
Puteri Hwa sudah duduk manis di dalam kendaraan yang dikemudikan oleh seorang gadis yang tidak ia kenali, namun ia yakini jika gadis itu mengenal Ara dengan baik. Entah ia lupa dengan kalimat gadis itu sebelumnya, mungkin lebih tepatnya puteri Hwa sulit menyebutkan kata aneh itu.
Karena pelafalan asing FANS Ara yang diberi nama Ara Fansbi.
"Oeni" panggil gadis itu di sela mengemudinya.
Puteri Hwa yang mulai memahami jika itu memanggilnya pun menoleh
"Ya." sahutnya lembut.
"Ingat nama aku ya oeni." Ulangnya lagi.
"Namaku Ji eun." ujarnya menekan namanya untuk diingat.
"Baiklah, Ji eun." ingat puteri Hwa.
Mendapati persetujuan dari idolanya, membuat wajah gadis yang bernama Ji eun itu melebarkan senyumnya. Ia yang sudah sangat cantik dan manis, bertambah mempesona saat ini.
Puteri Hwa memang cukup terbantu dengan kehidupan Ara yang rupanya banyak dikenal orang. Ia saja ragu jila dirinya seterkenal Ara zamannya, meski gelarnya adalah seorang puteri raja.
"Jadi kita akan kemana, oeni?" tiba-tiba Ji eun mempertanyakan kemana arah tujuan mobil mewah miliknya. Karena untuk seorang Ara tentu memiliki tempat berkunjung yang banyak.
Dan yang ditanya tertegun. Ia pun jelas sangat bingung. Ia belum tahu alamat tempat tinggal Ara, ponsel pun tak ia bawa. Karena sama sekali tidak tahu akan menjadi seperti ini kejadiannya.
Hingga, ia mengenal satu tempat.
"Bawa aku ke K-G, K.....G apa ya..." ia lupa kata berikutnya. Sulit sekali lidah ini mengucapkannya.
"K-G Corporate, oeni?" tanya Ji Eun meneruskan maksud puteri Hwa barusan.
"ah, iya, ke sana. Bawa aku ke sana." puteri Hwa berseru senang jika ada yang tahu tempat orabeoninya berada.
"Wahhh ternyata oeni memang ada hubungan ya sama Kim Oppa." Ji eun terkekeh geli, mengetahui jika gosip yang santer beredar menyebutkan idolanya tengah dekat dengan pria yang juga seorang pengusaha besar sekaligus keturunan kaya raya dan pejabat pemerintahan.
"Hubungan? Kim Oppa?" ulang puteri Hwa mendengar kata aneh dari Ji eun.
__ADS_1
"Iya, TTM, oeni." bertambahlah naik alis Ara ketika kata yang kembali asing diucapkan Ji eun belum di upgrade puteri Hwa.
'Banyak sekali kata-kata aneh yang diucapkan Ji eun. aku pusing.' batin puteri Hwa pusing.
"Oeni, aku menyalakan musik ya, biar oeni tidak boring." ucap Ji eun sembari menarik jemarinya ke arah dashboard mobilnya. Menekan layar, hingga tak lama terdengar alunan musik yang cukup membuat puteri Hwa berdebar, dan menarik perhatian tubuhnya untuk bergerak.
Ji eun menyalakan musik Ava feat NCT. Cukup kencang hingga alunan musik beat itu memang cukup memacu jantung.
"Ini musik?" tanya puteri Hwa lebih pada bermonolog sendiri. Karena Ji eun jelas tak akan mendengar kalimat tanya yang dilayangkan puteri Hwa untuknya.
"Aku menyukainya, entah kenapa, meski aku sudah pernah mendengarnya musik aneh ini, tapi aku merasa jika tubuh ini seperti hendak bergerak." gumamnya memuji alunan lagu itu.
Memang di joseon hanya menghadirkan musik dengan seadanya. jika pun bernyanyi. Tak akan menyamai lagu yang di dengarnya.
Membuat tubuh seolah tersihir bergerak.
Lihat saja, jemari Ara tanpa bisa di duganya mengetuk paha, menikmati alunan musik.
Dan selama beberapa puluhan menit, dengan beragam lagu yang tak membuat puteri Hwa bosan sekalipun, harus berhenti bersamaan laju mobil yang juga berhenti.
"Kita di mana?" tanyanya. Maklum ia kan belum hapal dunia ini.
"Kita di K-G Corporate oeni." jawab Ji eun sedikit bingung. Namun tak diambil pusing karena ia sedikit tahu jika Ara sempat dirawat lama di rumah sakit akibat kecelakaan yang di konfirmasi Hana saat itu.
"Oo.. Ini tempatnya." gumam puteri Hwa. Menarik handel mobil, Puteri Hwa sedikit banyak sudah tahu beberapa barang aneh di tempat Ara.
Menapaki kaki jenjang Ara. Kini puteri Hwa sudah berdiri tepat di halaman perusahaan Kim Hee Sin. Dengan Ji eun yang berdiri di sisi pintu kemudi.
"Oeni. Mau aku antar atau aku tinggal." tawar Ji eun berniat membantu.
Puteri Hwa sempat berpikir, hingga akhirnya.
"Kau bantu aku mencari tuan Kim, ya" pinta puteri Hwa. Ia tak mau mempersulit diri sendiri. Melihat bangunan yang ada di hadapannya melebihi ketinggian tempat tinggal Ara.
Menjulang gagah seolah hendak mencapai langit saja, pikir puteri Hwa.
__ADS_1
"Okey oeni. Ayok." ajak Ji eun meninggalkan mobilnya dan menggandeng lengan Ara menuju perusahaan besar milik Kim Hee Sin.
Pintu besar yang bening bak bisa tertembus itu menyapa keduanya. Puteri Hwa bergumam mengagumi betapa hebat dan meng-wahkan tempat keberadaan Kim Hee Sin ini.
"Selamat siang. Ada yang bisa saya bantu nona." resepsionis menyambut keduanya di depan meja penyambutan tamu yang tidak memiliki izin.
"Kami mau bertemu dengan Kim Hee Sin." jawab Ji eun mewakili.
"Apa nona berdua sudah memiliki janji sebelumnya?" pertanyaan familiar yang pasti selalu ditanyakan resepsionis di mana pun tempatnya.
"Ah, janji? Hehe, tapi ini kekasihnya Kim Oppa, nona." Ji eun menarik lengan Ara lalu menghadapkannya di depan meja resepsionis.
Si resepsionis memberi senyum ramah, meski ia tak bisa menutupi wajah ingin tertawanya.
Hal biasa seperti ini, siapapun sering melakukannya.
" maaf nona, bukan hanya kekasih, bahkan ada banyak istri tuan Kim datang kemari." ucap resepsionis seolah menyindir bahwa banyak para wanita yang ingin bertemu Kim Hee Sin hingga mengatasnamakan seperti itu.
"Tapi benar nona. Coba anda tanyakan langsung kepada tuan Kim." Ji eun tak mau kalah. Ia jelas akan membantu idolanya bagaimana pun caranya.
"Dan jangan lupakan jika perusahaan tuan Kim bekerja sama dengan perusahaan ayahku." tambah Ji eun.
"Kau bisa di pecat jika tak mau membantu sekedar bertanya pada tuan Kim." ancam Ji Eun, terpaksa menggunakan kata keramat yang ditakuti perempuan itu.
"Baiklah. Akan saya tanyakan." resepsionis mengangguk pelan. Lalu meraih telepon berwarna biru gradasi kuning dan merah, menyentuh tombol di sana dan mengarahkan gagang telepom ke telinga kanannya.
"Baik tuan, akan saya antar ke atas." resepsionis beberapa kali membungkukkan tubuhnya dengan telepon masih menempel.
Hingga setelah meletakkan gagang telepon, matanya mengarah pada dua gadis di hadapannya.
"Maafkan saya nona. Mari saya antar anda ke ruangan tuan Kim Hee Sin." resepsionis melangkahkan kakinya lalu mengarahkan telapak tangannya kepada Ara dan Ji Eun agar mengikutinya.
Menggunakan lift khusus sesuai perintah langsung Kim Hee Sin setelah mendapat izin dari bagian lift khusus yang memberikan kartu kepada mereka.
"Wahhh, kau memang pacar Kim Oppa, Oeni." cetus Ji eun mengagumi sosok Ara yang tak diduga mampu menjalani hubungan dengan pria yang tak memiliki uang berseri itu. Kim Hee Sin.
__ADS_1