
Ara, merenungkan kejadian pagi tadi.
Ia mengingat kejadian di kediaman putera mahkota...
FLASHBACK ON...
"Sa-saya, tid-tidak menggunakan parfum apapun, Yang Mulia." Jawab dayang tersebut saat Ara menanyakan aromanya yang membuatnya tertarik.
Mendapat jawaban yang jelas bohong itu, Ara menarik sudut bibirnya..
"Oh, ya? Kau, tahu bahwa aku sangat menyukai hal yang menjadi aromamu itu, Dayang San?" Tanya Ara lagi, ia ingin melihat kebohongan itu semakin jelas agar kecurigaannya terhadap gadis ini bisa membuktikan keterlibatannya pada geng bunga itu.
Atau geng bunga aroma apel, gitu?
Dan, getar serta sikap gugup dayang yang Ara interogasi itu tertangkap dalam mata Ara. Hingga memastikan kecurigannya, benar sekali adanya.
"Ya sudahlah, aku hanya bertanya, karena aku juga mau parfum itu, kalau perlu aku akan membelinya 5 kali lipat harganya, San." Jelas Ara yang dalam hatinya ingin memuntahkan ucapannya barusan, ogah banget ia beli 5 lipat, di kasih gratispun ogah... ia kan benci apel.
Meskipun Ara sudah menghentikan lambenya yang sebenarnya ingin kembali berkicau, tapi ia tahan. Otaknya memberi perintah agar ia bersabar agar tidak menimbulkan kecurigaan dari komplotan geng bunga aroma apel ini.
Namun, jangan lewatkan pandangannya, matanya tak henti memindai tiap jengkal gerak tubuh dayang itu, kalaupun ia punya kekuatan melihat sampai urat dan jeroan si dayang, tentu akan ia gunakan kemampuan itu.
Dan rupanya, apa yang dilakukan Ara, tak luput dari perhatian sang putera mahkota. Meski ia hanya diam tak ingin ikut campur, tapi ia menyadari ada hal yang aneh terjadi di kediamannya, pada pelayannya dan gadis di hadapannya.
Whats going on????
Setelah 2 dayang yang mengantarkan hidangan melesat kabur, kini tinggalah Ara bersama si pemilik ruangan.
Putera mahkota.
Menikmati hidangan berupa teh buah bersama camilan kue dan manisan,,, kesemek?
__ADS_1
Aihh babang ijonk bisa ae.
"Apa salah satu pelayanku telah membuatmu merasa tidak nyaman atau pernah melakukan kesalahan di depanmu, puteri Hwa?" kebisuan sementara itu terpecahkan oleh suara berat putera mahkota yang wajahnya tetap terpusat meski ia sedari tadi sibuk pada cangkir di tangannya, namun netranya tak lepas pada Ara yang menunduk.
Menaikkan wajahnya, Ara agak kaget dengan pertanyaan itu. Tentu saja pria itu pasti menangkap basah tindakannya tadi.
Kan sudah pernah Ara bilang, kalau pria itu tentu punya feeling dan insting serta daya peka yang luar biasa. Mampu membaca situasi di sekitarnya. Kemampuan yang bagus, bukan?
Ya iyalah.
Mencoba tersenyum dan setenang mungkin, Ara merangkai kata-katanya.. "Tidak sama sekali, Yang Mulia. Aku hanya tertarik pada aromanya saja." Jawab Ara berusaha mempertahankan ekspresinya walau kedua tangannya dikepal kuat di bawah sana.
Pria itu tersenyum, namun senyum itu menyiratkan bahwa ia seperti mengejek.
Mengejek cara berbohong Ara yang di bawah level 0 itu.
"Oh ya?" tanyannya yang diangguki Ara yakin.
"Bukankah kau sudah tahu jika, aku begitu menyukai hal yang menjadi aroma dayang itu, Yang Mulia. Mungkin kau tidak tahu, tapi aroma apel itu begitu menusuk di hidungku." Jelas Ara memberikan kepastian, akan kebohongannya yang harus berhasil.
"Begitukah?" Lagi, pria itu melempar bola tanya yang berbalik pada Ara.
'Dih, doi kenapa sih??' Batinnya tak tahan dengan situasi ini.
"Aku mengenalmu begitu banyak, Hwa-ya..." Ucapnya, terjeda. Membuat Ara sontak berdebar keras di dalam sana.
pria itu menjulukan tangan kanannya, lalu... Meraih telapak tangan Ara, mengggenggamnya, lembut. Menambah reaksi gelenyar aneh dalam sanubari gadis itu, dan jangan lewatnya disko jantung yang kini berdebam dahsyat di tubuhnya.
"Jadi, sekecil apapun yang kau sembunyikan... Aku tahu itu." Lanjut pria itu kemudian, membuat kelu lidah Ara.
FLASHBACK OFF...
__ADS_1
"Sialan tuh cowok!!!" Makinya gemas.
Namun kemudian.
"Ya Tuhan!! Oppa kesayangan gue, aduh ini mulut, netijen banget sih" yang kini memaki bibirnya karena sudah menyebut kata makian pada pria idamannya itu.
"Tapi... Airrrhgggg" jeritnya frustasi.
"Kalau dia tahu apa yang gue cari, bisa gagal nanti misi penyelamatan dua jiwa anak manusia ini." Sadarnya kemudian, bimbang dengan ucapan putera mahkota yang mengingkannya jujur akan hal yang tengah ia cari.
"Gak, gue gak mau ngebagi apapun, termasuk pada dayang labil itu. gak bakalan ada yang gue kasih tahu. Ya kali gue selamat, kalo gue mati sebelum waktunya, sebelum 100 hari abis... Kan rugi gue dong..." keluhnya yang membaringkan tubuhnya pada lantai hangat yang biasa dijadikan sebagai tempatnya berbaring tidur.
"Mana gak ada jaminan asuransi atau cashback kalo gue berhasil atau jaminan dapet setengah nyawa kalo gue gagal. Lah ini, gue yang capek, pontang panting gak jelas, tapi gue juga yang bakalan ikut keseret malaikat maut bareng puteri Hwa." Lanjutnya menguarkan uneg-unegnya.
"Selamanya, gue gak bakalan percaya sama cowok yang punya aura racun pemikat itu. Kagak pernah deh." Janjinya...
Ia sendiri di ruangannya, setelah sebelumnya mengusir dayang Han.
Mencoret lembaran kertas yang sudah dipotongnya dalam beberapa bagian, sebesar ukuran buku.
30 hari.....
Ya, sudah 25 hari ia melanglang buana jiwanya. Sebenarnya sih baru 19 hari, karena 6 harinya ia ada di tahun 2022 waktu itu. 14 hari ia terjebak awalnya, dan 5 hari ia baru berada di sini lagi. Setelah di hari sadarnya, dua hari setelahnya, yaitu malamnya ia sudah sudah disapa oleh almarhum yang bakalan membunuhnya, meski akhirnya malaikat lebih sayang sama si pengawal hingga menggandengnya ke akhirat meninggalkan Ara dalam kekacauan.
Lalu saat ini.. Menghitung sisa waktunya yang tinggal 75 hari tanpa diskon atau perpanjangan waktu, ia.. Ara harus menyelesaikan kekacauan yang melibatkan dirinya demi puteri yang jiwanya tengah mengembara di alam goib sana.
"Gileee, bujukkk, 75 hari nyawa gue sisanya. Baru dapet kacungan aja gue, 4 orang ini." ucapnya dengan tangan sibuk menggoreskan kuas kecil pada lembaran kertasnya. Menuliskan masanya yang 75 hari, berikut rincian pelaku 4 orang tersebut, aroma apel, dan... Tulisan besar berupa DALANG.
"Ya, tidak mungkin hanya para pelayan rendahan saja yang terlibat. Heuummm, pasti ada..." angguknya yakin. Menekan ujung kuas yang di atas pada dagunya. Gadis itu berpikir keras.
"Pasti ada dalang di belakang mereka, gue yakin itu. Gak mungkin levelan mereka bisa mikirin hal seberani ini. Pasti kegesrekan otak 4 orang itu karena di ancam atau di cuci pakek detergen." sambungnya lagi.
__ADS_1
"Dalam waktu 75 hari ini, gua harus ekstra kerja keras, buat nemuin yang punya otak kejahatannya, walau gue sendiri, dan gak akan minta bantuan atau percaya pada siapapun itu. Gue harus cepet,,. Kalo gak keburu gue diculik malaikat ntar. Hiiiìiii" Ara bergidik membayangkan jika ia harus game over pada permainan puteri-puterian ini.