100 Hari Menjadi Puteri Joseon

100 Hari Menjadi Puteri Joseon
Curhat time Ara bersama Putera mahkota


__ADS_3

"Ara??" Beo putera mahkota masih berbisik.


Ara mengangguk pelan.


Putera mahkota meliriknya sekilas seolah mempertanyakan keseriusan panggilan itu. Dan kembali mendapat anggukan Ara.


"Aku tahu Yang Mulia. Ara bukankah nama adik dari Raja? tapi, cukup panggil aku dengan nama itu ketika berdua saja." Jelas Ara penuh harap.


Sekian detik tak ada jawaban.


Hingga dehaman pria rupawan nan gagah disebelahnya menjadi alasan ekspresi Ara.


"Baiklah, Ara." Jawab Putera mahkota pelan.


"Yipiiii!!!" Ara bangkit saking senangnya, tapi hanya setengah badannya saja, karena ia sadar sedang di mana dirinya.


Semua pasang mata menatap heran padanya. Pun dengan satu pasang mata yang sepertinya begitu sinis terhadapnya.


"Ada apa puteri.!!" Suara ratu memecah kehebohan Ara.


Ara menunduk malu, sekaligus meringis salah. "Maafkan saya Yang Mulia." Ara menunduk hormat sebagai rasa bersalahnya mengganggu ketenangan proses sakral itu.


Sedangkan di sebelahnya, pria itu, terkekeh pelan, terdengar di telinga Ara dengan jelas.


"Oppa menyindirku, hah?" Sarkas Ara tanpa melibat si pelaku.


"Bagaimana kau bisa menuduhku begitu.... Ara." Jawab Putera mahkota yang diujung kalimatnya membuat Ara menoleh dan tersenyum.


Wah, namanya disebut òleh putera mahkota negeri ini. Bangganya. Peyukk tayang.


Satu persatu peserta yang mengajukan diri menjadi calon puteri mahkota itu telah menunjukkan kemampuannya berdasarkan beberapa tes yang diberikan para tetua di damping dayang utama.


Hingga menyisakan 3 calon lagi. Duduk mantap dengan tubuh tegak tapi tetap tersirat keanggunan di sana.


Mengenakan hanbok merah dan putih, rambut yang di kepang terurai panjang dengan hiasan kepala yang cantik.


Ara menatap intens pada 3 perempuan itu.


'Oo, jadi ini calon kakak ipar gue. Cantikan gue lah.' Teriak batin Ara bangga.


Walau dalam wujudnya sekarang, ia memang kurang percaya diri. Bagaimana tidak, ia terkurung di tubuh perempuan yang wajahnya selalu di tutupi tabir.


'Ada yang bakalan jahat gak ya diantara mereka bertiga nanti. Gue harus antisipasi dari awal nie biar selamat bisa balik.' Batin Ara lagi.

__ADS_1


"Eh," Ara terkejut, ketika ia merasa lengannya di tepuk lembut dari.... pria pujaannya.


Ia menoleh, "Ada apa oppa.?" Tanya Ara bingung.


"Ada apa denganmu Ara, dari tadi aku panggil kau tidak menjawab." Jawab pria itu bingung.


Ara terkekeh, malu. "Hehe, aku melamun tadi Oppa." Jelas Ara


"Mau jalan-jalan.?" Tawar pria tampan pujaannya.


Ara mengerenyitkan dahinya, "Bolehkah? bukankah belum selesai prosesinya." Tanya Ara polos. Ia kan tidak tahu lebih jelas prosesi ini. Karena dari yang selama ini ia tontonkan hanya beberapa bagian saja, sedangkan ini full dari awal tanpa jeda.


Putera mahkota mengangguk, "Ayo." Pria itu bangkit setelah membisikkan sesuatu ke sisi Ratu. Lalu melirik Ara dan mengisyaratkan hal sama.


"Opaa, tunggu!!" Ara nyaris berteriak. Dan banyak telinga di sana tertegun dengan kata yang keluar dari bibir gadis bertabir itu.


OPPA? apa itu?


Ara bergegas nyaris berlari hingga suara Ratu menginterupsinya.


"Puteri, hati-hati, jangan berlari.!" Panggil Ratu setengah berteriak.


Ok, Ara lupa. Pelan-pelan kan? baiklah, Ara tahu kok. Ia melangkahkan kakinya pelan, menyeret hanbok yang menyulitkan geraknya.


Sungguh, ia bersumpah, lain waktu, akan ia sulap kain tebal yang membalut tubuhnya ini menjadi lebih simpel dan modis tentunya. Lihat saja, saat ini Ara hanya tengah mengumpulkan keberanian dan kenekadannya saja untuk melakukannya. Hehe.


"Puteri Hwa.!" Panggil Putera mahkota pelan ketika mereka sudah berada di salah satu danau di selatan istana.


Ara mendongakkan kepalanya melihat putera mahkota yang memanggilnya, eh memanggil adik si putera mahkota maksudnya.


"Iya, Yang Mulia" Jawab Ara lembut. Melangkah lebih dekat lagi.


"Ada apa Yang Mulia Putera Mahkota.?" Tanya Ara setelah dekat dengan si pemanggil tadi.


"Kau ingatkan apa yang aku bilang waktu itu?" Tanya putera mahkota mengingatkan Ara.


Tentu saja gadis itu, menggeleng. Demi Tuhan, ayolah, banyak sekali yang harus di ingatnya, komposisi penyimpanan ingatan Ara nyaris penuh.


"Kau lupa? hahahah" Pria itu bukannya marah, ia justeru tertawa.


Bukankah aneh? harusnya kan datar macem tripleks kek..


"Kau, kau, aku suka perubahanmu Puteri." Masih menyisakan tawanya, pria itu berucap.

__ADS_1


"Maksudnya, putera mahkota?" Cicit Ara tak paham.


Putera mahkota menatap jauh ke depan, menghirup oksigen sebanyak-banyaknya. Lalu.. "Kau adalah adikku yang cerdas, puteri kebanggaan kerajaan ini. Tapi, kau tiba-tiba berubah setelah keceriaanmu lenyap. Tapi, sekarang, kau kembali lagi. Walau dengan beberapa kepribadian yang juga berubah dan tak biasa." Jelas putera mahkota.


"Kenapa aku berubah, Oppa?" Ara menanyakan keanehannya.


Jelas ia menangkap satu misteri lagi si pemilik tubuh ini. Ceria, lalu berubah suram?


Menggelengkan kepalanya, Putera mahkota menatap Ara teduh dan sedih.. "Hanya kau yang tahu puteri Hwa, kami tidak tahu apa yang menyebabkan dirimu berubah, wajahmu rusak dan keberanianmi mengakhiri hidupmu yang berharga itu." Ucap putera mahkota.


Ara mendengarkan, memilah bagian yang penting menurutnya.


Mengenai kisah si gadis buruk rupa ini.


"Oppa" Panggil Ara kemudian.


Mengambil jeda nafas, Ara mencoba memberanikan dirinya bertanya... "Apakah, kau tidak pernah mendengar jika ada yang berniat mencelakaiku?"


Putera mahkota melihat Ara dengan alis terangkat, "Maksudmu, apa kau menyangka ini adalah perbuatan orang lain?" Putera mahkota malah balik bertanya bukannya menjawab pertanyaan Ara.


Ara mengangguk, Ia menggigiti kukunya, berpikir keras. "Siapa tahu begitu kan? Karena dari apa yang aku tonton, pasti ada dalang dari insiden yang terjadi kan?" Ara berlagak detektif, wajah sok seriusnya menambah kesan, wahhh sukses sekali drama yang ditontonnya itu hingga memberikan referensi untuknya.


"Wac-e, wac-e apa katamu tadi?" Putera mahkota kembali bingung, bicara apa adiknya kali ini.


Ara pun tak kalah malunya, meringis menutup bibirnya lagi.


Dia lupa. Menepuk dahinya pelan.


"Menonton, Oppa." Lugas Ara memberi pengertian, menggunakan kata tonton sesuai pemahaman orang jaman ini.


"Oo, itu. Lalu maksudmu dengan dalang tadi. Kenapa bisa berpikir seperti itu. Dan dari mana kau menonton katamu tadi.?" Tanya pria itu, jelas ia menangkap maksud menonton adalah pertunjukkan langsung yang dilakukan orang-orang layaknya seniman, bukan melalui benda bernama televisi atau ponsel yang menayangkan acara.


"ehmm, itu, itu..." Ara bingung, bagaimana ia menjelaskan maksud tontonan tadi tanpa memberikan arti yang absurd bagi pria itu yang berbeda era.


"Ah sudahlah, lupakan soal dari mana, pastinya aku melihat dari tempat yang kau belum tahu itu." Ara mencoba keluar dari pembahasan sulit itu.


"Baiklah." Sahut pria tampan di hadapannya.


"Oh, ya, Oppa. Bagaimana, apakah kau tidak melihat keanehan kataku tadi, misalnya kejadian yang membuatku terancam." Ara memulai interogasinya kembali.


Putera mahkota berpikir sejenak, diam. Menopang dagungnya dengan satu tangannya.


Lalu, menoleh pada Ara.

__ADS_1


Menatap serius, sehingga gadis itu mengerenyitkan dahinya, menunggu antusias jawaban yang jelas pasti ada dari bibir pria itu.


"Ada... Kalau tidak salah..."


__ADS_2