100 Hari Menjadi Puteri Joseon

100 Hari Menjadi Puteri Joseon
Kembali... Lagi?????


__ADS_3

Derap langkah tergesa-gesa mengiringi kehadiran Hana yang terburu-buru dan juga menghela nafas frustasinya setelah ia mendapatkan kabar mengejutkan dari pihak rumah sakit tentang Ara yang terjatuh dari tangga tak jauh dari atap gedung rumah sakit.


Hayolah, jelas terpikirkan hal konyol dalam benak Hana.


"Ngapain sih tuh semprul pakek acara maen ke atap gedung, gak sabaran banget nungguin gue." Gerutu Hana dengan isak tangis yang membasahi wajahnya.


Grakkk!!


Tak sabar, Hana meraih gagang pintu dan segera membukanya dengan keras.


Menampakkan suasana yang menegangkan.


"Dok, ada apa ini??" Teriak Hana frustasi melihat keadaan Ara yang tak sadarkan diri dengan banyak benda yang sebelumnya pernah Hana lihat. Detak jantung, infus dan kabel tak jelas itu.


"Sabar, ya. Saudara anda sedang dalam pemeriksaan dokter." Ucap seorang perawat yang segera meraih tubuh Hana dan membawanya keluar ruangan.


"Ta-tap..." Ucap Hana yang langsung terpotong oleh ucapan perawat.


"Kami sedang berusaha semampu dan semaksimal kami untuk menyelamatkan saudara anda. Jadi, ada baiknya anda memberikan dukungan dengan mendoakan yang terbaik untuk keselamatannya." Sambar perawat dengan lembut mengelus tangan Hana dengan maksud menambah dorongan pada gadis itu.


Hana diam, tak bisa berpikir jelas saat ini.


Setelah perawat itu kembali memasuki ruangan Ara. Hana duduk pasrah di kursi sisi ruangan itu. Terduduk lemas dengan menopang kepalanya pada dua telapak tangannya yang terbuka.


"Please, balik lagi Ara, jangan tinggalin gue. Please, cuma Lo yang gue punya saat ini. Dan cuma Lo yang bisa nyemangatin dan ada buat gue. Alasan gue buat maju dan menjadi lebih baik buat masa depan kita." Ucap Hana di sela isak tangisnya yang masih tersisa.


Dan, masa penantian Hana selama beberapa menit itu. Akhirnya harus dibayar dengan kenyataan yang kembali membuat dadanya seperti di hantam benda keras dan tajam.


Ya, tak lama, ia mendengar suara pintu ruangan Ara terbuka, tapi... bukan hanya para dokter dan perawat yang keluar, melainkan tubuh Ara ada diantara mereka, terbaring lemah tak sadarkan diri. Gadis itu kembali di bawa dengan peralatan medis di sisinya.


"Dok, mau dibawa kemana saudara saya.?" Tanya Hana bingung, ia kini sudah berdiri menghalangi laju bangkar Ara yang diseret perawat di setiap sisinya.


Dokter tersenyum hangat pada Hana.


"Pasien atas nama Ara, harus kembali dirawat dan dilakukan pemantauan di ruang ICU, nona." Jawab dokter yang berusia kisaran 40an tahun itu.


Bagai tersambar petir. Hana jelas terkejut.


"A-Aapakah dia, kembali....??" Ucap Hana terpotong saking terkejutnya, lidahnya pun mendadak berasa kelu.


Dokter pun mengangguk.

__ADS_1


"Iya, nona. Pasien atas nama Ara kembali mengalami koma, ini bukan sekedar pingsan saja. Setelah melalui beberapa pemeriksaan. Nona Ara dinyatakan kembali koma." Jelas sang dokter tegas.


Hana, tak kuasa membendung tangisnya.


Mengiringi langkah para medis mengantarkan sahabatnya yang baru pagi tadi masih berbincang hangat dan masih bisa bercanda dan menjahilinya, kini... tak berdaya, dan kembali terbaring lemah, meninggalkan dirinya lagi dalam kesendirian. Entah sampai kapan, Hana tak tahu, keajaiban apa lagi yang akan menghampiri mereka berdua.


*****


Di lain tempat


"Bagaimana, tabib. Apa kau menemukan tanda-tanda yang baik pada tubuh sang puteri??" Tanya pria yang duduk di ujung tubuh Ara sebelah kiri. Terlihat cemas, raut wajahnya mengisyaratkan jawaban yang harus sesuai keinginannya.


Sementara sang tabib, hanya mampu menggelengkan kepalanya.


"Maafkan hamba Yang Mulia Raja, Ratu dan putera mahkota. Saat ini puteri tetap seperti sebelumnya, walaupun racun yang masuk sudah berhasil di hancurkan."Jelas tabib dengan rasa was-was sebenarnya. Terdengar dari getar suaranya saat ini.


"Hahh, baiklah kalau begitu." Ucap sang Raja menanggapi penjelasan sang tabib tadi.


"Yang Mulia, jadi bagaimana nasib puteri saat ini. Sungguh, saya akan menghukum keras siapapun yang berada di balik kejadian mengerikan itu." Ujar sang ratu menanggapi raja.


"Kita harus tenang ratuku, jangan cepat menyimpulkan apapun." Sanggah raja


"Bagaimana salah menyimpulkan, bukankah puteri di racun, baginda, hanya saja saya tidak tahu siapa dalang semua ini." Balas ratu kesal.


Saat sang tabib bersiap untuk meletakkan jarum akupuntur di bagian tangan sang puteri.


Tiba-tiba.


"Enghhhhh" Geliat tubuh dan juga erangan merangsek dalam obrolan itu.


Lalu..


"AARGHHHHHH!!!!! SIAPA KAU!!!" teriak Ara melihat tabib dengan jarum yang begitu panjang menjadi objek tangkapan mengerikan di indera penglihatan Ara.


Dan, jangan lupakan mereka. Ya, raja, ratu, bahkan putera mahkota terkejut melihat puteri yang barusan mereka bicarakan mendadak bangun.


Bahkan tabih tak kalah kaget hingga nyaris membuatnya terjerembab ke belakang.


"Ya-Yang Mu-mulia." Ucapnya tabib tergagap saking tak percaya akan penglihatannya ini.


"PUTERI!!!" Teriak sang ratu segera mendekati tubuh gadis yang kini sudah duduk dengan wajah yang speachless saat ini.

__ADS_1


'Gue di mana ini... Ja-jangan jangan?' Batin Ara menebak


"oh goshh!!! Gue dimari lagi." Teriak Ara pelan dan frustasi namun terdengar di telinga orang-orang yang ada di dekatnya saat ini.


*******


"Puteri, bagaimana perasaanmu saat ini. Apakah kau merasakan sesuatu yang membuatmu tidak nyaman?" Suara lembut yang kini masih setia menjaga Ara, dengan telaten mengelap sudut pelipis Ara dengan kain sutra lembut berwarna biru dengan sulaman bunga mawar di sudutnya.


Menggeleng.


"Tidak Yang Mulia Ratu. Saya baik-baik saja."Jawab Ara pelan.


Ia masih tak habis pikir. Kenapa ia bisa kembali lagi ke dunia imajinasi konyolnya ini. Dan, kenapa terasa begitu nyata layaknya ia berada di dunianya.


Atau jangan-jangan, dunianya juga salah satu imajinasi konyolnya pula??


"Arggghh." Geram Ara menggigit ujung selimut yang menutupi tubuhnya saat ini.


Membuat kening berkerut menghiasi dahi sang Ratu.


"Ada apa Puteri? Apakah kau merasakan pusing pada kepalamu? Apa perlu aku panggilkan tabib, puteri?" serentetan tanya mengucur manis dari bibir sang ratu yang jelas sekali mengisyaratkan kecemasan.


Ara sadar akan kesalahannya barusan.


"Ti-tidak Yang Mulia. Saya hanya berpikir saja." Jawab Ara cepat.


"Apa yang kau pikirkan Puteri?" Tanya Ratu penasaran


Menggeleng lembut lagi. Ara menjawab "Bukan hal yang penting Ratu"


Mengulas senyum keibuan yang begitu hangat bagi Ara yang selama hidupnya tak menjumpai sosok yang bernama ibu.


"Kalau begitu, maka hentikan. Jika itu bisa membuatmu sakit kepala. Maka tak perlu kau pikirkan sekarang, puteri." Nasihat sekaligus permintaan sang ratu dengan nada yang lembut.


Ara mau modelan ibu yang gini. Beli di mana seh!!!


"Baiklah Yang Mulia. Saya minta maaf jika saya membuat anda khawatir akan apa yang terjadi sebelumnya." Ucap Ara dengan rasa bersalah.


"Tidak puteri. Kami semua sangat mengkhawatirkan kejadian mengerikan itu. Bahkan putera mahkota tak henti mengunjungimu selama kau belum sadar." Ujar ratu lagi.


Hah!!! Cowok Ara ngapelin!????

__ADS_1


"Putera mahkota?? Ngapelin gue????" Ucap Ara tak percaya dengan mulut menganga lebar.


Helooooww, gue mau deh maen puteri-puterian kalo modelan putera mahkotanya gitu.


__ADS_2