100 Hari Menjadi Puteri Joseon

100 Hari Menjadi Puteri Joseon
Komplotan


__ADS_3

"Mengapa mereka mau mencelakaiku?" Puteri Hwa menatap Hana serius dengan kalimat tanyanya.


"Aku tidak tahu detailnya, tapi itu semua karena seorang pria."


"Pria? Maksudnya?"


"Perempuan itu adalah adiknya Frank yang menyukaimu."


"Fe-ferank? Apa itu nama orang?" puteri Hwa merasa lidah ini sulit dan aneh sekali menyebutkan nama itu.


"Iya, oppa Frank, pria yang sering......" Hana kembali dibuar tak percaya, apa sebegitu parahnya otak sahabatnya ini mengalami korslet?


Banyak kali hal yang ia lupakan, walau yang parah menurutnya adalah lupa cara membuka pintu.


"Oppa Frank mengalami depresi setelah mengetahui kau hanya mem-PHP dirinya saja." jelas Hana pelan.


Lagi-lagi puteri Hwa mengerutkan dahi Ara kala mendengar kata "Pehape? Apa itu? Apa itu nama orang juga?" ucapnya bingung


"Ya Tuhan!!!" Hana menepuk dahinya menyaksikan penyakit lupa Ara.


"Kau hanya... Gimana ya..." berusaha mencari kata yang tepat, agar dirinya tak terlalu banyak menjelaskan ulang.


"Kau hanya memberi harapan saja. Seperti ini....." Hana menjelaskan dengan gerakan dan kata layaknya kepada anak usia PAUD.


"Ooh maksudmu hanya bermain-main saja, begitu?" tangkap puteri Hwa mengartikan ucapan Hana secara sederhana.


Hana mengangguk membenarkan.


"kau rupanya mendekati oppa Frank hanya demi oppa Hoon saja." lanjut Hana


"Hoon? Pangeran Sin?" ucap Puteri Hwa mengingat mereka memanggil Pangeran Sin dengan Hoon.


'Ini sengkleknya parah bener, maksain ngubah nama anak orang pula.' batin Hana gemas.


"Ya terserah apa mau mu lah."Pasrah Hana akan kehendak Ara, mau ngubah nama dia jadi Angel pun, ia rela.


"Jadi Ferank itu siapanya pangeran Sin? Lalu, kenapa perempuan itu mencelaikaiku?" deret tanya Puteri Hwa menghiasi telinga Hana.


"Frank bukan Ferank, Ara.!!!" ralat Hana akan nama pria tampan yang sempat membuatnya nyaris jatuh cinta tapi keburu ia tahu bahwa pria itu malah sepertinya cinta mati ke Ara.


"Terserahlah. Aku sulit mengucapkan namanya yang aneh itu." sewot puteri Hwa sebal.


"Jawab tanyaku tadi, Hana" sosor puteri Hwa tak sabar.


"Ya karena kau penyebab kakaknya koma sekarang." gemas Han menjelaskan hal yang sudah diketahui Ara itu.


"Koma? Apa pula itu? Kau ini sudah pernah aku bilang, jangan menggunakan kata aneh." geram puteri Hwa akan kosakata Hana yang aneh menurutnya.


"Koma itu, kau tertidur tidak bangun-bangun." Hana mencoba menahan gelegak di rongga dadanya.


"Tidak sadarkan diri selama beberapa lama?" itu versi pemahaman puteri Hwa yang di zamannya pernah menjumpai hal serupa, menimpa kenalannya.


"Iya. Begitulah." cetus Hana mengiyakan.


"Kenapa aku yang disalahkan? Siapa tahu bukan aku yang melakukan upaya membuatnya koma, bukan?" ucap puteri Hwa yang justru menyalah artikan bahwa koma Frank karena dirinya yang melakukan tindakan buruk itu.

__ADS_1


"Bukan gitu, nyong." Hana sudah sadar bahwa pola pikir sahabatnya sudah terlampau jauh imajinasinya.


"Maksudnya itu, pria itu patah hati, lalu melakukan percobaan bunuh diri." jelas Hana membenarkan maksudnya.


"Patah hati? Dan dia bunuh diri? Cih, bodoh sekali pria bernama Ferank itu." ujar puteri Hwa kesal akan tindakan sepintas itu.


Pengecut sekali, pikirnya.


"Jadi adiknya membalaskan sakit hati kakaknya kepadaku?" puteri Hwa menunjuk tubuh Ara yang diangguki oleh Hana dengan ragu.


"Baiklah, tapi kenapa dia muncul lagi? Apa karena aku belum mati maka dari itu ia datang kembali?"


"Mungkin."


'Mungkin Ara lemah dan tidak sanggup menghadapi para brengsek itu, tapi sekarang ada aku di sini, kalian akan mati semua.' batin puteri Hwa mengepalkan tangan kuat.


.


.


.


.


.


"Bos." Sein menyerahkan amplop berwarna hijau kepada Kim Hee Sin yang duduk dengan gagahnya di kursi kebesarannya.


"Taruh saja di atas meja, Sein." sahutnya yang masih menatap gedung bertingkat di luar bangunan raksasa miliknya. K-G Corporate.


"Entahlah, Sein, menurutmu apa aku bisa menghindar kali ini?" nada bicara Kim Hee Sin terdengar seolah putus asa, apa yang berada dalam amplop itu membuat semangatnya luntur begitu saja.


"Saya hanya menginginkan yang terbaik bagi anda, Bos." ucap Sein berharap. Ia sadar jika dilema akan menghampiri bosnya.


"Saya pamit, bos." menundukkan tubuh, Sein berbalik dan melangkah menuju pintu besar berwarna biru tua.


Meninggalkan Kim Hee Sin yang masih betah menatap bangunan yang tak mampu menyaingi gagahnya perusahaan yang ia dirikan atas jerih payahnya, tanpa bantuan orang tuanya yang juga memiliki kerajaan perusahaan melebihi dirinya.


K Diamond. Perusahaan yang bergerak dalam area mineral pertambangan, fashion, kuliner, dan lainnya.


Menjadi putera bungsu dari 3 bersaudara tidak menjadikan Kim Hee Sin manut dengan menunggu atau menempel akan harta orang tuanya, terlebih ketika saudara laki-lakinya yang hanya satu itu memilih profesi sendiri, kedokteran, membuatnya harus rela dikejar ayahnya untuk menggantikan posisi CEO, sementara saudara perempuannya atau anak pertama ayahnya justeru berpetualang dengan dunianya sendiri.


Maka dari itu, Kim Hee Sin memilih berontak juga, dengan menerima tantangan ayahnya keluar tanpa uang keluarga Kim.


Hingga kepercayaan diri Kim Hee Sin dengan angkuh tampil, sebagai saingan ayahnya dalam dunia bisnis, dengan cara kotor ayahnya yang ikut menjungkir balikkan usaha pria itu walau ia dengan terseret-seret mampu bangkit setelahnya.


Menjadi K-G Corporate yang banyak dipertimbangkan para investor sekarang.


"Aku harus bagaimana?." gumamnya pelan.


Membalik kursi berwarna merahnya, meraih amplop hijau itu.


"Apa aku harus meminta maaf? Atau......." lagi, pasrahnya menatap kosong pada kertas itu.


.

__ADS_1


.


.


.


.


.


"Gadis itu tidak boleh kembali tegak seperti itu." geram gadis yang menjadi lawan puteri Hwa sebelumnya.


"Tapi nona, sekarang ini ia tambah berani." sahut pengawalnya yang ikut menyerang waktu itu.


"Aku tidak perduli, kita harus membuatnya membalas kesakitan yang diderita kakakku selama ini." ucapnya, seraya menggenggam telapak tangan putih yang kokoh tapi tak berdaya.


Frankie, masih terbuju kaku dengan beragam alat sebagai penopang kehidupannya.


Ketenangan di wajahnya tidak mampu membuat Cindy, adiknya, tenang. Ia bertambah marah ketika melihat gadis yang membuat kehidupan kakaknya berhenti sementara.


Frankie, masih didiagnosa cidera syaraf otak akibat konsumsi obat dan alkoholnya, mengakibatkan pria itu harus pasrah dengan pembaringannya.


"Aku akan membuatnya kembali menelan kepahitan, aku berjanji." ucap Cindy penuh amarah.


Ceklek.


Pintu terbuka.


"Nona Cindy." panggil pengawalnya.


"Apa yang kau dapatkan." tanyanya tanpa melihat kearah lawan bicara.


"Bukan itu, nona. Tapi tuan Ahn datang berkunjung, nona." jawab pengawalnya.


"Bilang tunggu, aku akan menyelesaikan sapaanku untuk kakakku." ucap cindy tegas.


Ceklek.


Pintu tertutup kembali.


"Kakak, tunggulah sebentar lagi. Karena gadis itu, akan aku hancurkan lebih parah dari dirimu." janji Cindy mengeratkan genggamannya.


.


.


.


Pelan menuruni anak tangga, Cindy melihat tamunya sudah duduk di ruang tamu berwarna hijau sage.


"Apa yang kau bawa sebagai penghiburku kali ini, Ahn Hoon Je?." tanya Cindy pada sosok pria yang duduk di sofa besar itu.


Ahn Hoon Je, alias Hoon.


"Ah, mari, aku sudah tak sabar memberikanmu info yang akan menghibur dirimu, sayang." jawab Hoon dengan senyum manis bertengger di wajahnya.

__ADS_1


__ADS_2