100 Hari Menjadi Puteri Joseon

100 Hari Menjadi Puteri Joseon
Oppa Putera Mahkota


__ADS_3

Keesokkan harinya...


Ara termenung, di hadapan banyak makanan yanf menggugah selera itu, dirinya tetap bergeming. Hingga dayang Han merasa jengah dengan sikap majikannya yang tak biasa itu.


"Puteri!" Panggil dayang Han lembut


Hening.


Ok, coba lagi dayang Han.


"Yang Mulia puteri Hwa.!" Lagi, dayang mencoba.


Namun, zonk kembali


Wesh sabar subur ya dayang Han, namanya juga iseng-iseng berhadiah.


Ok, semangat, yok coba lagi.


"Puteri Hwa!" Nada suara dayang Han agak di naikkan sedikit, dan berhasil. Ara agak kaget sedikit.


"A-apa, ada apa kau memanggil ku dayang Han." Sahut Ara yang sadar dari lamunannya.


Dayang Han menarik nafas pelan, tersenyum, "Tuan puteri kenapa?? Apa ada yang sedang mengganggu pikiran anda, puteri Hwa.?" Tanya dayang Han panjang lebar.


"Ke-kenapa memangnya kau bertanya begitu?" Ara malah membalas dengan pertanyaan lain. Walau ia pun bingung mau menjawab apa.


Dayang Han mendekat. Kini ia sudah tepat berada di depan meja Ara yang masih utuh hidangannya.


"Puteri Hwa. Anda dari tadi hanya diam melamun, beberapa kali saya memanggil anda, tapi tetap tidak di jawab." Jelas dayang Han pelan dan sangat hati-hati.


Ara meringis, malu sebenarnya. "Aku tidak ada masalah apapun, cuma memikirkan beberapa hal saja." Jawab Ara tak ingin berbagi lamunannya tadi.


"Baiklah yang mulia kalau begitu. Anda saya harapkan untuk makan karena hari ini kita akan berkunjung ke pemilihan puteri mahkota, puteri." Ujar dayang Han memberikan informasi.


Ara menerbitkan garis bahagia di wajahnya.


Apa itu tadi, pemilihan puteri mahkota? Seperti di film yang di tontonnya?, Ayo ikut nonton.


"Benarkah?? aku juga boleh lihat?" Tanya Ara tak percaya.


Dayang Han mengangguk sembari tersenyum, "Tentu Yang Mulia." Jawab dayang Han.


Ara antusias, tak sabar ingin melihat proses sakral yang biasanya banyak drama di dalamnya. Ada antagonis dan protagonis yang berebut posisi itu. Ya, posisi di samping pria pujaannya, si Putera Mahkota, calon raja negeri ini.


***


Ara sudah siap dengan penampilannya.


Hanbok dengan atasan berwarna biru muda, lengkap dengan rok berwarna merah muda menyala yang di beri aksen bunga di ujung bawah rok, kaitan cantik yang menjuntai berbentuk bunga, dan tak lupa aksesoris kepalanya yang bertahtahkan jepit kecil manis dengan mutiara dan bunga. Namun sayang, ia harus menggunakan tabir wajah berwarna merah muda tipis, yang harusnya dengan wajahnya Ara saja, sudah pasti mengalahkan para calon puteri mahkota itu.


Huftr, nasib berwajah Hwa yang buruk rupa.


"Dayang Han!" Panggil Hwa di tengah perjalanannya.

__ADS_1


Dayang Han mengangkat kepalanya sembari tetap melangkah di sisi Hwa.


"Kenapa lama sekali sih. Tahu gini, pakai tandu saja." gerutu Ara yang cemberut. Untung saja ada kain tipis itu, jika tidak, tentu orang-orang akan melihat wajah tertekuk itu.


"Tidak lama lagi, Yang Mulia." Jawab dayang Han.


Tapi, Ara tak percaya.


"Perasaan dari tadi gak sampe-sampe. Muter mulu keliling gak jelas gini. Memang gak ada jalan pintas apa.?" Gerutu Ara lagi namun hanya bentuk gumaman yang halus sekali di telinga dayang Han.


Dayang Han menoleh, kan benar.


Sayup-sayup gadis berbaju hijau itu mendengar suara majikannya itu.


"Yang Mulia tadi bicara apa?" Tanya dayang Han.


Ara menoleh, mencibir kan lidahnya. sebal.


"Kepo ihh si Han ini." Jawabnya menggunakan aksen era masa kini yang gaolll beut dah.


Ok, dayang Han diem.


"Han-sshi!!" Panggil Ara, layaknya era zamannya.


Dayang Han menoleh kaget, tak terkecuali para dayang yang mengiringi ikut mengangkat kepala, tertegun dengan panggilan tersebut.


Ara pun menghentikan langkahnya, menoleh, cengengesan, "Kenapa? ada yang salahkah?" Sebenarnya ia sangat sadar akan kesalahannya, memanggil dengan panggilan seperti di dunianya.


"Anda tadi memanggil saya, apa Puteri?" Tanya dayang Han memastikan pendengarannya.


Lalu, kembali melangkah.


Diikuti para dayang di belakangnya.


Tiba di sebuah bangunan tinggi, lapang, dikelilingi banyak bunga, dikelilingi oleh sebuah kolam yang penuh teratai, dan tak lupa, bangunan itu tak berdinding, mirip sebuah gazebo.


Ara melihat sudah banyak yang berkumpul di sana, sehingga dengan penuh semangat, langkahnya dipercepat. Hingga...


"Puteri!" Panggil suara berat yang Ara harapkan sebagai pujaannya di awal pertemuan dulu.


Walau, nihil, dan tak mungkin.


Menoleh, tersenyum.


"Kakak." Jawab Ara berbisik dan berhati-hati karena ia tak menggunakan panggilan seharusnya sebagai penghormatan pada anggota kerajaan.


"Kemari, mari bersama-sama ke sana." Putera Mahkota melambaikan tangannya, mengajak Ara berjalan bersama ke bangunan yang di maksud.


Antusias, ya iyalah, barengan pujaan hati yang hanya diangan saja.


"Putera mahkota.!" Panggil Ara sembari melangkah menuju tangga.


"Hmm, ada apa Puteri." Jawab putera mahkota

__ADS_1


"Apakah, kau ikut memilih couple mu juga.?" Tanya Ara penasaran.


Bingung? "Couple? Apa itu Puteri" Putera mahkota di sela menaiki tangga berhenti sejenak karena ada satu kata yang aneh di telinganya.


Upss! Ara menepuk pelan bibirnya. "Pasangan, Yang Mulia." Jelas Ara, ia memang menyebutkan pasangan, tapi dalam pengejaan bahasa gaul korea saat ini.


"Pasangan. Kau akhir-akhir ini banyak sekali memberikan kejutan, puteri." Ujar putera mahkota tersenyum.


"Pasanganku, semua diatur oleh kerajaan, aku hanya mengikuti." Jelas putera mahkota menjawab pertanyaan Ara.


Ara hanya mengangguk saja. Sudah jelas, dari sini rupanya asal-asul perjodohan itu.


"Puteri,!" Panggil putera mahkota ketika mereka sudah duduk di tempat yang sudah di sediakan, di sisi Sang Ratu.


Ara menoleh.


"Aku lebih suka dengan panggilanmu padaku sebelumnya, yaitu kakak. Aku merasa begitu dekat denganmu karena panggilan itu." Kata putera mahkota dengan wajah yang begitu teduh.


Hangat.


uh


Ara menghangat lagi kan.


Bisa gila dia lama-lama berdekatan dengan putera mahkota yang kakak-able banget ini.


"Putera mahkota" Panggil Ara berbisik, dan sedikit mencondongkan tubuhnya ke sisi putera mahkota yang ikut mencondongkan tubuh ke Ara.


"Sebenarnya, aku ingin memanggilmu dengan caraku sendiri. Dan hanya aku yang akan memanggilmu begitu." Ara berharap


Putera mahkota mengerutkan alisnya, "Apa itu puteri? silahkan." Ucap putera mahkota dengan raut penasaran.


"Bolehkah?" Tanya Ara tak sabar.


"Tentu saja puteri, aku akan memberikan mu hak untuk memperlakukanku sebagaimana kehendakmu, sebagai seorang kakak tentunya, dan tidak melanggar etika kerajaan." Jelas putera mahkota.


Baiklah!!!


Ara bersemangat dengan izin tak langsung itu.


"Oppa.!" Panggil Ara, membuat putera mahkota kini menaikan alisnya, bingung.


"Oppa?" Tanya pria itu.


"Itu panggilanku untukmu Yang Mulia." Jawab Ara tersenyum.


Dan sekian detik kemudian.


Semua pasang mata di sana, tertegun, terbengong-bengong, terpesona, dan iler-ileran dah,, ketika


Mereka secara langsung melihat Sang Putera Mahkota mereka tertawa, bahkan begitu lepas dan bebas... memperlihatkan pesonanya ýang semakin berkilau, pun begitu dengan Ara yang ikut tersihir oleh tawa dari pria tampan di sebelahnya.


"Lalu, aku harus memanggilmu apa Puteri." Putera mahkota yang tersadar, menutup bibirnya, dan kini berbisik kembali ke sisi telinga Ara.

__ADS_1


"Panggil aku Ara, Yang Mulia, eh Oppa." Jawab Ara


__ADS_2