4 Tahun Setelah Berpisah.

4 Tahun Setelah Berpisah.
Kecelakaan 7 Tahun Yang Lalu, Penyebab Sarah Membenci Seno


__ADS_3

Selamat, membaca šŸ¤—


šŸāœØāœØāœØšŸ


"Sayang! apa kau mengenal Wisnu?"tanya Seno kembali.


"Tentu aku mengenalnya, Mas Wisnu adalah papanya Dino."


"Apa!" Seno bingung sekaligus terkejut mendengar jawaban dari Rana.


"Papahnya Dino? lalu, Mas Bima?"


"Aku memang belum pernah menceritakan ini kepadamu Mas, karena aku rasa semua sudah berjalan seperti yang kami harapkan. Dan Kak Sarah pun sudah melupakan semuanya, tapi aku sangat terkejut, mendengar, kalau Kak Sarah kembali menyebut nama Mas Wisnu kepadamu,"Rana menghela nafas panjang, lalu melanjutkan kata-katanya,"Sebenarnya, Mas Bima bukanlah Papah kandung dari Dino. Karena Papah kandung Dino sesungguhnya adalah Mas Wisnu, tapi Dino tidak mengetahui itu karena saat itu dia masih seorang bayi yang baru saja dilahirkan."Jelas Rana.


Seno semakin dibuat terkejut, dia sungguh tidak tahu akan kenyataan ini, yang dia tahu adalah. Dino anak dari Bima dan Sarah, tapi kenapa Sarah menyebut nama Wisnu ketika ia meluapkan alasan kebenciannya kepada Seno.


"Lalu, dimana lelaki yang bernama Wisnu itu?"tanya Seno penasaran, karena dia harus tahu apa yang sebenarnya terjadi sampai Sarah membencinya atas alasan Pria yang bernama Wisnu.


Rana memasang wajah sedih, sepertinya ia enggan untuk menceritakannya, karena cerita Wisnu salah satu tragedi buruk yang menimpa keluarganya.


"Mas Wisnu, meninggal dunia 7 tahun yang lalu. Tepat di hari di mana Dino dilahirkan, dan Mas Bima adalah Kakak dari Mas Wisnu sendiri."


DEG!


Hati Seno semakin tidak karuan karena terkejut.


"Meninggal!"Seno mengulangi kata itu dengan nada suara yang bergetar, entah kenapa tubuhnya tiba-tiba merasa kaku, dan rasa takut pun mulai memasuki hatinya.


"Iya Mas, Almarhum Mas Wisnu. Papah kandung Dino sekaligus suami dari Kak Sarah sudah meninggal dunia 7 tahun yang lalu, tapi kenapa Kak Sarah menyebut nama itu padamu, kau tidak mengenali Mas Wisnu kan?"tanya Rana.


"Tidak, aku tidak pernah mengenal atau berteman dengan seseorang yang bernama Wisnu."


"Tapi kenapa Kak Sarah membencimu dengan alasan Mas Wisnu."


Seno menggeleng, tapi dia sudah bisa merasakan jika ada sesuatu yang memang mengaitkan dirinya.


"Sayang, apa penyebab Wisnu meninggal?"tanya Seno sambil menatap Rana dengan perasaan yang sungguh tidak bisa dijelaskan dengan kata-kata.


"Mas Wisnu, meninggal dalam sebuah tragedi kecelakaan di Jalan Bukit Kencan, Kota XXX 7 tahun yang lalu, kecelakaan yang melibatkan antara Bus yang membawa rombongan anak sekolah dan sebuah mobil pribadi, dan di dalam mobil itulah, Mas Wisnu dan Kak Sarah berada. Mereka tengah menuju Kota setelah berlibur ke Rumah Ibu, dan dari kecelakaan itulah Mas Wisnu tidak terselamatkan karena mobil yang dikendarainya terjun ke dasar jurang, sementara Kak Sarah yang Tengah hamil 9 bulan berhasil diselamatkan."


DEG!


"Kecelakaan di Jalan Bukit Kencan!"seketika ingatan Seno berkelana ke-7 tahun silam. Di saat dia dan Timnya sedang melakukan penyelamatan pada satu Bus yang membawa rombongan anak sekolah yang sedang melakukan perjalanan Study Tour menuju kota XXX.


"Iya, kau pasti mengingat kecelakaan itu kan Mas? karena pada saat itu semua media memberitakan tentang kejadian naas itu, dan semua media berita membanggakan kinerja Tim penyelamat yang berhasil mengevakuasi seluruh anak Sekolah yang berada di dalam Bus tersebut, padahal Bus itu hampir saja terjun ke jurang jika tidak segera diselamatkan. Tapi naas, di antara banyaknya nyawa yang terselamatkan di sana. Ada satu orang yang harus menjadi korban, dan dia adalah Mas Wisnu, suami Kak Sarah."


Seno melemah ia merasakan sesak di dada ketika mendengar cerita dari Rana.


"Mas, ada apa?"tanya Rana yang melihat wajah pucat Seno.


Seno meraih tangan Rana lalu ia menatap mata istrinya itu dengan lekat.


"Rana, akulah salah satu dari Tim penyelamat yang ada di sana,"ujar Seno dengan suara pelan dan penuh penyesalan.

__ADS_1


Rana hanya mengangguk, karena Rana pikir tidak ada yang aneh jika Seno berada di lokasi kejadian, karena memang Seno bekerja di Tim penyelamat. Tapi yang membuat Rana heran kenapa Sarah jadi membenci Seno atas kejadian itu, dan melihat dari wajah Seno pun, Rana merasakan ada sesuatu yang aneh lelaki itu seperti merasa sedih dan sangat bersalah.


"Ada apa Mas, kecelakaan itu musibah, dan jika pada saat itu kamu salah satu dari Tim penyelamat itu hal yang wajar, karena itu memang sudah menjadi tugas kan,"ujar Rana, tapi dia juga sudah mulai merasakan ada cerita lain dari kecelakaan 7 tahun yang lalu.


Seno tertunduk. Dan dengan penuh rasa bersalah dia pun menceritakan kejadian 7 tahun silam.


(Flash Back)


*


*


"Cepat! Berkumpul."Teriak seorang pria dengan suara yang menggema di sebuah Kantor SAR, dia adalah ketua Tim pada saat itu dan Seno salah satu anggota Timnya.


Dengan sigap semua yang ada di kantor SAR pun berkumpul.


"Ada kecelakaan di Jalan Bukit kencana, kecelakaan melibatkan 1 bus sekolah dan sebuah mobil. Tim Damkar dan polisi sudah terlebih dahulu menuju lokasi, kita di minta untuk membuat evakuasi karena sebagian dari petugas Damkar di Kota ini sedang bertugas memadamkan api di apartemen CAHAYA yang terbakar, kita harus bergegas menuju lokasi untuk membantu evakuasi para korban yang mayoritas anak di bawah umur, yang berada di dalam Bus tersebut , yang diperkirakan berjumlah 60 orang."Jelas ketua Tim.


"Baik Pak, kami siap melaksanakan tugas."


Sahut mereka secara bersamaan, dan dengan cepat. Ketua Tim mengarahkan anggotanya untuk menuju ke lokasi dengan beberapa alat yang mereka butuhkan.


****


Sampai di lokasi.


Dan di sana sudah ada petugas Damkar yang di bantu beberapa warga melakukan Evakuasi yang sungguh sangat pelik, karena Bus sudah berada di bibir jurang, jika mereka salah bergerak dan bertindak sedikit saja, Bus yang membawa puluhan orang itu akan terjun bebas ke dasar jurang.


Di depan Bus ada sebuah mobil pribadi berwarna hitam, dengan kondisi yang sudah rusak parah, dan mobil itu menjadi penghalang Bus tidak langsung terjun ke jurang.


Secara perlahan, dan penuh kehati-hatian. Mereka membantu mengeluarkan satu persatu anak-anak yang berada di Bus tersebut dengan mengarahkan mereka untuk berjalan di bagian belakang Bus, agar posisi Bus tidak condong ke depan yang tentu saja akan lebih membuat Bus kehilangan keseimbangan dan jatuh ke Jurang.


"Cepat! pasang pengaman apapun agar Bus tetap berada di posisi aman, paling tidak sampai kita mengeluarkan seluruh korban yang ada di dalam."Titah ketua Tim kepada Seno dan ke-empat temannya.


Dengan sigap, Seno berlari menuju bagian depan mobil yang posisinya sudah sangat tidak aman, dan di sana Seno melihat mobil berwarna hitam dengan kondisi yang rusak parah, mobil tersebut terjepit antara pohon besar dan Bus. Tapi jika tidak ada mobil hitam itu, sudah sejak tadi Bus terjun ke jurang.


"Apa pengendara di mobil itu sudah dievakuasi?"tanya Seno kepada petugas Damkar yang memang sudah lebih dulu tiba.


"Belum, ketua mengarahkan, untuk memprioritaskan anak-anak yang berada di dalam Bus. Dan juga, melihat dari kondisi mobil, sepertinya pengendara yang ada di mobil itu sudah tidak bisa diselamatkan,"sahut petugas tersebut dan dia. Kembali bergegas melakukan tugasnya.


"Seno! cepat pasang tali ini di bagian depan Bus. Lakukan dengan cepat dan jangan ada kesalahan, kita tidak memiliki waktu banyak karena keseimbangan Bus semakin tidak stabil."Teriak salah satu temannya sambil melemparkan tali besar ke arah Seno.


Seno mengangguk, seraya menangkap tali yang dilemparkan rekannya dan dia kembali mendekat ke bagian depan Bus.


Ketika Seno tengah melakukan pekerjaannya, samar-samar dia mendengar suara rintihan dan suara rintihan itu berasal dari mobil hitam yang berada di sana.


Seno menghentikan sejenak pekerjaannya untuk memeriksa apakah benar suara rintihan yang ia dengar berasal dari mobil tersebut.


Walaupun tidak begitu jelas, tapi Seno bisa melihat jika ada dua orang di mobil hitam itu, dengan kondisi yang terluka parah dengan darah yang mengalir dari kepala. Namun Seno bisa melihat pergerakan dari kedua orang itu, salah satunya adalah seorang wanita yang merintih kesakitan dan meminta tolong. Seno tidak bisa melihat wajah wanita itu karena seluruh wajahnya tertutupi darah yang mengalir.


Seno yang baru beberapa bulan menjadi anggota Tim penyelamat, tentu merasakan takut dan terkejut melihat kondisi yang sebenarnya baru pertama kali dia lihat.


"Dia masih hidup!"gumam Seno, dan dengan cepat, ia ingin bertindak mengeluarkan dua orang yang ada di mobil hitam tersebut.

__ADS_1


"Seno! apa yang kau lakukan di sana? apa kau sudah memasang talinya?"teriak ketua Timnya.


"Belum Pak, tapi korban yang berada di mobil itu masih hidup, kita harus segera mengeluarkan mereka terlebih dahulu."Sahut Seno yang juga berteriak.


Ketua Timnya terkejut mendengar jika pengendara mobil masih hidup, karena sebelumnya dia mendapatkan laporan jika pengendara mobil tersebut sudah tidak bisa diselamatkan, oleh karena itu mereka lebih memprioritaskan untuk mengevakuasi korban yang berada di Bus yang masih dalam keadaan hidup.


"Seno! jangan gegabah, jangan bergerak dan melakukan apapun, tetaplah di tempatmu, jika kau mengambil tindakan sendiri mobil itu akan terjun ke jurang, dan bukan cuma korban yang berada di dalam mobil itu yang tidak akan selamat tapi anak-anak yang masih berada di Bus pun ikut tidak terselamatkan,"teriak ketua memperingatkan Seno yang sudah akan bergerak ingin mengeluarkan korban yang berada di mobil hitam.


Seno terdiam sejenak.


"Astaga! aku hampir saja melakukan kesalahan fatal,"gumam Seno yang merasa dirinya telah gegabah karena mengambilkan tindakan sendiri, akibat refleks mendengar wanita yang merintih di dalam mobil.


"Lalu, apa yang harus kita lakukan Pak?"


"Tunggu instruksi dari saya, saya akan memanggil beberapa petugas lainnya untuk membantumu mengeluarkan korban di dalam mobil itu, tapi tetap membuat aman posisi Bus ini. Dan sekarang lebih baik cepat kau pasang tali itu."


Seno mengangguk. Dan dengan perasaan gelisah Seno melakukan kembali pekerjaannya.


"Toloooog.... Tolooong... tolong istri saya...."


Suara rintihan yang pilu dan begitu menyayat hati kembali terdengar di telinga Seno, namun dia tetap bertahan untuk tidak menghampiri mobil itu, sesuai instruksi dari ketuanya Timnya, karena itu pun akan semakin membahayakan untuk semua.


Tiga teman Seno datang begitu juga dengan ketua timnya.


"Apa benar pengendara mobil ini masih hidup?"tanya salah satu rekannya.


"Benar aku mendengarnya meminta tolong."Sahut Seno.


"Baiklah, aku akan memeriksanya,"ujar senior Seno dan secara perlahan, serta pengaman yang sudah ia pasang di tubuhnya, senior itu menghampiri mobil hitam tersebut.


Sementara beberapa Tim penyelamat lainnya menahan tali yang sudah dikaitkan di Bus agar tetap berada di posisi semula.


Dan sebagian di Tim lainnya pun masih membantu anak-anak keluar dari dalam Bus, karena mereka melakukan evakuasi secara perlahan dan perlu hati-hati, membuat proses evakuasi membutuhkan waktu yang sangat lama.


Seno dan kedua teman nya, yang bertugas menahan tali yang diikatkan pada seniornya, dibuat terkejut ketika sang senior yang tengah memeriksa korban di dalam mobil melapor pada ketua.


"Ketua, kedua korban benar masih hidup dan salah satu korban adalah seorang perempuan dia juga tengah hamil besar."


"Apa!"sang ketua pun terkejut, lantas Ia pun meminta salah satu timnya untuk memanggil tim medis.


"Seno, cepat bantu Rian mengeluarkan korban di sana prioritaskan wanita hamil itu, dan jangan lupa pakai pengaman mu."Titah ketua.


"Baik Pak!"


Bersambung...


šŸāœØāœØāœØāœØšŸ


Terima kasih sudah berkunjung ke cerita ini šŸ™


Mohon dukungannya šŸ¤—


Tolong koreksi jika ada Kesalahan dalam tulisan ini šŸ™

__ADS_1


Lope banyak-banyak untuk semuanya ā¤ļøā¤ļøā¤ļø


__ADS_2