4 Tahun Setelah Berpisah.

4 Tahun Setelah Berpisah.
Masa Lalu Yang Membuat Gelisah


__ADS_3

Selamat! Membaca šŸ¤—


šŸāœØšŸāœØšŸ


"Apa Tante mau memakan bubur, biar aku yang menyuapinya?"Windy menawarkan diri.


Kedua wanita ini sejak dulu memang sudah sangat akrab karena Seno Sudah beberapa kali mengenalkan Windy pada Lina kala itu.


Lina melirik pada Rana. Dan Rana mengulas senyum, lalu dia berkata.


"Aku permisi keluar dulu sebentar Bu, aku lupa mengabari Kak Sarah jika aku sudah sampai di rumah sakit."


Lina dan Windy mengangguk secara bersamaan. Dan Rana pun berlalu keluar dari kamar Lina. Dia berjalan entah ke mana karena sebenarnya Rana tidak ingin menghubungi Sarah, itu hanya alasannya saja agar bisa keluar dari kamar itu karena entah mengapa Rana merasa tidak nyaman melihat kedekatan Windy dan Lina.


"Apa aku terkesan egois dengan bersikap seperti ini?"tanya Rana pada hatinya.


"Tapi aku, merasa seperti orang ketiga diantara mereka,"Sambung Rana. Dan disaat seperti ini ia mengingat sahabatnya Aurel, mungkin saja Gadis itu bisa menenangkan perasaannya yang gelisah.


Dengan cepat Rana mengirimkan pesan kepada Aurel. Dia ingin bertemu dan berbicara dengan Aurel.


(Kamu di rumah sakit mana, sore nanti, sepulang kerja, aku akan datang menemuimu) balasan pesan dari Aurel. dan Rana kembali membalas memberitahu lokasi tempat Lina dirawat.


Rana masih menyendiri di taman belakang rumah sakit, dia masih belum mau masuk ke dalam kamar Lina karena dia pasti akan menyaksikan adegan ibu mertua dan temannya itu bercengkrama dengan sangat akrab, belum lagi Seno. Pasti akan masuk dan bergabung dengan mereka.


Dreeettt.....


Di saat Rana tengah melamun, ponselnya bergetar seolah ingin menyadarkan wanita itu agar tidak melamun di belakang rumah sakit.


[Dokter Vir Memanggil ]


Itulah tulisan yang ada di layar ponsel Rana. Dan Rana baru mengingat sudah sekian hari dia mengabaikan puluhan pesan dari dokter Vir.


"Halo! Vir."Sapa Rana, ketika dia menjawab panggilan.


("Akhirnya! kamu menjawab panggilanku juga, bagaimana dengan kabarmu, kamu baik-baik saja kan? Seno tidak melakukan apapun padamu kan? katakan padaku jika dia berbuat kasar padamu. Aku tidak akan pernah memaafkannya")


"Aku tidak apa-apa Vir, kamu tidak perlu khawatir berlebihan seperti ini."


("Tentu saja aku sangat mengkhawatirkanmu bahkan semalaman aku tidak bisa tidur karena memikirkanmu. Maafkan aku Rana, aku kembali ke Kota XXX terlebih dahulu karena ada beberapa hal yang harus aku kerjakan di rumah sakit.")


"Tidak apa-apa Vir."


("Kapan kamu akan kembali ke rumah sakit, semua orang merindukanmu. Kamu jangan memikirkan masalahmu dengan Seno, jika kamu mau, aku bisa membantu agar kamu segera berpisah dengan lelaki itu.")


"Tidak Vir, aku bisa menyelesaikan masalahku sendiri dengan Mas Seno. Mungkin aku, baru akan kembali beberapa hari lagi."


("Baiklah! katakan padaku jika kau sudah kembali, aku akan menjemputmu di terminal.")


"Terima kasih Vir tapi kamu tidak perlu repot-repot aku bisa pulang sendiri. Maaf Vir, aku harus mengakhiri panggilan ini karena ada sesuatu yang harus aku kerjakan."


("Baiklah! Jaga dirimu baik-baik di sana jika terjadi sesuatu cepat hubungi aku")

__ADS_1


"Terima kasih."


Rana mematikan sambungan teleponnya namun dia masih belum beranjak dari sana.


***


Seno kembali masuk ke dalam kamar Lina dan dia mendapati tidak ada Rana di sana tapi malah ada Windy yang tengah menyuapi ibunya.


"Seno, tadi Rana berpamitan keluar dia bilang ingin menghubungi Sarah. Tapi sudah sejak tadi Rana belum kembali,"ujar Lina memberitahu anaknya. Dia khawatir dengan Rana yang belum kembali.


"Aku akan mencarinya,"sahut Seno, yang sudah ingin berlalu dari sana.


Namun Windy mencegahnya.


"Biar aku yang mencari Rana."


"Tidak perlu. Kamu lakukan saja pekerjaanmu, bukankah kamu dokter di rumah sakit ini pasti banyak pasien yang membutuhkan mu. biar aku yang mencari Rana. Kamu bisa kembali bekerja."Kata Seno, yang kata-katanya itu terdengar menyakitkan di hati Windy.


Windy mengira jika Seno masih marah padanya, sehingga Seno bersikap dingin seperti ini. Windy belum mengetahui jika Ibunya datang menemui Seno dan mengatakan apa yang sebenarnya terjadi 6 tahun yang lalu.


"Baiklah! aku permisi."Pamit Windy dan dengan lesu dia keluar dari kamar Lina.


Dan disaat yang bersamaan ketika Windy membuka pintu Rana pun ingin masuk ke kamar.


"Rana, Kamu dari mana saja, tante Lina dan Seno mencari mu?"kata Windy.


"Aku habis menghubungi kakakku."Sahut Rana.


'Mas Seno, di dalam bersama Windy dan Ibu Lina. sepertinya mereka tengah mengulang masa lalu, kebersamaan mereka.'Batin Rana.


"Baik, terima kasih."Kata Ran dan dia masuk ke dalam kamar Lina.


Melihat Rana masuk, Seno segera menghampirinya.


"Kamu dari mana? apakah kak Sarah memintamu untuk pulang?"tanya Seno.


Rana menggeleng.


"Tidak. Kak Sarah hanya menanyakan kabar ibu,"sahut Rana berbohong lalu dia berjalan mendekati Lina dan duduk di bangku sebelah wanita paruh baya yang masih berbaring di ranjang.


Seno yang melihat ada keanehan pada Rana kembali menghampiri istrinya dan dia ingin mempertanyakan apa yang terjadi dan membuat Rana terlihat begitu lesu dan muram.


Namun sebelum Seno sempat menanyakan itu Dika sudah lebih dulu masuk dan mengajaknya untuk bersiap-siap karena satu jam lagi mereka akan berangkat dan saat ini mereka harus sudah berkumpul di kantor SAR.


"Rana, bolehkah aku minta tolong padamu."Kata Seno.


"Jika aku bisa, aku akan membantumu, Mas."


"Tolong temani ibu sampai aku kembali, mungkin selama dua hari aku di sana. Dan setelah aku kembali, aku akan mengantarmu pulang ke rumah ibu Kartika dan ayah Ridwan, sku pun ingin bertemu dengan beliau untuk meminta maaf."


Rana mengangguk.

__ADS_1


"Baik Mas."


"Terima kasih!"Seno memeluk Rana, dan Rana tidak merespon pelukan itu.


"Aku berangkat dulu, berhati-hatilah di sini bersama ibu. Aku akan segera kembali,"setelah berpamitan kepada Rana Seno beralih kepada ibunya dan mencium punggung tangan Lina,"Ibu harus cepat sembuh, dan Ibu tidak perlu memikirkan kakek Arif karena aku sudah meminta seseorang untuk menjaga kakek di rumah, ibu fokuslah dengan kesembuhan Ibu. Dan ibu akan ditemani oleh Rana."


"Iya Seno, jangan terlalu memikirkan Ibu di sini, karena ibu akan baik-baik saja. Kamu bekerjalah dengan hati-hati dan jaga dirimu baik-baik, pulanglah dengan selamat jangan membuat ibumu ini cemas."Ujar Lina yang selalu merasa khawatir ketika Seno berpamitan untuk bertugas, wanita paruh baya ini masih trauma dengan kejadian naas yang menimpa Seno beberapa tahun yang lalu hingga membuat putranya harus terbaring, selama 9 bulan.


"Iya Bu."


"Ibu, Rana. Aku pergi dulu ya. Kalian tidak perlu mengkhawatirkan aku, aku bisa jaga diri dengan sangat baik."Kata Dika yang membuat Lina mengulas senyum.


Dika pergi terlebih dahulu dan menunggu Seno di parkiran.


Rana mengantar Seno sampai depan pintu kamar Lina.


"Apa kamu tidak ingin memelukku?"Seno merentangkan kedua tangannya."


"Kamu jangan yang aneh-aneh Mas, ini tempat umum."


"Memangnya kenapa? aku memeluk istriku tidak ada salahnya kan sekalipun di tempat umum."


"Mas!"


"Baiklah. Jika kamu tidak mau memelukku biar aku yang memelukmu duluan."Seno segera menarik Rana dan membawanya ke dalam pelukan, lalu dia mengusap lembut rambut wanita itu.


"Apa ada sesuatu yang mengganjal di hatimu, Aku perhatikan sejak tadi kamu lebih banyak diam."Tanya Seno yang memang sudah sejak tadi menyadari keanehan pada sikap Rana.


"Aku, tidak apa-apa Mas."


"Jika ada sesuatu, katakanlah kepadaku jangan menyimpannya sendiri."


'Mas, aku sungguh tidak tahu seperti apa isi hatimu. Kamu bersikap seperti ini padaku, justru semakin menyulitkan aku untuk melangkah.'Batin Rana.


"Aku tidak apa-apa Mas, kamu berangkat lah Dika sudah menunggumu. Berhati-hatilah, jaga dirimu baik-baik di sana."Kata Rana seraya menguraikan pelukan Seno.


"Baiklah. Aku pergi."


Seno mencium kening Rana.


Dan tanpa Rana dan Seno sadari, Windy tengah memperhatikan momen ini.


Windy tersenyum getir melihat kemesraan mereka berdua. Namun dia tidak bisa berbuat apa-apa karena dulu dialah yang melepaskan Seno hingga sekarang Seno melabuhkan hatinya pada wanita lain.


Bersambung..


Terima kasih sudah berkunjung ke cerita ini šŸ™


Mohon dukungannya šŸ¤—


Tolong koreksi jika ada kesalahan dalam tulisan ini šŸ™

__ADS_1


Lope Banyak-banyak untuk semuanya ā¤ļøā¤ļøā¤ļø


__ADS_2