
"Mau apa kau!!!!!!" puteri Hwa memposisikan tubuh Ara bersiaga dengan kemungkinan yang dirasakannya tak baik.
Aura di ruangan ini sangatlah kental dengan sesuatu yang menuntutnya harus siap akan hal buruk.
"Bawa jal**ng itu ke tempat di mana dia akan mengingat semuanya." Cindy dari balik tubuh Ara memberi titah tegas untuk keempat kacung bertampang sangar itu.
"Singkirkan tangan kotor kalian!!!!" puteri Hwa di pepet dua pria bertubuh besar, kedua tangan Ara sudah di tahan keduanya. Mengunci gadis itu.
"Diam!!!" balas salah satu pria berbaju hitam yang diduga ia adalah pimpinannya, karena pernah bertemu puteri Hwa saat bertarung di apartemen Ara.
"Tidak, lepaskan, dasar manusia hina!!!" serga puteri Hwa tak terima.
Dan, kini, dengan hentakan sekuat tenaga, puteri Hwa menolakkan kaki kiri Ara yang ia tekan di lantai lalu....
Wushhh
Ia memutar tubuh langsing itu berbalik ke belakang hingga dua pasang tangan di sisi kiri dan kanan otomatis terpelintir mengikuti tubuh itu.
"Argghhhh." ucap kedua pengawal itu yang tanpa diduga melepas kekangan pada tangan Ara.
"Beri pelajaran gadis itu!!!!" perintah pimpinan pengawal tadi. Yang diangguki oleh para bawahannya. Siap menerkam puteri Hwa tanpa memperdulikan gender diantara mereka.
Shupppppppp
Puteri Hwa meliukkan tubuh Ara, ia mensleding kaki besar salah satu pria hingga terjengkang dan menubruk guci besar di sisi kanan pria itu.
Tanpa menjeda, puteri Hwa melibas tungkai kaki belakang pria satunya lagi, hingga tubuh pria itu terjerumus ke depan. Berlutut.
"Sialan!!!" umpat pria yang merupakan pimpinan mereka.
"Hajar dia!!!" ucapnya pada salah satu pengawal yang ada di sebelahnya, bersiap menyerang tanpa ampun.
"Cihh, dasar pengecut." puteri Hwa meraih satu vas besar yang berisi mawar segar di dalamnya. Menghentakkan pada wajah salah satu pengawal.
Dan meraih bingkai lukisan yang tergantung di sisi kanannya. Membawanya untuk diadu dengan pimpinan mereka.
Shuuuttppppp
Menolak tubuh Ara kembali pada dinding, dan memutar tubuh itu dengan pasti.....
Pada...
"Arghhh" pria itu terhempas setelah mendapat tendangan kaki yang puteri Hwa daratkan di leher depan pria itu, berikut lukisan yang juga di hempaskannya pada tubuh pria itu. Hingga terlihat jelas cairan berwarna merah menetes di wajah pria itu.
__ADS_1
"Kalian para pecundang sialan!!" puteri Hwa yang biasanya enggan mengakhiri pertarungan dengan kabur, kini harus menelan gengsinya untuk menjaga keselamatan dirinya berikut Ara.
Maka gadis itu sudah melangkahkan kaki jenjang itu secepat mungkin, meninggalkan ruangan yang berisi keempat pria lemas akibat dihajarnya.
"Bos, gadis itu tenaganya super sekali. Jurus apa yang digukannya" cetus salah satu pengawal yang tadi terjengkang menghantam guci.
"Iya. Ia tak seperti gadis yang kita tenggelamkan waktu itu." ucap pengawal lainnya yang memegang jidatnya.
Pria yang diajak bicara hanya bisa menjawab dengan sikap diam. Meskipun dalam kebisuannya, jelas ia bukan memuji, bukan juga terpezonah nah nah tapi lebih pada tidak percaya akan sikap berani yang ditunjukkan Ara, berbanding terbalik dengan ketakutan gadis itu saat pertama kali mereka menyandra bahkan menyiksa serta menenggelamkan tubuh gadis itu di sebuah danau.
mereka hanya menatap punggung Ara yang sudah melangkah seribu mencapai pintu besar. Hilang.
di luar bangunan rumah Cindy.
Puteri Hwa dibuat bingung.
"Aku harus ke mana?" ia bermonolog sendiri, mata indah itu bergerak liar ke segala arah, bingung ke mana langkah kaki ini harus ia tapakkan.
"Aku tadi lewat mana ya?" mata itu berkeliling menggapai ingatan sebelumnya.
Hingga tanpa di duga, netra itu menangkap siluet mobil yang terlihat dari kejauhan.
"Ahh dari sana." Ia memposisikan dengan bersembunyi di sisi berlawanan arah mobil, memutar tubuh itu cepat. Lalu berlari kearah datangnya mobil tadi.
Ia melihat gerbang tinggi dan besar.
"Apa aku harus melompat?" mendapati gerbang besar itu tertutup sempurna, tentu membuat pilihan terpaksa bagi diri puteri Hwa, yang...
Huppp!!!!
Ia meraih dinding gerbang yang memang ada pohon setinggi tubuh Ara. Lumayan cukup untuknya sebagai tolakan lompatan untuk meraih tembok atas dinding pagar itu.
Tanpa diketahui penjaga yang ada di sisi lain gerbang, di sinilah gadis itu sekarang.
celingukan di luar gerbang.
Masih terlihat sepi, tak dijumpai satu pun manusia di sekelilinya selain gerbang menjulang angkuh layaknya bangunan di belakangnya.
Maklum, ia berada di perumahan elit di korea, tempatnya para orang kaya dan bergengsi di sini.
"Aku harus kemana lagi?" tanyanya bingung. Namun. Langkah itu ia berani ayunkan ke arah yang sesuai instingnya menuntun.
Sepi, memang itu gambaran jalan yang ia lalui.
__ADS_1
Tapi, ia tak gentar sama sekali. Tetap melangkah pasti, berharap menemukan jalan keluar dari tempat ini.
"Apakah Ara ini tak pernah berjalan apa? Kenapa aku merasakan kaki ini susah sekali melanjutkan langkah. Huh." keluhnya karena kaki Ara memberikan sinyal rasa pegal luar biasa.
"Oeni!" satu suara merangsek ke pendengaran puteri Hwa, saat sebuah mobil berhenti tepat di hadapannya. Mobil berwarna kuning menyala itu membuka kaca depannya, menampakkan sosok yang memanggilnya tadi dengan sebutan OENI?!! Apa itu?
Puteri Hwa mengedipkan mata beberapa kali menyikapi kehadiran perempuan yang ditebaknya berusia lebih muda dari Ara.
"Yaasshhh kau benar Ara oenni!!!" pekiknya riang, membuka pintu mobil lalu merangsek mendekati tubuh Ara.
"Aku. Aku fans mu oeni." tuturnya senang.
Namun menampik hal itu, justru puteri Hwa bingung, dari panggilan bahkan sikap gadis itu yang terlalu sok kenal dengannya.
"Fanse?" tanyanya.
"Iya." angguk gadis itu, lalu memasukkan tangannya pada sling bag berwarna hitam yang diselempangkan di tubuhnya.
Meraih ponsel. Yang sudah diketahui puteri Hwa sedikit tentang benda ajaib itu.
"Oeni, boleh aku berfoto denganmu?" tanyanya sopan, menunggu izin Ara terlebih dulu meskipun ia bisa saja melakukannya.
"Foto?" puteri Hwa belum mendapatkan privat cepat akan arti kata itu.
"Iya, bolehkan." pinta gadis itu dengan kesungguhan hati.
Puteri Hwa menduga jika apa yang diinginkan gadis itu tidaklah buruk dilihat dari sikapnya yang manis.
"Tentu, tapi kau harus membawaku pergi dari sini." begitu syarat yang diajukan puteri Hwa pada gadis itu.
Biarlah jika ia di akan di bilang perhitungan. Tapi ia butuh bantuan gadis itu yang bisa membawanya jauh dari sini dengan benda ajaib bernama mobil.
"Siap oeni!!!" sambut gadis itu dengan sumringah, lalu meraih tubuh Ara dan ia dekap erat dan tangan satunya ia arahkan ke depan berikut ponselnya. Menampakkan wajah keduanya yang ada di layar ponsel.
Cekrek
Cekrek
Cekrek
Tak cukup satu
Maklumin aja, memang begitu kebiasaan siapapun yang berfoto. tak cukup satu kali menjepretkan kamera, bahkan mengambil video untuk sosial medianya.
__ADS_1
"Hai guysss, gue ketemu idola kita woyyyy!!!" kalimat yang diucapkan gadis itu di layar ponselnya. Dengan puteri Hwa yang melambaikan tangan lalu tersenyum manis.