100 Hari Menjadi Puteri Joseon

100 Hari Menjadi Puteri Joseon
Club Malam


__ADS_3

Ting!


Suara denting dari benda persegi empat kecil di atas dashboard mobil memantik perhatian puteri Hwa.


Benda itu lagi.


"Duh gue males banget ngebaca pesen orang." gerutu Hana yang sibuk memutar kemudi mobil.


Matanya menangkap nama pengirim


Tuan Kim-nya semprul


"Prul, bacain dong pesen itu." pinta Hana, namun bagi puteri Hwa, itu lebih mirip dengan memberi perintah.


Siapa dia?


Berani-beraninya.


"Kau, memberiku perintah?" tanya puteri Hwa menekan setiap suku kata yang keluar dari bibir seksi itu.


Hana menoleh, sekilas.


"Ye elah, memberi perintah gimana, gue minta tolong." ucap Hana menolak tuduhan sahabatnya yang tidak masuk akal itu.


"Minta tolong, aku tidak mendengar ucapan tolong darimu." balas puteri Hwa, yakin.


Hana melengos.


"Perhitungan kali kau, ya, ya, tolongin gue tuan puteri yang terhormat. Begitu?" ucap Hana menghela nafas gemas.


"Cih. Harusnya mulutmu itu di didik dengan etika seorang wanita yang anggun." dengus puteri Hwa sembari jemari lentik yang sudah dihiasi nail-art itu meraih benda yang tadi berbunyi.


"Nah." ujarnya menyodorkan ponsel lipat milik Hana.


"Tolong dibacakan, ya." pinta Hana lembut.


Membacanya?


Bagaimana caranya,?


Puteri Hwa kan makhluk hidup era kapan.


Mana doi tahu°°°!!!


Lihat saja, kening Ara berubah menjadi kerutan ketika puteri Hwa mendengar kalimat Hana tadi.


"Aku tidak tahu caranya." sambut Puteri Hwa dengan tetap mempertahankan tangan itu mengangkat ponsel kearah Hana.


Gantian, Hana yang mengerutkan keningnya.


"Ah lo ini, ngeles." celetuk Hana tak yakin.


"Ngeles?" beo Puteri Hwa tak mengerti.


"Males pasti." lanjut Hana menggerutu.


"Males?" lagi, puteri Hwa tak paham.


"Iya. Memang kau tidak mau menolongku." sembur Hana gemas.


"Kau menuduhku?." puteri Hwa mendelikkan mata indah milik Ara tepat pada Hana.


"Aku memang tidak bisa menggunakan benda ini!!!!!!" puteri Hwa membalas semburan lebih keras lagi kepada Hana, membuat gadis itu terlonjak singkat.


"Woy, kaget taukk." Hana mengelus dadanya saking kaget dengan reaksi sahabatnya.

__ADS_1


Hana mencoba mengingat...


Memang, sedari masuk rumah sakit hingga sempat tersadar sampai Ara kembali koma karena terjatuh dari tangga atap rumah sakit. Gadis itu memang belum sama sekali menyentuh atau menanyakan ponsel pintarnya, ia hanya sibuk meminta camilan terus dan terus.


Namun, kali ini, Hana dibuat cukup terbelalak ketika mendengar jika Ara yang lebih jago teknologi daripada dirinya, mendadak bilang tidak bisa menggunakan.


Lucu, bukan?


Yes.


"Sini, buruan." Hana menarik cepat ponsel miliknya. Menekan sebentar lalu, mengambil benda dari dalam kotak kecil berwarna ungu.


Dan menaruh benda kecil itu ke masing-masing telinganya.


'Kenapa benda kecil itu ditaruh ke dalam telinga? Aneh.' batin puteri Hwa heran.


Semakin bingung, melihat kelanjutan Hana yang berceloteh sendiri.


"Kau bicara padaku?" tanya puteri Hwa bingung. Karena hanya mereka saja di dalam mobil ini. Jadi sudah pasti jika puteri Hwa memastikan benar tidaknya.


Hana menoleh sebentar lalu kembali melihat lurus ke depan sembari mengendalikan stir mobil dengan mulut tetap mengoceh.


"Apa dia bicara padaku? Tapi....." puteri Hwa memperhatikan. Jika memang benar mereka berbincang harusnya kan Hana jelas menujukan kata padanya


Namun.


"Baiklah tuan Kim...." kalimat barusan menghentak pikiran puteri Hwa.


"Orabeoni?" beonya kembali memastikan jika Hana mengucapkan sosok itu.


"Hana, apakah Kim adalah orabeoni-ku?" tanyanya pada Hana yang mengabaikanya.


Plak!!!


"Aku bertanya sedari tadi, tapi kau tak menatap serta menjawab tanyaku." semprot puteri Hwa sebal.


"Iya, Ara yang memukulku, baiklah. Kami akan ke sana. Kau juga mau menyusul, tuan Kim?"


"Sampai bertemu kalau begitu." Hana masih menjaga obrolannya dengan tuan Kim, dan....klik.


Suara ponselnya kembali dimatikan, melepas earphone-nya. Dan....


Menatap Ara yang masih menatapnya intens.


"Iya, itu tadi tuan Kim, orabeonimu." jawab Hana setelah membuat puteri Hwa menunggu lama.


"Tapi kenapa aku tidak melihat dirinya? Dia di mana?" puteri Hwa menoleh ke segala arah, membenarkan perkiraannya, yang memang benar.


Dasaran dia aja yang gaptek atau kolot teknologi.


Beda zaman mbak-e.


"Hah?" Hana melebarkan matanya sembari membuka mulutnya.


Kembali tak percaya.


"Ya Tuhan. Ara!!!" ucapnya, lalu menempelkan punggung tangannya di kening Ara.


"Apa yang kau lakukan!!!" Puteri Hwa memelototkan mata Ara dengan tak senang.


Kurang ajar lagi, gadis yang bernama Hana ini!!.


"Kau sungguh aneh, Ara. Kau benar-benar sakit sepertinya." Hana menggelengkan kepalanya, menatap iba atas keadaan Ara yang seperti itu.


"Kau mengasihaniku?" tanya Puteri Hwa yang diangguki oleh Hana tanda setuju.

__ADS_1


"Kauuu....."


Citttttt


"Arghhh."


Tubuh puteri Hwa yang tidak siap kembali terdorong ke depan setelah mobil ini berhenti seketika.


Belum selesai kalimatnya meluncur, ia sudah kaget dengan benda ini yang berhenti.


Membuat degub jantung ini kembali kelojotan.


"Ayo. Sudah sampai kita." Hana menyusun beragam benda miliknya ke dalam tas kecil miliknya. Berikut botol air mineral kecil yang ia ambil dari dalam dashboardnya.


Puteri Hwa bengong. Disuruh keluar? Bagaimana caranya? Dirinya kan masih terikat kencang begitu?


"Aku tidak bisa melepaskan ini." tunjuk puteri Hwa pada seatbelt yang mengikatnya.


"Omo!! Gue lupa, Lo gak bisa ngancingnya, dan gak bisa ngelepasnya pulak." cetus Hana


Klik. Bunyi seatbelt terlepas seketika.


"Ya udah. Hayok buruan keluar." Hana membuka pintu mobil, meninggalkan puteri Hwa yang kembali diam mematung di kursi penumpang.


Bagaimana dia keluar?


Bagaimana cara membuka pintu ini?


Tak tahu caranya.


Hana menyadari Ara yang tak kunjung keluar.


Apa gadis itu kembali tak tahu juga caranya keluar?


Cuma menarik handel pintu lalu keluar, mudah kan?


"Ya Tuhan!!!!" Hana berbalik dan mengarahkan tubuhnya pada pintu mobil tempat kursi Ara duduk.


"Kau tak tau pula cara membuka pintu mobil, huh?" duga Hana dalam bentuk kalimat tanya


"Iya, aku tidak bisa membukanya, di tempatku tidak ada benda seperti ini." jawab puteri Hwa membenarkan.


"Oh ya? Terpencil sekali tempatmu kalau begitu, Ara." sahut Hana terkekeh, merasa lucu, bagaimana mungkin, mereka hidup berdua selama ini.


"Ah, kau kan sakit, amnesiamu parah sekali rupanya." angguk Hana memastikan dugaannya.


"Amnesia?" ulang puteri Hwa.


"Lupa ingatan." jawab Hana


"Hayok ah, ntar keburu tutup." Hana menarik lengan Ara pelan, menuju pintu berputar yang mewah sekali tampilannya.


"Di mana kita?" puteri Hwa bingung, keberadaannya kali ini sungguh membuatnya merasa risih.


Banyak orang-orang yang datang, tapi, tapi..... Mereka tak merasa malu memadu kasih di tempat umum. Merangkul, ada yang mengecup, memeluk.


Tempat apa ini?


Namun,,, belum sempat tanya itu terjawab. Ia harus kembali ternganga dengan di dalam bangunan ini.


"Di mana kita???"


Cahaya benderang yang ia temui tadi pelan menjadi redup, hanya beberapa lampu yang bersinar dengan warna pelangi, aroma alkohol menyeruak di penciuman puteri Hwa, belum lagi, ia melihat banyak pasangan yang memadu kasih lebih parah dari di luar sana.


"Club Malam, tempat paling hits di korea." jawab Hana. Tidak mampu menutup mulut Ara yang terbuka sempurna, akan penglihatan aneh disekitarnya.

__ADS_1


__ADS_2