
"Bagaimana perkembangan puteri Hwa, dayang Han??, apakah ada keanehan lain yang ditunjukkannya lagi kali ini?" tanya panjang yang keluar dari bibir putera mahkota.
Di hadapannya telah duduk dayang Han dan juga pengawal pribadinya.
"Tidak ada, Yang Mulia." Jawab dayang Han, singkat.
Mengerutkan dahi, tak puas. Aku menuntut jawaban lebih dari dayang yang aku letakkan khusus di sisi puteri Hwa.
"Lalu, bagaimana pertemuan puteri Hwa dan puteri Ara? Bukankah setelah ratu dan aku pergi, tersisa mereka berdua dan kau di dalam sana?" aku tak berhenti sampai di sana, mengingat memang saat itu orang yang terakhir berpamitan dengan puteri Hwa adalah bibiku alias puteri Ara yang menyimpan banyak perhatian lebih menyangkut puteri Hwa. Pun, saat aku membuktikan asumsi itu dengan menunggu agak lama di salah satu sudut ruang di bangunan milik puteri Hwa yang hingga beberapa waktu, bibi tak kunjung keluar dari ruangan tadi.
"Saya diminta pergi keluar, yang mulia." ujar dayang Han. Menambah rasa tak percayaku.
"Apakah bibi kembali mengusirmu seperti yang sudah-sudah, dayang Han?" aku melempar tanya untuk hal serupa yang kerap terjadi pada dayang Han setiap bibi bertemu puteri Hwa, selalu diusir oleh bibi, entah di kediaman bibi, di kediaman puteri Hwa, hingga bertemu di luar pun tak diberikan jarak dekat oleh bibi, seolah mereka berdua terlibat hal rahasia.
Tapi dayang Han menggeleng, lalu apakah kali ini...???
"Puteri Hwa yang mengusir hamba keluar, yang mulia." jawab dayang, membuatku tertegun seketika.
Ada apa ini?? Puteri Hwa dan rahasia barunya?
"Dan kau tidak mencoba menguping sama sekali, huh?" aku masih mencari berbagai kemungkinan.
Dan menggeleng, "Saya diminta puteri Hwa untuk mengujungi bagian dapur, yang mulia." sahut dayang Han.
Baiklah.
Mereka dan pembicaraan rahasianya. Lagi.
"Kembalilah ke ruangan puteri Hwa, pastikan ia sudah aman dalam tidur setelah pergantian penjaga dan dayang." perintahku akhirnya. Menerima informasi terakhir yang akan mengganggu tidur malamku lagi kali ini.
Mengangguk bersamaan.
"Baik yang mulia." ucap dayang Han dan pengawal pribadiku.
Aku yang masih terjaga, mengambil sebuah kertas dan mulai menarik kuas besar untuk membuat seni lukis yang puteri Hwa biasa sukai. Hwa sangat menyukai semua hal berbau lukisan. Maka tidak aneh apabila Hwa selalu berhasil membuat banyak hasil lukisan indah hanua dari satu kali matanya melihat objek itu.
Fokus, tapi.... Terganggu ketika pintu geser yang menghubungkan ruanganku dengan teras depan dibuka kasar.
srettt!!!!!
__ADS_1
Pengawal pribadiku? Berani sekali dia seperti itu??
Aku menatap tajam untuk menyambut kedatangannya yang justeru mengabaikan tatapan mataku.
"Yang mulia!!" ia berseru memanggilku. Berderap kencang dan segera duduk di seberang mejaku.
"Ada apa??" tanyaku
"Puteri Hwa, yang mulia."
Jawaban dari pengawalku membawa tubuhku sontak berdiri cepat.
Aku merasakan hal yang tidak baik dari ekspresi dan gerak tubuh tak biasa itu.
Aku menunggu dengan tak sabar kelanjutannya, berharap pikiran sialan dalam otakku hanya omong kosong semata.
"Puteri Hwa tengah bertarung, yang mulia." lanjutnya menjelaskan.
Jantungku yang memompa keras kini seakan berhenti.
Puteri Hwa bertarung??
Tapi. Masa' bodo, aku bergegas melangkahkan kedua kakiku menuju keluar, ya.... Menuju tempat puteri Hwa yang dikatakan pengawalku barusan tengah melakukan hal yang mustahil menurutku.
Tapi sekali lagi.. Hal mustahil yang menggelayuti pikiran konyol itu ketika dengan mata kepalaku langsung, ya secara langsung aku menyaksikan gadis yang selalu menjadi objek pengawasan dan perlindunganku... kini tengah mengangkat tubuhnya, memutar dan melibaskan kakinya ke tubuh sosok bertopeng yang aku tebak adalah pria.
Mataku sulit untuk mengalihkan ke tempat lain. Di saat banyak bawahannya berteriak histeris melihat puteri Hwa yang tampak kacau. Gadis itu tak mengindahkan sama sekali. Bahkan tak menyadari kedatanganku yang masih membeku mengunci mataku untuk senantiasa lurus kearahnya.
Hingga, gerak langkahku semakin ku percepat ketika dengan jelas aku menangkap niat puteri Hwa dari kakinya yang siap melancarkan serangan mematikan...
"Hwa-ya!!! Aku mohon, hentikan." aku melingkarkan dua lenganku di pinggang rampingnya, dan itu berhasil ketika pergerakan itu terhenti langsung.
Tubuh yang aku peluk terasa kaku. Entah.
Tapi, hanya ini cara yang bisa aku lakukan agar tidak melanjutkan tindakan bodoh tadi.
Memeluk tubuh yang bajunya banyak robek dengan noda darah yang kentara terlihat dari bercak di kain putih sutra yang membalut tubuhnya.
******
__ADS_1
"Kalian, bawa mereka berdua ke tempat persidangan. Tunggu sampai aku yang datang. Karena aku sendiri yang akan melakukannya." aku memberikan perintah tegas pada beberapa penjaga yang sudah sedari tadi berada di dalam ruangan, dengan mata menunduk karena menjaga penglihatan tidak sopan kepada puteri Hwa.
"Baik yang mulia."sahut mereka bersamaan dengan membawa dua orang yang tadi berniat menyelakakan puteri Hwa.
Aku menoleh pada dayang Han.
"Dayang Han, segera bantu puteri Hwa berganti pakaian, aku akan memanggil tabib untuk mengobati lukanya." aku memberikan perintah pada dayang yang berdiri di sisi kiri puteri Hwa yang tampak biasa saja meskipun harusnya ia kesakitan dengan tubuh kacau seperti itu.
"Tidak usah, oppa. Biarlah dayang Han saja yang membantuku mengobati lukaku." suara puteri Hwa menarik perhatianku.
Bisa apa dia?? Tubuh luka seperti itu, berlagak mandiri?
"Tidak, kau akan diobati tabib. Dengan dayang Han berada di sisimu saat itu." aku melempar perintah tegas pada puteri Hwa. Biarlah. Aku khawatir sekarang.
Dan aku mendengar helaan nafas beratnya, dan juga wajah pasrah tak bersemangat itu. Tapi bisa apa?? Aku tak percaya dengan dayang Han dan dirinua untuk mengobati luka itu.
"Cepat masuk, bersihkan dahulu dengan air hangat baru berganti pakaian." pintaku pada puteri Hwa yang segera masuk yang diiringi oleh dayang Han setelah menoleh dan mendapat anggukkan dariku.
Srett!!
Pintu geser ditutup rapat. Aku masih berjaga di depan ruangan puteri Hwa, hanya sampai dirinya selesai diobati oleh tabib, setelah itu aku bisa melanjutkan dengan melakukan sidang terhadap dua manusia brengsekk tadi.
"Yang mulia." seorang tabib menyapaku yang masih berdiri tegap di depan pintu kamar puteri Hwa.
"Cepat obati puteri Hwa, lakukan dengan benar." perintahku.
"Baik yang mulia." jawab si tabib yang membawa asisten perempuan muda di belakangnya.
"Hwa-ya, tabib sudah datang. Apakah kau sudah selesai berganti pakaian??" aku berusaha memanggil puteri Hwa dari balik pintu karena semua dayang ku minta tunggu di luar sebentar.
"Sudah yang mulia." sahut puteri Hwa dari dalam.
Aku masuk terlebih dahulu ke dalam ruangan itu dan tabib selanjutnya.
Akan tetapi, langkahku membeku, ketika mataku menatap tak tega pada gadis yang duduk di balik meja itu.
Tidak!!! Aku pasti!! Akan membalas kepada mereka lebih dari yang gadis itu rasakan kini. Gigi dibalas gigi, kulit dibalas kulit, mata dibalas mata hanya dalam kamus saja, karena aku akan menghadiahi mereka hukuman mati atas perlakuan mereka membuat puteri Hwa mengalami goresan ditubuh dan memar di leher serta lengannya.
Awas kalian!!!!!!
__ADS_1