4 Tahun Setelah Berpisah.

4 Tahun Setelah Berpisah.
Terima Kasih!


__ADS_3

Selamat, membaca šŸ¤—


šŸāœØāœØāœØāœØāœØšŸ


''Ardiii!"teriak Seno dengan kuat.


''Ada apa? kenapa kau berteriak seperti itu, mengejutkan aku saja.''Kaget Ardi.


''Sudah, jangan banyak tanya. Cepat ikut aku.''


***


"Kenapa?"tanya Ardi setelah dia berjongkok mengimbangi Rana yang tengah terduduk menenangkan wanita yang akan melahirkan itu.


"Dok. Ibu ini akan segera melahirkan, ketubannya sudah pecah!"


Ardi segera memeriksa wanita itu, dia memang bukan dokter kandungan, tapi tentu saja Ardi tahu jika yang dikatakan Rana benar.


"Kita harus membawanya ke tenda pengungsian."Ujar Ardi.


Rana dan Seno sama-sama mengangguk. Dan baru saja mereka akan menyiapkan tandu. Wanita hamil itu sudah histeris terlebih dahulu, sambil memegangi perutnya, ia merasakan sakit yang luar biasa karena kontraksi.


"Tidak! Jangan bawa menantu saya, saja tidak mengijinkan kalian membawa menantu saya!"teriak wanita tua yang tadi menghalangi jalan Rana dan Windy.


"Anda jangan egois, menantu Anda harus segera mendapatkan pertolongan. Dia akan segera melahirkan cucu Anda,"bentak Ardi yang sudah sangat emosi menghadapi keluarga itu.


''Itu urusan saya, tidak ada hubungannya dengan kalian, kalian tidak berhak ikut campur dan saya tidak akan pernah membiarkan para dokter membantu keluarga saya.'' Maki wanita tua itu, dan bukan hanya memaki saja, tapi wanita itu juga melakukan kekerasan, ia mendorong Rana dengan sangat kuat, sampai nyaris terjatuh jika tidak segera di tahan Seno.


Dan tentu saja hal itu membuat Seno marah.


Dengan paksa, Seno menarik wanita itu, dan mengikatnya, sama seperti apa yang Seno lakukan pada kedua anak laki-laki wanita itu. Tidak perduli dengan pemberontakan dan teriakan wanita itu, Seno tetep mengikatnya. Ini demi kebaikan semua, agar proses evakuasi mereka berjalan dengan lancar dan tanpa ada yang terluka.


**


Tidak ada pilihan lain, wanita yang akan melahirkan terpaksa melakukan proses persalinan di tempat tersebut. Di bantu dengan Windy dan Rana.


Kedua wanita yang semalam sempat bersitegang itu terlihat akur dan saling membantu satu sama lain, demi menyelamatkan ibu dan bayi yang saat ini tengah berjuang.


Sementara Ardi, Seno dan kedua temanya mengevakuasi dua lansia ke tenda pengungsian.


*****


Beberapa menit kemudian.


Oeeeee..... Oeeee... Oeeee...


Tangis bayi terdengar menggelegar di rumah itu.


''Rana, tolong hangatkan tubuh bayi ini.''Ujar Windy seraya menyerahkan bayi mungil dan masih merah itu di tangan Rana.


Rana Mengangguk. Dan mengeluarkan tangannya.


Ini tentu bukan yang pertama bagi Rana, karena sebagian seorang perawat dia sudah sangat sering menggendong dan membersihkan bayi-bayi yang baru dilahirkan.


Tapi, entah kenapa. Saat ini Rana bergetar ketika menggendong bayi itu, dadanya juga terasa bergetar seperti tengah merasakan sesuatu. Matanya sampai berkaca-kaca menatap wajah merah bayi yang sedang menangis itu.


Di luar.


Sama seperti Rana, Seno pun merasakan terenyuh di dadanya ketika mendengar suara tangisan bayi yang baru saja dilahirkan, dan kedua kakinya membawa lelaki itu memasuki rumah.


Seno terpaku ketika melihat Rana tengah menggendong bayi.


Rana mengulas senyum melihat kedatangan Seno.

__ADS_1


"Mas, kau lihatlah. Bukankah bayi ini sangat lucu?"


Seno mendekat dan menatap lekat wajah bayi mungil itu.


"Iya, benar aku tidak menyangka jika Bayi bisa selucu ini."


"Semua bayi dan anak-anak pasti lucu, Mas."


"Ya Tuhan, tolong maafkan kebodohanku di masa lalu, yang pernah meminta istriku Rana untuk memiliki anak," Batin Seno dengan penuh sesal, ketika mengingat kejadian masalalunya.


"Mas, kenapa diam? Apa kau tidak mau menggendong bayi ini? Tubuhnya sangat dingin dia butuh kehangatan."


Karena terhipnotis dengan kelucuan Bayi yang ada di gendongan Rana. Reflek, Seno mengulurkan tangannya untuk menggendong bayi tersebut.


Tapi, belum sampai tangan itu menyentuh bayi, Seno sudah menariknya terlebih dahulu.


"Kenapa Mas?"


"Tidak apa-apa, sayang. Tangan ku kotor, aku tidak mungkin menggendong bayi itu,"ucap Seno memberi alasan. Padahal dalam hatinya berkata.


"Tidak! aku tidak akan dan mau menggendong bayi siapapun. Karena yang akan pertama kali aku gendong dengan kedua tangan ini dan yang akan pertama kali aku peluk, adalah bayiku dan Rana."


*****


Beberapa jam kemudian.


Keadaan sudah membaik. Keluarga yang menolaknya untuk di evakuasi berhasil di ungsikan ke tempat yang aman, meskipun dengan cara memaksa dan di bantu pihak kepolisian. Wanita yang baru melahirkan beserta bayi, dan kedua lansia dari keluarga itupun dalam keadaan baik. Karena mereka langsung di rujuk di RS terdekat untuk mendapatkan perawatan yang memadai.


****


"Kau kenapa melamun? Sepulang dari tugas mengevakuasi keluarga keras kepala itu, kau jadi murung seperti ini?"tanya Dika yang melihat temannya merenung sambil menatap gelapnya malam.


"Dika! Apa kau pernah melihat bayi?"tanya Seno, yang sontak membuat Dika terkejut sekaligus bingung.


"Iya, aku melihat bayi dari wanita yang kami evakuasi, dia sangat lucu dan menggemaskan, wajahnya kecil. Bahkan lengannya hanya, hampir sebesar jari-jari tangan kita saja. Bukankah itu sangat lucu," sahut Seno dengan wajah yang masih menatap pemandangan kosong.


Dika yang sudah memahami situasi mendekati Seno, ia menepuk pundak lelaki itu.


"Ada apa? apa saat ini kau sedang mendambakan seorang anak?"


Seno menghela nafas panjang.


"Tentu saja."


"Lalu, kenapa kau terlihat cemas seperti ini? Kau tinggal membuatnya saja kan? Jika belum berhasil usaha lebih keras lagi. Dan cepat pergilah bulan madu, mungkin kalian membutuhkan waktu hanya berdua tanpa harus di Bebani oleh apapun, semenjak kau kembali dengan Rana, kalian selalu di sibukkan dengan segala macam urusan dan pekerjaan. Kini waktunya kalian meluangkan waktu berdua."


Seno menatap Dika, dia setuju dengan apa yang di katakan lelaki itu. Tapi ada sedikit keraguan di hati Seno.


"Ada apa lagi?"tanya Dika, yang menyadari keraguan yang tengah di rasakan Seno.


"Dika, dulu aku pernah meminta Rana untuk menunda kehamilan. Dan sampai saat ini Rana tidak pernah sekalipun membicarakan apalagi membahas soal anak, apa mungkin itu karena permintaanku yang lalu? Tapi aku melihat kebahagiaan yang luar biasa di mata Rana ketika dia menggendong bayi. Aku merasa bersalah, saat itu dia sangat mendambakan seorang bayi dan hampir setiap hari dia membicarakan itu Padaku. Tapi ketika aku mengajukan permintaan bodoh itu, Rana tidak pernah lagi membicarakan soal bayi, bahkan sampai saat ini, apa dia tidak mengharapkan anak dari pernikahan kami?"


Kali ini Dika yang menghela nafas berat.


"Jangan kau ungkit lagi kebodohanmu di masa lalu, karena itu bisa membuatku emosi dan memaki dirimu, dan jangan juga berfikir yang tidak-tidak. Saat ini Rana sudah mengambil keputusan untuk kembali padamu, tentu saja dia sudah memikirkan semua dengan sangat matang dan tentu saja dia juga mengharapkan kehadiran anak di pernikahan kalian. Kenapa sekarang dia sudah tidak pernah membahas soal anak? Mungkin karena Rana tidak mau mengulang dan mengingat masalalunya, dan mungkin saja saat ini Rana masih berfikir jika kau masih tidak mengharapkan kehadiran anak di pernikahan kalian."


"Itu tidak benar!"sahut Seno dengan cepat.


"Apa kau sudah bicara soal ini dengan Rana?"


Seno menggeleng.


Dan Dika pun ikut menggeleng.

__ADS_1


"Seno-Seno, bicara padanya segera. Karena, sepertinya Rana mengira kau masih tidak mengharapkan kehadiran anak di antara kalian."


Seno yang sudah mengerti segera menggguk!


"Terima kasih Dika,"ucapnya seraya menepuk pundak temannya itu.


"Terima kasih! Apa malam ini akan turun salju, atau akan hujan uang? tiba-tiba kau berterima kasih padaku?"


Seno mengulas senyum. Dan ia kembali berkata.


"Terima kasih Dika, terima kasih untuk segala yang kau ajarkan padaku, meskipun kadang-kadang membuatku pusing dan banyak yang gagal. Tapi segala saran, nasehat dan bantuan yang kau berikan padaku sangat bermanfaat terutama untuk hubungan aku dan Rana. Kau yang selalu menemaniku selama bertahun-tahun ini. Kau orang pertama yang selalu mempercayai diriku. Sekali lagi terima kasih!"Ucap Seno dengan sungguh-sungguh.


Dika menautkan kedua alisnya.


"Kau kenapa? Apa kau kesurupan? Kenapa kata-kata terima kasih mu terdengar ngeri sampai membuatku merinding?"


Seno terkekeh.


"Sebagai rasa terima kasih ku padamu, aku akan mengatakan siapa lelaki yang saat ini sedang di sukai Aurel."


Dika, langsung membelalakkan matanya.


"Katakan siapa? pasti dia tidak jauh lebih tampan dan menawan dariku kan? Aku akan segera menyingkirkannya."


Seno menggeleng, sambil meneliti Dika dari ujung kaki sampai rambut.


"Aku benar-benar tidak bisa berkata dengan jujur, karena penampilan kalian sangat jomplang."


"Apa maksudmu mu? Apa dia lebih ok dariku?"


"Aku tidak bisa mengatakannya sekarang, tapi aku akan segera memberitahu mu."Sahut Seno, dan dia pun beranjak dari sana membiarkan Dika dengan rasa penasaran yang menyelimuti kepala dan hatinya.


"Kau mau kemana?"panggil Dika.


"Menjemput istriku, kita akan pulang besok pagi."


"Pulang besok pagi? Bukankah kita masih beberapa hari lagi di sini?"


"Itu untuk dirimu yang tidak mempunyai pasangan, berbeda dengan diriku!"sahut Seno dengan berteriak, karena dia sudah melangkah jauh dari Dika.


"Kurang ajar! Bicara apa dia!"Umpat Dika dengan kesal, tapi dia mengulas senyum bahagia,"Aku juga sangat berterima kasih padamu Seno, terima kasih karena kau sudah menyelamatkan orang yang paling berharga dalam hidupku."Gumamnya.


***


Sambil berjalan menuju tenda di mana istrinya berada, Seno memesan tiket pesawat dan mengajukan cuti lewat ponselnya.


**


"Yes!"serunya, setelah semua yang ia lakukan lewat online berhasil,"Akhirnya kita akan bulan madu,"senangnya. Dengan berseru sampai menarik perhatian beberapa orang yang berpapasan dengannya.


Namun Sono tidak memperdulikan pandangan aneh yang di berikan orang-orang di sana. Dia semakin mempercepat langkah kakinya, sambil bersiul dan bersenandung dengan lirik lagu yang berjudul Bulan Madu.


Bersambung..


šŸāœØāœØāœØāœØšŸ


Terima kasih sudah berkunjung ke cerita ini šŸ™


Mohon dukungannya šŸ¤—


Tolong koreksi jika ada Kesalahan dalam tulisan ini šŸ¤—


Lope banyak-banyak untuk semuanya ā¤ļøā¤ļø

__ADS_1


__ADS_2