
"Enghhhh." puteri Hwa menggeliatkan tubuh Ara yang tanpa di sadarinya kini semua tindak tanduknya menjadi pusat perhatian seorang gadis bermata tajam.
Hana
Ya, kini ia tengah menyipitkan matanya pada sosok yang sudah terjengkang di ranjang Queen Size-nya.
"Woy, bangun, bangun,." Hana mengeluarkan suaranya. Namun yang di panggil tetap tak menyahut.
"Lucu tau gak prul, Lo gak mungkin semabok ini deh. Kuatan lO deh daripada gue." sungut Hana gemas
Hana masih tak habis pikir dengan tingkah sahabatnya yang masih menggeliat tak jelas.
Jelas saja Hana yakin akan kebiasaan Ara.
Kan dari mereka bocil ingusan sudah kerap bersama.
Dan untuk urusan mabok, Ara jauh lebih strong daripada Hana.
Ia ingin menuntut penjelasan pada gadis itu. Atas kejadian di club tadi.
Pertemuan antara mereka dengan pria idaman Ara.
Ara adalah tipikal perempuan yang sangat ramah. Tak heran jika dirinya digandrungi banyak makhluk dari yang berwujud sampai yang tidak berwujud.
Para pria sudah sangat mengenal gadis yang tengah mabuk ini, sebagai sosok pemberi harapan pada kaum mereka.
Dan tadi.....
Flasback on....
"Ara?"
Sebuah suara menghampiri telinga yang masih sadar. Meski Puteri Hwa tengah tak sadarkam diri. Tapi telinga yang ia pinjam dari Ara, setipis tisu suara yang ia tangkap di sekitarnya.
Termasuk, suara pria yang tak dikenalnya sama sekalli.
"Ck, satu lagi yang memanggilku dengan sebutan ARA. Ara lagi, Ara lagi." gerutu puteri Hwa di sela wajah itu menelusup sempurna pada dada bidang tuan Kim.
"Hah? Apa katanya tadi, Hana?" Hoon melempar tanya herannya akan ucapan tak jelas yang baru dikeluarkan si gadis pertama kali mabuk itu.
Hana hanya meringis kala mendengar kalimat tanya itu.
Ia pun bingung.
Hingga Hana hanya mampu mengendikkan bahunya saja.
"Lalu, dia......" Hoon menoleh pada sosok yang masih erat di dekap tubuh Ara.
__ADS_1
Tidakkah begitu sangat nyaman hingga Ara tak mau melepas pria itu.
"Apakah kau......" Lagi, Hoon menatap tuan Kim jeli.
Ia sangat mengenal sosok itu. Tapi.... Ia hanya perlu mengkonfirmasi status pria itu terhadap Ara.
Karena bagi yang tahu dengan kepribadian Ara. Sungguh sangat aneh melihat pemandangan ini.
Mabuk, dan memeluk pria lain dengan sahabatnya yang tak risih sama sekali.
"Apakah kalian sudah......"
"Iya, tuan Kim mengenal kami, Oppa Hoon. Karena dirinyalah yang telah menolong Ara ketika kejadian itu." Hana menceritakan alasan keberadaan tuan Kim di sana.
"Oooh begitu." sahut Hoon seraya menganggukkan kepalanya menatap pria rupawan yang namanya sudah terkenal seantero korea ini.
"Saya Hoon." Hoon mengulurkan tangannya mencoba memperkenalkan dirinya pada tuan Kim.
"Baiklah, saya Kim." Tuan Kim meraih telapak tangan Hoon, namun aksinya malah membuat Puteri Hwa semakin mengeratkan dekapannya pada tubuh tuan Kim.
Memantik raut tak suka dari Hoon.
Sementara Hana hanya menggelengkan kepalanya. Malu.
"Kalian sudah mau pulang?" tanya Hoon melirik arah mereka bertiga yang jelas menuju arah yang berlawanan dengannya.
"Sangat tidak biasa sekali, bukan? Mengenàl Ara yang selalu pulang pagi, sekarang....." Hoon menatap heran sekaligus melirik jam tangannya yang masih awal jika seorang Ara orangnya.
"Kau sedari tadi terus bertanya... Apakah kami sudah bisa lewat untuk pulang, tuan?" tanya tuan Kim tiba-tiba. Ia cukup merasa lucu dengan pria yang berdiri menghalangi jalan mereka.
"Ooh maaf." Hoon menggeser kakinya, mempersilahkan ketiga orang itu untuk lewat.
Tapi....
"Tidak mungkinkan jika kau ikut pulang bersama gadis itu?" tanya Hoon saat mereka sudah melangkah
"Apakah ada masalah denganmu, Tuan Hoon?" Tuan Kim berbalik sekilas, mempertanyakan maksud ucapan Hoon barusan.
"Aku akan ikut mengantar kalau begitu." tanpa disangka, sambutan Hoon atas lemparan tanya tuan Kim malah membuat pria itu malah ingin mengikuti mereka.
"Oppa mau kemana?" Hana ikut menimpali maksud Hoon tadi.
"Ikut mengantar Ara pulang." sahut Hoon santai.
"Huh?" Celetuk Hana tertegun.
Kenapa pula pria idamana Ara mau ikut pulang, terus naek apa? Gak mungkin kan...
__ADS_1
.........
Benar apa yang mustahil menurut Hana tadi... Karena pria yang bernama Hoon itu, sudah ikut menumpang dalam kendaraan pribadi tuan Kim.
Namun posisi pria itu duduk di depan setelah sebelumnya merengek memaksa duduk di sebelah Ara. Tapi yang diinginkan malah menendang pria itu dan memilih pria lain. Yaitu tuan Kim.
Pun begitu pula ketika sudah tiba di gedung apartemen milik Ara.
Hoon kembali bertingkah. Membuat Hana tak henti berpikir keras, pria dingin yang dewasa dan selalu menjaga image cool-nya, kini berulah bak anak kecil memperebutkan permennya.
Kenapa dengan oppa Hoon?
"Kenapa dia tau dengan apartemen Ara, Hana? Apakah dia...." Hoon mempertanyakan tuan Kim yang tak perlu mendapatkan petunjuk alamat rumah Ara. Mungkin ia bisa tahù dengan letak apartemen gadis itu, tapi untuk letak lantai beserta nomornya, bukankah berlebihan? Ia saja tak diberi tahu oleh gadis ini.
Apakah Ara menjalin kasih dengan tuan Kim diam-diam? Dan hanya memberikan harapan juga padanya?
Ia bukann tidak tahu dengan tingkah dan perhatian Ara padanya. Namun, ia perlu meyakini kebenaran hal itu.
Jangan sampai ia menjadi korban mengerikan dari perasaan terhadap Ara.
"Tuan Kim pernah mengantar Ara waktu pulang dari ruma sakit, oppa Hoon." jawab Hana pelan.
"Kenapa kau tidak memanggilku saja, Hana? Malah..." Selalu, Hoon merasa bahwa keberadaan pria itu kenapa khusus sekali sih?
"Tuan Kim merasa bertanggung jawab memantau kondisi Ara, oppa Hoon." jelas Hana
"Bertanggung jawab? bukankah katamu pria ini hanya menemukan? Kenapa dia yang malah bertanggung jawab?" Hoon merasa aneh.
"Saya perlu tahu saja, tidak masalah kan?" sambit tuan Kim di sela obrolan.
"Ssstt, sudah sudah. Hari sudah malam. Jadi, mungkin baik tuan Kim dan oppa Hoon bisa kembali lagi keesokan hari saja ya." cerocos Hana memperingatkan.
Meski mereka tidak akan diributkan tetangga, tapi, jiwa perawan mereka tentu mengantisipasi atas kehadiran pria di tempat tinggal mereka, terlebih waktu sudah menunjukkan larut malam, dan suasana sepi.
"Tapi aku mau melihat Ara dulu sebelm pulang." Hoon berdiri dan berniat melihat Ara dulu.
"Ehhh, tak perlu oppa. Kau pulang saja, karena Ara sedang tidak dalam kondisi baik-baik saja jika mabuk." tolak Hana akan niat Hoon barusan.
Karena,..... Jika Ara mabuk, maka, tingkahnya amburadul. pasti orang yang menemukan Ara tengah berada pada kondisi seperti itu, tentu mereka akan syok. Terlebih fans dan para pria yang menyukainýa.
Pasti kaget warbiasyahhh.
"Ayo kita pulang." Tuan Kim menarik Hoon menuju pintu keluar. Bersama-bersama pulang.
"Heii tunggu, heii kenapa narik tangan gue woyy." Hoon mencoba berontak dari cekalan tangan tuan Kim yang membawanya ke pintu keluar.
Menyisakan Hana yang bersiap mempertanyakan aksi gila sahabatnya seharian ini.....
__ADS_1