
Ara yang beberapa hari ini mendadak merasakan tubuhnya sehat dan bugar dan dipindahkan ke ruang inap biasa tentu saja merasakan antusias luar biasa. Meskipun harus dibantu dengan peralatan jalan seperti kursi roda atau tongkat, tak apa. Penting si bar bar mah bebas.
Selepas Hana yang pamit untuk berangkat kerja Ara tinggal sendiri di ruangannya, bengong gak jelas, melirik sekitar jendela terus saja memindai hal sekitarnya yang bisa diharapkan akan mengalahkan rasa bosan yang tak ketulungan ini. Heheh.
Ya, walaupun jawabannya sudah jelas sekali.
Bahkan sangat jelas terlihat dari raut wajah Ara yang berlipat semakin banyak. Hela nafasnya turut menambah dramatis rasa frustasinya.
Okeh, Ara sudah mencoba bersabar. Kalian semua tahu kan. Ia sudah mengusahakan sangat sabar. Dan kini batas atau limit sabar itu sudah semakin menipis di kisaran 10% yang artinya, hayolah... Ara siap untuk beranjak dari ruang pesakitan ini.
Matanya kembali mengedarkan sekeliling ruang yang di dominasi warna merah muda bercampur putih itu.
Dan, dapat. Benda yang akan mengantarkan Ara untuk sedikit menghirup udara di luar ruang ini.
Tongkat.
Berada tak jauh dari posisi ranjangnya. Ya, kira-kira Ara harus jalan pincang, atau merambat pada meja atau meraih kursi atau merangkak sajalah, yang penting ia bisa meraih benda itu.
Dan pada usaha kerasnya yang sungguh keras dan melelahkan. Ia berhasil. Meraih tongkat dan menopangnya pada dua sisi ketiak tangannya.
Syukur Ya Tuhan. Thank You So Much again.
Berusaha mengumpulkan tenaga dan nekadnya. Gadis yang meskipun terbangun dari koma dengan tubuh yang banyak lebam serta luka itu secara umumnya memang belum mampu untuk banyak bergerak. Tapi dokter pun heran dan menyatakan bahwa Ara meraih keajaiban dalam kesembuhannya yang cukup pesat itu.
Dan kini, setelah menegakkan tubuhnya, memposisikan agar nyaman. Ara pelan, mengatur caranya dalam melangkah, mana bagian tubuhnya yang terasa kuat dan mana yang terasa lemah. Okeh, Ara merasa ia harus banyak bergantung pada sisi tubuhnya yang sebelah kanan.
Dan, perlahan kakinya mulai ià langkahkan. Meskipun terasa terseok-seok. Tak mengapa, toh pelan saja kan lai.
"Makasih Tuhan, gue janji deh bakalan jadi anak baek sudah ini. Gak bakalan deh mainin anak orang lagi." Ucapnya di sela langkah kakinya meninggalkan ruangannya setelah lolos menutup pintu geser tadi.
Senyumnya kerap mengembang, demi Tuhan!! Itu muka jelas banget demennya deh. Kayak orang baru lepas dari penjara deh nie orang.
Sepanjang langkahnya menyusuri koridor rumah sakit, Ara tentu dengan pribadinya yang humble itu kerap menyapa siapa saja yang ia temui, bahkan dengan royalnya menebar senyum menawannya.
"Pagi..." sapa Ara lembut
"Hai, saya Ara. Yang di ruang itu." Tunjuknya mengarah ke ruangannya
"Nyonya, bagaimana kabar anda." Sapanya lagi pada pasien yang berusia sekitaran 50an tahun
"Wah perawat rajin sekali." Puji Ara pada perawat yang membawa baki obat
"Duh dokter makin tampan deh." Pujinya pada dokter yang berpapasan denganya. Dan jangan lupakan senyumnya ya.
__ADS_1
Begitulah segelintir sapaan sok ramah Ara.
Tapi, Hei!!! Ara memang ramah kok, kagak percayaan banget deh ih.
Setelah beberapa saat, Ara berhasil meraih lift yang mengantarkannya pada atap rumah sakit. Ya rumah sakit ini tidak seperti kebanyakan yang hanya menggantungkan cara meraih atap gedung dengan tangga, rumah sakit ini tentu menginginkan semua pasien yang modelan kayak Ara juga bisa melihat pemandangan dari atap gedung dengan lift.
Akhirnya,,, menghela nafas lega. Gadis itu pelan melangkahkan kakinya, melihat sekeliling atap rumah sakit yang dirancang sedemikian sehingga siapapun yang berada di sini akan merasakan kenyamanan dan juga kesegaran.
Bagaimana tidak, jika pihak rumah sakit mendesain atau gedung dengan taman yang banyak bertebaran bunga, sudut yang ada kolam kecil berisi tumbuhan air yang kini bermekaran cantik. Serta ada gazebo untuk yang menghalau terik mentari jika ingin berlama-lama di sini.
Ara melirik kursi yang ada di sisi kirinya, dekat dengan pagar pembatas yang dibangun dengan tambahan seperti kawat berlubang-lubang. Sepertinya pihak rumah sakit ingin mengantisipasi drama para pasien yang berniat mengakhiri hidupnya dengan terlebih dulu membuat pagar beton ditambah kerang-kerang kawat tadi.
Jadi, siapapun tetap aman berada di atap tanpa ada drama tragis di sana.
"Hahh, akhirnya. Bisa nyaman duduk di sini." Ujar Ara sembari menaruh bokongnya tepat di atas bangku kayu dengan beberapa bantal di belakangnya.
"Kalo gini kan gue berasa sehat, kagak melulu diem mendem di dalam ruang bau obat itu." Gerutunya lagi.
Kini, Ara menyelipkan tangannya pada saku kirinya.
Kresek kresek
Bunyi plastik terdengar dari dalam sakunya.
Dan..
"Si Hana tau banget apa yang gue mau dan suka." Ucap Ara tersenyum dengan tangan membuka bungkusan berisi manisan kesemek yang....
"Hhmmm manis, banget malahan. Ih Hana beneran makin jago deh beliin camilan kesukaan gue." Puji Ara akan camilan yang dibeli sahabatnya.
Mengunyah dengan penuh senyum, Ara tak sadar ada sosok yang melangkah mengarah padanya.
"Hallo, Ara." Sapa sosok yang kini sudah menempatkan bokongnya di kursi, tepat bersebelahan dengan Ara.
Deg!!!
Ara yang baru akan memejamkan matanya untuk menikmati rasa camilannya, dikagetkan oleh suara yang ia kenal.
Menoleh,,,
Kan, benar
Puteri Hwa?
__ADS_1
"Ka-ka-kau???" Ucap Ara membulatkan mata dan tak lupa mulutnya membuka lebar saking terkejutnya akan kehadiran sosok perempuan yang ia yakini harusnya hanya berupa omong kosong saat komanya saja.
Tapi. Oh s---t!!
ini beneran?? Jadi, yang dialami Ara??
Menggeleng, ia pasti berhalusinasi karena kerap memikirkan berulang kali tentang puteri imajinasi konyolnya ini.
"Ara?? Apa kau sudah melupakan ku, huh? Sedih sekali rasanya." ujar puteri Hwa dengan wajahnya yang sangat jelas menampakkan kesedihan itu.
Ara kembali menggeleng, menepuk dahinya agar berusaha sadar akan daya imajinasinya yang liar dan terasa nyata ini.
"Kau hanya imajinasiku saja. Sana, pergi!!!" hardik Ara tak tahan akan kehadiran sosok itu.
Tapi, puteri Hwa tersenyum miris melihat Ara yang menolak kehadirannya.
Hingga.
"Sana!!! Jangan sentuh aku!!!" Kata Ara yang kini sudah berdiri menjauh dari jangkauan tangan puteri Hwa yang hendak meraihnya.
Ara bergegas ingin kembali ke ruangannya. Sepertinya ini karena otaknya belum bekerja sehat, jadi sedikiy kegilaan memang pasti Ara rasakan saat ini.
Melihat sosok imajinasi sialan itu.
Sepanjang langkahnya, tak urung ia sesekali melirik ke belakang, dan
Kosong
Kursi yang di tempati sosok puteri Hwa tadi sudah kosong.
kan, benar. Ini hanya imajinasi bodohnya saja.
Akan tetapi,
"Ara". Sosok yang tadi dihindarinya kini sudah muncul di balik tubuhnya hingga nyaris membuat gadis itu terjengkal ke belakang.
"Sana!!!" Usirnya, Ara mengambil langkah cepat. Namun sayang, ia memiliki ingatan bahwa untuk sampai sini biasanya melalui tangga. Dan ia mengambil jalan itu dan melupakan keberadaan lift yang ia gunakan sebelumnya.
"Ara tunggu!!" teriak puteri Hwa dari belakang yang tak digubris Ara. Hingga, naas....
"Arrgghhhh!!!!" Ara yang belum stabil dalam melangkah jatuh tersungkur di setiap anak tangga, hingga membentur dinding di anak tangga akhir.
Daran mengucur dari balik kepalanya, merembes di lantai yang menjadi penopang tubuhnya.
__ADS_1
"Ara, kau harus ingat ini......." Sayup-sayup Ara mendengar suara puteri Hwa yang sudah duduk di sebelahnya, tapi sayang... Ara tak mampu mendengar kelanjutan potongan kalimat yang belum lengkap itu, hingga matanya tertutup sempurna, menyisakan keheningan seketika.
Tubuhnya yang kembali diam tak bergerak, menunggu siapapun yang akan menyelamatkannya kali ini.