100 Hari Menjadi Puteri Joseon

100 Hari Menjadi Puteri Joseon
Rengekan tiga puteri Labil


__ADS_3

Dan lihat saja ekspresi ke lima orang yang ada di dalam ruangan itu, minus Ara pastinya.


Puteri Ara berikut ketiga puterinya yaitu puteri Mi, Puteri Yi dan puteri Hwi dan juga dayang Im mengedipkan mata mereka beberapa kali, menanggapi ucapan yang dilontarkan si pemilik yang kini tengah sibuk menarik bungkusan itu lebih mendekat ke tubuhnya.


Bewww takut banget di keroyok yak.


"kau bicara apa sih, puteri Hwa? Kata-katamu sering sekali aneh." ujar puteri Mi, si lidah paling tajam dan sinis diantara dua saudaranya yang lain.


"Betul itu." tambah puteri Yi dan puteri Hwi menyetujui.


"ittt...."


"Baiklah puteri Hwa, kau boleh kembali ke bangunanmu, nanti biar aku yang akan mengunjungi mu nanti." sela puteri Ara.


"Eh.??!" cetus Ara heran, apa dirinya diusir?


"Antarkan puteri Hwa keluar, dayang Im." perintah puteri Ara pada dayangnya yang bersiap bangkit berdiri.


Ara tentu belum mau pulang, ia masih mau senang-senang di sini.


Titik


"Eh ibu, kenapa kau mengusir puteri Hwa pulang,.?" tanya puteri Yi disertai nada penasaran.


Pun puteri Mi dan puteri Hwi kini memutar tubuhnya menghadap puteri Ara dengan wajah di tekuk manja.


"Iya. Ibu. Kenapa puteri Hwa malah di suruh pulang.?" tambah puteri Mi tak terima.


"Urusannya sudah selesai, jadi puteri Hwa baiknya pulang saja. Bukan begitu puteri Hwa?" jawab puteri Ara sembari bertanya pada Ara yang memelotokan mata puteri Hwa.


'Wahhhh beneran di usir gue ya?' batin Ara mendengus.


Ia masih memaku tubuh puteri Hwa di bantalan tempat duduk.


"Mari Yang Mulia puteri Hwa." panggil dayang Im tegas.


Semakin membuat Ara tertegun.


'Gue belum kelarrr keles.' sungut Ara dalam hati.


Sretttt!!!!

__ADS_1


Semua menoleh pada asal suara.


Banyak kali yang bertamu ke bangunan puteri Ara sehhh!!


"Putera mahkota?" Itu suara puteri Yi.


Semuanya menoleh pada pria tampan yang membuka pintu geser itu sendiri.


Belum pada balik nih yang di suruh pada pegi oleh puteri Ara, sehingga semua tamunya dengan ikhlas hati membuka pintu itu sendiri.


"Oppa?" ucap Ara melihat pria itu datang.


"Oppa??!!" beo ketiga puteri labil itu.


"Ayo, kita pulang puteri Hwa." ajak putera mahkota melihat lurus kearah puteri Hwa.


'Wahh mesti balik beneran kalo kek gini, dah dijemput abang gue nie.' batin Ara lagi.


"Lihat. Kau sudah dijemput putera mahkota, bukan? Jadi,..." sela puteri Ara sengaja menggantung. Menegaskan lanjutannya yang tentu saja sudah pasti dipahami yang dituju.


"Iya. Baiklah bibi, aku akan pulang. Nanti aku akan kemari lagi." jawab Ara meneruskan maksud ucapan puteri Ara.


Ara akhirnya beringsut bangkit, setiap inci gerakannya menjadi sorotan ketiga puteri tadi. Mereka menatap tubuh itu dengan tatapan tak rela mereka... Hingga


"Iya. Kami akan mengunjungi mu saja hari ini." tambah puteri Yi yang diangguki puteri Hwi yang sama-sama ikut berdiri.


"Heh, apa?" tanya Ara dengan raut wajah bingungnya.


"Ya. Kami akan ikut denganmu saja. Puteri Hwa." angguk puteri Yi.


"Buat apa? Bukannya kalian bermaksud mengunjungi ibu kalian?" tanya Ara heran.


"Ah, nanti saja, lain kali kami akan kemari lagi, bukan begitu puteri Hwi dan puteri Yi?" tambah puteri Mi menunjuk kedua saudaranya.


"Tapi buat apa?" tanya Ara lagi, jelas ia tahu pasti ada maksud terpendam ini.


" ya, buat membantumu membuat racikan ramuan tadi." jawab puteri Mi akan maksud dan tujuan mereka mengikuti puteri Hwa.


"Ya, lihat saja. Semakin hari, dirimu semakin cantik, wajahmu bersih dan malahan semakin bersinar." jelas puteri Mi


"Iya, tubuhmu juga sangat harum." lanjut puteri Mi sembari mengendus tubuh puteri Hwa.

__ADS_1


Ya kali bener banget itu.


Jelas saja Ara memanjakan tubuh sang puteri dengan sangat baik sekali. Selain ia ingin menambah keriuhan seisi istana yang dirasakannya seolah mencibir penampilan buruk rupa si puteri yang kini telah kembali cantik kembali, ia juga ingin menambah deru gejolak amarah musuh-musuh si puteri yang menjadi alasan kenapa muka cantik ini bisa rusak sedemikian rupa.


padahal merunut jalan cerita dari dayang Han, puteri Hwa sudah mulus dari sononya sampai geng apel itu merusak wajah rupawan itu bak kena skincare abal-abal.


Maka dari itu, dengan kemampuan dirinya yang begitu paham akan dunia kecantikan. Berdasarkan ingatannya yang sering melihat tutorial bahkan narasumber baik google dan mulut-mulut para ahli kecantikan.


Jadilah. Ara mencoba memproduksi sendiri. Cie eileh, produksi euyyy.


Iya, Ara membuat sendiri racikan untuk kecantikan tubuh puteri Hwa, dengan bahan-bahan berkualitas pastinya.


Bagaimana tidak berkualitas, wong di dapet di dalam lingkungan istana. dengan dirinya yang berwujud seorang puteri raja, tentu saja bahan-bahan utama kelas VVVVVVVVVVVIP itu bisa di dapatnya dengan sangat mudah.


Bayangkan jika di dunianya. Untuk produk kecantikan yang biasa saja dan kelas premium dirinya harus merogoh kocek dalam, apalagi yang ala-ala bangsawan, tentu sudah jelas harus lebih merogoh kocek sangat dalam.


Dan, dengan keahlian dirinya sebagai beauty influecer itu. Meracik beberapa bahan seperti ini tentu saja sangat mudah. Apalagi dirinya sudah tahu alasan wajah puteri ini rusak porak poranda.


Karena alergi disertai bahan lain yang pelan-pelan sudah semakin menunjukkan kesembuhan dengan ramuan yang ia racik.


"Kalian mau ikut? hanya karena itu?" tanya Ara dengan nada herannya. Dan tanya itu diangguki cepat oleh sepupu puteri Hwa.


Ara menoleh pada yang punya anak-anak tengil ini. Puteri Ara, berharap jika emaknya itu menahan ketiga puterinya agar tidak mengintilinya pulang.


Bisa rieweh nanti, berasa jadi babysitter ntar dirinya.


Waktu membantu merias saja sudah menyita emosinya, apalagi jika mereka ikut dalam aksi meracik adonan make up, pasti berhamburan semua perlengkapan di sana.


"Kalian tetap di sini." seolah mengerti arah pandangan puteri Hwa kepadanya. Puteri Ara mencoba menahan agar puteri Mi, puteri Yi dan puteri Hwi tetap di tempat mereka masing-masing.


Tapi...


"Hwaaaaaaaaaa, ibuu, kau tega sekali pada kami." rengek ketiga orang labil ini.


Ara tertegun.


"Oalah!!!" ceplosnya tak kuasa melihat ekspresi lebay ketiga makhluk yang berwujud bangsawan ini.


'Ini di dalam sejarah. Kecatet gak sih nama-nama mereka bertiga, kok bisa puteri Ara mempunya anak-anak riweh kayak mereka.' batin Ara gemas.


"Iya. Kalian tetap di sini, aku tidak membutuhkan bantuan kalian dalam pekerjaanku." tambah Ara menahan tiga labil itu.

__ADS_1


Dan,.... Semakin deras dan lebaylah rengekan itu.


Oh Godddddd


__ADS_2