
Selamat! Membaca š¤
šāØšāØšāØš
[Flash Back Off]
Setelah menceritakan semua itu kepada Seno dengan air mata yang berderai sampai tak kuat menahannya, Winda tersedu-sedu ketika mengingat peristiwa naas yang menimpa putrinya 6 tahun yang lalu. Dan di akhir ceritanya, Winda berkata.
"Selama 6 tahun ini, Windy berjuang keras untuk bangkit dari traumanya, tidak sehari pun Windy lewatkan dengan tidak menyebut namamu dan menatap fotomu, dia benar-benar hancur, terluka, ketika harus memilih untuk meninggalkanmu Seno. Windy sangat mencintaimu. Dia mengorbankan cintanya karena dia tidak mau mengecewakanmu, dia rela kau benci sampai saat ini daripada kau harus bersamanya dengan kondisi dia yang merasa tidak pantas lagi untukmu. Dan sampai saat ini, Windy pun masih mencintai dan mengharapkan mu. Saat itu, Windy berharap kamu datang menyusulnya. Namun Windy kembali menelan kekecewaan dan kesedihan ketika mendengar kabar bahwa kau sudah memilih wanita lain dan menikahinya, secepat itu kamu melupakan Windy? Padahal saat itu dia tengah berjuang dalam kesedihannya? Bahkan di waktu 6 tahun ini, Windy belum bisa melupakanmu sehari pun. Tapi kau dengan mudahnya melupakan Windy dan menikahi wanita lain di saat dia sedang terpuruk. Kau tega Seno."Winda kembali menangis.
Seno menarik nafasnya dalam-dalam, terlihat juga raut kesedihan dan kekecewaan dari wajah lelaki itu ketika mengetahui apa yang sebenarnya terjadi pada Windy kala itu.
Seno menunduk beberapa saat untuk menenangkan hatinya yang kacau. Dia sungguh tidak tahu nasib malang dan tragis yang menimpa kekasihnya dulu, wanita yang dia cintai dan sayangi mendapatkan musibah yang seberat itu namun dia tidak tahu, dan tidak ada di sampingnya saat itu.
Dan tanpa mereka sadari. Di saat Winda menceritakan panjang lebar semua peristiwa apa yang terjadi pada Windy dan masa lalu Gadis itu dengan Seno, ada sepasang mata dan telinga yang memperhatikan mereka lewat celah pintu.
Dia adalah Rana.
Yang datang dengan maksud menemui Seno karena ingin pergi ke rumah sakit bersama sesuai apa yang diinginkan oleh Lina, namun ketika dia baru melangkah menapaki kakinya di teras rumah. Rana mendengar suara seseorang yang sedang berdebat dengan Seno, dari celah pintu yang sedikit terbuka Rana melihat dokter Wahyu dan seorang wanita paruh baya yang tidak Rana kenal.
Rana menghentikan langkahnya yang ingin masuk ketika wanita paruh baya itu menyebut nama Windy, dan Rana memutuskan untuk duduk di teras mendengarkan apa yang dijelaskan wanita itu dengan lantang kepada Seno.
Dan tiga orang yang ada di dalam ruangan itu, tidak menyadari kehadiran Rana. Karena gorden tebal mampu menutupi sosok wanita mungil yang sedang duduk mendengarkan semua cerita masa lalu Seno dan Windy.
Sama seperti Seno dan sama pula seperti Winda. Tentu saja! Karena Rana adalah seorang wanita, dia bisa merasakan sakitnya Winda dan juga Windy kala itu. Karena tak kuat menahan sedih setelah mendengar cerita dari Winda tentang masa lalu naas yang menimpa temannya, Rana sampai meneteskan air mata dan menahan rasa sesak di dada, dia tidak bisa membayangkan jika posisinya ada di Windy saat itu. Pasti dia sudah sangat putus asa.
Dan di sisi lain, Rana juga menyadari bahwa saat itu Seno sangat mencintai Windy. Mereka saling mencintai namun takdir yang memisahkan mereka, Rana juga menyadari mungkin inilah yang menyebabkan Seno tidak pernah bisa mencintainya dulu karena lelaki itu masih mencintai kekasihnya. Seno dipaksa menikah dengannya sedangkan hati lelaki itu masih terluka karena ditinggal oleh gadis yang dia cintai begitu saja. Di tinggal di saat Seno melamar gadis itu.
Rana melirik celah pintu dan dia melihat Seno tengah tertunduk, seperti seseorang yang dilanda nestapa.
"Sepertinya kau sangat terpukul mendengar kenyataan ini Mas,"gumam Rana dengan suara lirih.
Rana menghapus air matanya dan dia mengatur nafas yang sudah tidak karuan karena hatinya yang benar-benar merasa kacau. Dia bangkit dari duduknya dan berjalan, tapi bukan untuk masuk ke dalam rumah. Karena Rana memilih pergi dari sana, membiarkan Seno dengan Winda larut dalam kesedihan. Dia tidak mau mengacaukan situasi yang ada di dalam.
**
__ADS_1
Rana mengurungkan niatnya yang ingin menemui Seno dan dengan langkah gontai Rana berjalan menuju halte Bus.
Wanita ini duduk beberapa saat ketika sudah sampai di halte Bus, kilas balik cerita yang disampaikan dengan penuh air mata oleh Winda menghantui pikiran Rana,
Dia benar-benar bingung. Dan hatinya sedih atas apa yang menimpa Windy. Dan Rana kembali mengingat ekspresi Seno ketika dia mendengar fakta yang menyebabkan Windy pergi meninggalkannya.
"Apa setelah kau mengetahui ini, hatimu akan berbalik, Mas. Kalian tidak pernah saling menyakiti dan pada dasarnya kalian saling mencinta, hanya karena kesalahan orang lain kalian harus berpisah."Gumam Rana, sambil menatap kosong jalanan yang dipenuhi kendaraan.
***
Kembali kepada Seno.
Setelah bisa mengontrol emosinya, Seno kembali menegakkan wajahnya.
Apa Seno sedih? Tentu saja, mana ada orang yang tidak sedih dan terluka ketika mendengar cerita memilukan yang terjadi pada Windy.
"Apa Tante menyalahkan saya?"tanya Seno yang membuat Winda mengangkat wajahnya menatap Seno begitu juga dengan Wahyu.
"Seno!"
"Tapi seharusnya kau bisa mengejar dan menyusul Windy kan Seno? kau juga tidak seharusnya secepat itu menikah dengan wanita lain di saat Windy sedang terluka."Emosi Winda.
"Saya tidak bisa terus mengejar seseorang yang sudah meragukan dan tidak mempercayai saya. Windy sudah memutuskan semuanya dan jangan tante kira saat itu saya tidak berjuang untuk mempertahankannya. Dia yang memilih untuk tidak mau saya perjuangkan. Dan apa yang menjadi alasan saya saat itu menikah dengan wanita lain, itu bukan urusan tante. Itu urusan pribadi saya Tante tidak berhak menghakimi dan mencampurinya."Tegas Seno.
"Seno! Kenapa kau bicara seperti ini, Apa kau sadar dengan apa yang kau katakan?"marah Wahyu.
"Kenapa? saya sadar dengan apa yang saya katakan. Kenapa kalian jadi menghakimi saya seperti ini? bukan saya tidak bersimpati dengan apa yang menimpa Windy. Sungguh saya pun sangat terluka dan terpukul, tapi apa yang kalian inginkan dengan menceritakan semua ini kepada saya? bukankah lebih baik kalian tutupi saja, karena semua sudah tidak akan bisa merubah apapun. Karena dari awal tante dan Windy sudah menutupi semuanya dari saya."
"Seno, tidak bisakah kau memaafkan Windy."
"Memaafkan Windy, kenapa saya harus memaafkan Windy? Jika Tante yakin Windy tidak mempunyai salah apapun, kenapa Tante harus meminta maaf atas namanya?"
Windi terdiam beberapa saat, dan setelah itu ia kembali berucap.
"Setidaknya temui lah Windy, dan jangan bersikap dingin padanya. Dia sangat mencintaimu Seno, mengertilah dia."
__ADS_1
Seno mendengus.
"Maaf Tante, saya sudah menikah. Saya tidak akan melakukan apa yang Tante minta karena saya harus menjaga perasaan istri saya."Tegas Seno, dan ia sudah bangkit dari duduknya.
"Seno!"panggil Winda, masih berharap.
"Maaf tante. Sebelumnya saya sudah bilang jika saya tidak punya banyak waktu, saya harus pergi menjemput istri saya dan saya harus ke rumah sakit,"ujar Seno lalu ia beralih kepada Wahyu,"Dokter Wahyu, tolong antarkan tante Winda pulang ke rumahnya."
Seno sudah melangkah terlebih dahulu berdiri di ambang pintu, dia tengah menunggu Winda dan Wahyu keluar dari rumahnya.
Sebagain orang, mungkin menilai sikap Seno terlalu kejam. Namun dia harus melakukan ini, agar tidak ada kesalahpahaman di kemudian hari.
Bagi Seno, Windy adalah masa lalunya.
Tidak ada pilihan lain, Wahyu dan Winda pun keluar dari rumah Seno. Namun sebelum mereka berdua melangkah lebih jauh, Winda kembali mengingatkan Seno untuk memberi kesempatan pada Windy. Entah kesempatan Apa yang dimaksud oleh wanita paruh baya itu dan Seno pun tidak mengindahkannya.
šāØšāØšāØš
Setelah ia berurusan dengan Wahyu dan Winda, Seno hendak kembali melanjutkan perjalanannya, saat ini Seno baru menyadari bahwa dia meninggalkan ponselnya di rumah sakit sehingga dia tidak bisa menghubungi Rana atau pun Lina.
Namun seperti yang kita tahu bahwa Seno memiliki ponsel lain yang biasa Dia gunakan untuk berkomunikasi dengan Dika dan Timnya. Dia menghubungi Dika untuk menyiapkan apa yang harus mereka bawa sore nanti menuju ke lokasi bencana. Namun tidak disangka, ternyata saat ini Dika sedang berada di rumah sakit untuk menjenguk Lina, dan Dika mengatakan jika Rana sudah ada di sana. Yang tentu saja membuat Seno terkejut.
Dengan cepat, Seno melajukan mobilnya menuju rumah sakit, karena tidak harus menjemput Rana di rumah Sarah terlebih dahulu.
Bersambung...
šāØšāØšāØš
Terima kasih sudah berkunjung ke cerita ini š
Mohon dukungannya š¤
Tolong koreksi jika ada Kesalahan dalam tulisan ini š
Lope banyak-banyak untuk semuanya ā¤ļøā¤ļøā¤ļøā¤ļø
__ADS_1