
"Kalian tentu mengira jika aku yang menolak puteri Hwa yang bertepatan wajahnya rusak, bukan?" tanya pangeran Sin pada tiga gadis yang mengedip-kedipkan mata mereka lalu mengangguk yakin.
Tapi pria itu menarik telunjuknya ke atas dan menggerakkan ke kiri lalu ke kanan.
"Salah nona-nona. Yang menolakku justeri gadis itu." lanjutnya.
"Lalu sekarang, kenapa kau datang lagi ke sini? Malah kami mendengar jika kau mendatangi kediaman puteri sombong itu." Sela puteri Hwi menekan.
Pangeran Sin, sebelum menjawab melebarkan dua sudut bibirnya, tersenyum.... "Aku pun tidak tahu kenapa, karena yang mengundangku malah puteri sombong itu." jawab pangeran Sin terkekeh kemudian.
Menciptakan gurat bingung di wajah tiga orang gadis tengil itu.
"Kenapa kau mau? Lalu, kenapa kau malah tertawa? Kalau aku jadi kau, selamanya tidak akan aku terima undangan dari puteri Hwa itu." Tegas puteri Yi menyela.
"Karena aku mau, dan aku senang karena itu aku tertawa, dan mungkin selamanya aku akan menunggu gadis sombong itu mengundangku bila perlu." jawab pangeran Sin santai.
FLASHBACK ON
//untuk kau yang bernama pangeran Sin// pangeran Sin yang menerima sepucuk surat dengan nama pengirim puteri Hwa dari kerajaan Jehwa seketika bersemangat. Bahkan ia nyaris memeluk kasim yang mengantarkan surat tersebut untuknya.
"Kau yang bernama pangeran Sin??" gumamnya kala membaca kalimat pembuka surat itu.
Menggeleng geli. Merasa lucu akan penggunaan kata dari puteri Hwa.
"Apa ada yang salah dengannya, hehehhe." kekehnya lalu kembali mengelindingkan penglihatannya pada kertas yang dilipat dengan bentuk unik dan menyisakan jejak lipatan berbagai persegi. Dan jangan lupakan, ia melihat gambar di beberapa sudut surat itu. cukup menyita perhatiannya kala membuka surat tadi.
//Kapan kau akan mengunjungiku, pangeran Sin. Aku ingin bertemu dengan mu dan berbincang.//
"Berbincang?" gumam pangeran Sin lagi, ia tak paham karena Ara menulis kata ejaan hangeul dengan kata salah meski artinya sama.
//Kau sudah satu bulan ini tidak mengunjungiku, jadi aku mengundangmu datang kemari. Pangeran Sin. See you.//
"Bagaimana aku membaca kata ini?" Tanyanya melihat huruf yang tak ia pahami cara pengucapan dan juga artinya.
Si Ara mah gelo!!!
"Jadi, kau mengundangku datang, puteri Hwa?" lanjutnya bermonolog sendiri.
"Satu bulan katamu?? Lebih dari itu, Hwa-ya. Bagaimana bisa kau melupakan hal demikian." kembali kata-katanya menguar di udara tanpa lawan bicara.
__ADS_1
Pangeran Sin belum terlalu paham alasan puteri Hwa mengundangnya kembali ke istana setelah insiden waktu itu.
Ya, insiden yang membuatnya mendapat tanda 5 jari gadis itu di pipi kanannya.
Dan juga tinju keras dari putera mahkota.
Setelah kejadian di mana dengan tanpa sepengatuannya, ia mengumbar kemesraan dengan seorang wanita bangsawan di salah satu bangunan di dekat pasar. Yang kebetulan kala itu, puteri Hwa yang entah dari mana tiba-tiba muncul menyaksikan hal tersebut.
Dan sejak itu, gadis yang seorang puteri kerajaan Jehwa enggan bertemu dengannya. Bahkan dengan berani menyatakan untuk membatalkan rencana perjodohan mereka berdua di hadapan raja.
Lalu kini? Dengan entengnya gadis itu mempertanyakan keberadaannya yang sudah satu bulan tidak mengunjunginya, padahal.... Jelas gadis itu yang dengan tegas tidak ingin bertemu lagi dengannya.
Ada apa sebenarnya.
Awalnya memang ia diminta oleh puteri menteri Kim yaitu rubah betina ekor 10 alias Kim So Yoon untuk mendekati sosok Hwa.
Untung di dapat, gadis itu menyambut pesona yang disebarkan oleh pangeran Sin. Hingga dengan tegas menyatakan ingin melanjutkan dalam bentuk perjodohan dan pernikahan.
Sesuai harapannya, puteri menyanggupi ketika pangeran Sin bersama raja kerajaan Jeola datang meminta perjodohan tersebut.
Walaupun, tujuannya adalah untuk melancarkan suksesinya merebut perhatian ayahnya agar melimpahkan tahta untuknya menggantikan saudaranya yang mengalami sakit-sakitan.
Akan tetapi, kejadian yang dilihat langsung oleh puteri Hwa, membuat rencana yang disusun rapi sekejap hancur tak bersisa. Bahkan dengan gamblang, putera mahkota mengancam akan menghancurkannya ketika ia naik tahta dan menjadi raja Jehwa.
Dan, langkah gugupnya ketika mendatangi kediaman milik puteri Hwa membuktikan bahwa dirinya sedikit ciut.
"Bagaimana ini. Kenapa aku bergetar." gumamnya selama berjalan.
Bukan karena pertemuannya dengan raja atau putera mahkota dingin itu yang membuatnya gugup, akan tetapi sosok yang menunggunya nanti di dalam sana.
Bagaimana jika semua peralatan makan melayang pada dirinya seperti waktu itu? Atau pukulan puteri Hwa yang membabi buta padanya lagi.
Bagaimana jika gadis buruk rupa itu, hanya ingin mempermainkan dan mempermalukannya saja di dalam sana? Dan memamerkan hubungan baru dengan pria lain? Oh tidak, tidak akan dibiarkannya.
Dibuktikannya dengan mempercepat langkahnya menuju kediaman itu.
Hingga.... "Puteri, pangeran Sin sudah tiba dan mengunjungi anda." ucap dayang penjaga pintu, diantara rasa gugup pangeran Sin yang tak terbaca oleh mereka.
"Masuk!!!" sahut suara gadis itu dari dalam.
__ADS_1
'Masuk???' Gumam pangeran Sin mendengar kata barusan.
Ia ragu dipersilahkan masuk oleh.....
"Gadis itu." gumamnya tertegun mendapati sosok yang menunggunya kini....
Tanpa cadar alias penutup wajahnya yang dulu sering dikenakan tiap bertemu dengannya.
Gadis itu membuatnya terpesona namun secepat mungkin ia berusaha untuk kembali sadar. Bukan saatnya ia bersikap begini.
Karena ia mendapat reaksi tak terduga dari gadis itu yang...
"Oppa Leeee!!!!" pekik gadis itu kala menyambut kedatangannya di dalam ruangan ini.
Tertegun.
Siapa dan apa itu oppa??
Merasa hanya dirinya saja di sini bersama gadis itu, maka ia bingung nama siapa yang dipanggil gadis itu.
"Puteri Hwa?" Pangeran Sin yang mengambil tempat duduk di hadapan puteri Hwa mengalami kesulitan untuk menurunkan netranya dari objek menawan ini.
"Pangeran Sin?" tanya Ara mengkonfirmasi pria yang sudah duduk di depannya.
"Iya, puteri Hwa. Ada apa, apa kau sudah begitu melupakanku, puteri Hwa.?" Tanya pria yang menyatakan dirinya sebagai pangeran Sin.
Puteri Hwa pun berlaku demikian, menatap pangeran Sin lekat. Seolah tengah menyelidiki sesuatu tentangnya.
Hingga... "Apa ada yang salah dengan wajahku, puteri Hwa?" dan gadis itu menggeleng sebagai jawaban.
Maka, titik keheranan pangeran Sin adalah, bagaimana puteri Hwa berani melepas penutup wajahnya itu. Apakah memang kecantikan ini yang disembunyikan gadis itu selama ini? Jika benar, sungguh brengsek sekali ia mengira bahwa gadis ini buruk rupa sekali. Dan tak lupa, pangeran Sin pun yang melihat semu di wajah gadis itu, merasa heran, ada apa dengan puteri Hwa? rona itu sudah lenyap untuknya ketika ia berselingkuh dengan gadis lain. Dan kini, ia mendapat wajah malu itu lagi... Persis ketika mereka bertemu pertama dulu....
FLASHBACK OFF
"Maka dari itu, aku akan kembali membuat puteri Hwa menerima perjodohan ini. Karena tiba-tiba saka jantungku ingin meledak hanya berdekatan dengannya." Ucap pangeran Sin di sela ingatannya itu.
"Iwhhhhh kau ini. Bagaimana mungkin kau bisa-bisanya mau menikahi gadis sombong buruk rupa itu. Harusnya kau mencari puteri kerajaan yang lebih baik dari dia." puteri Hwi memberi bantahan atas pesona puteri Hwa yang menjerat pria tampan itu.
"oh ya, siapa yang kau sebut gadis sombong buruk rupa, Hwi-ya!!!!!!!!! Hardik Ara dari sisi gazebo yang membuat puteri Hwi terperanjat seketika
__ADS_1