100 Hari Menjadi Puteri Joseon

100 Hari Menjadi Puteri Joseon
Ara battle Puteri Ara session 2


__ADS_3

Ara, yang sadar ini hanya sebuah gertakan. Jika jujur, tentu ia sedikit kalang kabut. Mendapati boneka buruk rupa dengan ciri khas mistis dan sihir itu, siapa coba yang tak takut?


Meski awalnya Ara ada rasa khawatir dirinya terkena sihir, tapi, setelah menunggu semalaman sejak ditemukannya boneka pertama, ia tak kunjung dihampiri sihir.


Bukan maksudnya menanti ya, hanya memastikan saja.


Dan setelah ia menemukan boneka kedua di dalam bak pemandian, yang semula ia ingin berteriak marah karena prasangka konyolnya terhadap pelayan yang belum membuang benda jelek itu ia urungkan... Kala ia melihat perbedaan keduanya.


Ara, yang tengah menatap boneka jelek di jepitan telunjuk dan ibu jarinya tersenyum miring.


Ia tak akan gentar dengan gertak sambal modelan gini.


Memangnya dia bocah cilik alias bocil yang akan merengek pulang dengan ancaman receh begini? Heh, nowey yeh.


"Mau Anda apa kan boneka sihir itu, Yang Mulia?" tanua Dayang Han yang sedari tadi menjadi penonton setia terhadap tingkah majikannya yang kerap berubah ekspresi dengan boneka voodo di genggamannya.


"Diberikan pada bagian dapur." Jawab Ara tanpa menatap dayang Han sama sekali.


"Dapur?" Celetuk dayang Han dengan wajah bingung pastinya.


"Ho-oh, mau gue minta pada bagian masak buat rebus boneka ini, lalu dijadikan sup." Jelas Ara dengan bibir dikerucutkan.


Kembali, dayang Han memberi tatapan penuh rasa tanya, "Lalu, mau Anda makan, Yang Mulia?" tanyanya lagi.


Ara, menatap dayang Han dengan senyum atau seringai di bibirnya dan menambah gelengan kepala, "Tidak,. Kata siapa aku yang akan memakannya." Bantah Ara dengan wajah jahilnya.


"Lalu? Untuk apa di masak Yang Mulia?" Lanjut pelayan itu bertanya, lagi.


"Karena kau yang akan memakannya, Han-ah, hahahahhahaaaha." Jawab Ara menyelingi dengan tawa lepasnya.


Membuat wajah dayang Han kini diselimuti horor yang kental sekali.


"Aku, bercanda, Han-ah, aku bercanda. Hahahhaha." lagi, tawa lengking Ara menguasai ruangan itu. Hingga membuat para dayang sampai penjaga di luar kediaman saling bertanya satu sama lain melalui bahasa isyarat akan kejadian apa yang membuat suara itu kian keras.


"Ahh sudah sudah, aku capek tawa mulu lah." Ujar Ara mengelus perut yang sedikit sakit karena banyaknya tawa yang keluar.


"Sudah, Han-ah. Hentikan ekspresi wajahmu itu. Kau mau aku tertawa lagi, huh?" lagi, Ara berujar sembari mengkritik ekspresi cemberut yang menghiasi wajah dayang manis di depannya.


"Anda, suka bercanda rupanya, Yang Mulia." Ucap dayang Han pelan namun disertai bibir yang dikerucutkan.

__ADS_1


"Ayolah, Han-ah. Kau pikir aku sekaku mereka, apa?" Sambar Ara gemas. Enak saja bilang dia sama dengan penghuni istana yang kakunya minta ampun itu, memang benar dengan menjaga etika kebangsawanan, tapi untuk tertawa dan bercanda? Itu tidak akan menurunkan harga diri, bukan?


"Ayo, kita pergi jalan-jalan." Ara beranjak setelah itu. Bersiap keluar.


"Kemana Yang Mulia?" Dayang Han pun ikut beringsut berdiri mengiringi langkah puteri Hwa.


"Ke tempat puteri H-w-a." Jawab Ara mengeja penuh penekanan di akhir kalimatnya.


******


Dan kini....


Di sinilah, Ara dan puteri Ara bersama.


Berpelukan..


Oh tidak


Bukan itu.


Tapi..


Saling melempar pandangan satu sama lainnya.


Terus aja lomba saling menatap.


"Puteri, apa perlu menghidangkan sesuatu." Seorang pelayan mendekat pada puteri Ara, menghentikab aksa tatap cinta itu.


Mengerenyit heran, Ara menangkap jelas bisik-bisik tetangga itu.


Paan coba?? Memangnya dia siapa???? pakek nanya perlu hidangan apa gak, memang dia bukan tamu terhormat apa?? Orang bapaknya yang punya ini tempat. Tapi, itu kan buapaknya puteri Hwa, dan ini adeknya raja loh.


"Kenapa, bibi. Apa aku tidak perlu mendapatkan hidangan di sini?" Tanya Ara menatap puteri Ara berikut dayang yang berada di sisinya puteri Ara.


Menoleh tajam, puteri Ara menjawab ketus, "Siapa maksudmu? apa puteri menginginkan hidangan di sini?" Tanya balik puteri Ara.


Wahhh, Ara gemas ini.


"Jadi, bukankah kalian tadi sempat merundingkan sesuatu, seolah...." Jawab Ara menjeda.

__ADS_1


Menatap manik milik puteri Ara. Menekannya di sana.


"Seolah sebelumnya kehadiranku di sini harus melalui banyak pertimbangan, termasuk mendapat hidangan atau tidak, boleh masuk atau tidak, mungkin juga dihormati atau tidak." Cerocos Ara santai namun penuh syarat tajam di dalamnya.


Mendelik, mendapati penjelasan itu. Puteri Ara menjawab, "Kau sungguh berburuk sangka, puteri Ara. Mungkin karena terlalu lama kau terkurung di kamar itu. Menjadikanmu sukar mempercayai siapapun." ujar puteri Ara dengan nada dalam yang Ara yakin itu seperti... Menyindir?


Terkekeh. " Kau, perhatian sekali puteri." Jawab Ara menutup mulut dengan jemarinya menahan kekehannya.


"Sepertinya semua aktifitas yang aku lakukan, kau pun juga tahu sepertinya." Lanjut Ara menatap puteri Ara.


"Termasuk juga ikut menikmati semua drama orang-orang yang ingin membunuhku." Lagi Ara berucap tanpa melepas netranya pada manik milik puteri Ara. Dan itu tak sia-sia. Karena Ara menangkap gerak bola mata yang jelas itu merupakan ekspresi terkejut.


"Atau mungkin, kau tahu siapa mereka, atau mungkin juga jika pun benar kau termasuk salah satu dari mereka." Ara menutup pembicaraannya, setelah merasa berhasil menangkap tujuannya datang ke kediaman angker ini.


Lo kata doi jin apa?


Berdiri, membenahi pakaiannya.


"Ah, sudahlah, beruntung sekali aku mendengar rundingan kalian tentang hidangan untukku. Jadi, aku menolaknya saja, jadi kalian tak perlu berdebat untuk memberiku atau tidak." Ara tanpa berpamitan, langsung membalikkan tubuhnya dan melengos begitu saja menuju pintu untuk keluar. Pergi ke tempat yang bisa ngasih dia jamuan.


Heh, awas aja lo dateng tempat puteri Hwa. Kagak boleh masuk lo ntar, catet ya!!!


Sementara puteri Ara yang melihat kepergian itu, langsung berdiri.


" Kau, bukan aku pelaku atau bagian mereka, dan aku..... Aku... Aku tak tahu siapa mereka, aku tak tahu." Puteri Ara membantah cepat tudingan yang dilayangkan Ara padanya tadi.


Ara tanpa membalikkan tubuhnya namun menghentikan langkah, menjawab, "Oh, ya? termasuk kejadian kemarin?" tanya Ara.


"Iya. Aku tak tahu siapa yang mengirimimu boneka itu." Jawab puteri Ara lagi.


Namun detik berikutnya, perempuan baya jelmaan puteri itu, langsung menutup mulutnya dengan tangan setelah menyadari.


"Hah." ucapnya tersadar.


Namun terlambat. Ara pun tahu akan tindakan itu.


Terkekeh lagi, "Bibi, bibi. Kau, ceroboh sekali. Kau tentu tahu jelas, jika tak ada yang tahu kejadian itu. Dan kau tahu sangat jelas meski duduk manis di ruangan ini." Ucap Ara mendapat hasil pancingannya.


"Bibi, jaga-jagalah diri baik-baik." ujar Ara kembali.

__ADS_1


"Kau harusnya bersyukur bisa menikmati hidup diistana ini karena kebaikan raja dan permaisuri. Harusnya hidup menumpang di tempat yang bukan lingkunganmu lagi, membuatmu pandai berterima kasih dengan tidak memusuhi anak yang memiliki tempat. Kau, dengan anak-anakmu, yang harusnya sudah tinggal di luar istana, terkadang lupa diri. Menganggap kalian adalah pemilik, padahal hanya menumpang." Pungkas Ara pada kalimatnya, meninggalkan ruangan itu dengan puteri Ara terbelalak tak percaya.


"Puteri Hwa!!!!!!!!" Pekiknya dari dalam.


__ADS_2