4 Tahun Setelah Berpisah.

4 Tahun Setelah Berpisah.
Ucapan Mayang Yang Sangat Menyakitkan.


__ADS_3

Selamat, Membaca šŸ¤—


āœØšŸāœØšŸāœØšŸāœØ


"Saya bingung harus memulainya dari mana, karena sebenarnya saya juga terpaksa datang dan mengatakan ini pada Anda, tapi apa boleh buat. Saya melakukan ini semua demi Putra semata wayang saya, Anda sebagai orang tua, Saya yakin Anda akan mengerti dengan perkataan saya ini. Tidak! Ini bukan sekedar perkataan tapi anggaplah ini sebuah permintaan dari orang tua yang sudah mengandung, melahirkan dan membesarkan anaknya. Yang tentu saja menginginkan hidup anaknya bahagia."Ujar Mayang.


Padahal dia sendiri yang mengatakan tidak ingin bertele-tele, tapi nyatanya, dia memerlukan beberapa patah kata hanya untuk mengatakan inti dari semuanya.


Kartika masih berdiri di tempat sambil mendengarkan ucapan Mayang. Tapi, tentu saja wanita paruh baya ini sudah merasakan sesuatu yang janggal. Hatinya mulai tidak enak begitu juga dengan perasaannya.


"Ada apa Bu, Siapa yang datang?"Ridwan yang mendengar suara dari luar memutuskan untuk keluar, karena dia juga penasaran dengan tamu yang datang ke rumahnya.


Mayang memiringkan wajahnya untuk melihat Ridwan yang muncul dari belakang Kartika. Lalu dia mengulas senyum sambil memperkenalkan diri. Setelah Ridwan berdiri tepat di sebelah Kartika, menghadapnya.


"Senang bertemu dengan Anda nyonya Mayang Sari, saya Ridwan. Ayah Rana."Ucap Ridwan yang juga memperkenalkan diri dengan sangat ramah.


"Sepertinya momen ini sangat tepat karena kedua orang tua Rana ada, dan bisa mendengarkan keinginan saya secara langsung."


"Keinginan apa maksud Anda?"tanya Ridwan yang masih belum menyadari jika kedatangan Mayang merupakan sesuatu yang buruk.


"Pak Ridwan dan Bu Kartika. Saya tidak tahu bagaimana cara Anda mendidik Putri Anda yang bernama Rana itu, sehingga dia bisa tidak tahu malu berbuat yang sangat tidak pantas."


Ridwan yang memang kondisinya sedang tidak sehat akhir-akhir ini merasakan sakit di dadanya ketika mendengar ucapan Mayang yang bagaikan samurai.


"Apa Maksud Anda?"tanya Kartika dengan suara bergetar.


Mayang tidak perduli dengan perubahan wajah orang tua Rana yang terlihat marah bercampur sedih, dengan angkuh dia melipat kedua tangan di dada lalu kembali berkata.


"Rana, wanita itu sudah pernah menikah kan. Saya pikir dia seorang janda tapi ternyata dia masih berstatus istri orang, tapi kenapa dia dengan berani dan tidak tahu malu mendekati Vir, putra saya dari keluarga yang terhormat. Apa kalian tidak mengajarkan putri kalian agar dia sadar dengan statusnya sebagai istri orang hingga dia tidak mendekati lelaki lain. Apa justru ini yang Anda ajarkan kepada putri Anda itu, agar mendapatkan pria kaya raya. Tapi dia rela meninggalkan suaminya dan...!"


"CUKUP! Jangan Anda lanjutkan kata-kata tidak pantas itu. Dan jangan pernah Anda menyebut nama anak saya dengan mulut Anda yang kotor itu!"Bentak Kartika. Yang Tentu saja tidak terima dengan Mayang yang merendahkan Putri bungsunya.


Mendengar bentakan Kartika yang cukup menyakitkan di telinganya, Mayang melepaskan lipatan tangan hingga kini berganti posisi menjadi bertolak pinggang.


"Pantas saja gadis itu tidak mempunyai sopan santun kepada orang yang lebih tua darinya, ternyata seperti ini orang tuanya. Memang, buah jatuh tidak jauh dari pohonnya."


"CUKUP! Nyonya Mayang dari keluarga yang terhormat. Jika Anda datang ke sini hanya untuk menghina keluarga saya terutama putri saya, lebih baik Anda pergi tinggalkan rumah saya. Saya tidak menerima tamu seperti Anda."Usir Ridwan.


"Saya akan pergi karena saya juga tidak mau berlama-lama di sini. Tapi ingatlah kata-kata saya untuk bilang kepada Rana jauhi Vir. Jangan pernah mendekatinya apalagi meminta anak saya untuk menikahinya karena itu tidak akan pernah terjadi sekalipun hanya dalam mimpi anak kalian. Memangnya kalian pikir di zaman seperti ini dongeng Cinderella masih berlaku, seorang gadis dari keluarga biasa menikah dengan pangeran kaya raya."


"Seharusnya saya yang meminta pada Anda, untuk mengatakan kepada Vir, agar tidak pernah lagi mendekati Rana dan berharap kepada putri saya. Karena pada kenyataannya. Putra Andalah yang selama ini mendekati putri saya."


"Memangnya, kalian pikir saya akan percaya dengan dongeng kalian ini? Saya tidak mau tahu katakan kepada anak kalian untuk tidak pernah lagi mendekati dan merayu Vir."


Kartika yang benar-benar sudah ada di batas kesabaran ingin kembali melawan Mayang namun Ridwan menahan lengannya. Ridwan seperti merasakan sakit di dada.

__ADS_1


"Cukup Bu, kita tidak akan pernah menang jika beradu mulut dengan orang seperti dia."Kata Ridwan berbisik di telinga istrinya.


Kartika menghela nafas beberapa kali, hingga dia mampu mengendalikan emosi untuk tidak melawan Mayang dengan kata-kata yang tentu saja akan kembali dibalas oleh Mayang.


"Jika Anda sudah puas, silakan Anda pergi dari rumah saya. Kita lihat saja siapa sebenarnya yang mengejar dan merayu, Rana atau Vir."Kata Kartika dengan nada suara yang sudah stabil.


Mayang tersenyum meledek.


"Tentu saja saya belum puas, tapi saya juga tidak mau berlama-lama di sini. Ingatlah baik-baik semua perkataan saya hari ini. Saya permisi."Ujar Mayang. Dan dia langsung melenggang pergi dari sana.


Selepas kepergian Mayang, Kartika lunglai. Dia menyandarkan tubuhnya di pintu karena tidak kuat menahan sakit di hatinya, karena ada orang yang terang-terangan menghina dan merendahkan putrinya. Kartika mengusap air mata yang tiba-tiba mengalir dari kedua bola matanya. Dia sendiri tidak tahu sejak kapan bulir itu menetes.


"Sabar Bu, kita yang tahu seperti apa Rana. Dan yang pasti, semua yang dikatakan orang tua Vir, tentul tidak benar."Ridwan memeluk istrinya, mencoba untuk menguatkan dan menenangkannya. Padahal hatinya sendiri pun tengah merasakan sakit dan hancur karena kata-kata Mayang beberapa menit yang lalu.


Kartika, menuntun Ridwan untuk kembali ke kamarnya. Karena pria itu memang dalam kondisi sakit dan harus banyak beristirahat.


Beberapa menit kemudian.


Sara dan Bima baru saja kembali, ternyata kedua orang ini tidak ada di rumah di saat Mayang datang. Begitu juga dengan Rana serta Aurel yang tengah keluar untuk membeli sesuatu hingga di rumah itu hanya ada Kartika Ridwan dan kedua cucunya.


"Dino, kenapa kamu berdiri di kamar nenek?"


tanya Sarah ketika ia melihat Putra sulungnya tengah berdiri mengintip di sela pintu kamar nenek dan kakeknya.


"Tidak apa-apa mah."Sahut Dino.


Sarah membuka sedikit pintu kamar orang tuanya dan ia mendapati kedua orang tua itu tengah berbaring di atas ranjang, Sarah kira Kartika dan Ridwan tengah beristirahat karena merasa lelah. Hingga dia pun kembali menutup pintu kamar Kartika.


**


Di saat yang bersamaan.


Rana dan Aurel pun pulang, ketika baru sampai di depan rumah Rana melihat Dino yang tengah termenung duduk di teras, rupanya anak ini tidak kembali ke dalam kamarnya, dia justru memilih untuk duduk di luar.


"Dino, kenapa ada di sini? Ini sudah malam. Masuklah, cuaca di luar dingin nanti Dino bisa sakit."Ujar Rana.


Bukannya menjawab pertanyaan Rana, Dino malah mengusap pipinya.


"Dino, kamu menangis?"tanya Rana yang menyadari anak itu mengusap pipi karena menghapus air mata.


Dino menggeleng.


"Jangan berbohong kepada tante kamu pasti habis menangis kan? apa mama memarahimu?"tanya Rana yang kini posisinya sudah duduk di sebelah Dino.


"Tidak!"jawab Dino sambil sesegukan karena dia tidak tahan menahan tangis.

__ADS_1


Rana memeluk Dino.


"Katakana pada tante ada apa, kenapa kamu menangis seperti ini? Apa kau merasa sakit? atau ada sesuatu yang mengganggu?"


"Nenek, Tante."Sahut Dino. Yang masih berada dalam pelukan Rana.


"Nenek? Ada apa dengan nenek?"


"Tadi ada orang datang ke sini, orang itu memarahi Nenek dan Kakek, sampai Nenek menangis."


Rana menguraikan pelukannya, lalu ia menatap Dino, dengan intens dan meminta agar anak itu mengatakan lebih jelas kepada dirinya.


***


Di tempat lain.


Seno dan Dika tengah berdebat. Kedua lelaki ini saling menyalahkan karena tiba-tiba ban mobil yang ditumpangi mereka pecah di tengah jalan.


"Ini semua karenamu, aku bilang kau jangan ikut, Ban mobilku jadi pecah seperti ini."Ujar Seno yang terlebih dahulu menyalahkan Dika.


"Ban mobil mau pecah tidak ada hubungannya denganku, memangnya kamu pikir aku ini seberat gajah hingga membuat ban mobilmu pecah? Kamu yang salah memilih jalan Seno, ini jalanan rusak pantas saja jika ban mobilmu pecah."Dika yang tidak terima karena disalahkan.


Seno mengacak-ngacak rambutnya karena kesal.


"Lalu bagaimana? tidak ada bengkel di sekitar sini. Kita bisa tengah malam sampai di tempat tujuan jika seperti ini."


"Sudah tahu di sekitar sini tidak ada bengkel, kenapa kamu masih bertanya bagaimana? tentu saja kita harus menjadi montir dadakan untuk mengganti ban ini."Sahut Dika. sambil menggelengkan kepalanya.


Tidak ada pilihan lain, apa yang dikatakan Dika benar. Mereka harus menjadi montir dadakan agar bisa kembali melanjutkan perjalanan.


"Kalau begitu cepat kau ambil ban cadangan."Titah Seno, dan ia segera mengeluarkan alat-alat pendukung lainnya.


"Sungguh banyak sekali rintangan dan cobaan menuju cinta sejati."Gumam Dika,"Tapi kenapa, aku yang harus merasakan imbas dari cobaan dan rintangan ini."Sambung Dika yang masih bergumam.


"Dika, kau jangan terlalu banyak mengeluh. Cepat ambil Ban serepnya. Apa kau mau kita masih berada di sini sampai tengah malam? bisa jadi kau akan langsung pindah alam."Kata Seno, yang masih merasa kesal dan dia lampiaskan kepada Dika.


Bersambung...


āœØšŸāœØšŸāœØšŸāœØ


Terima kasih sudah berkunjung ke cerita ini šŸ™


Mohon dukungannya šŸ¤—


Tolong koreksi jika ada keslahan dalam tulisan ini šŸ™

__ADS_1


Lope Banyak-banyak untuk semuanya ā¤ļøā¤ļøā¤ļø


__ADS_2