100 Hari Menjadi Puteri Joseon

100 Hari Menjadi Puteri Joseon
Bertemu Pangeran Sin


__ADS_3

"Aku, aku, aku ingin mengatakan jika.... Aku ingin menemui pangeran yang dijodohkan padaku."


"Kenapa? Apa kau merindukannya?"


"Baiklah kalau memang itu maumu. Aku akan memberi kan keinginanmu, mungkin kau sedang tak baik-baik saja sekarang jadi kau tak tahu situasinya."


"Apa yang kau cari, Hwa-ya?" gumam putera mahkota di sela-selanya membaca buku.


Pria itu kembali teringat ketika pertemuannya dengan puteri Hwa waktu itu. Gadis itu dengan gamblangnya mengatakan jika ingin berjumpa dengan calon suaminya, pangeran Sin dari kerajaan Joela. Pria yang pernah ditolak oleh puteri Hwa, kini malah dengan entengnya diminta kembali datang oleh gadis itu.


Getar amarah jelas menyelimuti tubuh pria yang sudah tak konsentrasi lagi dengan bacaannya.


Bagaimana tidak, hari ini,,, ya hari ini ia tahu jika pria itu datang ke istana ini, dengan niat tentu memenuhi undangan puteri Hwa. Di kediaman gadis itu setelah sebelumnya bertemu raja, dan dirinya...


Flashback On


"Apa kabarmu, putera mahkota. Lama tidak berjumpa." pria yang bertubuh proporsional itu duduk dengan sikap tengilnya di hadapan putra mahkota.


"Tentu aku baik-baik saja." jawab putera mahkota. Jengah sekali dirinya menyambut pria itu. Akan tetapi, terpaksa ia hadapi dengan dalih menghargai tamu kehormatan meski niat terselubungnya.. Tentu mengingatkan pangeran itu agar......


"Kau ingat, apa yang terakhir kali kita bicarakan, pangeran Sin? Aku harap kau tentu masih sangat ingat." putera mahkota menekan tiap kata walau matanya tengah fokus pada benda tajam berkilauan yang tengah ia bersihkan dengan kain berwarna putih.


Mendecih, pangeran Sin seolah menanggapi dengan ekspresi mengejek.


"Tentu, Yang Mulia. Namun,,, bagaimana mungkin aku bisa menolak, jika wanita ini kembali melanjutkan perjodohan kami waktu itu." ucapnya.


Flashback Off


"Bagaimana bisa menolak?? Cih!!!" Ujar putera mahkota berseru.


"Aku harap, Hwa tidak mengambil keputusan salah kali ini." harapnya dengan wajah serius.


Tap tap tap.


"Yang Mulia." Suara pengawal pribadinya menyapa dari samping kiri tubuhnya.


Tanpa menoleh, "Bagaimana, apa pria itu sudah tiba di sana.?" Tanya putera mahkota.


"Ya, Yang Mulia. Pangeran Sin sudah berada di dalam bangunan puteri Hwa, tapi......." ucapan pengawal itu mengantung, membuat tubuh putera mahkota sontak berbalik menghadapnya, seolah tahu arah ucapan selanjutnya.


"Ada apa???!!" Tanyanya serius.


"Mereka hanya berdua, tanpa dayang Han." jawab sang pengawal pelan.


Putera mahkota mengepalkan tangannya erat.


"Hwa-ya. Aku mohon." Ucap putera mahkota berharap.


*******

__ADS_1


"Oh Goshh. Oppa Hoonn?!!!" Histeris Ara kala melihat wujud pria yang baru saja menapakkan kakinya di ruangan milik puteri Hwa.


Jika benar, tentu pria ini yang ditunggunya, bukan?? Karena sejauh ini ia belum menemui pria seperti orang itu di istana ini, kecuali putera mahkota yang tentu lebih baik dari yang dilihatnya.


"Puteri Hwa." dan begitulah sapaan dari pria itu, yang melangkahkan kaki jenjangnya mendekat dengan tempat duduk yang sediakan.


'Ini pangeran Sin?? Ya Tuhan!!!!' batinnya riang. Tak menyangka pria yang....


"Pangeran Sin?" tanya Ara mengkonfirmasi pria yang sudah duduk di depannya.


"Iya, puteri Hwa. Ada apa, apa kau sudah begitu melupakanku, puteri Hwa.?" Tanya pria yang menyatakan dirinya sebagai pangeran Sin.


Pria yang digadang-gadangkan menjadi CALON SUAMI-nya eh salah, calon suami PUTERI HWA maksudnya. Begitu.


Ara meneguk ludahnya. Tak percaya.


Dari sisi manapun ia melihat, pria ini benar-benar jelmaan Hoon, alias pria idamannya di dunia sana. Yang begitu bahagia mem-follow akunnya setelah cukup lama ia mendamba.


"Oh God!!!" desis Ara tak ingin mengedipkan matanya.


Merasa diperhatikan demikian, pangeran Sin tentu senang. Kapan kali terakhir ia dilihat oleh puteri Hwa? Hanya beberapa kali, itu pun tidak seintens atau selama ini ia ditatap.


"Ada apa puteri Hwa? Apa ada sesuatu yang salah pada wajahku?" tanya pangeran Sin, penasaran menjadi objek pandangan gadis yang sempat menolak setelah nyaris menikah dengannya.


Tersadar. Ara tersipu.


Bagaimana pun juga, pria yang mirip dengan yang bernama Hoon ini sama keren dan mempesonanya walau dalam balutan hanbok sekalipun.


"Apa kau merindukanku, Hwa-ya?" lagi. Pria itu menanyakan hal yang sekelebat iseng dipikirannya karena wajah gadis ini jelas tak menolak atau memasang kebencian seperti sebelumnya.


Ditanya dalam keadaan setengah waras, Ara menganggukkan kepala puteri Hwa.


Namun sekejap kemudian menggelengkan kepala.


'Gue kenapa lagi' batinnya gemas.


"Wahh, kau benar-benar merasakan hal yang sama denganku, Hwa-ya?? Aku tak percaya ini." Ujar pangeran Sin menepuk dua sisi lututnya keras dengan tawa menghiasi wajahnya.


Membuat Ara meronakan wajah puteri Hwa, menggigit bibir bawah, malu melontarkan hal demikian.


"Maaf, maafkan aku, Hwa-ya. Aku merasa bahagia dengan ungkapanmu barusan." Jawab pangeran Sin mengartikan sikap malu puteri Hwa. Pria itu segera menyudahi tawanya meski sisanya masih jelas terukir diwajah rupawannya.


Hening.


"Pangeran Sin." Panggil Ara setelah berusaha mencari kata yang tepat untuk memulai.


"Hmmm, ya, Puteri Hwa." jawab pangeran Sin. Tak lupa, senyumnya tak lepas, bahkan tatapannya juga menembak lekat manik puteri Hwa.


"Mengapa selama satu bulan ini. Kau tak mengunjungiku sama sekali? Padahal jika dilihat, kau tak membenciku sama sekali." Ara menuntaskan rasa penasarannya dengan menyusun kalimat sempurna pada sumbernya langsung.

__ADS_1


Pangeran Sin yang mendapat tanya demikian, sekilas menarik alisnya ke atas, tertegun.


"Kau, apa kau masih ingin bertemu denganku, puteri Hwa?" tanya balik pangeran Sin sebagai jawaban.


Ara kini yang tertegun.


Ini pria yang menjadi calon suaminya kenapa berkata demikian? Tak salah apa?


"Bukankah kita memang sudah dijodohkan. Jadi, mengapa kau berkata demikian, pangeran Sin?" Ara memasang raut bingung dalam tiap rentetan katanya.


Lagi, jawaban yang diberikan Ara membuat pangeran Sin memandang puteri Hwa penuh selidik.


"Bukankah kau......." tak selesai, karena mereka berdua sama-sama mendengar pemberitahuan dayang di depan perihal kedatangan....


"Puteri Hwa, yang mulia putera mahkota datang mengunjungi anda." isi pemberitahuan dayang penjaga pintu geser.


Namun, sebelum Ara menjawab.


Srettttt


Suara pintu geser sudah berbunyi.


Menampakkan.


"Yang Mulia." Ara mengangkat tubuh puteri Hwa berdiri, diikuti oleh pangeran Sin pula.


Putera mahkota menarik kakinya mengarah pada puteri Hwa dan pangeran Sin.


Ara yang sadar segera berpindah, ke sisi dekat pangeran Sin, tapi sebelum ia ke sana....


"Mau duduk di mana, puteri Hwa?" suara putera mahkota menginterupsi gerak kaki puteri Hwa.


Tertahan langkah.


"Di sana." Ara menunjuk sisi pangeran Sin, membuat putera mahkota mengerutkan keningnya. Sedangkan pangeran Sin menarik sudut bibirnya mendengar jawaban puteri Hwa.


"Kau duduk di sana." setelah menggelengkan kepalanya, putera mahkota mengangkat jari telunjuknya pada sisi yang berlawanan dengan pangeran Sin.


Menurut. Ara mengarahkan tubuh puteri Hwa pada bantalan kecil di seberang pangeran Sin.


Duduk.


Menatap pangeran Sin, pun demikian.


"Ekhemm." deham putera mahkota menjatuhkan pandangan Ara pada pria dihadapannya dan mengalihkan pada putera mahkota.


Yang kini juga ikut menatapnya intens.


"Kok hawa-hawanya panas banget ya di sini???" Desis Ara sangat pelan.

__ADS_1


__ADS_2