
Selamat! Membaca š¤
"Rana, akhirnya kau datang juga, apa kau tau! Keponakanmu ini sudah sejak tadi menanyakan kapan kau datang!"
Ujar Sarah yang menyambut kedatangan Kirana, adiknya.
"Maaf Kak, aku sedikit terlambat, karena ada beberapa hal yang harus aku kerjakan."
"Tidak apa Rana, kami tau kau sibuk dengan semua urusanmu,"sahut Bima, suami dari Sarah.
"Oya, bagaimana! apa kau akan melanjutkan kuliahmu yang tertunda?"
"Aku masih memikirkannya Kak."
"Kenapa kalian terus bercengkrama, apa kalian tidak lihat jika aku tengah menahan lapar,"ujar Aurel.
"Aah, maaf -maaf, kita sampai lupa jika ada Aurel di sini."
"Kak Sarah ini tega sekali!"keluh Aurel.
"Di mana Dino Kak?"Tanya Rana.
"Sebentar, aku panggilkan."
Bima bergegas masuk untuk memanggil anaknya yang tengah berulang tahun.
Dan di susul Aurel yang ikut masuk untuk mengisi perutnya yang keroncongan.
"Rana, kau tidak datang dengan Seno?"Tanya Sarah.
Deg!
Pertanyaan Sarah kembali mengingatkan Rana pada kesedihannya.
"Tidak Kak, Mas Seno ada latihan, jadi tidak bisa datang, tapi ia menitip salam pada Kak Sarah dan Mas Bima, ia juga menitipkan kado ulang tahun untuk Dino,"kata Kirana berbohong.
Karena sesungguhnya, Seno tidak menitipkan apapun untuk Sarah dan Bima, apalagi kado untuk Dino.
"Sampaikan rasa terima kasih Kakak pada Seno, kakak senang melihat rumah tangga kalian begitu harmonis dan tentram, semoga kalian bisa mempertahankan ke harmonis ini dan segera mendapatkan momongan."
Perkataan Sarah semakin menambah perih di hati Kirana, ia tidak tahu apakah bisa mempertahankan rumah tangga yang akhir-akhir terasa hambar dan dingin.
'Seandainya Kak Sarah tau apa yang terjadi dengan rumah tanggaku, dia pasti tidak akan bicara seperti ini.'Batin Kirana.
__ADS_1
ššš
"Seno, ini sudah Sore saatnya kita pulang dan beristirahat, apa kau tidak ingin pulang?"
Tanya Dika yang kembali mengganggu Seno.
"Jika kau ingin pulang, pulanglah."
"Aa, sepertinya kau sangat betah sekali di Pos, baiklah! Kalau begitu aku pulang dulu, karena aku sudah sangat merindukan orang-orang di rumah yang tengah menunggu kepulanganku."
Seno terdiam, mendengar kata-kata Dika, ia jadi teringat dengan Kirana yang selalu menunggu kepulangannya.
Tapi ia tidak seperti Dika yang sangat bersemangat ketika akan pulang, Seno justru merasa enggan dan malas untuk pulang, itu sebabnya ia lebih sering mengulur waktu lebih lama di Pos dari pada langsung pulang, ia akan pulang di malam hari dan langsung tertidur, itu semua Seno lakukan agar ia bisa menghindari Kirana.
Mengingat Kirana yang sedang tidak ada di rumah membuat Seno memutuskan untuk pulang di jam seharusnya.
Entah apa yang menyebabkan lelaki itu seakan Bosan dengan istrinya sendiri.
Saat itu, Seno yang Sudah berusia 32 tahun dipaksa segera menikah oleh kedua orang tuanya, namun saat itu kekasih Seno belum siap untuk menikah karena ingin mengejar karirnya terlebih dahulu.
Dan Seno pun menunggu kesiapan sang kekasih.
Namun ketika kakeknya yang sudah sangat tua meminta Seno untuk segera menikah lelaki itu tidak bisa menolak, bukan hanya meminta Seno untuk segera menikah tapi sang kakek juga sudah menyiapkan calon untuk cucu semata wayangnya itu. Ia adalah Kirana, gadis baik yang kakek Arif kenal di saat Kirana tengah magang di Rumah sakit sebagai seorang perawat, dan Kakek Arief pasien yang di rawat oleh Kirana.
Dengan kesiapan yang di paksa, Seno menikahi Kirana.
šššš
Seno membuka tudung saji yang ada di meja, ia melihat beberapa makanan tertata rapi di sana, meskipun Kirana tahu bahwa Seno sudah tidak pernah makan di rumah lagi tapi gadis itu masih saja memasak untuk suaminya.
"Maaf, Aku tidak mau memberikan harapan yang lebih jauh lagi padamu,"gumam Seno dan kembali menutup tudung saji.
Ia masuk ke dalam kamar dan membersihkan diri.
Ting!
Satu pesan masuk di ponsel Seno dan dia bergegas membukanya.
(Mas, apa kau sudah pulang! Jika tidak sibuk bisa tolong jemput aku di rumah Kak Sarah, aku pulang malam karena harus membantu Kak Sarah, dan Aurel pulang terlebih dahulu karena ada sesuatu yang harus ia kerjakan)
Itulah isi pesan yang ternyata dari Kirana.
Dengan menahan rasa, Seno membalas pesan istrinya.
__ADS_1
(Maaf Rana, masih ada beberapa hal yang harus aku kerjakan, aku tidak bisa menjemputmu)
(Tidak-tidak apa-apa Mas, aku bisa pulang sendiri, berhati-hatilah dalam bekerja)
Balasan Rana, dan Seno tidak berniat untuk kembali membalas, meskipun hanya untuk berkata Terima kasih atau Baik.
Baru Seno meletakkan ponselnya di atas meja, benda pipih itu kembali berbunyi.
(Sen, pak Bayu mengundang kita untuk makan bersama, sepertinya beliau menemukan hari keberuntungannya hingga mau mentraktir kita makan malam, kau harus datang ya, aku kirim lokasinya sekarang.)
Dan kali ini adalah pesan dari Dika.
Seno ingin menolak, tapi sang atasan tidak menerima penolakan itu, dan mau tidak mau Seno pun pergi ke undangan makan malam tersebut.
ššš
"Sebaiknya kau menginap saja Rana, ini sudah malam apa kau yakin akan pulang sendiri?"kata Sarah yang merasa khawatir dengan adiknya yang harus pulang sendiri di larut malam.
"Tidak apa Kak, aku pulang saja, kasihan Mas Seno jika sendirian di rumah."
"Baiklah! kalau begitu Mas bantu pesan taksi online, agar kau bisa segera sampai,"Sahut Bima.
"Terima kasih Mas Bima."
"Tidak perlu sungkan."
šššš
"Akhirnya! kau datang juga Sen,"seru Dika setelah melihat kehadiran Seno yang sebetulnya terlambat.
"Maafkan saya tidak tepat waktu Pak,"kata Seno pada pak Bayu ketua Timnya.
"Tidak apa-apa, bukan sepenuhnya salahmu, saya yang mengundangmu dengan mendadak! ayo duduklah, kita nikmati kebersamaan ini selagi masih ada waktu bersama."
Seno duduk, dan di sana ia terlibat perbincangan hangat dan candaan kecil. Pak Bayu, ketua Tim Seno ternyata mengajukan pensiun, ia ingin lebih dekat dan menghabiskan waktu bersama keluarga, di usianya yang sudah banyak.
Bersambung..
šššš
Terima kasih sudah berkunjung ke cerita ini š
Minta dukungannya ya š¤
__ADS_1
Tolong koreksi jika ada Kesalahan dalam tulisan ini š
Lope banyak-banyak untuk semuanya ā¤ļøā¤ļøā¤ļø