
"Orabeoni!!! Puteri Hwa menjeritkan kata itu ketika tuan Kim sudah menampakkan wujudnya.
Hana menoleh heran,
"Orabeoni? Hei!! Siapa Orabeoni mu?" tanya Hana mendecak lucu.
"Dia, dia putera mahkota." jawab puteri Hwa tanpa merasa tersinggung akan sikap menyindir Hana.
"Hei, kau ini, wahhh." Lagi, Hana menepuk pipi Ara yang dikiranya tengah hilang kendali itu.
Dan lagi-lagi pula Puteri Hwa yang menepis kasar tangan Hana.
"Oho!!! Lancang sekali kau!!" hardik puteri Hwa. lalu menoleh ke tuan Kim.
"Orabeoni, kemarilah, aku sedari tadi bertemu dengan banyak orang aneh." adu puteri Hwa yang meminta bantuan tuan Kim.
Hana menoleh pula pada pria itu, mempertanyakan apakah ia mengenal Ara sebelumnya. Namun Hana melihat kerenyitan di dahinya, dan jelas menjawab bahwa pria itu tak mengenal Ara seakrab itu.
Puteri Hwa kembali melambaikan tangan Ara untuk meminta tuan Kim mendekat.
"Sini Orabeoni." panggilnya.
Hana yang melihatnya hanya menghela nafas lalu memberi tanda pada tuan Kim untuk menuruti permintaan si tengil itu.
"Ada apa Ara-sshi?" tanya tuan Kik begitu sudah berjarak cukup dekat dengan Ara.
Puteri Hwa mengerenyitkan dahi Ara mendengar nama itu lagi yang terucap, dan kini malah dari bibir kakaknya.
"Orabeoni, kenapa kau memanggilku seperti itu." puteri Hwa cemberut sebal. Matanya pun ikut memindai penampilan pria itu.
"Dan kau, kenapa pula memakai pakaian aneh ini? Sama anehnya dengan orang itu dan yang melekat ditubuh ini." gerutu puteri Hwa.
"Aneh?" Hana yang melempar tanya itu, seolah mewakili pria dihadapan Ara akan kalimat yang dilontarkan gadis itu tadi.
"Iya, aneh, bukankah sungguh aneh. Terlebih baju yang kau gunakan terlalu terbuka, seperti seorang perempuan penggoda." jelas puteri Hwa. Ia pernah bertemu dengan perempuan yang membuka sedikit bajunya ketika berdekatan dengan pria. Maka ia membayangkan hal serupa ketika melihat dirinya seperti itu.
"Apa kau bilang!!!" Hana tak sabar lagi, ia menggerakkan jemarinya.
__ADS_1
Clitik!!!
Tepat di kening gadis itu. Hingga terlihat warna kemerahan sekarang berikut tambahan delikan tajam darinya.
"Berani sekali kau!!" cerca puteri Hwa akan kekurang ajaran Hana yang berani sekali menjentikkan jarinya di wajah seorang keluarga kerajaan.
"Iya, kenapa, kenapa memangnya!!!" Hana menantang gadis itu dengan sikap tubuh berkacak pinggang.
"Kau selalu menyebalkan. Tapi hari ini, ku sangat menyebalkan." Decak Hana gemas.
"Sudah nona Choi." suara tuan Kim melerai debat tak jelas antara Hana dan puteri Hwa yang terperangkap dalam tubuh Ara.
"Semprul!" dengus Hana
"Semp.... Apa?" puteri Hwa yang tak paham istilah asing atau kosakata baru itu mengalami kesulitan, mencerna.
"Heh, padahal itu kata-katamu sendiri." cibir Hana.
"Kau mengatakan hal buruk padaku? Dasar orang tak jelas!" balas Puteri Hwa tak mau kalah.
"Apa kau bilang!!" Hana membalas tak kalah sengit.
"Bukankah kalian dua sahabat? Begitu menurutmu nona Choi, kan?" tanya tuan Kim tak paham.
"Harusnya begitu, tuan Kim..tapi melihat sotoy ini bertingkah absurd, entahlah, saya pun meragukan." jelas Hana tanpa melepas pandangannya dari tubuh Ara.
"Heh, aku malas meladeni orang tak jelas sepertimu. Orabeoni, ayo bawa aku keluar dari tempat ini." pinta puteri Hwa memohon pada tuan Kim.
Membuat dahi pria itu berkerenyit, gadis itu masih saja memanggilnya dengan sebutan Orabeoni, bukankah jika mereka akrab harusnya yang ia dengar adalah Oppa?
"Nona Go Ara......" belum sempat kata selanjutnya terlontar, puteri Hwa cepat menyambar.
"Aku bukan Go Ara, aku Hwa, Orabeoni!!" tegas puteri Hwa yang tak habis pikir dengan putera mahkota yang masih melekatkan panggilan seperti orang aneh yang ia temui.
Ara. Ara. Ia Hwa. Puteri kerajaan Jehwa.
"Kamu adalah nona Go Ara, dan aku bukan orabeoni-mu, aku Kim Hee Sin, orang yang menolongmu waktu itu. Dan kita baru berbincang saat ini, nona Go." jelas tuan Kim dengan pelan.
__ADS_1
Puteri Hwa mendengarkan dengan lamat-lamat. Lalu ia menggeleng, ia tak paham. Kenapa kakaknya berbicara seperti itu.
"Kau, kau sudah tidak ingin bersamaku lagi putera mahkota." lirih, gadis itu terlihat bergetar tubuhnya. Lalu, pelan, ia menundukkan kepala dan semakin jelas isyarat kemana ekspresi itu berlanjut. Ya, ia menangis.
"Putera mahkota?" serempak Hana dan tuan Kim mencetuskan kata itu.
"Eh, nona Go Ara. Kenapa kamu menangis, nona Choi, bagaimana ini.?" tuan Kim terlihat panik lalu melempar pandangan pada Hana yang juga tertegun melihat Ara seperti itu. Pilu sekali suaranya.
"Hei, Ara." Hana mendekati brangkar tempat Ara duduk tergugu itu.
"Aku bukan Ara!!!" pekik puteri Hwa menoleh pada Hana dengan wajah penuh linangan air mata.
"Ah iya. Hwa-ya" ganti Hana yang teringat akan nama lain yang diucapkan sahabatnya itu.
"Aku puteri Hwa!!" Lagi, puteri Hwa memekikan panggilan namanya yang benar.
Hana refleks mundur ketika gelegar suara itu keluar.
"Iya, iya. Baiklah yang mulia puteri Hwa." Hana mencoba mengalah, ia akan menyikapi kemana mau gadis itu kali ini, meskipun ia tak tahu kenapa sahabatnya bertingkah tidak masuk akal lagi.
"Ikuti saja dulu." Hana melirik tuan Kim dengan isyarat bibir berkomunikasi.
Dan pria itu mengangguk paham.
"Lalu, apa yang harus aku lakukan sekarang, puteri Hwa?" Hana berangsur mendekati tubuh Ara. Lalu menggapai telapak tangan gadis itu yang masih membanjiri wajahnya dengan linangan air mata.
"Boleh aku memelukmu, puteri Hwa.?" Hana mencoba meminta izin, ia tahu ini konyol, tapi melihat banyaknya penolakan dari Ara, ia akan mengalah lagi. Mengikuti apa maunya.
"Aku sebenarnya tidak mau, tapi, bolehlah." dengan cucuran air mata ia menunggu rengkuhan Hana.
Lalu, isak itu semakin bervariasi. Karena kini Hana ikut ambil bagian dalam drama melow itu.
Sementara tuan Kim, jangan tanya, ia menatap haru dua wanita itu. Meski ia sendiri merasa heran apa yang tengah terjadi, sejatinya ia baru bertemu langsung dengan Ara saat ini, lebih dari itu hanya ketika gadis itu terbujur di pembaringannya. Kala Ara pertama kali sadar, saat itu ia tengah berada dalam urusan bisnis di luar negeri.
Sehingga, ketika Ara mengucapkan bahasa informal terhadapnya, ia jelas merasa heran. Terlebih ia mendengar gadis itu menyebutnya orabeoni, lalu terakhir tadi putera mahkota.
Bukankah itu berlaku untuk orang yang hidup di zaman Joseon?
__ADS_1
"Sudah, sudah ya, puteri Hwa. Aku minta maaf untuk ucapanku tadi." Ujar Hana sesegukan di sela ucapannya, betapapun ia kerap berdebat bahkan saling mengucapkan kata tak masuk akal dengan Ara. Namun keduanya belum pernah bermusuhan, karena setelahnya mereka akan tertawa terbahak-bahak dengan soju dan bir serta cumi kering dan ramyun sebagai teman mereka.
"Aku juga." sahut puteri Hwa.