
Kini, geng Ara sudah tiba di bangunan besar, ya.. Lebih besar dari miliknya, tentu saja.... Inikan punya sang calon empu kerajaan kelak. Putera mahkota.
Ara sedikit tak sabar untuk segera sampai di bangunan megah itu. Namun ia sadar, ini bukan eranya yang seenak jidat saja menerobos kediaman orang lain buat nyari pelayannya. Terlebih ini kan punya pria incaran Ara, sejauh ini sih baru putera mahkota ini... Ntah kabar soal calonnya yang dari negeri seberang itu, ia belum tahu.
"Yang Mulia puteri Hwa.." Salah satu dayang yang melayani putera mahkota mendekatinya ketika menangkap arakan puteri datang.
"Ada apa, puteri?" Tanyanya lagi.
'Bukan, bukan bibi ini" batin Ara kala disambut si dayang.....
"Aku mau menemui......" Ara tak sampai menyelesaikan kalimatnya, karena ia sendiri bingung, tujuannya adalah mencari si dayang geng bunga itu, tapi bukan secara terang-terangan begini. Jelas Ara perlu mengintai dulu lah.
Dayang yang bertanya tadi menunggu kelengkapan kalimat puteri Hwa, yang menggantung.
Hingga...
"Jelas mau menemui kakak ku, memangnya siapa lagi yang ada di bangunan ini??" Jawab Ara mencari pembenaran, toh ia kan punya akses bebas ke sini kan?? Ia anggota VVIP kerajaan juga kan?
"Baiklah, saya akan memberi pemberitahuan terlebih dahulu, puteri." ujar dayang tersebut membungkukan tubuhnya yang Ara sambut dengan dehaman saja.
Setelah dayang itu meninggalkan Ara sejenak untuk memberi tahu perihal kedatangannya. Ara melempar pandangannya, memindai dayang yang ada di sana. Namun, nihil. Kemana pulak si doi yang diincer Ara sehh??
Tak membutuhkan waktu lama, dayang tadi kembali lagi. Membungkuk hormat.
"Silahkan masuk puteri, putera mahkota sudah menunggu Anda di dalam." ucap si dayang mempersilahkan Ara masuk, namun tanpa rombongannya ya, jelas tinggal lah, kagak muat pasukan tawurannya di dalem.
Sepanjang langkah Ara, ia pun tak juga menemui si dayang yang menjadi tersangka tuduhannya saat ini ketika ia menapaki lantai menuju ruang putera mahkota.
Tak ada satu pun dari sekian dayang yang menjaga di dalam yang memiliki aroma apel itu.
'Doi kemana sih?' Batin Ara penasaran
Hingga...
"Yang mulia."
Krik krik krik
"puteri Hwa!" Panggil dayang yang menjaga pintu ruangan putera mahkota. Menyadarkan Ara bahwa sudah berulangkali ia memanggil tapi tak di gubris.
"Eh, i-iya, sorry" Ucap Ara pada panggilan barusan. Dayang yang mendengar kata asing itu tentu saja terheran-heran sekaligus bingung. Namun malas Ara ladeni. Tujuannya bukan untuk les bahasa saat ini, ia punya misi kemanusiaan, mencari komplotan geng bunga.
__ADS_1
Sesampainya di dalam
Aih,, pesona pria idaman Ara memang punya kualitas paripurna, lihat saja, ruangannya pun terlihat maskulin sekali. penataan yang sederhana namun terkesan sekali sisi jantannya di sana. Masing-masing satu pedang berada di sisi kiri dan kanannya, tombak berikut panah di taruh di semacam tempat menggantung di bagian sudut belakang sisi kirinya, dan tak lupa.. Koleksi bukunya yang ia tata di belakangnya dalam rak yang tak begitu besar. Warna ruangan itu, di dominasi warna perak dan biru. Sesuai sekali dengan tingkatannya.
"Yang Mulia." sapa Ara manakala dirinya sudah berhasil menjejakkan langkahnya di dalam ruangan itu. Melihat seorang pria tengah berdiri di sudut jendela yang terbuka, dengan sebuah buku di tangan kirinya.
Aihhhh, lelaki itu!!!! Racun!!!!!!
'Ara, kuatin hati Lo, mental Lo, dan iman Lo, ini kakaknya si puteri, inget Ara.' perintah batin Ara mengingatkan bahwa ia jangan sampai membuat hal konyol di hadapan pria itu.
Yang kini menoleh dan..., menambah racun dengan menebar senyum menawannya.
Arrghhhhhh!!!! Hentikan, lambaikan tangan ke kamera!!!!
Misi lo bisa gagal kalo banyak nenggak racun mulu Ara!¡!!
"Mari duduk, puteri Hwa." Ajaknya dengan ikut melangkah menuju tempat duduk.
Ara ikut duduk di atas bantal empuk itu.
Menghipnotis dirinya, otaknya, hatinya, dan para iblis di dalam dirinya yang ikut menghasut dirinya untuk tergoda pada pria di hadapannya ini.
"Ada perlu apa, puteri. Tak biasanya kau datang mengunjungiku sepagi ini?" tanya putera mahkota.
"Tidak ada apa-apa, oppa. Hanya ingin mengunjungi para tetua bersama-sama. Dan sarapan bersama juga, kalau bisa." jawab Ara panjang lebar, berusaha mencari alasan kedatangannya.
Yang tentu...
Dipercaya si pria yang kini menganggukkan kepalanya dengan senyum racun itu.
Oh Goshh!!!
Sreeettt
Suara pintu geser, menandakan ada yang datang, dayang tentunya.
Mengawali sikap siaga Ara, saat dirinya yaitu indera penciumannya menangkap aroma yang ia cari dan menjadi misinya pagi ini.
Aroma APEL!!! Dayang itu!!!
Menoleh pelan, tapi..
__ADS_1
Bukan... Bukan dayang ini yang ia cari.. Tapi,, kenapa...
Ishhhhh
'Ada berapa sih musuh puteri Hwa dalam wujud dayang, sih?' batinnya menggeram.
Ini dayang yang.... Yang tidak ikut dalam barisan putera mahkota. Tapi...
Kenapa memiliki aroma yang sama.
Apel.
"Ada apa puteri?" Tanya putera mahkota yang menangkap pandangan intens terhadap dayangnya yang menghidangkan minuman dan camilan untuk mereka berdua.
"Aaahh, oo, bukan apa-apa, putera mahkota. Aku hanya kagum pada mereka." jelas Ara, bohong.
"Kagum? Dalam hal apa, mereka hanya menghidangkan sajian saja, bukan hal yang luar biasa" ujar putera mahkota sembari terkekeh geli akan jawaban puteri Hwa.
Tentu lah. Ya kali si dayang akrobatik saat menyajikan hidangan itu, seperti... Salto tiga kali sambil bawa gelas dan teko air, atau ngeluarin api saat menata camilan. Lah ini kan cuma naruh gelas, piring, dan nuangin air. Beres, ahhh kau tak ada rencana alasan yang bagus lai.
"Heheh,." balas Ara terkekeh, malu.
Lalu kembali menatap si dayang tersangka baru.
"Kau.. Siapa namamu?" tanya Ara pada dayang yang tengah menata piring kecil berisi beberapa camilan manis.
Si dayang tergagap seketika mendapat pertanyaan tak biasa itu. Hayolah, ia hanya seorang pelayan rendahan yang tak butuh diketahui siapa dirinya oleh kaum bangsawan kecuali jasanya saja yang diperlukan.
Menoleh.... "San-A. Yang Mulia puteri Hwa" jawab perempuan yang diperkirakan Ara berusia 30 ke atas itu.
"Ooo. Terima kasih untuk hidangannya dayang San" Ara mencoba tersenyum kala melempar kalimatnya tadi.
Walau ia gemas, berapa banyak sih geng bunga ini.
Bayangkan saja, ia baru bertemu 3 orang, yang ngasih racun belum tahu wujudnya bagaimana. Jadi sudah ada 4 orang kan...
dan semuanya berasal dari kaum rendahan, dayang dan pengawal.
Masa' iya, musuhnya puteri Hwa, alias geng bunga ini isinya kacungan semua sih?? Aihh dendam apa coba mereka?? gak mungkin kan soal materi, kan yang gaji bukan puteri Hwa. Atau kebencian akan tindakan buruk si puteri? kayaknya gak deh, di lihat dari pertemuannya di alam goib, si Hwa ini gak ada wajah-wajah pembully
Lalu.... Kenapa pula dengan geng bunga ini?? Apa alasan para dayang banyak terlibat sih????
__ADS_1
"Kau,... Parfum apa yang kau gunakan, San-A?? Aku suka" tanya Ara...