
Bab ini adalah revisi dari bab 31 yang harusnya ada di bab 32 (terbalik). Sistem di noveltoon "TIDAK BISA MENGHAPUS" walaupun thor sudah selesai hapus bab di pengaturan dan tertera update 32 bab utk sekarang, tp di publish tetap tertera 33 bab. Jd readers, mohon maaf jika di bab 31 terdapat 70% kemiripan, di bab ini thor revisi.
MAKASIH💜💜💜💜
Setelah membuat dayang Han kelu menatap
dirinya yang merombak wajah puteri Hwa. Tak butuh lama setelah ia menginjakan kakinya keluar ruangan, ia mendapati tentu saja tidak hanya dayang Han yang memberi ekspresi serupa...
Ara cukup yakin dengan keahliannya itu, buktinya saja, kini dayang yang melihatnya saat ia sudah keluar dari ruangannya, terkaget layaknya dayang Han tadi.
Dengan angkuh, Ara melempar senyumnya pada mereka. Percaya diri akan hasil perbuatannya yang mencampur bahan-bahan alakadarnya itu hingga dengan bangga, menuai hasil yang sudah bisa ia perkirakan...
"Ada yang salah?" Tanyanya pada mereka yang masih memandangnya dengan wajah beku itu.
"Ti-tidak Yang Mulia. I-ini benar Anda, bukan?" Tanya balik salah satu dari beberapa dayang yang masih bertahan menatap Ara dalam raut bingungnya.
"Tentu, aku majikan kalian. Puteri Hwa." Jawab Ara tegas dalam nadanya.
Menatap puteri dengan pandangan terpesona.
"Anda sangat cantik, puteri." Celetuk si dayang, yang tentu saja memuji tulus. Dan tentu bahagia akan puteri kerajaan ini yang tampil melebihi seperti sebelum bencana itu datang dan membuatnya menutup semua hal termasuk wajahnya yang terkenal cantik itu meski tanpa make up sekalipun.
"Memang, aku cantikkan?" Ara melempar tanya yang tak perlu mendapat jawaban, karena jelas si pemilik tubuh ini memang sangat cantik, hanya karena oknum tak bertanggung jawab itu saja yang membuatnya harus menutupinya dengan cadar sialan itu.
"Ayo, kita keluar, aku mau jalan-jalan. Menghirup udara segar." Perintah Ara yang segera diangguki oleh mereka yang biasa mengiringi si puteri itu.
"Tapi, Anda kan masih terluka, Yang Mulia? Bukankah Anda masih butuh waktu istirahat" dayang tadi, mengkhawatirkan keadaan puteri mereka yang beberapa hari lalu sempat mendapat luka di beberapa bagian tubuhnya.
Ada menghela nafas kasar. Sudah di bilang, luka segitu mah gak ada pengaruh apa-apa untuk gadis tengil macam Ara. Apa perlu ia buktikan, kalau ia masih bisa salto atau memberikan tendangan A memutar di hadapan mereka? Kesal sekali Ara rasanya.
"Aku tidak apa-apa. Kalian bisa meminta tabib kerajaan memeriksaku sekarang." yakin gadis itu pada mereka. Kalau dayang Han, jangan ditanya, ia saja heran, kemana perginya puteri yang lembut itu, yang ketika sakit maka akan menurut untuk berbaring sampai keadaan benar-benar membaik.
Menghiraukan ucapan yang hendak keluar dari bibir dayang tadi yang kembali tertelan melihat Ara melengos begitu saja. Pasrah..
Ara sudah siap untuk memulai hari indahnya. Namun sebelum itu, Berbalik, Ara menoleh pada dayang Han.
"Bestie, jangan lupa payung gue ya." Ucapnya pada dayang Han dan dipatuhi gadis itu yang kini melangkah cepat untuk mengambil benda yang diminta.
Ketika sudah menapak di luar, tak butuh banyak waktu menunggu respon serupa, karena Ara,.. ia sadar akan arah pandangan lain untuk kehadirannya, itu karena pengawal yang menjaga kediaman pun juga ikut terbengong-bengong mendapati puteri yang mereka jaga, sudah kembali tak mengenakan cadar. Bahkan penampilan gadis itu, kenapa cantik pakek banget sih, ngapain coba mendem di dalem?
__ADS_1
Sementara yang menjadi pusat perhatian, melenggang sombong dalam langkahnya.
Terus saja berjalan, sesuai arah yang ia harapkan.
Ya, ia mencari jalan yang biasa di lalui putera mahkota dan pelayannya.
Ruang belajar, tempat yang menjadi rutinitas pria itu setiap hari di saat jam-jam segini.
Ara tahu sedikit banyak tempat tongkrongan si racun pemikat itu.
Sialan, batinnya. Semoga ia tak terhipnotis atau terkontaminasi racun pria itu kali ini. Karena ia selalu saja lalai dan terjebak pada hal serupa.
Memalukan sekali, seorang playgirl yang dingin itu, dan sulit jatuh pada pesona makhluk yang bernama pria.. kini malah terseret jauh tenggelam oleh hal itu.
Hana, bahkan tentu saja pria yang pernah patah hati olehnya akan terpingkal-pingkal jika tahu dan bisa melihat tingkah gadis itu yang selalu berdebar dan menjadi konyol layaknya mereka berlaku serupa terhadap Ara. Walau Ara tak pernah dengan sengaja untuk bermaksud mematahkan hati para kaum adam tersebut, karena pada kenyataannya mereka yang jatuh pada pesona dirinya hingga berusaha menarik perhatian dengan beragam trik bahkan menawarkan kemewahan, namun gadis itu tak pernah berminat.
Ia hanya menawarkan jalinan komunikasi biasa, bukan memberikan harapan palsu, karena sedari awal dia sudah menetapkan demikian. Tapi, kembali lagi... Mereka saja yang baper..
Dan kini kaum adam yang pernah patah hati, tentu berterima kasih bahkan mungkin akan mencium tangan pria yang berhasil membuat gadis itu kini merasakan demikian.
Kini.. Sepanjang langkahnya menuju tempat itu, tak sedikit, atau malah memang semua penghuni istana memberikan ekspresi serupa dengan dayang Han serta dayang penjaganya tadi.
Dan hari ini, decak tak percaya itu banyak meluncur dari bibir mereka. Bahkan mereka tak berhenti mengucapkan kata memuji pada perubahan itu.
Hingga, kegemparan itu....
Ya. Hastag, #puterihwadanpenampilannya# menjadi gosip terpanas di sana. Dan memenuhi laman lambe curah hari itu. Mungkin untuk beberapa hari kedepan, ia akan menjadi bintang.... Bintang gosip pastinya.
Di hampir semua sudut istana, seakan tengah sibuk akan kabar berita hot yang tak ingin mereka lewatkan.
Fresh from oven guys, halooww bestieeeee.....
Tap tap tap... Derap langkah seseorang terdengar keras...
"Hei bestie, kalian sudah tahu belum kabar hari ini.." Salah satu dayang yang datang tergopoh-gopoh dengan benda yang menyerupai baskom penuh kain kini menghampiri dayang lain di tempat mencuci.
Membentuk lingkaran, mereka duduk dalam formasi bergerombol.
"Apa, dayang Hu.?" Tanya dayang yang tengah memegang timba berisi air dari sumur.
__ADS_1
"Kemarilah, cepat." Panggilnya agar ikut berkumpul bersama mereka.
Lalu, gosip itupun mengalir...
"BENARKAH!!!??" tanya mereka bersamaan, ketika gosip hangat itu terucap.
"Bagaimana mungkin, aku melihat puteri masih menggunakan kain tipis itu, kemarin dan beberapa hari yang lalu." Bantah dayang yang mengangkat jemuran kering. Seolah tak percaya dari nada bicara maupun tatapannya.
"Iya. Betul itu." Sahut dayang yang duduk di sebelah temannya yang menyebarkan gosip tadi.
"Aku tadi melihatnya juga, bestie. Malahan, puteri Hwa jauh lebih cantik dalam polesan riasan wajahnya. Aku tidak tahu apa saja yang dia gunakan, tapi, itu sangat memukau" tambahnya meyakinkan yang lain.
Decak kagum pun tak terelakkan. Jelas tercetak jelas di wajah mereka.
Gosip pun beralih di ruang dapur...
"Kau sudah tahu belum gosip hari ini, huh?" Tanya dayang yang tengah mengaduk bahan masakan di sebuah guci besar.
"Sudah tahu, aku tadi mendengarnya dari bagian bahan makanan, meskipun aku belum melihat, tapi sepertinya perubahan itu sangat bagus jika menurut cerita mereka." Jawab temannya yang menata piring di atas sebuah baki.
"Aku pun demikian, kita akan tanya pada bagian pengantar makan siang puteri Hwa nanti." Lanjut dayang lain yang mengiris buah-buahan di piring kecil.
Mereka mengangguk bersama.
Ya, gosip hangat seantero istana tak bisa terhindarkan, dan itu yang diharapkan Ara tentunya...
Menarik perhatian semua makhluk yang ada di dalam istana. Sesuai tujuan awalnya.
Yang kini, sudah berdiri angkuh di depan putera mahkota. Berikut harapannya akan sosok yang kini juga berada di antara barisan belakang pria itu
Setelah menunggu cukup lama, gadis itu mendapatkan bayaran setimpal.
Dayang yang ia cari waktu itu, sudah ada di sana. Menatap Ara sesekali, dan Ara tentu menyadari hal itu. Karena, beberapa kali mereka berdua saling menangkap pandangan satu sama lain, meski dayang itu, menyadari atau tidak... ia sudah tertangkap pada rencana Ara...
Dengan melihat wujud gadis itu, puteri Hwa, yang sudah baik-baik saja. Malah terlihat luar biasa penampilannya.
Misinya,,, Membuat geng bunga aroma apel itu,,, semakin kalang kabut dan gencar mendekatinya, meski resiko terancam lebih besar... tapi Ara tak takut, ia akan melawan mereka, menemukan dalang dari semua kejadian sialan itu, yang menyeret dirinya dalam kekacauan bersama komplotan penjahat dengan aroma buah yang ia benci, berikut jaminan keselamatan yang tak bisa ia jamin tentunya.
Dan dalam waktu yang kurang dari 100 hari itu, semakin tipis.. ia harus bergulat dengan waktu dan para penjahat tak kasat mata itu, dengan demikian memupus rasa gusar serta pesimis yang kerap menjadi penganggunya kala awal singgah di sini... Dan ia bisa kembali, menjadi dirinya, bukan terkurung dalam tubuh malang ini.
__ADS_1