
Seiring langkahnya menapak, Ara. Tak hentinya berkomat kamit, atau lebih tepatnya menggerutu, dan itu sangat sangat dan sangat jelas tertangkap dalam radius hingga jarak 7 orang.
Lambemu ndok, yo kudu di kecilin volumenya gitu.
Ntar netijen pada denger gimana?
Tapi, Ara tak juga mau menggubris ucapan thor barusan. Membuat thor kepingin mindahin peran Ara jadi tukang antar daging aja di sana.
Gak tau apa, thor itu presiden dan pemilik perusahaannya lohhh. Hapus dialog. Gaga gugu ntar.
Ok, gue sebagai thor, sabar.
"Ada apa puteri?" Tanya dayang Han yang tak paham akan ocehan tak berfaedah majikannya.
Berbalik, lalu
"Mulai besok, mereka jauh-jauh ngawasi gue mandi, jangan sampai terulang lagi hal seperti tadi, paham!" Cercah Ara, gemas.
Dayang Han mengangguk patuh, mau gimana lagi? Membantah? Ya kali kalau besok sudah bosen ngomong jadi minta raja motong lidahnya.... atau dayang Han menasihati? Tambah buas lah ini orang.
"Han-ah!" Panggil Ara. Saat mereka sudah tiba di dalam kamar puteri Hwa.
"Iya, Yang Mulia." sahut dayang Han segera mendekat.
"Duduk." titah Ara saat dirinya saja masih berdiri.
Bossy abis euyyy
patuh, sang dayang yang kesabarannya tak terbatas itu, kini duduk lesehan. Memandang majikannya yang berdiri dengan menopang dagunya menggunakan salah satu tangannya, yaitu telapak yang di mana tiga jarinya yaitu kelingking, manis dan tengah dikepal sementara telunjuk dan ibu jari ia tekuk agar bisa menjepit dagunya.
"Apa... Apa aku...." Ara berusaha menyudahi kalimatnya, namun ia seketika langsung menggeleng tak yakin.
Apa ia harus menanyakan hal itu pada dayangnya yang selalu berada di sisinya, kecuali saat dia ngorok, dan juga boker (ya kali loyalitas kali dayangnya nemenin dia ngeden)
Kening dayang Han berlipat saat melihat ucapan majikannya hilang di bawa pergi jangkrik tak kasat mata.
"Kenapa, Yang Mulia?" Tanya dayang Han kemudian.
Ara menatap wajah si penanya barusan. Ingin melanjutkan ucapannya, tapi hatinya meragu, keras sekali malah.
Ya kali, si dayang bakalan lebih melipat dahinya sampai belakang, kalau sampai Ara mengucapkan kalimat sepotong itu.
Walau jelas sekali, dayang ini senantiasa menjaganya sedari kecil (itu yang Ara dengar, entah kebenarannya terjamin berapa persen, ia tak tahu). Tapi, tak menutup kemungkinan, jika dayangnya akan berlaku jahat terhadapnya, ya kan?? Lihat dan ingat serta baca saja episode sebelumnya ketika Ara menari salsa bersama pengawalnya yang sudah almarhum itu. Itu pengawal setiap hari nongkrong noh di depan pintu luar kediaman Ara. Jadi, gak bisa dipastikan kan jika dayang yang menatapnya dengan mata.... Mata yang polos itu, tak mampu menusuk atau melukainya dengan sebilah pedang, kapak, pisau, celurit, tombak, silet atau peniti pada tubuhnya ini, atau jika klasik dan umum di lakukan, naburin remah-remah racun di makanan atau minuman Ara. Ya gak?? Ya kan?
__ADS_1
Mengibaskan tangannya, Ara duduk. Dengan mulut yang ia miringkan ke kanan, ke kiri, bahkan di monyongkan ke depan. Ia berpikir keras, jelas saat ini ia tidak bisa menaruh kepercayaan pada siapapun.
Tapi Ara, gimana dengan raja atau ratu? tidak, sama saja, Ara tak percaya. Meskipun ia ngebet banget pengen ibu kayak sang ratu.
Lalu dengan putera mahkota? Aih oppa menawan itu?? Ara sebenarnya mau curhat, tapi..Ara takut nanti malah ikut curhat soal kehidupannya di sana. Bisa cengo dah tuh putera mahkota, ya kan?? Ya gak???
"Puteri?" Panggil dayang Han, berusaha menyadarkan puteri yang beberapa kali dipanggilnya, namun tak kunjung menyahut, menoleh pun, tidak sama sekali.
"Buruan pergi sana dayang Han. Aku lelah." Ara tak meneruskan jawaban panggilan dayang Han, ia hanya tak sengaja mendapatkan pencerahan dan bertabrakan dengan arah pandang dayang itu.
"Tapi Anda belum makan malam, Yang Mulia?" Ucap sekaligus tanya dayang Han, karena saat ini masih terbilang sore dan waktu makan malam akan segera tiba sebentar lagi. Jadi....
Ara mengibas-kibaskan tangannya menuju depan, mengusir dayang itu.
"Terserah, siapkan saja. Dan kau yang menjemputnya, sana." kembali Ara bersikap enggan di bantah.
Baiklah, Han-ah yang cabut deh kalo gitu. Sabar ya dayang Han.
Sepeninggal dayang malang itu.
Ara segera bangkit menuju tempat.
Perlengkapan detektifnya berada.
Belakangnya.
sreettt
Ia merobek gulungan kertas, lalu menempelkan kertas itu dengan, dengan tancapan tusuk rambutnya yang ia ambil dari kotak perhiasan. Ralat deh, hartanya sang puteri Hwa ya. Hihi, Ara cuma pakek buat maen doang kok, gak bisa bawak balik soalnya.
Ara menuliskan beberapa kata pada tiap sobekan kertas tadi.
Kini ia menambahkan daftar asumsi peristiwa mengerikan di sini, yang menimpa sang puteri.
"Gue rasa, ada suatu hal yang ngebuat puteri Hwa terus terancam nyawanya. Bahkan..." Ara mengelus wajah puteri yang banyak bermunculan benjolan kecil, ya... Itu jerawat masa breakout.
"Oke, gue bakalan ngurusin masalah kecil puteri dulu, di mulai dari.... Wajahnya." Ujar Ara yakin. Kini dengan semangat 86nya ia siap untuk membenahi kerusakan di wajah yang pasti sengaja di rusak oleh musuh sang puteri.
Ara bergegas beranjak menuju tempat penyimpanan perlengkapan tidurnya.
Membawa gulungan alas tidur terlebih dahulu, membentangnya, kemudian melanjutkan dengan mengambil selimut sutra berikut bantal kecil. Meletakkan sebagaimana kebiasaannya.
Setelah itu, Ara mulai mencari kotak perlengkapan berhias milik sang puteri.
__ADS_1
Membukanya, memeriksa satu persatu. Hingga ia, menemukan satu kotak kecil terselip di paling belakang kotak tersebut.
"Ini, apa?" Ara yang penasaran, membuka kotak berwarna hijau itu, lalu mencoletnya sedikit, membawa bubuk itu mendekati hidungnya.
"Ini,, apa sih, penasaran gue. Cobain dulu." Ara seperti yang dirinya tahu, untuk mencoba sebuah kosmetik, ia selalu mencobanya pada salah satu bagian tubuhnya. Siku, ujung sikunya ia taburkan sedikit bubuk dari kotak hijau yang ia temukan tadi, hingga...
menunggu dengan waktu yang tak begitu lama, karena butuh sekejap saja, gadis itu kini meringis pelan, merasakan panas dan juga kerenyit sakit di lapisan kulit yang ia beri bubuk misterius.
Dan, saat ia melihat hasil eksperimennya.
Benar!!!!
Ia melihat kulitnya sedikit memerah, berpikir sejenak...
"Ini, bukan mercury kan???" tanyanya pada para jangkrik di dalam ruangan itu.
"Atau racun kan??" tanyanya kembali
Grekkk
Pintu geser pun terbuka sempurna, menampakkan wujud dayang Han, yang membawa baki berisi makan malam sang puteri.
Langkah gadis itu membuat refleks Ara segera menutupi lengan bajunya yang tadi tersingkap sampai siku-siku.
"Yang Mulia, ini makan malam Anda." Ujar dayang Han, mendekati meja lalu menata makanan yang akan di santap sang puteri.
"Han-ah." Panggil Ara saat dayang Han hampir menyelesaikan penyajian makanan.
"Iya, Yang Mulia." Sahut dayang Han tanpa menoleh pada majikannya.
"Kau,,, kenapa...." Ara menggantung kalimatnya, seolah memikirkan dan menunggu tanggapan dayangnya yang masih fokus menata makan malamnya.
"Kau, harum sekali? Ini bukan aromamu, apa kau, tadi, bertemu seseorang?" Tanya Ara bertubi-tubi.
Dayang Han segera menoleh. Dan tak sengaja getar tangannya tertangkap oleh mata Ara, meski secepat kilat sang dayang mampu mengatasinya.
"Tidak Yang Mulia" Jawab dayang Han.
Bohong!
"Aku pernah menemui orang yang punya aroma ini, Han-ah. Jangan berbohong padaku." Lanjut Ara dengan nada yang perlahan meninggi dan ditekan.
Lalu,, tanpa jeda,, Ara menggebrak meja yang berisi sajian makan malam untuknya, hingga bergetarlah semua hidangan itu.
__ADS_1
"Cicipi semua makanan ini, sekarang!!!!" Ucap Ara berteriak.
"Ya--Yang Mu-Muliaaa."