
Selamat membaca š¤
šāØāØāØāØš
Setelah mendengar penjelasan secara detail dari dokter Nadine, Rana memutuskan untuk pulang. Dia pulang sebelum Seno menjemputnya.
**
Ting! Notifikasi pesan masuk.
(Rana kau dimana? Aku ingin bertemu denganmu) Aurel.
(Di jalan. Aku akan ke rumahmu sekarang)Rana.
Setelah berbalas pesan dengan Aurel, Rana memutuskan untuk singgah ke rumah temannya terlebih dahulu guna menenangkan pikiran dan hatinya yang saat ini sedang kacau.
***
Sesampainya di rumah Gadis itu Rana menceritakan hasil pemeriksaan yang dia lakukan di rumah sakit tadi.
Aurel memeluk Rana.
"Aku mengerti perasaanmu, tapi apa yang di katakan dokter itu benar. Kamu bukan tidak bisa hamil, hanya karena ada masalah di rahim mu yang membuat kehamilanmu tertunda. Saran ku, lakukan pengobatan seperti apa yang di sarankan dokter, dan bicarakan ini semua pada Suamimu."
Rana menguraikan pelukan Aurel.
"Bicarakan ini pada Mas Seno! Itulah yang aku takutkan, aku tidak kuasa jika harus membawa kabar buruk ini pada Mas Seno terutama Ibu Lina. Aku yakin perasaan beliau pasti akan hancur jika mendengar menantunya ini sulit untuk hamil, begitu juga dengan Mas Seno. Apa mungkin mereka bisa menerimaku lagi?"
"Kenapa kau bicara seperti itu? apa yang kau takutkan ini tidak akan pernah terjadi, percayalah padaku semua akan baik-baik saja, mereka tentu akan menerimamu dalam keadaan apapun aku yakin itu. Rana tolong jangan kau jadikan semua ini beban di pikiranmu."
Rana mengangguk, dia mencoba untuk menguatkan diri dan percaya pada kata-kata Aurel.
***
Rana mengalami masalah pada rahimnya dan ini terjadi sudah sangat lama tanpa Rana sadari, dia sering merasakan nyeri berlebihan pada saat datang bulan dan sirkulasi menstruasinya pun tidak teratur. Dan karena kesibukannya Rana tidak pernah melakukan pemeriksaan dini.
Saat ini, hati wanita itu sedang merasakan cemas dan sedih, tentu saja! siapapun yang berada di posisi Rana pasti akan merasakan kesedihan yang luar biasa.
Di saat semua keluarganya mengharapkan dia segera hamil dan melahirkan seorang bayi, dokter justru mendiagnosis bahwa dia sulit untuk hamil.
Wanita mana yang hatinya tidak hancur atas berita seperti ini.
šš
"Pulang!"kaget Seno ketika dia menjemput istrinya di rumah sakit, Satpam di sana mengatakan bahwa Rana sudah pulang sejak 2 jam yang lalu.
"Benar pak, perawat Rana pulang menggunakan taksi online. Sepertinya perawat Rana sedang tidak sehat karena saya melihat dia lesu dan wajahnya pucat."
Mendengar kata-kata itu tentu saja membuat Seno panik, dia bergegas menemui Ardi sambil melakukan panggilan pada ponsel Rana yang sejak tadi tidak bisa dihubungi.
***
"Apa, sudah pulang! Sakit!"Sama seperti Seno, Ardi pun tidak kalah terkejut ketika mendengar bahwa Rana sudah pulang karena kurang sehat.
"Kenapa kau malah kaget seperti itu? kau kan dokter di sini jika ada perawat mu sedang tidak sehat kenapa kamu membiarkannya pulang! Seharusnya kau mengobatinya di rumah sakit ini,"Seno yang emosi karena rasa khawatirnya malah menyalahkan Ardi yang sungguh tidak tahu apa-apa.
"Tenang dulu Seno, tadi siang aku bertemu dengan Rana bahkan aku bicara banyak dengannya tapi aku lihat dia baik-baik saja, aku juga tidak tahu jika dia pulang lebih awal."
"Kau dokter, tapi tidak tahu jika orang sedang sakit?" Sahut Seno dengan nada marah.
Meskipun Ardi tidak tahu apa-apa tapi dia terkena amara Seno, Ardi tetap memaklumi semua itu dan Seno marah-marah seperti ini karena dia khawatir dengan istrinya yang pulang tanpa memberitahu dan ponselnya pun tidak aktif.
"Apa kau sudah menghubungi Ibu atau pulang ke rumahmu? mungkin saja Rana sudah ada di rumah kalian dan sedang beristirahat, dan Kenapa ponselnya tidak aktif? mungkin saja baterainya lowbat, berpikirlah positif jangan marah-marah seperti ini. Ayo pulanglah."Kata Ardi.
Setelah mengatur tempo nafasnya selama beberapa detik, Seno sudah bisa meredam amarah dan kekhawatiran yang saat ini dia rasakan.
Dan dia pun bergegas keluar dari ruangan Ardi tanpa mengatakan apapun lagi.
"Ada apa dengan Rana, semoga semua baik-baik saja."Gumam Ardi.
š
Seno yang langsung menuju ke rumahnya kembali dibuat khawatir karena ternyata tidak ada istrinya di sana.
Dia segera menghubungi Lina menanyakan apakah Rana pulang ke sana, dan tentu saja Lina berkata tidak! karena memang menantunya itu tidak ada di sana.
Setelah menghubungi Lina, Seno beralih kepada Sarah.
Dan di sana, Sarah malah panik ketika mendengar kabar bahwa Rana tidak pulang.
"Ais, sial! kenapa gadis pujaan Dika ini tidak mengaktifkan ponselnya,"umpat Seno ketika dia tidak bisa menghubungi Aurel.
__ADS_1
***
1 jam berlalu, dan itu artinya sudah 3 jam Rana menghilang dan tidak memberi kabar apapun kepada Seno, membuat lelaki itu seketika seperti kuda lumping kesurupan.
Dia tidak pernah melewatkan 10 Menit tanpa berkomunikasi dengan istrinya, tapi ini sudah 3 jam lebih tentu saja lelaki itu sangat khawatir.
"Tenang, Seno. Kita tunggu sebentar lagi ,mungkin Rana sedang ada urusan dan tidak sempat memberimu kabar,"Lina yang menenangkan putranya. Wanita paruh baya ini bergegas menuju Rumah Seno, ketika mendapat kabar jika menantunya tidak ada kabar selama 3 jam.
"Benar Seno, ini baru 3 jam kan mungkin saja Rana pergi ke suatu tempat dan ponselnya mati, jadi dia tidak bisa menghubungi mu,"timpal kakek Arif yang juga ikut meluncur ke Rumah Seno bersama Lina.
"Tapi aku tidak bisa diam seperti ini, 3 jam itu bukan cuma Kek."Kesal Seno.
"Kau mau kemana Seno?"cegah Lina ketika dia melihat putranya itu beranjak sambil meraih kunci mobil yang tergeletak di meja.
"Mencarinya."
"Tunggu! Tenangkan dulu dirimu, "Lina mencegah bukan karena dia tidak mengizinkan Seno pergi mencari menantunya tapi Lina tidak bisa membiarkan putranya itu pergi dengan keadaan emosi dan tidak stabil seperti ini, apalagi Seno membawa kendaraan pasti akan sangat membahayakan.
"Bagaimana aku bisa tenang, jika istriku tidak pulang dan tidak ada kabar selama 3 jam. Aku akan bisa tenang jika sudah menemuinya."
"Sabar Seno, kamu tidak boleh emosi seperti ini mungkin saja Rana ada di rumah Aurel. Ibu sudah meminta Pak sopir untuk mendatangi rumah Aurel, ibu yakin Rana ada di sana."
"Tidak! biar aku yang akan ke sana,"Seno yang memaksa.
CKLEK...
Namun sebelum lelaki itu beranjak mereka mendengar suara pintu terbuka.
''Rana!''
Ya, yang membuka pintu adalah Rana.
Seno langsung berlari menghampiri istrinya yang masih berdiri di ambang pintu, mungkin Rana bingung dengan perkumpulan dan suasana tegang di rumah nya, sampai membuat dia mematung di sana setelah membuka pintu.
''Kau baik-baik saja? Kau dari mana? kanapa tidak mengabari aku? dan kenapa ponselmu tidak aktif?''tanya Seno sambil memeluk istrinya.
Raut cemas yang berlebihan begitu kentara di wajah Seno, dia memeluk istrinya dengan sangat erat seolah tidak ingin melepaskannya, karena takut kalau istrinya pergi lagi.
''Maafkan aku Mas, aku tidak bermaksud membuatmu khawatir."
Seno menguraikan pelukannya.
''Tidak, aku baik-baik saja.''
''Satpam di RS mengatakan jika kau pergi dari rumah sakit dengan wajah yang pucat, apa itu bisa dibilang baik-baik saja."
''Itu karena aku terpukul dengan hasil pemeriksaan dokter Nadine, Mas. Dan mungkin kau akan jauh lebih terpukul dan kecewa jika mendengarnya,"gumam hati Rana.
"Sayang kenapa diam, katakan padaku apa yang terjadi? Dan kau dari mana?"
"Seno, biarkan istrimu beristirahat dulu jangan diberikan pertanyaan yang beruntung seperti itu,"sahut Lina dan dia beralih pada Rana.
"Rana, kami sangat mengkhawatirkan mu. Tapi sekarang ibu senang kau sudah pulang, beristirahatlah nak kau pasti lelah."
Seno sadar, karena kecemasan dan rasa khawatir yang luar biasa membuat menjadi berlebihan seperti ini.
"Maaf, sayang."
"Tidak, apa Mas. Aku yang seharusnya meminta maaf sudah membuat kalian khawatir."Sesal Rana, dia tidak menyangka hanya karena tidak memberi kabar selama 3 jam membuat suami dan keluarganya panik dan khawatir seperti ini.
**
Seperti apa yang dikatakan oleh ibunya, Seno tidak lagi meneror Rana dengan berbagai pertanyaan yang menumpuk di otaknya karena dia lebih memilih mengantar istrinya ke dalam kamar untuk beristirahat.
"Terima kasih Mas, aku mau mandi dulu."Kata Rana dan dia segera masuk ke dalam kamar mandi tanpa mengatakan apapun lagi. Masih terlihat gurat sedih di wajah Rana, dan tentu saja Seno menyadari itu, tapi dia tidak ingin membordir istrinya itu dengan pertanyaan yang mungkin akan membuat Rana tertekan dia akan menunggu sampai Rana menceritakannya sendiri, atau dia akan mencari tahunya jika istrinya itu tidak memberitahu dirinya.
***
Sambil menunggu istrinya selesai mandi Seno keluar kamar.
"Seno!"panggil Lina, yang sedang memasak untuk makan malam.
"Ibu, apa yang ibu lakukan di sini?"tanya Seno yang sedikit terkejut melihat ibunya tengah berkutat di dapur.
"Apa kau tidak lihat! Ibu sedang memasak."
"Ibu tidak perlu memasak seperti ini, bukankah Rana sudah bilang jika Ibu harus banyak beristirahat, tapi kenapa ibu malah ada di sini?"
"Ibu bosan beristirahat terus Seno, selama beberapa hari ini istrimu selalu menyuruh Ibu istirahat dan istirahat, semua Rana yang mengerjakannya. Dan saat ini Ibu ingin memasak untuk kalian."Ujar Lina.
Seno pasrah, jika mau ibunya seperti ini dia sudah tidak bisa berbuat apa-apa.
__ADS_1
Seno menarik kursi yang melingkari meja makan lalu mendudukkan dirinya di sana.
"Ada apa?"tanya Lina yang menyadari jika ada sesuatu yang putranya pikirkan.
"Aku melihat, ada sesuatu yang terjadi pada Rana. Biasanya dia tidak seperti ini,"sahut Seno.
"Ibu tahu itu,"kata Lina yang juga menyadari jika terjadi sesuatu dengan menantunya itu,"Bicarakan perlahan dengan Rana. Dia pasti akan menceritakan apa yang sedang menjadi beban pikirannya saat ini."Sambung Lina.
Seno mengangguk.
Beberapa menit kemudian.
Rana selesai dengan ritual mandinya dan Lina beserta Seno sudah menyiapkan menu makan malam di meja, mereka semua berkumpul di satu ruangan yang sama.
Rana keluar kamar dengan wajah yang lesu, wanita ini terlihat nampak sedih tidak seperti biasanya.
Namun, baik Lina kakek Arif dan Seno, tidak mau memaksa Rana untuk menceritakan apa yang sedang terjadi padanya, mereka memilih untuk mendekatkan diri agar wanita itu bersedia menceritakan apa yang sedang dia alami saat ini.
"Apa ibu yang memasak semua ini?'tanya Rana sambil menatap semua makanan yang tertata rapi di atas meja makan.
"Tidak sayang, kau jangan khawatir aku yang membantu ibu untuk memasak semua ini jadi ibu tidak merasa lelah."Sahut Seno.
Rana melirik Lina.
"Benar Nak, Seno yang membantu ibu memasak, kau jangan khawatir. Sudah beberapa hari ini Ibu beristirahat dengan sangat baik. Ayo makanlah ibu dan Seno sudah membuat semua menu kesukaanmu."Kata Lina.
Dan Seno segera menarik kursi untuk duduk istrinya.
"Seharusnya ibu dan Mas Seno, tidak perlu repot-repot seperti ini bukankah ini tugasku."
"Sudah Nak tidak apa-apa, ini bukan hanya menjadi tugasmu, karena ini tugas kita bersama, kakek sungguh tidak merasa lelah,"sahut kakek Arif.
Seno langsung melirik tajam ke arah kakeknya itu.
"Apa kakek ikut membantu kami memasak?"
Kakek Arif tersenyum sambil berkata.
"Tidak! tapi kan Kakek membantu dengan doa."
"Doa!"
"Iya, tanpa sebuah doa mana mungkin sesuatu bisa dikerjakan dengan sempurna seperti ini, benarkan Rana?"sahut kakek Arif , dengan mencari pembenaran kepada Rana.
Rana mengulas senyum.
"Benar Kek."
"Sayang, tapi kakek tidak ikut memasak dia hanya menonton saja sejak tadi tanpa melakukan apapun, tentu saja tidak lelah,"protes Seno.
"Sudah Seno, apa kau ingin kembali di masa kecilmu, yang selalu mengajak kakekmu ini berdebat? dulu waktu kecil kau sering sekali ribut dengan kakekmu karena hal sepele."Sahut Lina.
Itulah masa kecil Seno yang memiliki hubungan hangat dengan keluarganya. Tapi semenjak dia tumbuh dewasa, Seno menjadi pribadi yang super dingin jangankan untuk berdebat, bicara saja hanya satu dan dua patah kata. Tapi saat ini perdebatan itu kembali Lina dengar, perdebatan, yang malah membuat hangat keluarganya dan tentu saja hal ini membuat Lina sangat bahagia di tambah lagi ada Rana sang menantu kesayangan di sana.
"Tidak, sekarang aku tahu jika kakek sudah tua. Jadi aku tidak mau durhaka dengan mengajaknya berdebat,"kata Seno menimpali ucapan Lina.
"Itu bagus Seno, tapi harus kau tahu meskipun Kakek ini sudah tua tapi kakek masih bisa berlari keliling kompleks sampai 2 putaran."
Seno terkekeh mendengar ucapan kakek Arif lalu dia menimpalinya dengan kata.
"Iya, setelah itu kakak langsung masuk rumah sakit."
"Itu karena kakek lupa untuk sarapan."Timpal kakek Arif.
Cucu dan Kakek ini terus berdebat sampai Lina menghentikan mereka karena harus makan malam.
Dan karena perdebatan Seno dengan kakek Arif membuat Rana terhibur dan mengulas senyum, Dia melupakan sejenak kesedihannya. Rana sangat bersyukur bisa ada di tengah-tengah keluarga ini, dan Rana berharap semoga saja setelah Seno dan Lina mengetahui apa yang terjadi dengan kondisinya. Mereka bisa menerima dia apa adanya.
Rana memantapkan diri untuk menceritakan Semua kepada keluarganya. Dia sudah siap dengan segala konsekuensinya sekalipun Lina dan Seno harus kecewa kepadanya.
Bersambung..
šāØāØāØāØāØš
Terima kasih sudah berkunjung ke cerita ini š
Mohon dukungannya š¤
Tolong koreksi jika ada Kesalahan dalam tulisan ini š
Lope banyak-banyak untuk semuanya ā¤ļøā¤ļøā¤ļø
__ADS_1