100 Hari Menjadi Puteri Joseon

100 Hari Menjadi Puteri Joseon
Demi Pisang


__ADS_3

"Untuk apa aku mengucapkan kata itu? Kau bukan siapa-siapa." tolak puteri Hwa santai.


Tidak akan


Tidak


Begitu kekehnya puteri Hwa mempertahankan harga dirinya sebagai seorang bangsawan.


Hana tidak jelas kedudukannya, bangsawan? Entah


Pastinya bukan anggota kerajaan, karena penampilannya sungguh memalukan.


Lihatlah, kaki putih dan jenjang itu begitu mudahnya ia pamer kepada siapapun. Padahal keluarga kerajaan begitu menjaga tubuh mereka dari setiap tatapan orang-orang.


Rakyat jelata? Entah, karena jika seorang rakyat jelata. Harusnya Hana lusuh, kotor dan.... Tidak secantik dan sebersih itu.


"Kenapa?" tanya Hana penuh selidik pada Ara yang melengoskan wajahnya kearah lain.


"Aku tidak kenal siapa kau, dan kau juga tidak sederajat dengan ku untuk mendapatkan kata itu." jawab puteri Hwa yang masih enggan membalas tatapan Hana.


"Oh ya? Ooo benar, kau mengalami korslet luar biasa di kepalamu, makanya kegilaanmu di maafkan." balas Hana gemas.


"Gi-gila katamu?" ya. Puteri Hwa paham dan sangat paham kata yang diucapkan oleh Hana untuknya, itu adalah kata yang kasar dan diucapkan oleh mereka yang memiliki kasta rendah di dunianya. Karena dulu secara tidak sengaja ia pernah mendengar hal itu dari beberapa pelayan istana dan mempertanyakannya pada dayang Han, hingga ia tahu bahwa kata itu amatlah buruk.


Dan Hana mengulang kata itu dengan santainya. oleh karena itu, puteri Hwa meyakini jika Hana, bukanlah kasta baik.


"Mulutmu kotor sekali." decih puteri Hwa menilai.


Membuat Hana membelalakan matanya lebar-lebar kala mendengar komentar Ara barusan, yang mengatakan ia bermulut kotor??!!!!


"What???!" ucapnya tak percaya.


"Kau pikir mulutmu itu suci dan bersih? Mulutmu tak lebih bail dariku Ara-ya!!!" ihhh pengen banget nampol tu bibir sama getok kepala sahabatnya itu. Kalau-kalau malah berbuah manis dengan efek kembalinya ingatan Ara.


Ya. Bisa saja.


Apa perlu ia menggedor kepala Ara ke dinding?


Kalau tambah korslet gimana?


Ahhh benar juga. Bisa-bisa ia menyusul kegilaan Ara setelahnya.


"Sabar." gumam Hana pelan, ketika dengan datarnya Ara menatapnya kini.


"Ke-kenapa kau melihatku seperti itu, huh?" gugup Hana menangkap tatapan Ara.


"Aku sudah bilang berkali-kali. Aku Hwa, puteri Hwa, bukan Ara!!!!." geram puteri Hwa konsisten.


Ketika beberapa orang menerima ucapannya, kenapa Hana susah sekali menuruti titahnya.


"Tidak mau, kenapa aku harus memanggilmu dengan nama Hwa, apalagi puteri Hwa, heh. Lucu." balas Hana.


"Kau!!!" puteri Hwa menarik telunjuk Ara lurus kearah Hana, seolah tengah bersiap mengecamnya.


"Kenapa? Kau mau apakan aku?" Hana malah menantang Ara, tanpa terintimidasi sedikitpun.


Kenapa pula ia harus takut? Meskipun jujur, dengan Ara yang sekarang, entah dirinya merasa sedikit gentar, bukan karena posisi Ara, tapi seolah ada yang membuatnya tunduk saja.


"Lihat saja. Akan aku laporkan pada orabeoniku. Kau akan dihukum olehnya." ancam puteri Hwa tegas dan penuh rasa kesal.


"Oh ya? Tentu saja, aku akan menunggu orabeonimu itu, heh." tanpa takut, Hana kembali membalas ucapan Ara.


"Heuh!!." menolak wajah dengan penuh kesel.

__ADS_1


Sruppppp


Srupppp


srupppp


3x , 3x Hana menyeruput minuman dalam kotak bergambar pisang. Dengan sengaja, ia mengeraskan suara seruputannya. Memancing ego gadis itu agar memperhatikannya.


Dan benar!!!.


Ia melirik dengan sorot mata masih sebal padanya.


"Heuhh..!" lagi, ia menolak wajah itu.


"Eummmhhhh, mau ku habiskan saja ahhhh." celoteh Hana, memprovokasi tepatnya.


Srupppp


Lagi. Hana menyeruput minuman itu.


"Eungghh." terdengar rengekan kesal yang berasal dari gadis yang menatap ke jendela besar kamar rawat inapnya.


"Dasar." gumam Hana menilai sikap lucu sahabatnya itu. Seolah mengingat Ara yang dulu masih kecil.


Rajukan itu.


Pernah Ara tunjukkan padanya.


"Waahh habis juga minumanku." dengan suara dibuat-buat puas dan juga dikeraskan, Hana santainya memancing tindakan Ara setelah ini.


"KAU!!!!." kan lihatlah, menembakkan tatapan membunuh kearahnya, membuat Hana menarik dahi atasnya dan menahan bibirnya agar tidak melepas tawa.


"Kenapa? Apa ada yang salah denganku, Ara-ya?" kembali mengeluarkan panggilan atas nama Ara, karena memang itu kan tubuhnya Ara, ia tidak mau menuruti permintaan konyol sahabatnya yang mau dipanggil dengan nama berbeda.


Bodo'


"Kenapa aku harus memanggilmu dengan nama itu? Kau Ara, Jo Ara. Jadi aku tidak mau menyebut nama asing itu." tolak Hana enteng.


Jika Ara yang sengklek itu saja keras kepala, maka ia harus keras kepala juga dong.


Enak saja.


"Kau, turuti perintahku!!." Dengan menegakkan punggung, puteri Hwa menunjuk Hana dengan penuh ketegasan.


"O-G-A-H, No!!!." tolak Hana membalas tatapan sengit yang dilempar Ara untuknya.


"Apa kau bilang!!!." puteri Hwa sedikit paham kata terakhir yang diucapkan Hana, karena ia pernah menanyakannya dulu.


Tidak katanya?


Benar-benar gadis pembangkang!!!.


"Tunggu saja kau, akan ku buat kau menyesal." lagi, ancam puteri Hwa pada Hana yang tidak gentar padanya.


"Ya sudah kalau begitu. Terserah kau saja."


Sreettt


Hana menarik kursi tempatnya duduk, lalu menggeser tubuhnya bertolak dari sisi brangkar tempat Ara dirawat.


Melihat gadis yang membuatnya marah hingga ke ubun-ubun. puteri Hwa mendelik kesal.


"Mau kemana kau!!!." tanyanya dengan nada kesal.

__ADS_1


Bukankah Hana tidak menghormatinya, main pergi begitu saja, kan?


"Hei!!!." panggilnya sedikit berteriak, karena Hana tidak memperdulikan ucapannya tadi.


"Mau pergi, gerah gue di sini." sahut Hana tanpa menoleh sedikitpun.


"Tungg..." ucapannya terputus ketika Hana sudah berhasil menarik handel pintu lalu menghilang di baliknya.


"Eeuhhhhhh. Dia membuatku kesal."geram Puteri Hwa meremas sprai tempat tidur.


"Akan aku buat dirinya menyesal karena telah menghina seorang puteri raja." angkuhnya


.


.


.


.


"Gue bertaruh, masih bakalan ngancem gue gak doi." Hana bermonolog dan berniat kembali masuk ke dalam kamar setelah sebelumnya ia berkeliling selama hampir 30 menit.


Ceklek


Ia membuka pintu tempat rawat inap Ara.


Melirik sebentar, sahabatnya tengah berbaring, telentang. Sikap tubuhnya begitu anggun. Tidak seperti Ara sebelumnya yang kerap tidak jelas jika tidur, liar.


Ia mengangkat salah satu tangannya yang berisi bungkusan paperbag berwarna coklat.


"Darimana saja kau." suara itu. Hana menoleh manakala Ara melontarkan kalimat tanya padanya dengan mata tertutup..


Dan ingat, nada bicaranya masih saja penuh intimidasi.


Menolak menjawab. Hana memilih menyibukkan dirinya dengan beberapa barang-barang bawaanya.


Ia mengeluarkan camilan, susu kotak pisang dan strawberry lalu....


"Kau...." puteri Hwa yang tidak mendapati tanggapan atas pertanyaannya akhirnya memilih membuka mata untuk melihat apa yang dilakukan Hana hingga mengacuhkannya.


Namun. Tatapan matanya kini membeku.


Ketika... Dengan santainya Hana menata sesuatu yang tadi menjadi akar keributan keduanya.


"Apa itu pisang?" tanyanya melihat buah berwarna kuning kini sudah ditata Hana di piring.


"Iya." singkat jawab Hana.


Menatap penuh minat, sumpah, Puteri Hwa menginginkannya, mau buah itu.


Tapi...


"Kau mau?" tanya Hana menoleh kearahnya.


Tanpa sadar, puteri Hwa mengangguk pelan dengan mata tetap menyorot pisang.


"Maka ucapkan tolong untuk memintanya." pungkas Hana.


Hah!!! Gadis itu lagi-lagi menyuruhnya mengucapkan kata keramat itu? Tapi.... Tapi,,, harga dirinya....


Berpikir keras, bertaruh dengan egonya sebagai puteri raja.


Lalu, menolak wajahnya agar tak melihat buah itu.... Memilih melihat kearah dinding di seberangnya.

__ADS_1


"Ya sud....."


"To-to-tolong, a-aku mau buah i-itu." masih bertahan dengan sedikit egonya, gugup, puteri Hwa mengeluarkan kata keramat itu, demi buah pisang.


__ADS_2