawal yang membawa putera mahkota kemari, kini sudah pergi ke akhirat." ucap ratu lalu terkekeh.


Hah!! Maksudnya....


"Apa yang ibunda ratu maksud?" Ara masih tak paham.


"Pengawal yang menjadi tangan kanan putera mahkota untuk menjagamu, kini sudah mati, puteri. Hahhahaha." tawa ratu menguar diantara kehebohan di luar sana.


Ratu membunuh pengawal itu?

__ADS_1


Begitu maksudnya?


Emejing,... Jangan-jangan si dayang tadikah? Yang membunuhnya?


__ADS_2