
Selamat! Membaca š¤
šāØšāØšāØš
[Masih Flash Back]
"Windy, sore nanti kamu jadi kan ikut kita pergi ke rumah Mila?"Teman-teman Windy datang menghampirinya.
"Iya, aku akan pergi bersama kalian."Sahut Windy yang langsung berjalan memasuki kampus.
Beberapa teman Windy terkekeh.
"Jadi kau pergi bersama kita, lalu bagaimana dengan kekasihmu yang selalu mengantar jemput itu, apa hari ini ia tidak akan datang menjemputmu?"
"Tidak!"sahut Windy cepat.
"Baguslah, ada kalanya kau menghabiskan waktu bersama teman-temanmu ini, karena semenjak kau berpacaran dengan lelaki dari tim SAR itu, kau lebih sering pulang bersamanya daripada bersama kami."Keluh salah satu teman Windy.
"Sudahlah kalian jangan terlalu banyak mengeluh cepat masuk kelas."Titah Windy.
Mereka mengangguk tapi sambil berbisik-bisik, entah apa yang mereka bisikan dan Windy pun tidak menyadari karena Gadis itu sudah lebih dulu masuk ke dalam kelasnya.
***
Hingga waktunya tiba, di sore hari di mana Windy akan pergi bersama teman-temannya untuk menghadiri pesta ulang tahun gadis yang bernama Mila.
"Sepertinya aku harus pulang dulu untuk berganti pakaian."Ujar Windy kepada temannya karena ia merasa tidak cocok jika harus menghadiri pesta dengan pakaian seperti yang ia kenakan saat ini.
"Tidak perlu, kita langsung berangkat saja sekarang."Sahu temannya, yang menghalangi Windy untuk pulang terlebih dahulu.
"Bukankah acaranya jam 07.00 malam! ini masih jam 05.00. Masih Ada waktu 2 jam, sepertinya aku masih sempat pulang dan berganti pakaian."
"Sudah Windy, rumahmu itu sangat jauh belum lagi kalau macet, kamu akan telat sampai ke pesta. Lebih baik kamu pulang ke rumahku saja, karena aku sudah menyiapkan kostum untuk kita pergi ke pesta Mila."
"Kostum?"Windy terlihat bingung karena sebelumnya, teman-temannya ini tidak mengatakan jika mereka akan menggunakan kostum yang sudah disediakan.
"Iya, ayolah. Kamu jangan banyak bicara karena itu akan membuang-buang waktu, kita pergi sekarang."Beberapa teman Windy menarik tangan Gadis itu dan membawanya masuk ke dalam mobil yang berwarna merah dan mobil itu pun segera melaju, menerobos keramaian sore menuju rumah salah satu teman dari Windy.
***
Sesampainya di rumah temannya, Windy diminta untuk segera masuk ke dalam kamar.
"Kamu lihatlah kostum yang sudah aku siapkan. Kamu bisa segera mencobanya, aku ke dapur dulu untuk mengambilkan mu minum."
__ADS_1
Tanpa ada perasaan curiga apapun, Windy mengikuti kata temannya, dan diantar dengan dua temannya yang lain.
Windy masuk ke dalam kamar untuk memeriksa kostum yang akan mereka kenakan di pesta nanti.
***
Sementara dua teman Windy yang lainnya. Tengah berada di dapur.
"Bagaimana? Kamu membawa obatnya kan?"Tanya teman Windy selaku pemilik rumah itu.
"Tentu saja, aku sudah menyiapkan apa yang kau Minta Siska."Sahut temanya.
"Bagus! Kamu memang selalu bisa aku andalkan,"sahut gadis yang bernama Siska ini yang ternyata, diam-diam memiliki niat buruk kepada Windy.
Dia memasukan sesuatu yang berbentuk serbuk, yang baru saja Siska terima dari temannya, ke dalam minuman yang akan dia berikan kepada Windy.
"Sekarang kamu bawa ini,"titah Siska pada temannya. Dan tanpa menolak, temannya itu membawakan minuman berisi obat yang entah itu obat apa. Pada Windy.
Sementara Siska merogoh saku celana untuk mengambil ponselnya, dan saat itu dia langsung menghubungi seseorang untuk segera datang ke rumahnya.
***
Di dalam kamar.
"Windy! Ini minum untukmu, kamu pasti haus kan, cepatlah minum."Ujar teman Windy yang membawa nampan berisi 4 gelas air minum, namun dia sudah menandakan gelas mana yang diperuntukkan Windy.
****
Hingga beberapa menit kemudian.
Windy mulai merasakan pusing di kepalanya.
"Kau kenapa Win?"tanya Siska pura-pura tidak tahu.
"Sepertinya aku tidak enak badan kepalaku sakit. Aku ingin pulang saja,"Ujar Windy, yang merasakan sakit luar biasa di kepalanya.
"Ah, sayang sekali. Padahal seharusnya hari ini kita menghabiskan waktu bersama dan bersenang-senang di pesta, tapi apa boleh buat jika kau merasa tidak enak badan kau pulang saja."Ujar Siska namun di akhir katanya ia mengulas senyum licik.
Windy mengangguk dan ia sudah membuka tasnya untuk mengambil ponsel.
"Kamu mau menghubungi siapa? "Siska mencegahnya.
"Seno,"sahut Windy.
__ADS_1
"Tidak usah, bukankah kekasihmu itu sedang sibuk dan kau sudah mengatakan, jika kamu tidak ingin dijemput olehnya. Jarak rumahku dan Kantor SAR sangat jauh, pasti dia akan sampai di malam hari. Biar aku pesankan taksi saja untuk mengantarmu pulang. Karena Maaf, aku tidak bisa mengantarmu pulang aku harus segera pergi ke rumah Mila."Kata Siska, sambil senyum-senyum jahat.
Windy mengiyakan apa yang dikatakan Siska.
Sepertinya Windy sangat mempercayai teman-temannya ini. Mereka juga bersahabat dengan baik dengan Windy, tapi mereka juga musuh tersembunyi yang akan menghancurkan hidup Windy.
****
Beberapa menit kemudian.
Windy yang sudah semakin kehilangan kesadarannya dipapah oleh Siska dan beberapa temannya memasuki sebuah mobil yang ia klaim sebagai taksi.
"Tolong antarkan dia ke lokasi tujuan,"ucap Siska kepada seseorang yang mengendarai mobil tersebut.
Mobil melaju menjauhi rumah Siska dan di saat mobil itu sudah tidak terlihat lagi Siska tertawa bahagia bersama ketiga temannya.
"Siska, kenapa kamu sampai terpikirkan melakukan hal seperti ini kepada Windy? Apakah ini tidak bahaya untuknya? Bagaimana kalau lelaki itu benar-benar akan melakukan sesuatu yang tidak-tidak kepada Windy?"tanya teman Siska.
"Kau tidak usah khawatir tenang saja, lelaki itu saudara sepupuku. Aku juga sudah meminta dan memastikannya untuk tidak melakukan apapun kepada Windy, aku hanya meminta dia untuk menakut-nakuti gadis itu saja. Aku kesal sekali pada Windy, dia selalu menjadi pusat perhatian di kampus. Dia sudah seperti sang idola dengan berbagai pujian dan sanjungan yang setiap hari orang-orang lontarkan kepadanya. Aku tidak suka dan aku muak dengan semua itu, aku hanya ingin memberi sedikit pelajaran kepada Windy agar dia tidak besar kepala dengan pujian yang setiap hari dia terima di kampus."Ujar Siska. Yang ternyata memiliki hati iri dengki dengan kepintaran dan kepopuleran Windy di kampusnya.
šāØ
Mobil yang membawa Windy, berhenti di sebuah Hotel yang ada di tengah Kota.
Seorang pria dengan menggunakan pakaian serba hitam lengkap dengan topi berwarna senada membopong Windy yang sudah tidak sadarkan diri masuk ke dalam Hotel tersebut.
Sepertinya, Siska sudah menyiapkan semuanya hingga lelaki itu tidak perlu check-in, lagi karena ia langsung menuju kamar yang ada di lantai 3 Hotel tersebut.
Sesampainya di kamar, lelaki itu membaringkan tubuh Windy di atas kasur yang beralaskan sprei putih. Ia membuka topi yang menutupi separuh wajahnya lalu ia menatap Windy yang tengah berbaring tidak sadarkan diri.
Lelaki itu mengulas senyum, ia seperti mendapatkan jackpot karena beberapa waktu lalu, teman yang baru dia kenal menghubunginya dan memintanya untuk menjemput seorang wanita di rumah sepupunya, dan temannya itu mengatakan jika wanita ini adalah hadiah darinya. Dan dia bebas melakukan apapun kepada wanita yang dia bawa, yaitu Windy.
Ibaratkan kucing disuguhi ikan segar di depan mata, tentu saja jiwa ke laki-laki pria itu seketika bangkit.
Dia mulai mendekatkan wajahnya kepada Windy, dan lelaki itu juga langsung mempreteli semua kain yang menjadi penutup tubuh Windy dan dirinya.
Bersambung..
āØšāØšāØš
Terima kasih sudah berkunjung ke cerita ini š
Mohon dukungannya š¤
__ADS_1
Tolong koreksi jika ada kesalahan dalam tulisan ini š
Lope Banyak-banyak untuk semuanya ā¤ļøā¤ļø