
Riuh istana sampai ke dalam dinding bangunan milik puteri Hwa.
Di saat si kang kontrak tengah merobek gulungan kertas menjadi ukuran yang lebih kecil lagi menyerupai sticky note.
Dayang Han, yang beberapa kali memperhatikan kegiatan itu namun masih tak paham, untuk apa puteri Hwa melakukan demikian tanpa menggoreskan apapun di atas lembaran tadi. Malahan, ia melihat kelanjutan yang cukup membuat keningnya berkerut dalam. Ketika, puteri Hwa malah menjepit kertas-kertas kecil itu dengan jepitan rambutnya.
Heh,??
Tanya woyy kalo kepoww!!!!
"Itu, ribut-ribut apa sih, Han-ah?" Tanya Ara tanpa mengangkat pandangannya dari kegiatan robek merobek kertas di atas meja.
"Pemilihan puteri mahkota lagi, puteri Hwa." Jawab dayang Han yang tentu masih melekatkan matanya pada majikannya.
"Oo, session 2 ya." Gumam Ara menyahut pelan, namun masih bisa tertangkap indera pendengaran dayang Han.
"Sse-se apa, Yang Mulia?" Tanyanya kemudian.
Mendengkus pelan disertai kekehan, "Eihh kau ini, tajam kali telingamu itu, Han-ah." Sindir Ara.
Menatap dayang Han, "S-e-ss-i-o-n, Session, itu bagian atau lanjutan." Begitu jawabnya yang tak urung membuat otak dayang Han segera menyimpan kosakata itu dalam disk otaknya.
Mengangguk paham, dan selesai menyimpan. Dayang Han.
"Apa Anda tidak mau melihat mereka, yang Mulia"?" Tanya dayang Han yang mendapat anggukkan dari Ara yang kembali fokus menyusun kumpulan kertas yang sudah dijepit rapi.
"Saya dengar, puteri Menteri Kim ikut serta kali ini dalam pemilihan, Yang Mulia." Lanjut Dayang Han.
Puteri menteri Kim? Siapa pulak itu. Penting kalik Ara mau kepoww, heh!.
Tak merespon. Tetap lanjut menata hasil kerjanya.
"Bukankah, Anda pernah bersiteru dengannya, puteri??" kembali si dayang labil itu melempar tanya yang Ara tak tahu, kan bukan dia kala itu yang mengenal si puteri menteri Kim, kan masa' bodo kali.
"Lalu kenapa??" Ara gemas, ini dayang kenapa dan apa seh tujuannya.
"Anda kan sudah kembali cantik, jadi, mari kita tunjukkan, Yang Mulia." Oooo ini maksud dayang labil ini sedari tadi mengucapkan kata yang penuh ambigu ini. Tujuannya, buat pamer penampilan pada orang yang pernah bersiteru dengan majikannya.
"Malas." respon Ara singkat. Menopang dagu dengan jalinan dua tangannya. Ara boring pemirsaahhh!!!.
"Tapi, Yang Mulia!!" Dayang Han seolah tak rela.
Mendecih, "Kau kenapa sih, Han-ah, semangat sekali untuk membuatku menemui puteri menteri Kim itu." Ara meskipun tahu tujuannya, tapi ia tak paham sampai segitu semangatnya dayang itu agar bertemu dengan dirinya.
"Anda, anda tak ingat, Yang Mulia?" Tanya dayang Han pelan menatap manik bening milik puteri Hwa yang juga menatapnya balik.
"Paan. Soal bersiteru dengannya?? Aku malas membahas masa lalu." jawab Ara santai. Dia mah mana ingetlah.
"Bukan itu saja, Yang Mulia. Tapi, soal ejekkannya pada Anda, termasuk penawarannya kala itu." Jelas dayang Han.
Menarik kepala tegak, Ara menatap dayang yang tak jelas ini.
__ADS_1
"Ejekkan? Penawaran?" ulang gadis itu.
Dayang Han mengangguk.
'Ok, gue lupa nawarin apa doi, tapi, soal ejekkan? Okeh, gue bakal nunjukkin secantik apa kita sekarang puteri Hwa.' Batin Ara.
"Ambilkan perlengkapan berhiasku, Han-ah." Perintah Ara tegas.
Sementara yang disuruh, bingung.
"Ihh. Kau ini, kan tadi kau bilang dia pernah mengejekku, kan? Sekarang mari tunjukkan betapa cantiknya gue." Jelas Ara gemas kali.
"Ooo. Baik tuan puteri." ia bergegas mengambil perlengkapan berhias milik puteri Hwa.
Dan membutuhkan waktu 1 jam-an. Ya kali, kan bahan make up-nya harus diolah sendiri, jadi kudu lebih lama.
Finished!!!
"Bagaimana? Aku sangat cantik, bukan?" Tanya Ara berdiri angkuh dihadapan dayang muda yang selesai merapikan pakaian puteri Hwa yang baru dikenakan.
"Sangat, puteri Hwa." Setuju dayang Han dengan senyum sumringahnya.
"Aku akan membuat mereka berpikir aku yang menjadi puteri mahkotanya, hihihi. Awas aja putera mahkota kepincut sama gue." Gumam Ara bangga membayangkan.
"Hah? Apa Yang Mulia?" Tanya dayang Han yang menangkap puzzle kata-kata sayup-sayup tak jelas itu.
Mengibaskan tangannya. "Ah udahlah, ntar Lo bakalan nanya lagi artinya paan. Gue lagi males buka jasa terjemah." Jelas Ara menambah gurat bingung karena Ara semakin banyak menggunakan kosakata aneh di pendengarannya.
Tapi, tanya milik dayang Han hanya mampu tertelan kembali, karena si pembuat bingung itu sudah melangkahkan kakinya menuju pintu geser.
"I-iya Yang Mulia." sahut dayang Han.
Ara, yang sudah merasa memparipurnakan penampilannya semakin tersulut semangat ketika banyak pasang mata yang menaruh rasa pesona padanya. Atau lebih tepatnya pada puteri Hwa.
Kelean pikir dengan wujud aslinya mereka bakalan berpaling??? Heiii, Ara itu ratu pesona juga, jika tidak mana mungkin orang-orang akan mengikutinya, netijen yang follow akunnya saja sudah menembus angka 2 juta loh. Belum lagi cowok-cowok yang kerap mengintilinya.
What, apa itu mengintil??
Dan di sinilah, si tengil Ara berada. Di depan bangunan yang katanya menjadi tempat para calon puteri mahkota mengikuti seleksi.
'Tapi, yang mana sih orangnya.?' Ara membatin, mengedarkan pandangannya pada beberapa gadis cantik yang bersilewaran.
Hingga.
"Ekhem." suara lembut namun anggun itu menyapa gendang telinga puteri Hwa.
Menoleh,.. Siapa sih??
"Ya." Sahut Ara.
"Kau??? Puteri Hwa??" tanya gadis tadi yang segera diangguki Ara.
__ADS_1
"Wahh. Kau cantik sekali." Puji gadis itu segera meraih tangan puteri Hwa.
'Ini siapa sih?' batinnya menoleh pada dayang Han mencari pertolongan.
"Kau, kenapa, Hwa-ya.?" Tanya gadis itu lagi, terlihat bingung tak mendapati respon dari yang ditanya.
"Apa benar, kau puteri Hwa?" Satu suara lagi ikut menengahi kali ini. Namun dari nadanya, jelas sekali tersirat keangkuhan di sana.
Ara pun menoleh.
Cantik, lebih cantik dari yang berada di hadapannya. Namun tak ada tanda ramah dari wajah itu.
Apa ini, puteri menteri Kim yang kata dayang Han tadi??
"Ya, aku puteri Hwa. Ada apa?" Tanya Ara balik.
Terkikik namun, itu kok kayak mengejek sih.
"Benar sekali rupanya gosip murahan yang aku dengar." Ucapnya menutup bibir dengan sebagian telapak tangannya.
"Gosip murahan?" Ara membeo.
"Ya, aku tak menyangka, kau mampu juga mengubah wajah buruk rupamu itu seketika. Hihihi." Lagi, ia terkekeh geli.
Ara tak suka dengan sikap gadis ini!!!
"Bagaimana dengan, tawaranku waktu itu, Puteri Ara?" lanjut puteri menteri Kim.
"Apakah menarik. Hihihi." Kenapa ini cewek hobi banget terkekeh sih. Ara gemas deh mau narik bibirnya lalu memutar 370 derajat biar dower.
Ara tak paham maksudnya, tapi Ara menangkap ada hal buruk di dalam ucapannya.
Mendekat, gadis itu melangkah mengikis jarak dengan puteri Hwa.
"Apakah, pangeran itu..... Bukankah kau menyukainya? Hihihihi.... Aku yakin, pria itu hadiah terindah dari kami,,, iya kan Put..." Ucapannya terpotong manakala suara berat menghampiri mereka.
"Ekhem."....
Menoleh. Segera menjaga sikap.
Dua gadis yang berada di hadapan Ara ini.
ieeuuwwwwhhhhh.... Pencitraan kalian semua!!!!!!
Lah, Lo gimana Ara? Perasaan sama aja deh ikutan jaga sikap.
Ketika pria itu, sang pujaan ikut nimbrung.
"Ada apa, puteri Hwa?" Tanya pria itu menghampirinya, mengabaikan dua gadis bangsawan yang berusaha menjaga debar jantung mereka karena berada dalam radius tipis dengan putera mahkota.
"Bukan apa-apa, oppa." Jawab Ara lembut.
__ADS_1
Namun tidak dengan otak serta hatinya. Ia jelas mengartikan ucapan puteri menteri Kim itu menyiratkan hal tak baik pastinya. Namun,,, apa maksudnya? pangeran? Pangeran apa dan siapa? calon suami puteri Hwa maksudnya?? Bukankah kata mereka puteri Hwa bahagia dengan pria dari kerajaan seberang itu?
Lalu, ini???